Penjejalan Budaya Feodalistik “

null

http://rubijanto.files.wordpress.com/2007/10/parikesit.jpg?w=100&h=115Setelah 55 tahun merdeka dalam bingkai Negara Kesatuan, sangatlah janggal bila diungkapkan adanya suatu penjejalan Budaya Daerah tertentu terhadap bangsa Indonesia
sebagaimana ditulis saderek A.Burcon Garnama, SH : “ Penjejalan Budaya Jawa “ dalam PR , 14 dan 15 Desember 2000.    Khususnya bagi penulis yang berasal dari Jawa-Tengah tetapi tinggal lama bahkan mungkin akan menetap menghabiskan hari tua di Jawa Barat.
Nama tetap berakhirkan huruf “o” (lazimnya nama dari Jawa), komunikasi dengan isteri di rumah berbahasa Jawa,  dengan tetangga berbahasa Indonesia sesekali juga Sunda, dengan rekan seprofesi berbahasa Indonesia, dan … dengan anak-anak di rumahpun pun berbahasa Indonesia.
Di hari raya Ied, usai shalat di masjid dalam perjalanan pulang tak putus menyalami tetangga yang terlewati sebagaimana masyarakat Jawa Barat melakukannya, dan sesampainya di rumah akan melaksanakan acara sungkeman sebagaimana masyarakat Jawa sebagian masih melaksanakannya.
Kalau ditelusuri garis keturunannya, isteri penulis masih “berbau” kerabat Mangkunegaran (Solo), tetapi dari dulu ia menuliskan namanya tanpa penanda apa-apa, polos begitu saja sebagaimana nama penulis sendiri yang memang keturunan wong cilik.
Mingguan berbahasa Jawa “Panyebar Semangat” yang menjadi salah satu bacaan penulis “untuk melestarikan bahasa daerah dalam hal ini : Jawa” sedikitpun tidak dilirik oleh anak-anak.
http://sulang.files.wordpress.com/2009/01/cakil.jpg?w=134&h=160Mohon maaf, bukan karena penulis digentayangi si Sabdopalon Noyogenggong, loyalis yang terobsesi kebesaran Majapahit, bukan pula antek atau kroninya “Jawa-Abangan” yang meng-adi luhung-kan budaya Jawa (meminjam semua istilah yang digunakan saderek Burcon Garnama), apabila penulis merasa cemas bahwa : bahasa dan budaya Jawa di dalam keluarga penulis akan terhenti pada tataran generasi penulis dan isteri saja, tidak diteruskan oleh generasi anak-anak penulis.
Manakala saderek Burcon Garnama mengalami hal yang sama dengan penulis, hidup di daerah lain dengan budaya berbeda, akankah beliau juga diliputi kecemasan terhadap kelestarian bahasa dan budaya Sunda di dalam keluarga beliau ?.
Kecemasan tersebut jauh dari meng-adi luhung-kan budaya daerah kita masing-masing , tetapi lebih disebabkan oleh keinginan agar budaya daerah – menurut Bung Karno — : tetap bersemi di dalam taman sarinya budaya nasional kita, Indonesia.

Setelah penulis mencoba memahami jalan pikiran saderek Burcon Garnama dalam tulisan tersebut, penulis berkesimpulan bahwa sebenarnya yang dimaksudkan dengan praktik “penjejalan” tersebut adalah terhadap sistim feodalisme.       Atas dasar kesimpulan itu, tulisan ini penulis beri judul : Penjejalan Budaya Feodalistik.
Mengapa saderek Burcon Garnama , dan mungkin juga presiden KH Abdurachman Wahid , secara tegas menunjuk langsung pada budaya daerah tertentu yakni : Jawa ?.
Pada hemat penulis karena mereka terperangkap pada tokoh yang menjadi Pimpinan Nasional kita saat yang lalu , yaitu : Soekarno dan lebih-lebih lagi Suharto.
Keduanya berasal dari daerah Jawa ( Soekarno : Jawa Timur , Suharto : Jawa Tengah ).
Berkas:Soekarno.jpgSaya sependapat dengan saderek Burcon dalam menilai presiden pertama RI Soekarno, bahwa beliau tidak menampakkan diri dalam posisi penguasa yang melakukan penjejalan budaya Jawa.     Soekarno tidak tertarik pada proses terjadinya Nusantara oleh Majapahit, melainkan pada : realitas bersatunya kepulauan Nusantara dalam satu pe-merintahan.    Soekarno bahkan kalah pintar dari sejarawan Muhammad Yamin yang berasal dari ranah Minang itu, dalam menggambarkan “kebesaran Majapahit”.
Kalau ada sekelumit budaya Jawa yang sering dikemukakan oleh Soekarno,  hanyalah suluk monolog-nya Dalang Wayang-kulit yang menggambarkan – dalam bahasa Jawa tentunya – adil makmurnya suatu negara : panjang punjung pasir wukir loh jinawi , tata tentren kerta raharja ….
Soekarno sendiri menggemari seni musik Keroncong dan seni tari Lenso.
Ke-“Jawa”-an Soekarno tidak setebal Suharto.     Ia berdarah Jawa – Bali , memperisteri  Utari (Jawa Islami), setelah cerai lalu memperisteri Inggit Garnasih (Sunda), bercerai lagi lalu memperisteri Fatmawati (Bengkulu), kemudian singgah dalam pangkuan Hartini (Jawa), isterinya yang setia mendampingi saat jatuh terpuruk dan ternistakan hingga ajal menjemputnya.      Ia lahir di Jawa Timur, ketika Majapahit hanya mewariskan puing-puing candi,  dan ketika tangan kekuasaan Mataram hanya menempatkan Bupati-Bupati.
Ia tidak aktif di organisasi pemuda kedaerahan semacam Jong Java, tetapi langsung menggunakan nama Indonesia ketika membentuk partai politik (PNI).
Ia mendukung bahasa Melayu dijadikan bahasa Indonesia, bukannya bahasa Jawa.
Ia mengagumi Tan Malaka yang putra Minang, dan di awal kemerdekaan membuat “testamen” kepada Tan Malaka untuk memimpin revolusi Indonesia bila ia berhalangan karena sesuatu hal. Ketika Mohamad Hatta (Minang) mengundurkan diri, ia tidak meminta pengganti dari suku Jawa.
http://www.masboi.com/wp-content/uploads/2008/01/suharto-senyum.jpgBagaimana dengan presiden RI kedua : Suharto ?.
Secara jujur penulis pun menilai beliau tidak pernah secara sadar menjejalkan budaya Jawa (Abangan) pada bangsanya, meskipun secara pribadi ia sendiri kental budaya Jawa-nya.     Tradisi sungkeman yang sering ditayangkan TV, tak pernah “dikomando”kan untuk dilakukan oleh seluruh bangsa Indonesia.
Ucapan akhiran “ken” untuk yang seharusnya “kan”, kerapnya menggunakan istilah “daripada”, adalah kebiasaan pribadinya.     Bahwa banyak menteri pembantu beliau yang tetap tidak terpengaruh mengucapkan “ken” dan “daripada”, menunjukkan bahwa beliau tidak mengharuskannya untuk ditirukan.
Proyek transmigrasi yang dikritik sebagian orang daerah setempat sebagai “penjajahan Jawa / Jawanisasi”,  tuduhan tersebut sangat kental dengan subjektivitas politik dalam bingkai pola pikir sempit kedaerahan.
Bolehjadi butir-butir mutiara kepemimpinan TNI kalau belum direformasi, yang sarat dengan “falsafah Jawa” dan istilah–istilah bahasa Jawa (kuno), dapat menjadi sasaran tembak tuduhan “penjejalan budaya Jawa” bagi yang mengkritisinya.
Tetapi terhadap tudingan sedemikianpun konon pihak TNI telah siap dengan jawabannya.

Yang menonjol di masa pemerintahan Suharto memang “mega proyek keluarga” dalam struktur penguasaan politik maupun ekonomi. Rekayasa politik untuk melanggengkan kekuasaan menyebabkan disumbatnya berbagai jalur demokrasi sehingga membodohkan rakyat.
Tetapi apakah nepotisme sedemikian itu : Budaya Jawa (Abangan) ?.
Ya , karena memang Budaya Jawa (Abangan) khususnya keraton menerapkannya.
Tidak tepat juga, karena nepotisme bukan semata-mata milik Budaya Jawa (Abangan).
Nepotisme dapat kita temukan di mana saja di seantero bumi ini.
Di India ada “dinasti Nehru”, di Pakistan ada “dinasti Bhutto”, di Philipina ada “dinasti Marcos”,  di Korea Utara ada “dinasti Kim Il Soeng”, di Bangladesh, Irak, Kamboja, Sri Lanka, dan di negara-negara kerajaan/kasultanan/Emirat Timur Tengah.

Apakah feodalisme yang memperlakukan derajat kemanusiaan diukur oleh keningratan dan kedudukan sosial, juga : Budaya Jawa (Abangan) ?.
Ya , karena memang Budaya Jawa (Abangan) ketika itu menerapkannya.
Tidak tepat juga, karena feodalisme bukan semata-mata milik Budaya Jawa (Abangan).     Feodalisme dapat kita temukan di mana saja di seantero bumi ini.     Bahkan di negara modern pun Feodalisme telah diserap pula dalam bentuk : memperlakukan derajat ke-manusiaan yang diukur oleh gelar akademis, dan oleh kekayaan materi.
Maka agar tidak terlalu bias, kita sebut saja : Penjejalan Budaya Feodalistik.
http://rubijanto.files.wordpress.com/2007/10/sultanagung.jpg?w=116&h=152Bukankah Mataram dibawah Sutan Agung Hanyokrokusumo menjejal-jejalkan falsafah Adiluhung (Kejawen) yang bercirikan feodalisme dan mistik, lewat penaklukan-penaklukan seluruh penguasa lokal di seantero pulau Jawa, Madura dan Kalimantan Selatan (kecuali Banten dan Batavia tak dapat ditaklukkannya) ? (Burcon Gurnama/pen).
Ya, realitasnya memang Mataram menjejalkan Budaya feodalistik.     Adapun mengenai penaklukan-penaklukan tersebut, seyogyanya kita mengikuti pola pikir presiden RI pertama Soekarno : tidak tertarik pada prosesnya, melainkan pada realitas menjadi bersatu-padunya daerah-daerah itu dalam satu perlawanan terhadap penjajah VOC (Belanda).

Apakah mistik sinkretisme agama itu Budaya Jawa (Abangan) ?.
Ya, karena memang Budaya Jawa (Abangan) ketika itu diwarnai oleh mistik-sinkretisme.
Tidak tepat juga, karena mistik-sinkretisme bukan semata-mata milik Budaya Jawa (Abangan).     Mistik sedemikian dapat kita temui di mana saja di seantero bumi ini.
Yang melakukan ritual pengkeramatan Ka’bah, bukan hanya (sebagian kecil sekali) jemaah haji dari Indonesia,  melainkan juga dari negara-negara lain di seluruh dunia.
Islam memang berhasil menguasai jazirah Arab, tetapi sudah pasti tidak bisa tuntas menumpas sisa-sisa jahiliah dari masyarakat yang sebelumnya melakukannya.
Apakah Sumatera, Banten dan Betawi yang tidak ditaklukkan Mataram, terbebas dari mistik-sinkretisme ?.
Biarlah bukan penulis atau saderek Burcon Garnama yang menjawabnya, melainkan saudara-saudara kita yang dari Aceh (“Serambi Mekkah”), Tapanuli, Mandailing, Minangkabau, Jambi,  Riau,  Palembang,  Bengkulu,  Lampung,  Banten dan Betawi.

Dikotomi Jawa Abangan dan Jawa Sarungan digambarkan dalam nuansa “gelap” untuk yang Abangan, dan “terang” untuk yang Sarungan, dalam konteks Demokrasi.
Budaya Jawa Abangan adalah Anti Demokrasi dan sarat dengan Pembodohan Rakyat.
Benarkah demikian ?.     Sejarah mencatat bahwa pada awal Januari 1946 di Solo terjadi “gerakan anti swapraja”,  terhadap dua raja Jawa : Susuhunan dan Mangkunegoro.
Dr. Muwardi memimpin Barisan Banteng menculik dan menahan sementara waktu http://www.heritageofjava.com/whois/tokoh/pb-xii.jpgSusuhunan Paku Buwono XII beserta Ibunda dan Pangeran Soerjohamidjojo.
Kemudian pada bulan April, Barisan Banteng dan unsur pemuda lain memasuki keraton dan memaksa Susuhunan untuk menyerahkan kekuasaannya kepada rakyat.
Pada 30 April, Susuhunan Paku Buwono XII menyerahkan kekuasaannya kepada pemerintah RI,  kemudian disusul Mangkunegoro pada tanggal 1 Mei 1946.
(Rosihan Anwar ,Subadio Sastrosatomo Pengemban Misi Politik ).
Dr. Muwardi dan Barisan Bantengnya, jauh dari kesan “Sarungan”, lebih ke “Abangan”  tetapi apa yang dilakukannya adalah pendobrakan terhadap feodalisme, demokratis dan pemberdayaan rakyat.
Sebenarnya penulis merasa kurang sreg dengan digunakannya istilah “Abangan” dan “Sarungan” tersebut.     Bukankah itu merupakan produk dari suatu Masyarakat Agraris di mana saja di seantero bumi ini, tidak hanya di Jawa saja .
Masyarakat Agraris mengenal kebudayaan adiluhung yang berpusat di keraton/istana/kastil, kebudayaan rakyat yang terserak di pedesaan, dan kebudayaan agamis di pusat-pusat kegiatan keagamaan.
Sedangkan Masyarakat Agraris sendiri merupakan tahapan suatu proses transformasi kemasyarakatan, yang saat ini pun sedang melanda bangsa dan negara kita.
Tetapi untuk mengikuti jalan pikiran saderek Burcon Garnama, kedua istilah itu disebutkan dalam tulisan ini.

Benarkah Jawa Sarungan terpinggirkan selama 385 tahun dan tidak memiliki peran selaku subyek sejarah ?.
Sistim kerajaan di Jawa, juga di tempat lain  memang menempatkan Ulama bukan sebagai Penguasa.    Tetapi keberadaan Ulama dalam struktur kekuasaan cukup tinggi, sebagai penasihat rohani para raja yang berkuasa.  Pendapat  “Jawa Sarungan terpinggirkan” itu ada benarnya apabila yang dimaksudkan sebagai subyek sejarah itu adalah Presiden atau Kepala Negara.
Walaupun demikian  bukankah dalam sistim demokrasi parlementer, kepala pemerintahan bukanlah Presiden melainkan Perdana menteri ?.
Kita mencatat Muhammad Rum dan Sukiman Wirjosandjojo, pernah menjadi Perdana Menteri (Kepala pemerintahan). Mereka adalah Jawa Sarungan.
Kemudian tokoh-tokoh non Jawa yang sealiran dengan Jawa Sarungan, seperti Mohammad Natsir, Burhanuddin Harahap,  Syafruddin Prawiranegara,  Mohammad Hatta pernah pula menjadi Perdana Menteri (Kepala Pemerintahan).
Sebagian besar dari mereka menjadi subyek sejarah yang sebenarnya tatkala berkuasa.
Kita mencatat pula bahwa tatkala mereka berkuasa pun pada dasarnya belum sempat mengatasi pembangunan daerah sepesat pembangunan pusat (yang di Jawa), meskipun mereka jelas tidak berwajah Budaya Jawa (Abangan) yang konon “tidak memberikan cerminan keadilan bagi komunitas di daerah” (Burcon Garnama/pen).
http://www.percikaniman.org/images/berita/n.pngBerbeda dengan pendapat “terpinggirkan selama 385 tahun” itu, Mohamad Natsir dalam “Indonesisch Nationalism” justru mengatakan :
“ Pergerakan Islam pulalah yang pertama-tama meretas jalan di negeri ini bagi kegiatan politik yang mencita-citakan kemerdekaan, yang telah menebarkan benih kesatuan Indonesia ….. “ (Endang Saifuddin Anshari,  Piagam Jakarta 22 Juni 1945).

Indonesia tanah airku ini memang maha luas untuk suatu negara, maha plural untuk suatu bangsa,  maha jauh rentang potensi kekayaan sumber alam daerah,  maha kompleks untuk permasalahan yang harus dihadapi pemerintah.
Cendekiawan dan Budayawan Kuntowijoyo menegaskan bahwa penggambaran hitam-putih antara Jawa dan Non Jawa yang terlalu menonjolkan perbedaan dan melupakan persamaan, adalah suatu manifestasi ketidak jujuran terhadap sejarah.
Antara sampeyan dalem dan duli tuanku tidak kalah berkuasanya, antara priyayi dan uleebalang sama “terhormat”nya , antara hukuman ditusuk keris sama sakitnya dengan ditusuk rencong, dan baik di Jawa maupun luar Jawa sama-sama terdapat “feodalisme” (Kuntowijoyo , Identitas Politik Umat Islam : Negara sebagai Subjek ).
Yang kita butuhkan bersama adalah : mendinginkan emosi bernafsu amarah dan syak wasangka,  menjauhkan etnosentris, merekatkan silaturahmi, menjernihkan pikiran dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara, memandang masa depan penuh optimis untuk Indonesia yang bersatu.

http://www.globalfirepower.com/imgs/maps/indonesia.jpg

Padamu Negeri, kami berjanji
Padamu Negeri, kami berbakti
Padamu Negeri, kami mengabdi
Bagimu Negeri, Jiwa Raga kami.

( Djaka Rubijanto , pemerhati sejarah )

http://wisatasejarah.files.wordpress.com/2009/04/imogiri-makam-1.jpg?w=287&h=300

Image properties:

1.    http://i73.photobucket.com/albums/i232/Wirahadibrata/toba_batak_in200.jpg

2.   http://rubijanto.files.wordpress.com/2007/10/parikesit.jpg?w=100

3.   http://sulang.files.wordpress.com/2009/01/cakil.jpg?w=134&h=160

4.   http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c5/Soekarno.jpg

5.   http://www.masboi.com/wp-content/uploads/2008/01/suharto-senyum.jpg

6.  http://rubijanto.files.wordpress.com/2007/10/sultanagung.jpg?w=227

7.   http://www.heritageofjava.com/whois/tokoh/pb-xii.jpg

8.   http://www.percikaniman.org/images/berita/n.png

9.    http://www.percikaniman.org/images/berita/n.png

10.  http://www.globalfirepower.com/imgs/maps/indonesia.jpg

11.   http://wisatasejarah.files.wordpress.com/2009/04/imogiri-makam-1.jpg?w=287&h=300

About these ads
By Djaka Rubijanto Posted in Artikel

6 comments on “Penjejalan Budaya Feodalistik “

  1. narasi deskriptif yang sangat bagus..

    saya juga pernah membaca tentang asal tari2an diindonesia, yang bukan tercipta dari seni budaya lingkungan keraton. tapi tercipta karena kondisi “pencekalan” aktivitas sosial politik lingkungan kerajaan sendiri akibat penetrasi secara militer dari penjajah.

    walo hal ini bisa membuat “malu” banyak kalangan. tetapi kita ga akan bisa memperbaiki dan menyadari jati diri bangsa. kalo kita tidak bisa mengetahui hal sebenarnya..

    • Memang ini artikel lama namun materinya masih tetap berlaku. Paling tidak anda bisa mengerti bahwa di saat artikel itu ditulis, terdapat pemahaman yang sedemikian. Lalu anda dapat menarik ke masa sekarang, apakah pemahaman sedemikian masih ada, semakin berkurang atau semakin bertambah. Salam.

  2. Terima kasih sekali Bapak atas tanggapannya pada Tulisan Burcon Garnama. Kebetulan sekali saat tulisan Burcon Garnama ini dimuat saya membacanya juga lewat koran yang dipajang di kampus. Sebenarnya saya juga tidak sependapat dengan pikiran Burcon Garnama tersebut, sayang saya tidak bisa memberikan sanggahan karena saya tidak punya referensi sejarah yang kuat yang pada akhirnya hanya jadi ngedumel sendiri.Saya sering sekali membaca tulisan2 Burcon Garnama yang sering dimuat di PR yang isinya sering “menjelekkan” Jawa, bahkan menganggap budaya orang Sunda yang dianggap penulis “jelek” adalah peninggalan Mataram. Yang ingin saya tanyakan sama Burcon Garnama apakah budaya Sunda benar2 terpengaruh Mataram akibat penguasaan Mataram pada masa Sultan Agung?? Bandingkan dengan Surabaya yang lebih lama dikuasai mataram daripada Tatar Ukur (Bandung) yang dilepas Amangkurat kepada Belanda atas bantuan membantu mengatasi Trunojoyo, Surabaya tidak berbudaya Mataram, pun sunda tidak juga berbudaya Mataram. Seandainya berpengaruh bukankah lebih besar pengaruh Belanda yang hampir 3 kali lebih lama menguasai tatar Ukur?
    Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang notabene penerus Mataram mendukung sepenuhnya berdirinya RI dengan berbagai macam bantuannya dan bahkan “menyerahkan” negaranya yang berdaulat untuk bergabung dengan RI apakah itu juga merupakan budaya abangan yang tidak demokratis dan pembodohan terhadap rakyat???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s