KOMANDO MANDALA

CIB PTT – (4)  KOMANDO MANDALA

http://made4earth.files.wordpress.com/2010/09/dsc_0769_thumb.jpg?w=663&h=441

Setelah terbang hampir selama satu jam, terdengar pengumuman dari pengeras suara agar mengenakan kembali sabuk pengaman karena keadaan cuaca yang kurang baik.    Pesawat tergoncang seperti sebuah biduk pada punggung gelombang.    Sebentar terasa terbanting melayang jatuh kemudian terangkat kembali dan jatuh lagi berulang kali.    Gumpalan awan putih yang berserakan di angkasa seakan menikmati tarian naik-turunnya pesawat yang masih tetap melayang ke arah depan.    Bunyi deru mesin bercampur dengan  derak getar badan pesawat menciptakan suasana yang mencekam dan perasaan hati tidak nyaman.    Kemudian terdengar kembali pengumuman bahwa tidak lama lagi pesawat akan mendarat di lapangan terbang Mandai, Makasar.     Goncangan yang mendera pesawat telah mereda.    http://jakpress.com/www.php/news/images/16331/Pesawat-Ditumpangi-Kepala-BNP2TKI-Mendarat-Gawat.jpgDari jendela mulai kelihatan samar-samar daratan pada lautan yang luas.    Semakin jelas dan semakin jelas.    Ketinggian terbang semakin mengurang.   Sejumlah perahu nelayan di laut dangkal menerobos jalur-jalur buih putih di lautan.    Tonggak-tonggak keramba ikan bertebaran pada jarak yang berjauhan satu dengan lainnya.    Warna air laut tidak lagi membiru melainkan semakin cerah kehijauan.   Daratan telah di ujung pandang.    Sebuah kota dalam tebaran gedung dan berbagai bangunan.     Pelabuhan dengan kapal-kapal besar dan perahu-perahu yang berderet di dermaga.   Pesawat melayang memutar sebelum kemudian merendah menghampiri landasan pacu yang  membujur panjang.    Balon penunjuk arah angin bandar udara Mandai seakan melambai-lambai.   Roda pesawat telah dikeluarkan dan landasan pacu semakin tampak nyata di depan mata.  Roda menyentuh landasan dengan sedikit lonjakan, lalu meluncur dalam deru mesin pesawat melawan hambatan rem yang menderit sepanjang pendaratan.    Laju pesawat melambat dan semakin melambat lalu memutar dan meluncur pelan sebelum kemudian berhenti.     Pramugari memberitahukan pesawat telah mendarat sempurna di pelabuhan udara Mandai, Makasar.     Saya menarik nafas panjang.    Suasana di dalam pesawat menjadi sibuk.     Dari jendela saya melihat kerumunan orang di anjungan bandar udara memperhatikan pesawat kami yang baru mendarat.     Sebuah mobil penarik kereta barang yang kosong datang mendekat.    Saya menurunkan ransel dari tempat barang kemudian masuk ke dalam antrian penumpang yang akan turun pada tangga di  bagian depan pesawat.    Butje memimpin kami berempat berjalan bersama penumpang lainnya beriringan melintasi landasan.   http://lh5.ggpht.com/_J2j5us2BXck/TOA3j_DpiFI/AAAAAAAABD4/BTM5MnMm6_c/Bandara%20Sultan%20Hasanuddin.jpgUdara terasa panas dan cuaca pada hari itu sangat cerah.    Sampai di bangunan bandara saya mencari tempat duduk sementara Butje, Pasuhuk dan Abdurachman menunggu datangnya bagasi barang.    Seseorang tampak melambaikan tangan dari balik pagar besi yang memisahkan ruang kedatangan dengan ruang depan.    Butje balas melambai lalu bergegas menghampiri orang tersebut.    Mereka terlibat dalam pembicaraan yang akrab, lalu Butje kembali lagi ke tempat kami.

“Papilaya sudah datang menjemput”, kata Butje gembira.   Bibirnya menyunggingkan  senyum lebar.      Sambil menjinjing kopor masing-masing kami segera meninggalkan ruang kedatangan menuju ke ruang depan.   Tiga orang penjemput menyalami kami berempat lalu mengantar kami keluar.    Yang bernama Papilaya tampak akrab sekali dengan Butje Likumahwa.    Badannya tidak segemuk Butje namun kekar.    Dahinya lebar berbatasan dengan rambut yang ikal dan tercukur pendek.  Sebagaimana halnya Butje, Papilaya juga mencerocos bicara dan candanya.    Telinga saya menangkap percakapan orang di sekeliling dalam bahasa yang tidak saya pahami dan dengan irama yang terdengar bernada tinggi.    Sebuah mobil dinas membawa kami meluncur meninggalkan bandar udara Mandai menuju ke kota Makasar.

Kami melintasi jembatan besi yang menghubungkan dua tepi sebuah sungai yang besar.

“Masih suka banjir kah?”, tanya Butje sambil melihat ke arah sungai itu.

“Jeneberang ?”, tanya Papilaya : ”Ah … tidak lagi mi …..kadang-kadang saja kalau  hujan lebat turun di gunung sana”.

“Belanda so bikin kanal-kanal besar di beberapa tempat.   Harusnya tidak terjadi banjir”.

“Ya, benar …. tetapi orang mendirikan rumah di bantaran dan buang sampah di sana.   Terjadi pendangkalan dan di beberapa tempat sudah tidak lagi berupa kanal”, jelas Papilaya sambil geleng-geleng kepala.

Mobil membelok memasuki halaman sebuah rumah makan yang tidak besar tetapi pengunjungnya banyak.

http://kolomkita.detik.com/upload/photo/1coto1.jpghttp://rubijanto.files.wordpress.com/2011/03/palubutung.jpg?w=200&h=150“Wauw … Coto Makasar … lekker …”, kata Butje ketika turun dari mobil dan membaca tulisan pada rumah-makan tersebut: “Pasti berkeringat … udara panas lagi”, sambungnya.

“Sudah ada pasangannya … Es Palubutung, atau Es Pisang hijau “, jawab Papilaya.

Kami bergerombol mengelilingi sebuah meja besar.

“Ah, ini soto “, kata Abdurachman ketika pelayan datang membawa beberapa mangkok berisi kuah yang panas.

“Ya, di sini disebut coto.  Tetapi rasanya sedikit beda dengan soto Betawi, nanti Rachman bisa merasakan sendiri.   Ada khas-nya”, sahut Butje, lalu menoleh kepada saya: “Juga beda dengan soto Kudus …”, sambungnya sambil mengerdipkan mata  kepadaku.    Saya terenyum.   Bau kuahnya saja sudah menerbitkan selera.      Pedas , panas, lezat lagi segar.   Daging sapinya empuk dan dipotong-potong besar.    Es Palubutung yang saya pesan cukup mampu mendinginkan rasa pedas dan panas di tenggorokan.    Makan siang yang sederhana namun mengesankan karena saya sempat mencicipi masakan khas Makasar.     Kami meninggalkan rumah-makan tersebut untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Kantor Daerah Telekomunikasi Sulawesi.

http://farm6.static.flickr.com/5083/5337412137_b26ef1a411_z.jpg

Letak kantor itu di jalan Balaikota, di antara gedung Balaikota Makasar dan sebuah taman kota berbentuk segitiga yang berujung pada sebuah perempatan jalan.    Kantor Gabungan Telepon Makasar terletak di situ juga menyatu dengan Kantor Daerah Telekomunikasi  Sulawesi.     Di depannya pada sisi lain dari jalan Balaikota itu adalah Kantor Telegrap Makasar bersebelahan dengan sebuah gereja kecil.    Papilaya membawa kami naik ke lantai dua, langsung menuju ke kamar kerja Kepala Kantor Daerah Telekomunikasi Sulawesi.     Setelah diterima oleh Sekretaris,  Papilaya meninggalkan kami.    Tidak berapa lama berdatangan sejumlah pejabat, lalu dari kamar kerja KDTEL Sulawesi keluar seseorang berbadan tinggi besar, berkulit putih bersih, mukanya bulat dengan wajah teduh dan senyum yang ramah.    Potongan rambutnya terbelah dua.    Ia memperkenalkan dirinya dengan nama: Van Raalten.

Dengan suara yang tenang penuh wibawa pak Raalten memperkenalkan semua Kepala Urusan yang hadir termasuk Kepala Kantor Gabungan Telepon Makasar dan Kepala Kantor Telegrap Makasar.     Kemudian pak Raalten memberitahu bahwa KDTEL Sulawesi hanya mengurusi akomodasi Tim CIB-PTT yang akan berdatangan ke Makasar, sedangkan masalah kegiatan kami telah diatur oleh Komando CIB-PTT di Kantor Pusat.     Kami berempat adalah rombongan pertama CIB-PTT yang akan berada di Makasar.     Setelah bercakap-cakap sebentar, pak Raalten mempersilakan kami menuju ke Markas CIB-PTT Makasar yang telah disiapkan.    Kami meninggalkan ruangan itu bersama Kepala-kepala Urusan dan pejabat lainnya.    Butje Likumahwa tampak asyik bercakap-cakap sambil berjalan dengan seseorang yang sudah berumur, berkulit hitam legam, kurus dan rambut keriting di kepala.   Dari bahasa yang  mereka gunakan kemungkinan keduanya sama-sama orang Ambon, atau berasal dari satu   daerah yang sama yaitu Maluku.   Ternyata yang disebut Markas CIB-PTT Makasar berada di bangunan lama Kantor Telegrap  sehingga kami hanya berjalan kaki menyeberang jalan saja.     Kopor dan barang bawaan kami telah dibawa ke Markas tersebut.    Bangunan itu sengaja dikosongkan dan telah dipersiapkan untuk tempat kami tinggal selama menjalankan tugas CIB-PTT di Makasar.    Hanya ada beberapa kamar dinding yang tidak besar.    Selebihnya berupa ruangan yang disekat-sekat, dan telah diisi dengan tempat-tidur dua tingkat, almari kecil, meja serta kursi.     Di bagian depan ada sebuah ruang tamu, dan pada sisi yang merapat pada dinding batas dengan gereja di sebelah, digunakan untuk garasi, lalu ruang makan, dan paling belakang untuk kamar mandi beberapa buah.    Kamar-kamar dinding itu terkunci rapat.    Abdurachman yang ingin menempati salah satu dari kamar dinding tersebut diberitahu bahwa kamar-kamar itu disiapkan untuk Komandan CIB-PTT yang akan tiba menyusul.    Kami memilih kamar-sekat yang ada.    Pasuhuk minta bersama saya, maka Abdurachmanpun bersama Butje di kamar-sekat yang lain.

“Nanti malam kita diundang pak Manuhutu”, kata Butje memberitahu sambil melingkarkan tangannya pada bahu laki-laki berkulit hitam yang dari tadi menemaninya dan disebutkan dengan nama Manuhutu.

“Ya … kita minum-minum sedikit ..”, kata pak Manuhutu.

“Minum Bir kah?”.

“Ya … begitulah …”, jawab pak Manuhutu sambil tersenyum dan disambut tawa renyah Butje Likumahwa.

“Nanti ada kendaraan menjemput di sini.  Jam delapan, ya …”, kata pak Manuhutu lebih lanjut sambil berpamitan untuk kembali ke kantor.       Saya mengemas pakaian ke dalam almari kecil yang ada, lalu merebahkan diri di tempat tidur.

http://thenoisingmachine.files.wordpress.com/2008/07/radio-australia-sticker.jpg?w=188&h=188Sehabis berwudhu dan ketika kembali ke kamar-sekat untuk shalat Isya, langkah saya terhenti mendengar siaran berita Radio Australia yang dibacakan oleh penyiar Munandar.    Abdurachman dan Pasuhuk sedang bermain catur sedangkan Butje Likumahwa berdiri di belakang Pasuhuk ikut mencermati posisi bidak yang akan dimainkan oleh Pasuhuk.

“Perwakilan Radio Australia di Makasar melaporkan bahwa serombongan sukarelawan Indonesia telah tiba di Makasar dari Surabaya siang tadi …”, suara Munandar yang khas terdengar jelas.   Saya berhenti sejenak untuk menyimak.    Mereka bertiga masih bercikutat memelototi papan catur memikirkan taktik perang bidak.

“Rombongan sukarelawan yang berjumlah empat orang itu dikabarkan hanya singgah sementara sampai diterimanya perintah penyusupan ke daratan Nieuw Guinea Barat  oleh Komando Mandala yang berpusat di Makasar”, lanjut Munandar membacakan berita.      Saya tertegun.      Apakah yang dimaksud oleh Radio Australia itu kami, terbersit fikir di benakku.    Saya menoleh ke arah ketiga temanku di meja yang tidak jauh dari letak pesawat radio tersebut.   Mereka tidak mendengar berita Radio Australia itu.    Ketika saya memasang telinga kembali, penyiar Munandar sudah membacakan berita yang lain.   Saya bergegas masuk ke kamar-sekat untuk melaksanakan shalat.    Setelah menutup shalat fardhu dengan zikir saya hanyut dalam doa kepada Allah, berserah diri memohon dijauhkan dari kebimbangan dan was-was serta dikuatkan hati dalam menjalankan tugas negara apapun dan kapanpun.    Tatkala menurunkan tangan dan  tersentuh bungkusan kain di balik sarung pada batas pangkal paha dan pinggang, saya seperti diingatkan kepada ibu.   Maka serta-merta saya mengangkat tangan lagi keatas dan meluncurlah dari mulut saya permohonan kepada Allah untuk mengampuni kekhilafan ibu atas semua yang telah beliau lakukan dalam memikirkan keselamatanku.   Suasana sepi dan hening serta cahaya lampu di dalam kamar-sekat yang temaram mendatangkan suasana hati yang tenteram, sejuk dan melegakan.

http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/files/2010/06/pantai-losari.jpgPukul 19.45 Papilaya bersama beberapa temannya sudah datang ke markas.    Mereka membawa kami makan malam di sebuah rumah-makan kecil di tepi pantai.    Ketika memasuki rumah-makan tersebut bau ikan dibakar langsung menyengat hidung.    Saya melihat sejumlah alat pembakar berjajar masing-masing di atas tungku yang menyala.  Deretan ikan dijajarkan dan dibakar.   Asap yang mengepul langsung menyebar dibawa angin.   Baunya sedap.   Rumah-makan ini lebih merakyat daripada yang kemarin malam di Surabaya.   Hampir semua meja telah terisi.   Sebuah radio dibunyikan keras membawakan lagu-lagu daerah Sulawesi Selatan.   Pelayan hilir-mudik melayani pengunjung, baik yang memilih meja di dalam maupun yang di luar rumah-makan.      Papilaya telah memesan meja di luar pada tempat yang nyaman.   Udara malam terasa segar oleh angin laut yang bertiup lembut.    Tidak banyak bintang menampakkan diri di langit yang kelam.   Di sebelah kiri kami sebuah jalan besar yang cukup ramai oleh orang berlalu-lalang dan kendaraan berseliweran.   Sedangkan di sebelah kanan kami terbentang laut luas yang gelap, dihiasi kerlip lampu perahu-perahu nelayan di kejauhan.    Suara debur ombak menghantam tembok pantai terdengar tidak berkesudahan.    Butje dan Papilaya saling melontarkan canda yang membuat gelak tawa.    Saya kurang begitu terbawa oleh gurauan mereka.    Saya lebih menikmati suasana pantai di malam hari yang baru pertama kali itu saya alami.   Nun jauh di sana menyeberangi laut raya yang sekarang sedang saya nikmati keindahan suasananya, adalah tanah Irian Barat.   New Guinea Barat kata penyiar Radio Australia, Munandar.    Dan terngiang-ngiang kembali di telinga berita yang satu jam lalu membuat saya terpana: “ …..  hanya singgah sementara sampai diterimanya perintah penyusupan ke daratan Nieuw Guinea Barat  oleh Komando Mandala yang berpusat di Makasar” …………..  Sudah dekatkah saat ke Irian Barat ?  Dan saya lalu teringat pada bisikan ibu di telingaku: “Tampaknya kamu akan semakin dekat ke Irian Barat”.    Kemudian pada pernyataan beliau sebelumnya: “ …. Ibu tidak pernah melihat kamu berkelahi …… kamu belum pernah ikut latihan seperti mereka semua itu ….”.

Saya tenggelam dalam diam.   Ya …. saya belum pernah mengikuti latihan dasar kemiliteran …..  kini menunggu komando untuk melakukan penyusupan ke suatu wilayah musuh yang belum pernah saya kenal sama sekali.       Betapa tidak masuk di akal …..

http://bandung.detik.com/images/content/2010/07/16/674/Nasi-Bandeng-ins.jpgPelayan datang menyajikan nasi hangat dalam piring, kemudian disusul dengan sambal, kecap, dan ikan bandeng yang baru saja selesai dibakar.

“Gurih tetapi banyak durinya … halus lagi ”, kataku sambil mengambil seekor bandeng.

“ Keluarkan saja duri dari mulut “, sahut seorang teman Papilaya.

“ Orang di sini ahli makan bolu bakar tanpa dicabuti durinya lebih dulu”, sambung Papilaya kemudian.    Saya terperangah mendengarnya.    Diam-diam saya memperhatikan mereka melakukannya tetapi tidak berani mencoba.    Meskipun harus memisahkan lebih dulu duri dari daging ikan bolu (bandeng), namun saya menikmati sekali makan malam di tepi pantai itu.

Rumah pak Manuhutu tidak terlalu besar tetapi tertata apik.    Kami diterima di teras rumah yang tidak terlalu luas pula.    Laki-laki tua berkulit hitam legam itu menjabat Kepala Urusan Radio Daerah Telekomunikasi Sulawesi.    Ia merasa menjadi tuan rumah karena kami semua berlatar-belakang radio.  Saya dan Abdurachman dari setasiun Radio Jakarta,  Butje Likumahwa staf pada urusan radio Jawa Timur, sedangkan Bernard Pasuhuk staf pada Bagian Radio Kantor Pusat di Bandung.   Mereka bercakap-cakap tentang tanah kelahiran di Maluku yang sudah lama mereka tinggalkan.    Kemudian dari dalam rumah dikeluarkan sebuah dus karton yang langsung dibuka tutupnya.   Saya melihat sejumlah minuman kaleng tertata di dalamnya.    Lalu kacang goreng pada dua nampan besar dan satu slof rokok putih.

http://us.123rf.com/400wm/400/400/tilltibet/tilltibet0806/tilltibet080600133/3183997.jpg“Ayo … diminum”, kata pak Manu mempersilakan sambil mengambil satu kaleng minuman dari dalam dus karton.    Sekilas saya membaca tulisan “Bier” pada kaleng tersebut.    Dengan tenang kaleng minuman dibuka dan direguk beberapa teguk.   Yang lain bergerak maju dan masing-masing mengambil satu kaleng.

“Ayo ..”, kata pak Manu menyuruh saya mengambil juga.    Agaknya dia membaca keraguan pada wajah saya.

“Tidak biasa minum?”, tanyanya.    Saya tersenyum, lalu mengambil sekaleng  untuk tidak dianggap beda.    Pelan-pelan minuman bir mengalir tipis di kerongkongan lalu kaleng saya letakkan kembali.    Tangan buru-buru meraup kacang goreng.    Rasa pahit bir di tenggorokan terhapus oleh rasa gurih kacang.    Percakapan mereka semakin semangat, suara semakin berat, dan gelak tawa semakin kuat.  Aroma bir pun semakin mengental.   Mata dan wajah mereka tampak mulai memerah.    Abdurachman yang berkulit coklat lebih jelas rona kemerahan pada wajah terutama pada kedua pipinya.   Satu-dua kancing baju bagian atas sudah mulai ada yang dibuka.    Mata pak Manuhutu menatap kosong ke depan dan bir berulang kali mengalir lepas masuk ke dalam kerongkongannya.    Sampai akhirnya sopir mengingatkan hari sudah larut malam.    Semua berdiri serentak menyalami tuan rumah yang hanya bisa tersenyum dan melambaikan tangan dengan lemah.     Sopir menyambar kaleng bir saya dari atas meja sambil mengerdipkan mata padaku.   Rupanya dia memperhatikan bahwa bir  di dalam kalengku masih banyak.   Mobil melaju menembus udara malam kota Makasar.    Sopir menyanyi-nyanyi sambil satu tangan mengendalikan kemudi dan tangan satunya lagi memegang kaleng bir yang dia reguk berkali-kali.    Mungkin hanya saya yang masih sepenuhnya sadar sehingga tumbuh rasa khawatir dan berdoa jangan sampai mobil selip dan tergelincir.    Alhamdulillah, Allah menerima doaku.    Kami sampai di markas dengan selamat.   Papilaya dan teman-temannya langsung berpamitan dan kedua mobil mereka berjalan cepat meninggalkan kami di depan pintu markas.    Ketiga teman saya berjalan gontai memasuki markas.   Saya menutup kembali pintu lalu menyusul masuk ke kamar-sekat.     Pasuhuk telah tergolek di tempat tidur.   Sebentar kemudian saya mendengar suara mereka mendengkur.

Dalam tiga hari setelah hari kedatangan itu, kami berempat belum memperoleh kepastian tugas.    Hari-hari itu kami isi dengan bertandang ke Setasiun Radio Penerima  bertemu dengan pak Surono dan staf, lalu ke Setasiun Radio Pemancar dan diterima oleh  Toeffoer Bc.TT beserta staf.     Kantor Telegrap, Kantor Gabungan Telepon dan Kantor Interlokal  juga kami kunjungi.    Mereka semua mengutarakan keadaan politik yang semakin genting dan meruncing.    http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/03/thumbsoekarno_bio.jpg?w=166&h=213http://www.sjsu.edu/faculty/watkins/subandrio.gifPenyerbuan ke Irian Barat tinggal menunggu waktu saja.    Bantuan persenjataan dari Uni Soviet terus mengalir.    Angkatan Bersenjata Republik Indonesia semakin percaya diri, baik Angkatan Darat, Laut, Udara maupun Kepolisian.   Pasukan komando dari ke empat Angkatan itu semakin disegani oleh negara-negara sahabat di kawasan Asia dan Afrika, bahkan dikhawatirkan oleh negara-negara tetangga yang menjalin ikatan militer dengan Inggris dan Amerika Serikat.     Australia sebagai negara “Barat” yang terpencil di timur jauh selatan mewaspadai tumbuh kembangnya kekuatan militer Republik Indonesia.     Mereka telah memahami militansi bangsa Indonesia yang senantiasa dipupuk dan disemangati oleh  Sukarno, Presiden / Pemimpin Besar Revolusi Bangsa Indonesia.    Politik Luar-negeri dan diplomasi yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio tidak hanya dipandang dengan sebelah mata saja.     Kekuatan Partai Komunis Indonesia yang menduduki nomor dua terbesar di Asia setelah Republik Rakyat Cina, membuat posisi negara Indonesia sangat diperhitungkan.     Kalau kedua kekuatan komunis raksasa Asia itu bersatu akan merupakan mimpi buruk bagi Blok Barat, sebaliknya kalau dapat dipisahkan setidaknya direnggangkan, akan bisa menciptakan keseimbangan yang menjauhkan ancaman perang.    Presiden Sukarno sangat memahami posisi negaranya yang sangat diperhitungkan oleh kedua Blok Perang Dingin itu.   Ia memainkan posisi negaranya dengan cerdas dalam kancah politik dunia.     Ia mengumumkan dengan terbuka      niatnya untuk merebut Irian Barat dari kolonial Belanda kalau perlu secara militer, karena PBB telah gagal mengakomodasikan penyelesaian secara damai melalui diplomasi.     Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina sudah menyatakan secara tegas dukungan mereka kepada Republik Indonesia.     Itu berarti akan bersatunya dua kekuatan komunis terbesar Asia secara nyata, dan mimpi buruk itu seharusnya dihindari.  Tetapi maukah pemerintah Belanda sebagai bagian dari sekutu Blok Barat melepaskan daerah jajahan terakhirnya di Asia Timur Jauh itu?.    Ini masalah pelik bagi Blok Barat.

Pada hari keempat setelah kedatangan kami, tibalah para pimpinan CIB-PTT dari Bandung.    Mereka adalah pak Sabar Sudiman, Komandan CIB-PTT, Ir. Bahder Johan, Wakil Komandan CIB-PTT – Telekomunikasi dan Abdul Latief Bc.AP, Wakil Komandan CIB-PTT – Pos,   serta  Sunirto dari Daerah Telekomunikasi Jawa Timur.      Mereka menempati dua kamar dinding yang telah disiapkan.

Pak Sabar Sudiman yang berkulit gelap, dahi lebar dan rambut keriting tipis, memiliki sorot mata tajam, wajah keras dan sirius.   Tubuhnya ramping tegap cocok untuk sosok seorang komandan.     Sebaliknya pak Ir. Bahder Johan yang bertubuh lebih jangkung dengan rambut hitam lurus dan tersisir  rapi, memiliki wajah bulat yang teduh dan banyak senyum serta suara yang lemah lembut.    Sedangkan pak Abdul Latief  berkulit kuning langsat, tubuh padat gempal namun tidak pendek, wajah bulat dengan bibir tipis yang senantiasa terkatup rapat, mengenakan kaca-mata yang serasi dengan bentuk mukanya.

Pimpinan CIB-PTT bergerak cepat melakukan koordinasi dengan Komando Mandala dan pimpinan PTT di Bandung.    Pengiriman anggota CIB PTT selanjutnya akan dilakukan secara berangsur dari hampir semua Daerah Telekomunikasi maupun Daerah Pos.        Sementara itu Komando Mandala sudah pula memberitahukan sektor telekomunikasi militer yang memerlukan bantuan kepada pimpinan CIB-PTT.    Diperoleh kabar pula bahwa CIB-PTT akan dibagi dalam dua kelompok, yaitu Komponen Khusus dan Komponen Sipil.    Komponen Khusus akan bergerak bersama militer masuk ke daerah perbatasan bahkan juga dalam gerakan penyusupan ke daratan Irian Barat.    Mereka akan membantu Dinas Perhubungan Militer.    Sedangkan Komponen Sipil akan dikirimkan begitu suatu daerah telah berhasil dibebaskan oleh militer.    Komponen Sipil ini akan membangun jaringan telekomunikasi dan mengoperasikannya guna kepentingan militer dan pemerintahan.      Pemilihan personil siapa saja yang masuk ke dalam Komponen Khusus dan Komponen Sipil ditentukan lebih lanjut oleh pimpinan CIB-PTT.

Satu minggu kemudian rombongan kedua CIB-PTT tiba.    Pengaturan di markas telah disiapkan sehingga mereka langsung mengisi kamar-kamar sekat dan tempat-tidur yang telah ditentukan.       Ketika saya tiba kembali di markas dari Setasiun Radio Pemancar pada sore hari, seseorang meneriakkan nama saya dengan suara keras bernada gembira.   Saya menoleh dan melihat wajah Widho Rahardjo tertawa lebar sambil setengah berlari mendekat.    Saya pun mendatanginya.    Kami berpelukan setelah dua tahun tidak bertemu.   Seniman tempaan Sumur-Bersama Kiaracondong itu rupanya mendaftarkan dirinya juga dan terpanggil sebagaimana halnya saya.     Ia kemudian bertukar tempat dengan Bernard Pasuhuk sehingga menjadi teman sekamar-sekat dengan saya.

Rombongan berikutnya datang lagi bergelombang dalam jumlah yang lebih sedikit hingga akhirnya seluruh anggota CIB-PTT yang disiapkan di Makasar telah berada di markas semuanya.  Di antara mereka terdapat pula Sutjipto, teman lama saya dan Widho Rahardjo tatkala menempuh pendidikan di Bandung.   Keduanya terhenti dalam semester antara sehingga tidak berhasil menyelesaikan pendidikan hingga akhir.

Abdoerachman juga bertemu dengan teman sekantornya di Setasin Radio Pemancar Pancardaya, Jakarta, yang bernama Oeka Soekardi.    Mereka sebenarnya seumur, namun wajah Oeka Soekardi tampak lebih tua dibanding wajah Abdoerachman.    Berbeda dengan saya dan Widho Rahardjo serta Sutjipto, mereka tampak kurang akrab dalam kesehariannya.

Saya memperoleh teman seumur cukup banyak, baik teknisi, operator telegrap maupun pos.    Anggota CIB-PTT yang umurnya jauh di atas kami jumlahnya tidak banyak.   Di antara mereka ini yang dekat dengan saya adalah dua orang teknisi dari Laboratoria PTT, Tegalega, Bandung,  yaitu  Aan Djadja  dan  Holikin.    Dari Makasar sendiri ada sejumlah orang yang ternyata juga menjadi anggota CIB-PTT namun mereka tidak tinggal di markas.   Di antaranya adalah Toeffoer, Bc.TT,  Hamad, A.A. Latumanuway, Abdoel Halim Ishak, dan Mohamad Daeng Narang.    Keseluruhannya teknisi radio yang bertugas di Setasiun Radio Pemancar dan Penerima di Makasar.

Saya bersama Aan Djadja dan Holikin ditugaskan pada Dinas Perhubungan Komando Mandala.     Setiap hari sebuah Jeep militer datang membawa kami bertiga dari markas CIB-PTT ke Bengkel Radio pada Dinas Perhubungan Komando Mandala.    Pada hari pertama di sana, seorang sersan Angkatan Darat menunjukkan sejumlah pesawat penerima radio militer yang diletakkan tidak teratur di atas meja.

“Pesawat radio ini diperlukan tetapi dalam keadaan rusak”, katanya : “Kalau butuh komponen, ambil saja dari pesawat-pesawat yang ada di sebelah sana itu”.     Dia menunjuk pada rak kayu yang merapat pada dinding.   Banyak pesawat radio ditumpuk asal-asalan pada rak tersebut.

“Alat kerja ada di almari.   Sebelum pulang, simpan semua alat kerja di almari itu kembali.   Ada sebuah Daftar tertulis ditempel pada pintu.   Setiap hari cek semua alat kerja dan harus sesuai dengan Daftar tersebut.   Kunci almari dipegang oleh Piket”.

Kami bertiga mengangguk-angguk.   Kemudian Sersan itu berdiri sempurna, menghentakkan sedikit sepatu pada lantai, balik kanan, lalu pergi ke luar meninggalkan kami begitu saja.

Nyaho maneh  maksadna?”, tanya Holikin sambil tersenyum.   Bola matanya mengerdip lucu.

Ah … biasa we … miwarang urang digawe”, sahut Aan Djadja setelah melihat berkeliling.

Lain … lamun eta mah enya we”.

Naon atuh?”.

Urang teh ngan saukur Kopral.   Manehna pan Sersan …. “.

Kapan tadi manehna tos ngahormat …. sikap sampurna jeung ngajejek lantai, lain?”.

Eta teh ngahormat kitu?  Sanes saluir?”.

Urang mah sipil, lain militer …. Ngahormat ka sipil sakitu ge tos biasa “.

Holikin bisa memahami keterangan Aan Djadja.

“Sistimnya kanibal ya “, kataku sambil menunjuk ke arah bangkai pesawat pada rak dinding.

“Ya.   Tapi kita lihat dulu kalau-kalau ada yang belum rusak parah dan masih bisa diperbaiki seperti yang di atas meja ini”, jawab Holikin lalu dia mencoba melihat-lihat beberapa pesawat pada rak dinding: “Ah …. sudah parah semua, memang untuk dikanibal”, sambungnya kemudian.

Keun we lah … lamun teu aya di ditu, urang minta ka kantor, sugan aya” kata Aan.

Dalam kenyataannya banyak komponen kami minta pada pak Surono, Kepala Setasiun Radio Penerima Makasar, yang segera menyuruh anak-buahnya membawa ke tempat kami bekerja.    Kami bersepakat Aan Djadja yang menandatangani bon-bon permintaan komponen untuk dipertanggungkan dalam administrasi Setasiun Radio Penerima.    Tidak ada perhitungan antar instansi karena semuanya merupakan kebutuhan perjuangan pembebasan Irian Barat  yang didukung oleh segenap bangsa Indonesia.

Widho Rahardjo ditugaskan membantu operasional Setasiun Radio Penerima Makasar, Sutjipto di Dinas Teknik INTEL Makasar, Abdurachman dan Oeka Soekardi di Setasiun Radio Pemancar Makasar.    Teman-teman Operator Telegrap dan teknisi telegrap diperbantukan pada Kantor Telegrap Makasar, sedangkan yang memiliki latar belakang teknik telepon pada  Kantor Gabungan Telepon Makasar.    Yang dari Pos juga diperbantukan pada Kantor Pos Besar Makasar.     Semua tidak ada yang menganggur selama menunggu pemberangkatan ke Irian Barat yang komandonya dipegang oleh G6SGALA Komando Mandala Pembebasan Irian Barat.    Selain itu pada setiap hari Saptu seluruh anggota CIB-PTT memperoleh pendidikan dasar kemiliteran di lapangan Karebosi dan lapangan pelatihan kemiliteran http://images.darkwin98.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SSVXuAoKCsQAADZGatg1/Sukarno-ikut-latihan.jpg?et=FpyFnJCkkORgoiv8mWs0Gg&nmid=0Kodam Hasanudin.    Diawali dengan latihan baris-berbaris, meningkat ke latihan dasar kemiliteran seperti lari melompati rintangan alam, merayap di bawah kawat berduri untuk menghindari tembakan datar, menaiki balok-balok kayu yang disusun berjajar ke atas, menaiki pagar kayu tinggi dengan menggunakan tali dan melompat ke kolam pasir di baliknya, melompati kolam pasir dengan tali yang diikat pada tiang, dan lain-lainnya.    Lari lintas alam di luar kota Makasar, baik di pedesaan yang berpenduduk, di atas tanah yang bersemak-belukar maupun di pantai yang berpasir.  Latihan menembak menggunakan pistol dan senapan laras panjang.   Pengenalan sejumlah senjata dari pistol sampai ke Karaben dan Granat tangan, termasuk cara perawatannya melalui teknik bongkar pasang.    Satu per satu komponen dilepas dan dijajarkan rapi kemudian dipasang kembali sesuai urutan yang benar.     Pada saat memperingati hari Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1962, seluruh anggota CIB-PTT termasuk Komandan dan dua Wakil Komandan mengikuti defile dalam dua regu bersama kesatuan ABRI dan organisasi massa berkeliling kota Makasar dari lapangan Karebosi.    Dengan langkah tegap setiap regu menghormat ke arah Inspektur Upacara dan para Pejabat sipil maupun militer lainnya yang berada di panggung kehormatan.    Cuaca kota Makasar yang terik tidak melunturkan semangat dalam melangkahkan kaki secara teratur dan tegap di sepanjang rute defile yang ditentukan.    Bunyi genderang dan terompet yang dibunyikan oleh Korps Musik Kodam Hasanuddin dan Komando Daerah Maritim Sulawesi membawakan lagu-lagu perjuangan semakin membangkitkan semangat para peserta defile.      Masyarakat bergerombol di tepi jalan menyaksikan defile melewati mereka.    Wajah mereka menunjukkan kegembiraan di bawah ribuan bendera merah-putih yang dikibarkan di setiap rumah, kantor pemerintahan, kentor perusahaan swasta dan pada tiang-tiang bambu di pinggir jalan.

http://i6.photobucket.com/albums/y208/elite_navyseal/defile.jpg

http://www.kodam-slw.mil.id/images/berita_foto/defile.jpg

Usai defile dan setelah tiba kembali di markas,  saya  langsung merebahkan diri di tempat tidur.    Badan terasa penat dan pegal-pegal.   Sebelum terlelap benar, seakan saya bertemu dengan ibu, memeluknya dengan hangat dan berbisik lembut di telinga beliau: “Ibu … anakmu ini, yang belum pernah ibu lihat berkelahi di masa bocah … yang belum pernah ibu lihat mengikuti latihan dasar kemiliteran seperti yang lain ….. anak ibu ini kini telah siap ….. Ibu tidak usah lagi risau walau sekejap …..”.           Dan sayapun lalu terlelap.

Di suatu sore menjelang maghrib, sebuah Jeep Angkatan Laut berhenti di depan markas.   Dua orang perwira Angkatan Laut berjalan tegap memasuki halaman.   Abdul Muis dari Pos yang sedang berada di dekat pintu segera beranjak menghampiri.    Mereka kelihatan bercakap-cakap sebentar, lalu Abdul Muis masuk ke dalam langsung menuju ke kamar pak Sabar Sudiman dan mengetuk pintunya.       Pak Sabar membuka pintu dengan wajah bertanya.

“Ada tamu pak dari KODAMAR.   Ada kerusakan radar di kapal mereka”, kata Abdul Muis memberitahu.

“Radar?”, tanya pak Sabar dengan dahi mengerut, lalu bergegas keluar menemui kedua perwira Angkatan Laut tersebut sambil tangannya memberi tanda kepada Holikin yang sedang duduk di depan Radio.     Holikin segera berdiri dan menyusul pak Sabar Sudiman.    Mereka berdua terlibat dalam percakapan singkat dengan tamunya, lalu Holikin berlari ke dalam masuk ke kamar-sekatnya.   Sebentar kemudian keluar lagi sudah berganti pakaian langsung masuk ke dalam Jeep yang masih menunggu.     Jeep berjalan cepat meninggalkan markas, dan pak Sabar lalu masuk ke dalam.   Dia menuju ke pesawat telepon kemudian memutar nomor tertentu.    Terdengar suara pak Sabar ketika telepon telah tersambungkan: “Dik Toeffoer ? Sabar, di sini.   Barusan ada perwira dari KODAMAR minta bantuan memperbaiki radar kapal mereka.   Saya sudah mengirim Holikin, tetapi sebaiknya dik Toeffoer menyusul ke kapal patroli Angkatan Laut yang sedang sandar di pelabuhan Sukarno.    Ajak juga saudara Lubis, ya ….”.

Telepon diletakkan kembali lalu pak Sabar masuk ke kamar.       Sebuah tindakan yang cepat dan bijak kataku di dalam hati.    Holikin memang ahli di bidangnya, namun untuk sebuah pesawat radar mungkin dia belum pernah menghadapi.   Karena itu perintah kepada Toeffoer Bc.TT dan Lubis Bc.TT untuk membantu Holikin sangat tepat.    Mereka berdua akan menuju ke pelabuhan Sukarno dari rumah masing-masing.

http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/03/367krisim.jpg?w=400&h=267

Menjelang tengah malam Holikin baru tiba bersama Toeffoer dan Lubis.   Mereka langsung memberikan laporan kepada pak Sabar Sudiman.      Kerusakan radar telah berhasil diperbaiki sementara, dan esok hari akan dilanjutkan oleh Lubis yang akan mengupayakan diperolehnya komponen asli.    Pak Sabar tersenyum gembira dan kelihatan puas.     Ketika melihat Lubis Bc.TT,   saya langsung teringat pada hari pertama pendidikan Pembimbing Teknik Telekomunikasi di kelas-gereja, jalan Banda, Bandung.     Rambut yang beruban itu dulu telah mengecoh sehingga kami menyangka guru yang kami tunggu.     Dia dan teman-temannya sengaja melakukan hal itu untuk mempermainkan kami, dan mereka berhasil.    Kami benar-benar terkecoh bulat-bulat.   Agaknya setelah menyelesaikan pendidikan pada Akademi PTT, Lubis ditempatkan pada Daerah Telekomunikasi Sulawesi di Makasar.     Akan halnya  Toeffoer Bc.TT, dia lulusan Akademi PTT  angkatan di atas Lubis.

http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/03/adri_xlvii.jpg?w=392&h=262

Beberapa minggu kemudian terdengar kabar beberapa orang Komponen Khusus akan diberangkatkan ke garis depan.    Di antara mereka terdapat Butje Likumahwa, Bernard Pasuhuk, A.A. Latumanuway dan Oeka Soekardi.     Kapal Angkatan Darat Indonesia telah merapat di dermaga membawa pasukan yang akan bertugas di garis depan wilayah Maluku.     Sebuah kendaraan militer menjemput mereka di markas pada sore hari.   Dengan mengenakan seragam militer warna hijau, koppelrim dan sepatu lars hitam mereka kelihatan gagah walaupun wajahnya tidak secerah biasanya kecuali Bernard Pasuhuk.     Kami bersalam-salaman sebelum mereka naik ke atas kendaraan.    Kapal akan berangkat pada tengah malam karena itu kami tidak mengantar sampai ke pelabuhan.     Tetapi menjelang kapal bertolak dari pelabuhan Sukarno,  Komandan dan para Wakil Komandan CIB-PTT  dengan menggunakan kendaraan dari Daerah Telekomunikasi Sulawesi meninggalkan markas menuju ke pelabuhan untuk melepas keberangkatan mereka.

http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/03/img_0286.jpg?w=405&h=540

Tidak banyak hiburan yang dapat kami nikmati selama di Makasar.   Mendengarkan radio, bermain tenis-meja, bridge, remi dan catur merupakan pengisi waktu setelah bertugas.     Hampir pada setiap hari Saptu malam saya berjalan-jalan ke Pasar Senggol yang membujur dari depan benteng Belanda hingga ke pantai Losari.    Disebut Pasar Senggol karena penuh dengan pedagang kecil yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan dan senantiasa dipadati oleh masyarakat ramai.    Berjalan berdesak-desakan saling bersenggolan sambil memperhatikan berbagai macam barang yang digelar dan ditawar-tawarkan, merupakan sebuah hiburan tersendiri.    Walaupun tidak ada barang yang dibeli, palingtidak sudah bisa mengisi waktu malam minggu dari kekosongan kegiatan sebelum tidur.

Berteman dengan Aan Djaja merupakan keberuntungan juga buatku.    Saya tidak pernah melihat dia menghabiskan waktu malam-malam di luar markas.    Sosoknya selalu hadir di dalam markas kecuali kalau sedang bertugas.     Laki-laki Sunda ini taat menjalankan shalat.   Saya sering mengobrol dengan dia dan memperoleh banyak cerita rakyat daerah Pasundan yang belum pernah saya dengar sebelumnya.     Meskipun agak gagap dalam berbicara namun tidak terlalu mengganggu dalam bercakap-cakap.   Wajahnya tampan dengan dahi lebar yang agak maju ke depan.

http://dodiiswandimauliawan.files.wordpress.com/2009/12/sebuah-pengakuan.jpg?w=450&h=305

Widho Rahardjo sebagaimana biasanya dulu, mengisi waktu dengan membuat puisi dan selalu meminta pendapat saya manakala sebuah puisi telah selesai disusunnya.   Di depan saya dia mendeklamasikan puisinya dengan penuh ekspresi.     Kebiasaan itu agaknya menarik perhatian Udin Suwerna dan Dadang Arifin, operator telegrap dari Jakarta,            yang ternyata juga memiliki bakat sastrawan.     Secara tidak langsung terbentuklah kelompok peminat sajak yang berkumpul di ruang makan untuk mendengarkan ketiga penyair itu membacakan sajak-sajak mereka atau sajak-sajak para penyair Indonesia terkemuka.   Salah seorang peminat sajak yang selalu duduk di sudut ruang makan mendengarkan dengan penuh perhatian adalah Sutjipto.    Bagi saya hal itu mengherankan.    Di masa pendidikan dulu dia bukan penggemar sastra, baik prosa maupun puisi.     Karena itu keberadaannya menyendiri di sudut ruangan menyimak bait-bait sajak membuat saya bertanya-tanya di dalam hati.

“Kamu punya penggemar baru”, kataku kepada Widho seusai dia membacakan sajak.

“Siapa?”, tanya Widho ingin tahu.

“Tuh …. teman kita dulu.   Baru sekarang saya lihat dia menjadi penggemar sajak.   Dulu kan tidak”.

“Tjipto? Ah …. Sajak Udin yang pas buat dia”, bisik Widho sambil tertawa kecil.

“Sajak percintaan? Itu kan keahlian Udin …”.

“Ya …. kau belum dengar?  Tjipto sedang kasmaran …”.

“Ah “, sahutku tersentak.

“Dia terpikat pada seorang operator Intel di tempat dia diperbantukan pada dinas teknik ”.

“Ah … perempuan itu beruntung.   Tjipto kan tampan, sopan dan selalu rapih berpakaian”.

“Ya … cinta bersemi di medan juang bagi pertiwi …” , bisik Widho kembali.

“Siapa nama perempuan yang beruntung itu?”.

“Hasnah kalau saya tidak salah.    Pernah berkunjung ke markas ini kok, bersama dua temannya, Kenang dan seorang lagi yang lebih cantik.   Saya heran kenapa tidak pada si cantik itu hati Tjipto tertambat”.

“Kecantikan bukan hanya dari luar saja, dari dalam juga.    Resultante kedua kecantikan itu pada diri Hasnah bagi Tjipto melebihi yang dimiliki kedua gadis lainnya itu”.

“Ah kamu …. mbelgedhes … tahu apa kamu tentang cinta …. masih ingusan …”.

Saya tertawa pelan sambil melirik ke arah Tjipto yang sedang tenggelam menyimak bait-bait sajak cinta yang dibawakan oleh Udin Suwerna.    Temanku anak Magelang itu sedang kayungyun , cintanya mekar pada seorang gadis Makasar …….

http://www.indomaritim.com/wp-content/uploads/2011/03/pelabuhan-soekarno-hatta3.jpg

—000—

Image Properties:

1.   http://made4earth.files.wordpress.com/2010/09/dsc_0769_thumb.jpg?w=366&h=441&h=243

2.http://jakpress.com/www.php/news/images/16331/Pesawat-Ditumpangi-Kepala-BNP2TKI-Mendarat-Gawat.jpg

3.  http://lh5.ggpht.com/_J2j5us2BXck/TOA3j_DpiFI/AAAAAAAABD4/BTM5MnMm6_c/Bandara%20Sultan%20Hasanuddin.jpg

4.   http://kolomkita.detik.com/upload/photo/1coto1.jpg

5.   http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/03/palubutung.jpg?w=200&h=150

6.   http://farm6.static.flickr.com/5083/5337412137_b26ef1a411_z.jpg

7.    http://thenoisingmachine.files.wordpress.com/2008/07/radio-australia-sticker.jpg?w=188&h=188

8.   http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/files/2010/06/pantai-losari.jpg

9.    http://bandung.detik.com/images/content/2010/07/16/674/Nasi-Bandeng-ins.jpg

10.   http://us.123rf.com/400wm/400/400/tilltibet/tilltibet0806/tilltibet080600133/3183997.jpg

11.    http://www.sjsu.edu/faculty/watkins/subandrio.gi

12.   http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/03/thumbsoekarno_bio.jpg?w=166&h=213

13.http://images.darkwin98.multiply.com/image/1/photos/upload/300×300/SSVXuAoKCsQAADZGatg1/Sukarno-ikut-latihan.jpg?et=FpyFnJCkkORgoiv8mWs0Gg&nmid=0

14.   http://i6.photobucket.com/albums/y208/elite_navyseal/defile.jpg

15.   http://www.kodam-slw.mil.id/images/berita_foto/defile.jpg

16.   http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/03/367krisim.jpg?w=400&h=267

17.    http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/03/adri_xlvii.jpg?w=392&h=26

18.    http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/03/img_0286.jpg?w=405&h=540

19.   http://dodiiswandimauliawan.files.wordpress.com/2009/12/sebuah-pengakuan.jpg?w=450&h=305

20.    http://www.indomaritim.com/wp-content/uploads/2011/03/pelabuhan-soekarno-hatta3.jpg

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s