ALLAHU AKBAR … ALLAHU AKBAR … ALLAHU AKBAR …….. MERDEKA.

PEARL harbour

Kekalahan Sekutu dalam perang Pasifik sejak Laksamana Chichi Nagumo memerintahkan penyerbuan Pearl Harbour pada 7 Desember 1941 dan menguasai Hawai lalu bergerak ke Philipina, membuat pasukan Amerika Serikat melepaskan Philipina untuk mundur ke Bataan dan Carregidor kemudian akhirnya menyerah.   Jenderal Mc. Arthur berhasil meloloskan diri sambil menebar janji dengan penuh geram:  I shall return !.                                                 Jenderal Terauchi mengerahkan pasukan Kamikaze Angkatan Udara Dai Nippon melakukan serangan jibaku dengan menubrukkan pesawat terbangnya ke kapal-kapal perang Sekutu sehingga melumpuhkan Angkatan Laut Inggris di medan tempur bagian barat Asia Tenggara.  Berturut-turut direbut Hongkong, Macao, Saigon, Bangkok, Rangoon, Kuala Lumpur, Labuan dan …. Jakarta.

Jendral Mc ArthurJantera jarum Perang Pasifik mencapai titik baliknya ketika di medan perang bagian timur Asia Tenggara, Jenderal Mc. Arthur (Amerika) menggerakkan pasukan South West Pacific Area Command (SWPAC)/Sekutu dengan taktik “lompat pulau” berhasil merebut kembali Irian Barat, Morotai, Tarakan, Balikpapan lalu melompat dan membebaskan Philipina untuk memenuhi janji I shall return-nya.    Pada April 1945 SWPAC/Sekutu bahkan mampu merebut Iojima dan Okinawa di ambang pintu Jepang.    Perasaan geram terhadap Jepang yang pernah mendepaknya keluar dari Philipina dilampiaskan dengan menetapkan pejuang-pejuang nasionalis Philipina sebagai penjahat perang kemudian diseret ke pengadilan militer Sekutu.    Jendral Mc. Arthur juga mempunyai niat yang sama terhadap para pejuang nasionalis Indonesia termasuk pimpinan tertingginya, Sukarno dan Hatta, dinyatakan sebagai kolaborator Jepang dan akan dibawa ke pengadilan militer Sekutu.

Lord MounbattenDi medan perang bagian barat Asia Tenggara, Jenderal Mountbatten (Inggris) memimpin  pasukan South East Asia Command (SEAC)/Sekutu dengan susah payah berhasil merebut kembali Rangoon dan membebaskan Birma.  Raja Inggris memberi hadiah gelar: Lord Moundbatten of Burma.  Kemenangan dan hadiah gelar kebangsawanan itu diam-diam menumbuhkan keinginan Jendral Lord Mounbatten untuk mengembalikan harga diri kerajaan Inggris di Asia dengan berniat menguasai seluruh Asia Tenggara pasca kekalahan Jepang.                                                                                   Titik balik jantera perang Pasifik ini dibaca dengan cermat oleh pemerintah Belanda.  Di Brabant, Nederland, segera dibentuk Netherlands East Indies Civil Affairs (NICA) pada 24 Juli 1945 untuk mempersiapkan diri menerima kembali kekuasaan sipil setelah tiba saatnya Jepang takluk pada Sekutu.    Sebanyak 50.000 sukarelawan laki-laki dan 12.000 sukarelawan perempuan siap dikirim ke Indonesia.  Belanda pun telah menyiapkan dua pasukan khusus untuk diberangkatkan ke Indonesia, yaitu Gezachts Batalion dan Expeditionaire Machten.   Van Mook dan Van der Plas yang tinggal di tempat pengungsian di Brisbane, Australia, juga telah diperintahkan untuk bersiap-siap kembali ke Jakarta.

Namun Tuhan berkehendak lain.   Persetujuan Postdam yang diadakan pada bulan Juli 1945 menghasilkan perubahan penting terhadap kesepakatan Gabungan Pimpinan Staf Tertinggi Sekutu sebelumnya.   Perubahan itu menetapkan bahwa keamanan atas wilayah Muangthai, Indo-China bagian selatan dan Hindia-Belanda diserahkan kepada SEAC, sedangkan sisanya kepada SWPAC.    Ini berarti Jendral Mc. Arthur tidak mungkin merealisasikan niatnya untuk menyeret Sukarno-Hatta dan para pemimpin Indonesia lainnya ke pengadilan militer Sekutu sebagai penjahat perang kolaborator Jepang, sebab pasukan Inggrislah yang akan ke Hindia Belanda, bukan tentara Amerika.

Nagasaki bombing

Hiroshima

harry s trumanTitik balik jantera Perang Pasifik mencapai nadirnya ketika presiden AS, Harry S Truman, menyetujui pengeboman Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom pada 6 dan 9 Agustus 1945.    Dalam pada itu Jendral Terauchi andalan Dai Nippon yang bermarkas di Saigon, tidak bisa berbuat banyak setelah hubungannya dengan Tokio terputus karena Okinawa diduduki tentara Amerika.   Maka Jepang pun lalu menyerah kalah kepada Sekutu.   Gabungan Pimpinan Staf Tertinggi Sekutu memerintahkan Jendral Mc. Arthur untuk membawa pasukannya menuju Tokio guna menuntaskan pendudukan Jepang oleh Sekutu.    Dalam pada itu Jendral Lord Mountbatten dengan leluasa bisa masuk ke Asia Tenggara, menguasai kembali bekas jajahannya dulu yang pernah lepas direbut Jepang, bahkan bertambah dengan Hindia-Belanda bekas jajahan Belanda.     Tampaknya keinginan Jendral Lord Moundbatten bakal terlaksana dengan mulus.   Tetapi kembali Tuhan ternyata berkehendak lain.

proklamasi kemerdekaan ri

Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 pagi menyentakkan dunia.   Pemuda-pemuda Indonesia bergerak cepat di saat tentara pendudukan Jepang dalam kebingungan antara akan masuknya tentara Sekutu dan telah diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia.    Mereka merebut kantor-kantor pemerintahan dari tangan Jepang di Jakarta, dan di Surabaya terbentuk Pemuda Republik Indonesia (PRI) pada 23 September yang lalu menyerbu gedung Kenpemtai.   Di Bandung pada 27 September Kantor Pusat PTT dikuasai AMPTT, kemudian merembet ke kota-kota besar lainnya di Jawa dan Sumatera.

Letjen Philip ChristisonPanglima Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) bagian dari SEAC, Letnan Jenderal Sir Philip Christison, memimpin pasukan Sekutu dari Inggris masuk ke Indonesia dan tiba di Jakarta pada 29 September 1945.    Dalam keterangan pers yang disiarkan radio Singapura ia mengatakan Republik Indonesia dapat diminta membantu misi tentara Sekutu.   Pernyataan Panglima AFNEI itu mengejutkan Belanda karena merupakan pengakuan atas Republik Indonesia yang baru merdeka secara de facto.    NICA yang telah diikutkan bersama AFNEI masuk ke Indonesia diperintahkan untuk meningkatkan aktivitas mencapai tujuan menguasai Hindia-Belanda kembali setelah kekalahan Jepang.    Terjadi pertentangan kepentingan secara diam-diam antara Lord Mountbatten (SEAC-Inggris) dengan Van Mook dan Van der Plas (NICA-Belanda) terhadap Indonesia.

Kedatangan AFNEI membangkitkan keberingasan tentara pendudukan Jepang yang tugasnya menjaga kondisi status-quo di beberapa kota telah diganggu oleh pemuda-pemuda Indonesia.   Mereka menyerang balik mencoba menguasai kota-kota kembali agar kedatangan tentara Sekutu tidak mengalami rintangan.  Di Jakarta pasukan Jepang menggerebeg markas pemuda di Menteng 31 dan menangkapi tokoh-tokoh Angkatan Pemuda Indonesia (API), Barisan Buruh dan Barisan Rakyat.  Bandung pun berhasil “diamankan” sehingga kedatangan Sekutu ke Bandung pada pertengahan Oktober tidak mengalami kesulitan berarti.   Di Semarang pasukan Kidobutai menyerang secara membabi-buta dalam pertempuran 6 hari yang menewaskan hampir 2000 orang.  Semarang berhasil “diamankan” kembali untuk mempersiapkan kedatangan tentara Sekutu yang mendarat pada 20 Oktober.

                                                palagan ambarawa

GurkhasBurma

Dari Semarang tentara Sekutu bergerak ke arah Ambarawa dan Magelang dimana terdapat konsentrasi interniran Belanda untuk dibebaskan dan dievakuasi.    Gerak mereka dihadang dengan sengit dan dihentikan bahkan dipukul mundur oleh pasukan Indonesia yang dipimpin komandan BKR Banyumas, Kolonel Sudirman.    Perlawanan tentara Indonesia dalam Palagan Ambarawa ini mengejutkan Sekutu yang tidak menyangka sedemikian kuatnya tentara Indonesia.    Pimpinan tentara Inggris di Jakarta segera meminta bantuan presiden Sukarno untuk menghentikan serangan tentara Indonesia.    Pada 1 November 1945 presiden Sukarno bersama Menteri Pertahanan Amir Syarifuddin terbang ke Semarang lalu menuju Magelang untuk memprakarsai sebuah gencatan senjata yang ditaati oleh tentara Indonesia.

Di Surabaya tentara Sekutu mendarat pada tanggal 25 Oktober.   Berbeda dengan kota-kota lainnya,  Surabaya dikuasai penuh oleh Indonesia setelah PRI menyerbu gedung Kenpemtai sehingga pihak  Jepang tidak dapat melakukan serangan balik untuk menguasai Surabaya kembali.   Melalui corong Radio Pemberontak, Bung Tomo membangkitkan semangat rakyat Surabaya untuk menentang pendaratan tentara Sekutu.    Gerak maju Brigade ke-49 tentara Sekutu untuk masuk ke kota Surabaya memperoleh perlawanan yang sangat sengit dan nyaris dikalahkan.

mallaby-dan-jepang

ju87-poland-px800

Menyadari hal itu, Jenderal Hawtorn meminta bantuan presiden Sukarno kembali, yang segera terbang ke Surabaya pada 29 Oktober bersama Wakil presiden Moh. Hatta dan Menteri Pertahanan Amir Syarifuddin.    Presiden Sukarno berkeliling kota menyerukan penghentian tembak-menembak, lalu melakukan perundingan dengan pihak Inggris dan menghasilkan sebuah persetujuan perdamaian.    Presiden Sukarno dan rombongannya kemudian kembali ke Jakarta.       Namun berbeda dengan situasi di Magelang, ternyata ketika sebuah regu patroli bersama Inggris dan Indonesia bergerak untuk memulihkan ketertiban, terjadi lagi tembak-menembak yang mengakibatkan Brigadir Mallaby tewas.    Hingga saat ini belum diperoleh kejelasan siapa yang memulai dan bagaimana kejadian detil dari peristiwa itu.    Tentara Inggris meradang dan keadaan pun memburuk kembali.    Bala bantuan tentara Inggris didatangkan dan Jenderal Mansergh mengeluarkan ultimatum agar rakyat Surabaya menghentikan perlawanan dan menyerahkan senjata kepada tentara Sekutu.    Ultimatum tersebut ditolak pemuda dan rakyat Surabaya yang tersulut kemarahan.

surabaya1

surtabaya2

kisah-kisah-heroik-di-balik-pertempuran-surabaya

Tanggal 10 November 1945 pukul 06.00 pagi tentara Inggris bergerak menyerbu kota kembali dan menyerang markas-markas pemuda dan rakyat Surabaya.     Bung Tomo pun muncul kembali melalui corong Radio Pemberontak menyerukan perlawanan dengan suara yang mengguntur:                                                                         Bung_Tomo

Bismillaahirohmannirohim, MERDEKA !!!  Saudara-saudara Rakyat jelata di seluruh Indonesia, terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.   Kita semuanya telah mengetahui, bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.     Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan, menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang.   Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.    Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu, dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka.    Saudara-saudara.    Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau,  kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya, pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku, pemuda-pemuda yang berasal dari Sulawesi,  pemuda-pemuda yang berasal dari pulau Bali,  pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,   pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera:  pemuda Aceh,  pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini, di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing, dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung, telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol !!  Telah menunjukkan satu kekuatan hingga mereka itu terjepit dimana-mana.  Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu, Saudara-saudara, dengan mendatangkan presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini, maka kita tunduk untuk memberhentikan pertempuran.   Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri, dan setelah kuat, sekarang inilah keadaannya.   Saudara-saudara.  Kita semuanya …  kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini, akan menerima tantangan tentara Inggris itu.   Dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada di Surabaya,  ingin mau mendengarkan jawaban rakyat Indonesia.  Ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.  Dengarkanlah ini, tentara Inggris!!   Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu,  Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu,  Kau menyuruh kita membawa senjata-senjata  yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahkan kepadamu.  Tuntutan itu … walaupun kita tahu,  bahwa kau sekali lagi mengancam kita, untuk menggempur kita dengan seluruh kekuatan yang ada.  Tetapi inilah jawaban kita:  Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah, yang dapat membikin secarik kain putih … Merah dan Putih,  maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga.   Saudara-saudara Rakyat Surabaya   Siaplah …. keadaan genting   Tetapi saya peringatkan sekali lagi:  Jangan mulai menembak   Baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu.   Kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka   Dan untuk kita, Saudara-saudara   Lebih baik kita hancur-lebur daripada tidak merdeka   Semboyan kita tetap:  MERDEKA  atau  MATI  !!!  Dan kita jakin Saudara-saudara  Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita  Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar  Percayalah Saudara-saudara,  Tuhan akan melindungi kita sekalian.  ALLAHU AKBAR  …… ALLAHU AKBAR …. ALLAHU AKBAR …. MERDEKA  !!!! “.

Dunia berdecak kagum menyaksikan perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya sebagai tindakan penuh patriotisme dan heroisme, yang dinilai oleh Mr. Wilopo sebagai satu-satunya perang rakyat terbuka menandingi Sekutu dengan pengalaman perang mereka dan dengan perlengkapan senjata modern.

(dirangkum dari penuturan Adam Malik “Mengabdi Republik”, Subadio Sastrosatomo “Pengemban Misi Politik”, Wilopo “Wilopo, 70 tahun”, dan blog rubijanto.wordpress.com).  

—000—

By Djaka Rubijanto Posted in Uncategorized

MEMAKNAI ARTI KEMERDEKAAN

DARI KACAMATA SEORANG GENERASI MUDA MASA KINI

Heru Basuki PurwantoJudul di atas saya ambil dari salah satu isi dari buku kecil : “Selling Yourself”, karya seorang generasi muda kita, Heru Basuki Purwanto, yang masih aktif di PT Telkom dan sebagian dari isi buku itu saya usung dalam tulisan ini.     Di setiap bulan November bangsa kita selalu memperingati Hari Pahlawan 10 November.    Untuk tahun 2012 ini peringatan Hari Pahlawan terasa lebih istimewa dengan dianugerahkannya gelar Pahlawan Nasional bagi Bung Karno dan Bung Hatta oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono dengan Keputusan Presiden No. 83/TK/2012 bagi Bung Karno dan No. 84/TK/2012 bagi Bung Hatta.      Keluarga besar kedua tokoh pendiri bangsa dan proklamator kemerdekaan itu hadir lengkap di Istana Merdeka pada tanggal 7 November 2012 dengan wajah yang cerah. Presiden menyerahkan piagam penghargaan itu kepada Guntur Sukarnoputra dan Meutia Hatta. “Penganugerahan gelar pahlawan nasional ini menegaskan bentuk pengakuan, penghargaan, penghormatan dan ucapan terimakasih atas perjuangan dan pengorbanan beliau-beliau. Kita patut mengenang dan melestarikan nilai-nilai kejuangan yang telah diteladankan Bung Karno dan Bung Hatta”, kata Presiden.

Megawati Sukarnoputri dan Meutia Hatta

Guntur Sukarnoputra dan Megawati Sukarnoputri , 7 November 2012

Dengan dianugerahkannya gelar Pahlawan Nasional itu kepada Bung Karno dan Bung Hatta, maka stigma negatif yang pernah melekat pada kedua tokoh pendiri bangsa itupun diharapkan sirna.     Bung Karno pernah dicabut mandatnya oleh MPRS melalui Ketetapan MPRS No. XXIII/MPRS/1967 dengan pertimbangan sebagaimana diungkapkan oleh Abdul_Harris_Nasutionletjen suhartoKetua MPRS, Jenderal TNI AH Nasution, bahwa pidato Presiden Sukarno di hadapan Sidang MPRS tidak jelas memuat pertanggungjawaban kebijaksanaan Presiden atas pemberontakan G30S/PKI.    Sebelumnya, Pejabat Presiden/ Pangkopkamtib/Pengemban Supersemar, Jenderal TNI Suharto, dalam laporannya kepada MPRS mengutip beberapa hasil pemeriksaan Tim Pemeriksa Pusat terhadap diri Presiden Sukarno, secara tidak langsung memberikan gambaran keterlibatan Presiden Sukarno pada G30S/PKI.       Akan halnya Bung Hatta pernah disangkut-pautkan dengan gerakan makar Sawito terhadap Presiden Suharto.

sjahrir

Moh YaminTan MalakaPadahal sejarah mencatat bahwa setelah pemberontakan PRRI/PERMESTA berhasil dipadamkan oleh TNI/POLRI, Presiden Sukarno mengeluarkan abolisi terhadap semua perwira menengah TNI/AD yang memimpin pemberontakan tersebut di daerah-daerah.     Jauh sebelumnya, Presiden Sukarno juga memberikan grasi kepada Tan Malaka, Moh. Yamin dan tokoh-tokoh lainnya pelaku peristiwa 3 Juli 1946 yang telah dijatuhi hukuman oleh pemerintahan Perdana Menteri Sutan Syahrir.      Namun hal sebaliknya justru diterima oleh Presiden Sukarno sebagai akibat terjadinya pemberontakan G30S/PKI.      Stigma negatif itu harus dipikulnya selama 45 tahun sejak dilengserkan hingga ajal menjemput dan puluhan tahun kemudian setelah itu.

ju87-poland-px800

GurkhasBurma

pertempuran surabaya

PERTEMPURAN-SURABAYA 2

Salah seorang generasi muda kita, Heru Basuki Purwanto, bertanya-tanya dalam hati : “Apa sebenarnya arti kemerdekaan yang kita rayakan setiap tanggal 17 Agustus setiap tahun itu?”.       Ia dan angkatan muda lainnya tidak mengalami sendiri masa-masa revolusi fisik, sebagaimana dialami oleh ayah Heru yang pernah mengangkat senjata di Surabaya bersama ribuan pejuang lainnya.       Ayahnya bertempur di berbagai sektor sehingga tertangkap Belanda dan digiring bersama tawanan lain ke kamp penampungan di kota Surabaya.     Beruntung karena usia masih terlalu remaja, sekitar 18 tahun, Belanda membebaskan mpejuang cilik itu.     Namun para pejuang lain yang tertawan harus masuk bui dan mengalami penderitaan yang tidak terbayangkan oleh generasi muda kini.     Banyak pula pejuang yang terluka atau gugur di medan pertempuran.

Hote-orange

Tatkala pernah diributkan di negeri ini siapakah orang yang telah berjasa berhasil merobek bendera merah-putih-biru di puncak Hotel Oranye, Surabaya, dengan tegas ayahnya mengatakan bahwa tidak satupun yang berhak disebut sebagai yang paling berjasa, karena pada saat itu seluruh pemuda kota Surabaya dari berbagai suku bangsa, bergerak dengan satu tujuan yang sama: turunkan Merah-Putih-Biru, kibarkan Merah-Putih di bumi pertiwi ini.      Semua telah terbakar oleh api patriotisme yang dikobarkan oleh Bung Tomo melalui radio perjuangan yang selalu berpindah-pindah tempat sehingga tidak pernah dapat ditangkap oleh Belanda.      Suasana di depan Hotel Oranye kacau balau oleh gerakan dan teriakan para pejuang dan pemuda.     Sejumlah pemuda bahu membahu memanjat tiang bendera walau banyak yang jatuh terkena tembakan entah dari mana datangnya, namun selalu ada pemuda lain yang menggantikan.     Akhirnya teraihlah bendera Belanda tiga warna lalu dirobek bagian bawah yang berwarna biru, tinggal bagian yang berwarna merah dan putih berkibar dengan gagahnya di atap Hotel Oranye.     Sang Saka Merah-Putih melambai-lambai mengundang riuh rendah sorak sorai.

BK menangis

Saat ini, setelah 67 tahun berlalu sejak momen bersejarah Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, apa yang sudah terjadi dengan negeri ini , tanya Heru Basuki lebih lanjut.     Sayang sejak masa-masa Bung Karno yang selalu mengingatkan rakyat dan bangsanya, bahwa Indonesia adalah bangsa yang merdeka, bangsa yang mandiri, bangsa yang berdaulat, bangsa yang punya harga diri, bangsa yang memperoleh kemerdekaannya dari perjuangan dan darah para pahlawan bukan hadiah, bangsa yang cerdas, bangsa yang mampu, maka pada era-era periode kepemimpinan berikutnya, tidak ada lagi itu semua.     Yang ada hanya hiruk-pikuk berebut kekuasaan antar tokoh, antar pemimpin, antar partai dan antar golongan.     Kondisi ini lebih diperburuk lagi setelah kinerja ekonomi yang tak kunjung membaik yang tidak cukup memakmurkan dan mensejahterakan rakyat.

bj habibie

Tetapi apakah seburuk itu wajah bangsa ini, tanya Heru lebih lanjut.     Tentu tidak, jawab Heru sendiri.     Banyak sekali prestasi anak bangsa dan putra-putri negeri ini yang hebat-hebat.    Para pioner perlindungan lingkungan, pelopor penggerak ekonomi masyarakat, para pelajar dengan otak dan kecerdasan brilian dengan gelar-gelar kelas dunia.      Para penemu-penemu berbakat, hampir di segala bidang, mulai dari bio gas sampai ke otomotif, para atlet yang mengharumkan nama bangsa di kancah panggung olah raga dunia dan masih banyak lagi prestasi-prestasi besar lainnya yang ditorehkan putra-putri terbaik negeri ini di kancah dunia.     Bayangkan, betapa sayangnya seandainya kita tidak memanfaatkan karunia Tuhan itu sebaik-baiknya sebagai bukti rasa syukur kita atas nikmat kemerdekaan ini dengan program-program yang produktif dan edukatif bagi masyarakat dan bangsa ini.

dr soetomomohammad-hattaKepada ayahanda tercinta yang telah terbaring tenang di Taman Makam Pahlawan Surapati Malang atas jasa-jasanya kepada Negara dengan Bintang Gerilya tersemat di dadanya.     Kepada para Pejuang dan Pahlawan Bangsa, dr Soetomo, Bung Karno, Bung Hatta dan para pemuda pejuang yang telah gugur demi negeri ini.    Kepadamulah aku bercermin, engkaulah para pahlawanku.   Yang telah membuat negeri ini maju, merdeka, bebas, sederajat dengan bangsa lain dan makmur sejahtera.    Yang telah membuat anak-anak dapat belajar dan menuntut ilmu, yang telah menghasilkan putra-putri yang cerdas dan membawa harum nama bangsa ini di kancah panggung dunia.    Sebagai bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila pertama Pancasila, kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat-Nya, karena atas berkat rahmat-Nya jualah kita bisa menikmati alam kemerdekaan seperti sekarang ini.
Sekali Merdeka Tetap Merdeka ! Ayo maju terus bangsaku !! Mari kita jaga Negara Kesatuan Republik INDONESIA tercinta ini tetap jaya !!! …………………… Tulis Heru lebih lanjut.

Saya menghela nafas panjang sambil menutup buku “Selling Yourself” karya Heru Basuki Purwanto, generasi muda kita, setelah merekam pandangan, harapan dan seruannya sebagaimana telah saya usung di atas.     Maka sebagai anggota Veteran Pembela, saya tidak merasa resah memikirkan nasib bangsa kita di masa depan untuk menyerahkan tongkat estafet perjuangan kepada generasi muda yang positif berkiprah.     Semoga mereka mampu membebaskan generasinya dari narkoba, fikiran ternoda dan perbuatan tercela.

—000—

 

By Djaka Rubijanto Posted in Opini

SEJENAK BERSAMA PAK GOERJAMA

KETUA  AMPTT

 

Membaca dengan kaca pembesar

Setelah memperoleh nomor telepon Ketua AMPTT, pak Goerjama, dari Ketua KVK POSTEL, pak Lilik Suhadi, saya menghubungi beliau dan memperoleh alamat rumah di jalan Piit No. 6, disertai penjelasan lokasinya di belakang Kantor Pusat Telkom, kalau masuk dari jalan Suci di jalan Merak belok ke kanan.   Pak Goerjama menyediakan waktu hari Selasa pukul 10.00 pagi.     Pada hari Selasa itu saya bersama beberapa rekan dari Bidang Infokom PP P2TEL berkunjung ke rumah pak Goerjama..

Dari jalan Merak belok ke kanan masuk jalan Tekukur, dan di jalan ini terbaca oleh kami papan nama jalan Piit pada sisi kanan jalan.    Jalan Piit terlalu sempit untuk dilalui mobil, maka kamipun mencari tempat parkir di pinggir jalan Tekukur.      Pagi itu jalan Piit cukup ramai oleh lalu lalang pejalan kaki dan motor.    Rumah no. 6 yang kami cari berada di seberang mulut sebuah gang.   Bekas garasi rumah itu digunakan jualan Lotek yang dikerumuni cukup banyak pembeli, dan kami masuk melalui warung itu untuk menuju ke teras rumah.    Ibu penjual Lotek memberitahu bahwa pak Haji sudah menunggu di dalam.

Sebuah rumah kecil yang sederhana.   Pekarangan depan rumah yang tidak luas  dipenuhi tanaman dalam kondisi kurang terawat.   Pintu utama rumah pada teras yang sempit sudah terbuka, dan sosok seorang tua tampak duduk pada kursi memegang sebuah kaca pembesar sedang membaca buku yang terbuka di atas meja tamu, di bawah penerangan lampu duduk neon.    Dia mendongakkan wajah dari atas buku ketika mendengar salam kami.   Diletakkannya kaca pembesar di atas meja lalu bangkit menyambut kedatangan kami dengan senyum mengembang.    Mengenakan kemeja lengan panjang putih bersih bergaris-garis coklat dipadu celana putih keabu-abuan.   Sebuah peci hitam menutupi rambut yang sudah memutih pula.    Tergopoh-gopoh pak Goerjama mempersilakan kami mengambil tempat duduk pada kursi tamu yang ada dan beliau sendiri beralih ke kursi di dekat dinding pembatas dengan ruang dalam rumah.

Ruang tamu itu kecil dan menjadi tampak lebih sempit oleh perangkat meja-kursi tamu yang berukuran besar, sebuah almari pendek yang di atasnya penuh dengan deretan buku dan barang-barang kecil lainnya.   Di atas meja tamu pun berserakan alat tulis, cangkir, gelas, toples plastik isi kue, botol plastik air mineral, senter, tempat kaca-mata dan  tumpukan kertas dokumen yang tampaknya telah disiapkan sebelumnya.     Buku yang tadi dibaca pak Goerjama masih terbuka di atas meja.   Saya menutupnya untuk sekedar merapikan meja, dan terbaca judul buku itu berbunyi: “Nyusur Galur Mapay Raratan” karangan Hana Rohana Suwanda.    Pada deretan buku di atas almari pendek saya melihat buku karangan Cindy Adams: “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, terselip di antaranya.   Pada usia di penghujung kepala delapan, pak Goerjama masih gemar membaca untuk mengisi waktu walaupun dengan pertolongan sebuah kaca pembesar.

wawancara

Setelah kami memperkenalkan diri pak Goerjama langsung membuka percakapan tentang kegemarannya membaca dan menulis walau usianya sudah di perjalanan malam.                                                                                                                                 “Anak-anak sekarang kurang menguasai bahasa asing, maka saya menyusun tulisan dengan merangkum dari berbagai buku berbahasa Inggris dan Belanda yang saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk mereka baca.   Saya cantumkan dengan jelas nama buku yang saya kutip dan siapa pengarangnya, untuk mengajarkan kejujuran kepada mereka.     Kejujuran itu perlu”, jelas pak Goerjama: “Bahkan sejarah pun memerlukan kejujuran.   Kalian tahu tentang kedatangan Belanda ke Indonesia setelah Jepang menyerah ?   Buku-buku sejarah kita menyebutkan bahwa tentara Belanda “membonceng” tentara Inggris masuk ke Indonesia.   Itu tidak benar !”, tegas pak Goerjama sambil menegakkan jari telunjuk kanannya :    “Inggris dan Belanda sudah bekerja-sama dan kedatangan Belanda ke Indonesia memang sudah diprogramkan bersama”.       Bola matanya meletup ketika mengucapkan kalimat tersebut.

Beberapa foto dan hiasan berpigura tergantung pada paku di dinding.   Mata saya tertambat pada sebuah hiasan kecil terbuat dari kulit sapi.                                                                                                                                                                                                     “Itu hadiah ulang-tahun dari Bandung Heritage”, kata pak Goerjama mengikuti pandangan saya: “Saya masih dipercaya menjadi anggota Bandung Heritage.   Saya sering menerima anak-anak muda di sini yang ingin tahu tentang Bandung di masa lalu”.

Saya berdiri untuk melihat dari dekat hadiah ulang tahun yang unik itu.   Kulit sapi yang telah dibersihkan dari bulu-bulu dan pada bidang yang telah bersih itu diguratkan sederet aksara Sunda kuno.  Di bawahnya tertulis: R.E.GOERJAMA     Kenang-kenangan dalam rangka ulang tahun ke 88,  Bandung Heritage, 1 Maret 2013.

mas soehartoR. DijarLahir pada tahun 1925, pak Goerjama telah bekerja di Bagian Kepegawaian Kantor Pusat PTT  ketika peristiwa 27 September 1945 terjadi.   Beliau tergabung dalam barisan pegawai Kantor Pusat PTT sebagai Komandan Regu, dan menerima pembagian sebuah pistol dari Soetoko.     Setelah Mas Soeharto dan R. Dijar dijadikan Ketua PTT dan Wakil Ketua PTT, maka PTT di seluruh Indonesia telah menjadi milik dan dijalankan sendiri oleh bangsa Indonesia.    Orang-orang Jepang disuruh meninggalkan Kantor Pusat PTT, dan rumah-rumah di sekitar Kantor Pusat PTT ditempeli kertas bertuliskan “Milik Negara Republik Indonesia”.   Tetapi itu tidak berlangsung lama sebab Inggris dan Belanda kemudian datang dan mereka membersihkan Kantor Pusat PTT dari pejabat-pejabat orang Indonesia.    Untuk sementara kegiatan PTT Indonesia berkantor di Kantor Pos Besar Bandung, namun ketika situasi keamanan kian tidak memungkinkan, Mas Soeharto lalu memerintahkan untuk hijrah ke Jogjakarta.   Para pegawai Kantor Pusat PTT beserta keluarga yang pindah ke Jogja dari Bandung ditampung di  Ambarukmo, termasuk pak Goerjama.

Maguwo dibom

sukarno ditangkap belanda

Tanggal 19 Desember 1948 terdengar raungan bunyi pesawat terbang melayang di atas kota Jogjakarta menuju Maguwo.   Pagi harinya ketika penghuni Ambarukmo terbangun dari tidur, pasukan Belanda sudah mengepung dan masuk ke halaman.    Mereka adalah prajurit dari divisi Koninklijke Landmacht (KL) yang dibentuk untuk menangkap presiden Soekarno dan Wakil presiden Mohammad Hatta.     Komandan mereka minta yang mengerti bahasa Belanda supaya maju ke depan.   Pak Goerjama maju kemudian dengan bahasa Belanda yang fasih memberitahu bahwa penghuni gedung bukan militer melainkan pegawai sipil.     Komandan minta buku absen.   Setelah buku absen diterima, lalu Komandan memanggil nama-nama di dalam absen itu secara urut dan yang dipanggil maju satu per satu.    Semua ada di tempat.   Komandan KL itu manggut-manggut lalu memberitahu agar semua penghuni Ambarukmo itu bersiap-siap untuk kembali ke Bandung dengan membawa serta keluarganya.   Pada hakekatnya sambil menunggu keberangkatan ke Bandung, pak Goerjama dan seluruh penghuni Ambarukmo telah menjadi tawanan Belanda.                                                                                                                                                                                                              “Saya tawanan Belanda paling awal di Jogja ketika itu”, kata pak Goerjama.

kantor pusat perumpos-tel

Kembali bekerja di Kantor Pusat PTT Bandung yang sudah diambil alih Belanda, pak Goerjama memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan di Jakarta.  Hanya ada dua peserta dari Bandung yaitu pak Goerjama dari Kepegawaian dan seorang lagi dari Keuangan.    Setelah menyelesaikan pendidikan di Jakarta, pak Goerjama dialih-tugaskan ke luar Jawa, sebab Belanda mempunyai kebijakan para lulusan yang berasal dari Manado dan Ambon ditugaskan di Jawa sedangkan lainnya harus ke luar Jawa.     Pejabat Bagian Kepegawaian Kantor Pusat PTT memilihkan kota Sibolga bagi pak Goerjama dengan alasan untuk kenaikan jenjang pangkat maupun jabatan saingannya jauh lebih sedikit di Sibolga dibanding Palembang atau kota-kota lainnya di luar Jawa.    Setelah dimutasikan kembali ke Bandung, pak Goerjama ditugaskan di Bagian Pengawasan, sebelum kemudian mengikuti pendidikan di persamaan Akademi PTT bagian Pos dan lulus pada tahun 1951.

“Saya sudah haji, lho …”, kata pak Goerjama sambil tersenyum,: “Alhamdulillah saya bisa naik haji bersama isteri pada tahun 1992, setelah pensiun pada tahun 1981”.

logo amptt

Ketika ditanya mengenai uang pensiun yang diterima, dengan memasang wajah serius pak Goerjama mengatakan bahwa dia termasuk Pegawai Negeri kelas empat.    Keempat jari tangan kanan ditegakkannya berjajar.

“Kami dari Pos setelah pensiun ternyata merasa diperlakukan sebagai Pegawai Negeri kelas empat.  Telkom masih di atas kami, kelas tigalah …. Pensiunan Pegawai Negeri Sipil berada di kelas satu”, selorohnya, dan kami menangkap apa yang beliau maksudkan.    Ketika kami sampaikan bahwa sebagai Ketua AMPTT  dapat memberi dukungan kepada PPPOS memperjuangkan penerimaan uang pensiun yang lebih baik lagi, pak Goerjama mengangguk mantap tetapi lalu dengan gesit beliau menolak disebut Ketua AMPTT.

soetoko“Begini … Ketua AMPTT itu pak Soetoko … saya hanyalah penerus yang diminta langsung oleh pak Lilik Suhadi …”, kata pak Goerjama menegaskan.     Kami tertawa semua mendengar penegasan tersebut.   Belakangan baru saya ketahui bahwa penyebab kami tertawa ternyata dari alasan yang sama.    Pernyataan pak Goerjama itu mengingatkan saya dan teman-teman dari P2TEL kepada orang Madura yang menganggap Gubernur Jawa Timur itu Muhammad Noer, sedangkan yang lainnya hanya sebagai pengganti saja ……

Anggota AMPTT saat ini tinggal 5 (lima) orang, dua dari Pos yaitu pak Goerjama dan pak Siana, tiga yang lain dari Telkom yaitu pak Sugandhi, pak Soemardi dan pak Murwahono.     Yang pasti jumlah anggota AMPTT tidak akan menambah, justru mengurang.    Kemudian pak Goerjama masuk ke dalam rumah.   Ketika keluar lagi sudah membawa baju seragam AMPTT terbuat dari kain drill coklat.

seragam amptt

“Seragam AMPTT ini saya rancang sendiri disesuaikan dengan model yang digunakan di masa lalu, ya seperti ini.   Saya sudah minta pendapat dan saran dari teman anggota AMPTT lainnya, dan jadinya seperti ini”.    Lalu pak Goerjama menunjuk pada pin warna kuning keemasan yang masih melekat pada baju seragam itu.

“Kalau lencana ini, saya yang merancang dan dibuat oleh Tukang pembikin Lencana.   Begini jadinya”.   Setelah itu pak Goerjama menunjukkan gambar rancangan lencana AMPTT dalam ukuran besar pada selembar kertas.

tugu bhakti ptt

Ketika kami tanyakan tentang nama-nama yang dituliskan pada tugu Bhakti PTT di depan Kantor Pusat PT Pos Indonesia, Persero, pak Goerjama mengambil kertas yang berisikan  nama para Pahlawan PTT dari seluruh Indonesia yang terdaftar.

“Mereka gugur dalam menjalankan tugas memerdekakan Indonesia”, tutur pak Goerjama lebih lanjut.   Dari daftar tersebut terbaca ada 17 orang gugur di tahun 1945, 13 orang di tahun 1946,  13 orang di tahun 1947,  7 orang di tahun 1948 dan  28 orang di tahun 1949.

“Apakah bapak setuju dengan pengalihan Hari Jadi PT Pos dan PT Telkom ke masa jauh ke belakang di masa kolonialisme Belanda?”, tanya Imam Sujoto, rekan saya dari PP P2TEL.     Pak Goerjama berdiam diri sejenak, lalu menggelengkan kepala dan dari mulutnya keluar ucapan yang berat dan tegas: “Tidak !.  Hari Ulang tahun Pos dan Telkom ya hari ulang tahun PTT … yaitu hari saat PTT Jepang kami ambil alih menjadi PTT Indonesia”.

“Maksud bapak tanggal 27 September?”.

“Ya.  Persis.   Itu hari perjuangan untuk memperoleh kedaulatan PTT ditangan bangsa kita sendiri”, jawab pak Goerjama tegas.

Bersama pak Goerjama

Di rumah kecil yang sederhana itu pak Goerjama sendirian saja menjalani kehidupan ini.  Ibu Goerjama telah meninggal dunia pada tahun 1997.   Menurut pak Goerjama beliau mempunyai satu anak dan tiga cucu yang semuanya tidak tinggal di Bandung.   Penjual Lotek di bekas garasi itu yang mengurus makan beliau sehari-hari, walaupun tinggal di rumah lain sebagai tetangga.

Setelah berpamitan pulang dan sebelum meninggalkan rumah kami minta kesediaan pak Goerjama untuk foto bersama di teras rumah.   Setelah beliau masuk ke dalam rumah kembali, kami berbincang-bincang sebentar dengan ibu Penjual Lotek di bekas garasi rumah.

“Pak Haji sudah saya anggap seperti bapak saya sendiri …”, kata ibu penjual Lotek dengan raut wajah yang menenteramkan hati.

                                                                                                           —000—

By Djaka Rubijanto Posted in Uncategorized

AKSI PATRIOTIK ANGKATAN MUDA PTT

27 SEPTEMBER 1945

“ …. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ….” (penggalan proklamasi kemerdekaan RI)

proklamasi kemerdekaan ri

Setelah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 di Jakarta, penggalan kalimat proklamasi di atas menggetarkan nurani para pemuda dan mengobarkan semangat untuk berperan serta dalam upaya mengambil alih pusat-pusat pemerintahan dari tangan penjajah Jepang melalui perhitungan matang dan pelaksanaan yang cepat. Tidak hanya terjadi di Jakarta, melainkan juga di kota-kota besar di seluruh wilayah Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan kemerdekaannya. Tidak terkecuali kota Bandung, dimana terdapat pusat pemerintahan antara lain bidang Pos, Telegraph dan Telepon serta Kereta Api. Adapun posisi pemerintah pendudukan Jepang pada saat itu setelah Jepang menyatakan takluk kepada Amerika dalam Perang Dunia-II, adalah wajib menjaga kondisi status quo di seluruh wilayah jajahan sampai tibanya Sekutu untuk mengambil alih kekuasaan. Itu berarti pihak penguasa Jepang harus mempertahankan semua asset dan jalur penguasaan wilayah untuk diserah-terimakan hanya kepada pihak Sekutu, bukan kepada pihak lain termasuk bukan kepada pemerintah Republik Indonesia.    Soetoko, Kepala seluruh Barisan Seinendan di dalam Tsusin Tai PTT, yang terdapat di Sekolah PTT, Laboratorium, Kantor Pos dan Telegrap Besar dan kantor Telepon Bandung, dengan sadar mempersiapkan pemuda-pemuda PTT untuk siap merebut, memanggul dan menggunakan senjata api pada waktunya. Semangat pelopor yang ditempa di Tsusin Tai mendorong Soetoko memprakarsai upaya untuk merebut Kantor Pusat PTT dari tangan Jepang.

rapat akbar di lapangan Ikada

Tanggal 3 September 1945.

soetokoSoetoko mengumpulkan teman-teman dekatnya di dalam Tsusin Tai di rumah Slamet Soemari di Cihaurgeulis.    Selain Soetoko dan Slamet Soemari, hadir pula antara lain Joesoef, Agoes Saman dan Nawawi Alif. Mereka bersepakat membentuk kekuatan bersama di dalam sebuah perkumpulan yang mereka beri nama: Angkatan Muda PTT (AMPTT). Ketika membicarakan rencana aksi, disepakati untuk merealisasikan amanat proklamasi, yaitu pemindahan kekuasaan Jawatan PTT dengan target paling lambat akhir bulan September itu juga.   Muncul dan tersebarnya berita tentang AMPTT mengilhami para pemuda untuk mendirikan pula Angkatan Muda di Jawatan-Jawatan lain.
Sejak tanggal 3 September itu dilakukan upaya halus mendekati pejabat-pejabat PTT Jepang untuk mau menyerahkan kantor atau dinasnya, namun mereka bersikukuh menolak sesuai perintah atasan.    Akhirnya disepakati melakukan perebutan kekuasaan pada saat yang harus dirahasiakan.

Tanggal 23 September 1945.

Soetoko berunding dengan Ismojo dan Slamet Soemari untuk memantapkan rencana aksi konkrit, yaitu :                          (1) meminta Mas Soeharto dan R.Dijar sebagai pejabat tinggi PTT bangsa Indonesia untuk menuntut kesediaan Jepang menyerahkan kekuasaan atas PTT;                                                                                                                                                                             (2) bila Jepang tetap menolak, maka akan dilakukan perebutan kekuasaan dengan mengerahkan dukungan rakyat;       (3) bila Kantor Pusat PTT sudah dikuasai, akan mengangkat Mas Soeharto menjadi Kepala Jawatan PTT dan R.Dijar menjadi Wakil Kepala Jawatan PTT.

Tanggal 24 September 1945.

mas soehartoSoetoko menghadap Mas Soeharto menyampaikan maksud sesuai rencana aksi-1.     Mas Soeharto setuju lalu bersama R.Dijar menemui pimpinan PTT Jepang, Tuan Osada Okamoto, meminta agar bersedia menyerahkan kekuasaan PTT secara terhormat kepada bangsa Indonesia yang mereka wakili, hari itu juga.      Osada Okamoto menolak dengan tegas. Mas Soeharto menurunkan permintaan agar diijinkan mengibarkan bendera Merah-Putih di Kantor Pusat PTT.      Osada mengijinkan dengan syarat dikibarkan di bagian belakang gedung, seberang jalan Cilaki.      Lalu Mas Soeharto dan R.Dijar meninggalkan Osada Okamoto kembali ke kamar kerjanya di mana Soetoko masih menunggu.     Mereka memberitahu hasil pembicaraan mereka dengan Osada kepada Soetoko.      Meskipun kurang puas, Soetoko meneruskan hasil perundingan itu kepada AMPTT, yang lalu beramai-ramai menaikkan bendera Merah-Putih pada sebuah tiang khusus secara khidmat.

Karena rencana aksi-1 boleh dikatakan tidak berhasil, maka harus dilakukan rencana aksi-2, yaitu perebutan kekuasaan dengan jalan kekerasan.   AMPTT membicarakan rencana aksi-2 secara cermat.   Tugas selaku Ketua aksi perebutan kekuasaan dipercayakan kepada Soetoko, dibantu oleh tiga Wakil Ketua yaitu: Nawawi Alif, Hasan Zen dan Abdoel Djabar.     Langkah pertama yang dikomandokan oleh Soetoko adalah pembongkaran barikade tanggul yang dipasang oleh Jepang mengelilingi Kantor Pusat.   Tugas itu dibebankan kepada Nawawi Alif dan Soewarno yang menjadi komandan Tsusin Tai (Barisan Pelopor).

Tanggal 26 September 1945.

Nawawi Alif dan Soewarno memimpin pembongkaran tanggul yang mengelilingi Kantor Pusat PTT secara beramai-ramai tanpa memperoleh halangan dari pihak Jepang.      Sore harinya Soetoko pergi ke rumah Mas Soeharto di jalan Jawa No. 2.    Kepada Mas Soeharto disampaikan tekad AMPTT untuk melakukan perebutan kekuasaan atas kantor Pusat PTT esok hari tanggal 27 September, dengan dukungan rakyat.   Mas Soeharto menyetujui dan memberikan restunya.

Setelah memperoleh persetujuan dan restu dari Mas Soeharto, Soetoko dan ketiga wakilnya menyusun siasat dan taktik yang akan dilakukan esok hari.    Semua anggota AMPTT diperintahkan bergerak menyebar ke masyarakat pada malam hari itu juga untuk mencari peralatan apa saja yang bisa digunakan.      Mereka mengumpulkan persenjataan baik berupa senjata api maupun senjata tajam.      Ada pula yang mencari kendaraan bermotor untuk digunakan sebagai alat pengangkut massa.    Sebagian lagi mendatangi penduduk yang tinggal di sekitar Kantor Pusat, mengajak untuk berperan serta dalam gerakan yang akan dilakukan esok hari.    Ada pula yang menghubungi organisasi-organisasi massa meminta dukungan agar bisa bergerak bersama dalam satu kekuatan yang besar.    Aksi gerilya mencari dukungan dan bantuan peralatan tersebut memperoleh sambutan luar biasa dari masyarakat dan organisasi massa.   Tanggal 26 September malam hari diwarnai oleh kesibukan yang melanda sebagian warga kota Bandung khususnya yang tinggal di daerah sekitar lokasi gedung Kantor Pusat PTT.    Pada malam itu pula Soetoko menyusun sebuah pernyataan di atas secarik kertas.

penyerbuan

Tanggal 27 September 1945.

R. DijarMatahari telah sepenggal jalan ketika masyarakat berduyun-duyun mendatangi gedung Kantor Pusat PTT dari segala penjuru.   Anak-anak muda tampil menyeruak ke depan menjadi ujung tombak rakyat dengan membawa senjata tajam bermacam-macam.    Mereka diarahkan untuk bergerombol di halaman selatan.     Anggota AMPTT yang berasal dari berbagai kantor PTT di kota Bandung datang dalam pasukan masing-masing, termasuk Kasmiri Soemamihardja dari Radio Laboratorium PTT Bandung.     Mereka menempatkan diri di bagian terdepan menghadapkan pandangannya ke arah gedung Kantor Pusat PTT yang masih dijaga oleh tentara Jepang menyandang senjata api laras panjang dan pedang.    Nawawi Alif dan Soewarno masing-masing menyandang sepucuk pistol yang mereka terima dari Soetoko usai membongkar barikade tanggul yang semula mengelilingi gedung Kantor Pusat PTT.     Para pegawai dari kantor Pusat PTT sendiri antara lain regu Bagian Kepegawaian dipimpin oleh Goerjama yang juga menyandang pistol secara serentak meninggalkan meja kerja, sebagian berjaga di luar ruangan, sebagian lagi berjaga di depan pintu ruang kerja orang Jepang pimpinan unit masing-masing, satu orang perwakilan bergabung dengan Soetoko di depan ruang kerja Pimpinan PTT,  dan sisanya berkerumun di sekitar Ruang Jaga di lantai satu.      Soewarno membawa pasukannya maju memasuki Ruang Jaga dimana terdapat sejumlah tentara Jepang bersenjata lengkap.    Wajah-wajah mereka yang garang dan kerumunan massa yang berteriak-teriak berang, membuat nyali tentara Jepang itu terbang.    Soewarno meminta mereka tidak menghalangi niat untuk menemui Pimpinan PTT dan komandan jagapun menyerahkan senjata sebagai tanda menyerah.     Melihat penjaga di bawah sudah menyerah, Soetoko segera naik menuju ke ruang kerja Mas Soeharto dan memberitahukan bahwa AMPTT sudah mengepung Kantor Pusat PTT.     Mas Soeharto mengajak R.Dijar lalu bersama Soetoko menuju ke ruang Tuan Osada Okamoto.     Soetoko menunggu di luar bersama sejumlah perwakilan Unit-unit kerja Kantor Pusat ketika Mas Soeharto dan R.Dijar sudah masuk ke dalam dan menutup pintu. Mas Soeharto menyampaikan kepada Tuan Osada bahwa pemuda dan rakyat telah mengepung Kantor Pusat PTT.

Tuan Osada langsung memanggil beberapa pejabat PTT Jepang bawahannya.    Setelah mereka datang perundinganpun dimulai.   Mas Soeharto kembali memberitahu keadaan di luar bahwa pemuda dan rakyat mengepung Kantor Pusat PTT, sedangkan penjaga di bawah sudah menyerah.    Lalu Mas Soeharto menyampaikan tuntutan rakyat agar kekuasaan atas PTT diserahkan kepada bangsa Indonesia saat itu juga.    Tuan Osada terkesiap dan berdiam diri sejenak, lalu menuju ke jendela dan melihat ke luar pada kerumunan massa yang marah, kemudian dengan tegas menolak untuk menyerahkan kekuasaan atas PTT karena tidak ada perintah untuk itu dari pimpinan di Jakarta.    R.Dijar segera keluar memberitahu Soetoko bahwa perundingan kembali gagal.

Soetoko bergegas turun memberitahu Soewarno yang lalu naik ke tingkat dua bersama beberapa anggota pasukannya. Ketika membuka pintu dan masuk ke ruang Pimpinan PTT Jepang, Tuan Osada yang terkejut langsung menghunus samurai.   Pejabat PTT Jepang lainnya pun melakukan hal yang sama.    Soewarno mengacungkan pistol sementara teman-temannya memegang senjata tajam dalam keadaan siap.    Mas Soeharto kembali menekankan bahwa rakyat sudah bulat tekadnya untuk mengambil alih kekuasaan atas PTT maka sebaiknya tidak perlu terjadi pertumpahan darah.     Setelah berfikir sejenak, Tuan Osada lalu meletakkan samurai di atas meja kemudian pistolnya juga dicabut dan diletakkan di atas meja.    Tindakan itu diikuti oleh pejabat Jepang lainnya melakukan hal yang sama.     Soewarno menyarungkan pistol lalu berjalan ke meja dan mengambil pistol-pistol yang diserahkan Tuan Osada dan pejabat Jepang lainnya.                                                                                                                                                                                                                 “Silakan pedang-pedang samurai ini tuan sandang kembali dan Tuan-Tuan kini berada di dalam pengawasan kami”, katanya pendek.     Soetoko yang ikut masuk bersama Soewarno, mengajak Mas Soeharto dan R.Dijar keluar ruangan lalu turun ke lantai satu dan ke luar untuk menemui massa.

Saat itu pukul 11.00 tepat.     Soetoko mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, kertas yang semalam telah diisinya dengan susunan kalimat pernyataan.     Dengan suara lantang dia membacakan kalimat pernyataan tersebut:
Atas nama seluruh pegawai PTT, dengan ini, dengan disaksikan oleh massa rakyat yang berkumpul di halaman PTT jam 11.00 tanggal 27 September 1945, kami mengangkat Bapak Mas Soeharto dan Bapak R. Dijar, masing-masing menjadi Kepala dan Wakil Kepala Jawatan PTT seluruh Indonesia.     Atas nama AMPTT, Soetoko“.
Tepuk tangan pun membahana.     Beberapa pemuda AMPTT dipimpin oleh Soewondo setengah berlari menuju ke tiang bendera resmi yang menghadap jalan Cisanggarung.    Mereka membawa bendera Merah-Putih lalu menurunkan bendera Jepang yang masih berkibar, melepasnya dari tali, dilipat dan dibawa ke dalam.     Yang lainnya memasangkan bendera Merah-Putih pada tali yang sama lalu mulai dikerek ke atas.    Bersamaan dengan itu menggemuruh suara pemuda, pegawai dan masyarakat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan penuh semangat namun khidmat.     Pengerek benderapun menyelaraskan naiknya bendera dengan tempo lagu kebangsaan yang dinyanyikan oleh segenap hadirin.      Pada saat sudah di atas dan tali diikatkan, terdengar seseorang memberi aba-aba diikuti oleh segenap hadirin mengangkat tangan kanan, membuka lebar telapak tangan dan ujung jari disentuhkan pada kening. Dengan sikap tegap semuanya memberi hormat pada bendera Merah-Putih yang berkibar dengan gagah di puncak tiang.       Setelah itu pasukan Soewarno meruntuhkan sampai rata sisa barikade yang masih ada.                                      Pengambil-alihan kekuasaan Kantor Pusat PTT dari tangan Jepang tanpa pertumpahan darah itu mengilhami pegawai PTT di kantor-kantor PTT lain di luar Bandung untuk melakukan hal yang sama.    Demikian pula Angkatan Muda di kantor-kantor pemerintah lain di Bandung seperti Balai Besar Kereta Api, Kantor Karesidenan, Jawatan Geologi, Perusahaan Listrik (Gebeo), Jawatan Pekerjaan Umum, segera bergerak mengambil-alih instansi mereka masing-masing dari tangan Jepang.

Hari itu tanggal 27 bulan September tahun 1945.    Saat itu pukul 11.00 pagi.     AMPTT telah mempelopori pengambil-alihan kekuasaan atas PTT Indonesia oleh bangsa Indonesia sendiri dari tangan kolonialis.     Hari itu adalah hari dimulainya penguasaan atas asset dan pengendalian operasional PTT di Indonesia oleh bangsa Indonesia sendiri.     Hari itu adalah hari bersejarah, dimana insan PTT Indonesia menyumbangkan dharma bhaktinya untuk melaksanakan amanat proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia, yaitu: “ …..Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.                                    Akankah karya patriotik mereka kita campakkan begitu saja hanya untuk berselancar atas nama modernisasi dan globalisasi semata?.       Akankah semangat patriotik mereka kita hargai cukup dengan seonggok batu tugu yang mati dan hanya hidup setahun sekali selama sehari?.      Presiden Soekarno pernah berkata: “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”  (JASMERAH), karena masa depan tak kan pernah ada tanpa melalui masa silam.

teleponYang tersisa.

Membaca dengan kaca pembesar

Sugandhi

sumardi

Kini anggota AMPTT tinggal tersisa lima orang dan masih tetap kompak di dalam menjalani masa tua mereka.              Dua orang dari Pos, yaitu Goerjama dan Siana, tiga orang dari Telekomunikasi, yaitu Soegandi, Soemardi dan Murwahono.    Kelimanya selalu tampak di antara generasi muda karyawan PT Pos Indonesia, Persero atau PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. tatkala memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus dan Hari Bhakti Postel tanggal 27 September setiap tahun.

Goerjama yang ditunjuk sebagai Ketua di antara mereka berlima dengan rendah hati berkata bahwa Ketua AMPTT adalah Soetoko, adapun dia hanya sekedar penerus saja.      Ketika ditanya kapan Hari Ulang Tahun PT Pos Indonesia, Persero dan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Goerjama menjawab dengan tegas : “27 September, sebab pada tanggal itu PTT Indonesia sudah kita kuasai dan sejak itu operasional PTT di seluruh Indonesia berada di tangan bangsa Indonesia sendiri”.

—000—

By Djaka Rubijanto Posted in Artikel

SANG ATLET, SANG PENDOBRAK dan SANG SPESIALIS RANGKAP JABATAN

 

 

logo-telkom

 

Mengenang masa lalu bukanlah bermaksud tidak berkehendak untuk maju.  Mengenang masa lalu di antara warna sibuk dalam slot waktu, adalah penyegar kalbu, adalah pula pelumas untuk berpacu.   Kadang kita menemukan sesuatu yang membuat hati haru, tak jarang pula justru sebuah batu safir warna biru.   Mari kita membuka lembaran kisah-kisah juang pegawai PTT perintis kemerdekaan untuk membulatkan tekad dalam melangkah ke depan. “Fadzkuru alaa Allahi la’allakum tuflihuun”, kenangkanlah karunia Allah supaya kamu berbahagia.

Sang Atlet nasionalis.

 

Harun Al Rasjid

Memanjat menara naik  tinggi sudah biasa bagi teknisi antenna radio PTT.   Melompat-lompat jauh di sepanjang galian tanah, sudah biasa pula bagi teknisi jaringan kabel.   Tetapi melompat jauh atau meloncat tinggi melewati pembatas pada kolam pasir dalam tatapan ribuan pasang mata, dan menyabet piala kemenangan bergensi taraf nasional hanya satu orang teknisi PTT yang melakukannya.     Dia adalah Haroen Al Rasjid Amir Hamzah, putra Tapanuli campuran Betawi yang lahir di Sindanglaya, Cipanas, 11 Juli 1920.

Dr. Abdoelrachman SalehMasa mudanya yang serba berkecukupan tergembleng dalam kegemaran berolah-raga atletik.   Ia memiliki prestasi menonjol melalui perkumpulan Indonesische Sport Vereniging (ISV) yang dipimpin oleh Dr. Abdoel Rachman Saleh atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Pak Karbol” (Marsda Anumerta TNI-AU, 1909-1947).    Dr. Abdoel Rachman Saleh adalah adik misan ibu Hayati isteri Dr. Amir Hamzah, ayahanda Harun Al Rasjid.   Tawaran bergabung dalam perkumpulan olahraga Belanda BVC ditolak oleh Harun meskipun akan dibebaskan dari semua biaya.  Nasionalisme telah mengendap di hati pemuda Harun Al Rasjid dan semua anggota ISV.   Mereka menarik diri dari pertandingan Nederlands Indie Atletik Uni (NIAU) untuk menghormati meninggalnya macan parlemen anak bangsa, M. Husni Thamrin.   Penarikan diri itu justru mengakibatkan batalnya pelaksanaan NIAU, karena ISV menjadi daya tarik utama pertandingan olahraga tersebut.

Jiwa nasionalisme ini pula yang menyebabkan Harun meninggalkan pekerjaan awalnya di Droogdok Mij Tanjungpriuk sebagai “baas” pada staf bangsa Belanda, karena tidak tahan melihat perlakuan buruk orang Belanda terhadap kuli-kuli pribumi. Sebagai “baas” dia juga dituntut oleh pekerjaan untuk seperti mereka yaitu gampang memaki-maki bangsa sendiri, yang tidak mungkin dia lakukan.   Kemudian Harun Al Rasjid mengikuti test untuk menjadi Opzichter PTT di Kantor Pusat PTT.   Ternyata hanya dia satu-satunya anak negeri yang berhasil lulus pada tahun 1941.   Sejak itulah harun Al Rasjid menjadi pegawai PTT.

PON I

Tatkala pemerintah Republik Indonesia untuk pertama-kalinya menyelenggarakan Pekan Olah-raga Nasional (PON) I di Stadion Sriwedari, Solo, pada tanggal 9 September 1948  pemuda Harun Al Rasjid yang olahragawan cukup dikenal dan Opzichter PTT itupun mengikuti PON-I tersebut dan berhasil memperoleh kejuaraan untuk bidang Lompat Jauh dan Lompat Tinggi.

PON

Bulan madu bersama ayam

Suasana genting di tahun 1946 mengakibatkan dicabutnya semua bentuk cuti bagi pegawai pemerintah.   Harun Al Rasjid yang sudah mengikat janji untuk menikah dengan gadis Sukabumi, R.R. Natasya Artani, memberaniklan diri menyampaikan masalah dirinya itu kepada pemimpinnya Achmad.   Ia diberi cuti hanya dua hari untuk melangsungkan pernikahannya.   Harun segera berangkat ke Sukabumi dan resepsi pernikahan dilangsungkan pada hari Minggu, 2 September 1946.

Esok harinya, Senin, kedua pengantin baru itu meninggalkan Sukabumi menuju Jakarta naik kereta api yang penuh sesak.  Mereka tidak memperoleh tempat di dalam gerbong walaupun sekedar berdiri.   Maka pengantin baru itupun terpaksa berdiri di bordes gerbong bersama tumpukan kotak –kotak kayu kandang ayam.  Bersama keriuhan kokok dan kotek ayam.   Bersama sengitnya bau tahi ayam.   Sebuah bulan madu yang tidak terlupakan.   Bulan madu bersama ayam.

Terpacu oleh atasan.

Seorang pemimpin yang melaksanakan ing ngarsa sung tuladha dapat menjadi pendorong naik karir bawahannya.   Itulah yang dialami oleh atlet nasionalis kita Harun Al Rasjid.  Ketika ada permintaan kepadanya untuk menjadi Instruktur pada sebuah pelatihan kemiliteran di Tangerang bagi para pemuda pejuang yang menyingkir keluar dari Jakarta, Harun Al Rasjid tertarik dan menyampaikan hal itu kepada pimpinannya, Achmad.  Tetapi Achmad justru memarahinya.                                                                                                                                                                                                               “Berjuang tidak harus menjadi tentara”, kata Achmad, “Republik ini memerlukan telekomunikasi yang juga perlu diurus dan itu pun  berjuang”.    Maka Harun Al Rasjid tidak jadi masuk tentara sebagai Instruktur.   Dia tetap di PTT.

Aksi militer Belanda yang pertama membuat Jakarta benar-benar dikuasai oleh NICA dan sebagian besar pegawai PTT Indonesia termasuk Harun Al Rasjid menolak bekerja bersama Belanda.   Bersama isterinya R.R. Natasya Artani, Harun tinggal di rumah mertuanya di Sukabumi.   Ia menjadi guru di Taman Siswa, membuka bengkel teropong dan sering diminta membantu TNI.   Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, Achmad menghubungi Harun Al Rasjid untuk kembali bertugas di PTT Jakarta, tetapi Harun menolak karena sudah memiliki kesibukan selama di Sukabumi.    Achmad memarahinya lagi.                                                                                                                                                         “Kau pernah bersumpah untuk mendahulukan kepentingan Negara daripada kepentingan pribadi.   Kalau kamu menolak panggilan untuk kembali bertugas di PTT milik Negara, maka kamu sudah menjadi pengkhianat bangsa”.    Atlit pegawai PTT yang nasionalis itupun tidak berkutik lalu datang ke Jakarta untuk melaporkan niat kembali bekerja.     Achmad menerimanya dengan gembira sekaligus mengambil kebijaksanaan mengusulkan Harun Al Rasjid diangkat sebagai Kepala Kantor Telepon di Sukabumi.

Kantor Pusat PTT mengabulkan usulan tersebut.     Sejak itu karir Harun Al Rasjid terus meningkat pesat hingga menduduki jabatan Direktur Personalia dan Tata Usaha pada tanggal 27 Desember 1969 dan Pgs. Direktur Utama (Dirmatel) pada tahun 1972.  Jabatan terakhir sebelum pensiun pada tanggal 1 Agustus 1976 adalah sebagai Kepala Bagian Material Ditjen Postel. Dua dari enam anak keturunannya mengikuti jejak sang ayah bertugas di PT Telkom, Tbk.

Sang Penghardik dan Pendobrak.

Idris Adjam

Berbekal pengalaman berkeja di masa tiga zaman, Hindia Belanda, Jepang dan Indonesia merdeka, ditempa oleh aktifitas di masa perjuangan kemerdekaan dan pergolakan mempertahankan kemerdekaan, digembleng oleh tugas militer di kesatuan PHB Divisi Siliwangi dan tugas sipil di PTT  Idris Adjam muncul sebagai pribadi yang keras dan disipilin.  Berdarah Minang dari Kota Gadang, Padang, Sumatera Barat, dan lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, campuran dua budaya itu telah membentuk watak yang kuat dan tegas dalam bertindak serta bakat untuk mengelola perusahaan secara cermat dan tepat.

bendera di-tii

Jawa Barat masih dicengkeram suasana kurang tenteram oleh gangguan Darul Islam ketika Idris Adjam menjadi Kepala Setasiun Radio Sinar Bandung.   Site Tangkubanperahu sering diganggu sambil menebar ancaman karena penjagaan oleh aparat keamanan tidak kunjung ada.  Gerombolan berkali-kali minta untuk bisa bertemu dengan Idris Adjam.   Akhirnya Idris Adjam bersedia bertemu di tempat yang mereka tentukan yaitu di cot VI.                                                  Gerombolan DI telah menghadang pada jalan menjelang gerbang Stasiun dan memerintahkan turun dari kendaraan.    Idris Adjam menyapa dengan assalamu alaikum yang disambut antusias dengan waalaikum salam.  Suasana langsung cair.  Ternyata mereka hanya minta bantuan berupa kertas, jas hujan dan sepatu, tetapi menyerahkan uang untuk pembelian barang yang mereka perlukan.   Idris Adjam menyanggupi dan gerombolan itu segera kembali masuk ke dalam hutan.

pagar-betis DI-TII

Pertemuan dengan gerombolan DI itu dilaporkan kepada atasannya tetapi tindakan Idris Adjam itu tidak disetujui.   Bukan Idris Adjam kalau dia dipatahkan begitu saja walau oleh atasannya sendiri.   Ia segera menemui komandam KMKB, Kolonel Alex, melaporkan kejadian itu dan meyakinkan bahwa bila tidak dipenuhi permintaan mereka maka keselamatan Site Tangkubanperahu yang vital bisa terancam.  Tenyata meskipun militer, Kolonel Alex dapat memahami dan menyetujui tindakan Idris Adjam sekaligus menjanjikan penjagaan di Site tersebut.

Ketika ditunjuk sebagai Kawitel-I Sumatera Utara dan Aceh yang berkedudukan di Medan, Idris Adjam berhasil menyelesaikan masalah penertiban Kantor Telepon ex DSM (Deli Spoorweg Maatschappy).  Walaupun sudah diserahkan kepada POSTEL sejak tahun 1961, namun pendapatan Kantor Telepon ex DSM belum disetor ke kas POSTEL.  Gaji pegawainya dibayar dengan 9 bahan pokok.   Oleh Idris Adjam gaji pegawai ex DSM disesuaikan dengan system gaji POSTEL.   Untuk memuluskan perubahan itu, dia mengundang 3 Serikat Buruh yang kuat di Kantor Telepon ex DSM, dan dengan penjelasan yang meyakinkan ke tiga Serikat Buruh itu dapat menerima dengan baik kebijakan Kawitel-I.

800px-Spoorwegstation_Kraton_te_Kota_Radja.-650x446

Kemudian perhatian dia arahkan ke Kantor Telepon Medan yang pendapatannya sangat rendah dibanding dengan Kantor Telepon setingkat di daerah lain.   Idris Adjam menyadari “keangkeran” Kantor Telepon Medan yang sudah bukan rahasia umum lagi.  Dari karyawan hingga ke Kepala Pendirian menaruh kecurigaan terhadap kebijakan Kawitel mereka itu.   Terasa ada upaya untuk menghadang langkah-langkah perbaikan yang dilakukan oleh Kawitel.    Idris Adjam melihat disiplin karyawan rapuh, bekerja seenaknya bukan atas dasar tanggung-jawab.   Ia segera memberi peringatan-peringatan keras untuk menegakkan disiplin kerja.   Sangsi yang tegas dikenakan tanpa pandang bulu kepada siapa saja yang menghalangi upaya perbaikan.   Idris Adjam juga menjanjikan percepatan proses kenaikan pangkat bagi yang seharusnya memperoleh kenaikan pangkat.   Kerja keras itu membuahkan hasil ketika terjadi peningkatan hampir tujuh kali lipat transfer pendapatan Kantor Telepon Medan ke Kantor Pusat setiap bulannya.    Kepala Kantor Telepon Medan dibawa ke Bandung untuk menghadap Direktur Utama.   Idris Adjam berhasil meyakinkan Diruttel untuk menyetujui usulannya.   Semua karyawan Kantor Telepon ex DSM memperoleh kenaikan pangkat satu tingkat, dan proses kenaikan pangkat bagi karyawan lainnya dipercepat.       Keberhasilan-keberhasilan dalam tugas itu membawa Idris Adjam ke jenjang karir yang tinggi yaitu sebagai Direktur Perlengkapan (Dirkaptel) selama 3 tahun sebelum kemudian pensiun.

Tatkala menjadi Dirkaptel pernah kedatangan seorang perwira tinggi suatu angkatan, membawa SPH (Surat Penawaran Harga) dengan rekomendasi dari Dirjen berbunyi: “apabila tersedia dana harap bantuan anda”.   Sekilas Idris Adjam menilai harga yang diajukan terlalu tinggi, maka ia mengatakan akan mempelajari dulu SPH tersebut.   Sang Perwira tinggi mendesak-desak agar pembelian dilaksanakan saja karena sudah ada rekomendasi dari Dirjen.    Maka watak keras Idris Adjam pun bangkit, dan menjawab tegas: “Kalau Saudara tidak merasa puas, silakan kembali ke Dirjen dan laporkan bahwa Idris Adjam tidak setuju”.     Perwira tinggi itu terdiam seketika, lalu cepat-cepat pamit undur diri.

Idris Adjam sedang menjalani MPP (Masa Persiapan Pensiun) pada tahun 1974 ketika suatu hari dia berobat di Poliklinik jalan Kertabumi, Bandung, dan masuk di dalam antrian.   Badannya terasa semakin meriang menunggu obat dari apotik.   Ia merasa pelayanan dari petugas yang kebetulan perempuan itu terlalu lambat.   Pelan-pelan Idris Adjam bangkit dari kursi, mendatangi petugas dan menanyakan obat baginya.   Petugas menjawab ketus sembari acuh tak acuh.   Idris Adjam kembali ke kursinya dan menunggu lagi dengan sabar.    Setelah cukup lama menunggu belum juga dipanggil untuk pemberian obat, Idris Adjam kembali mendatangi petugas dan menanyakan obat baginya.   Kali ini Petugas tidak menjawab malah melengos.    Maka sang Pendobrak dan Penghardikpun habis kesabarannya.           Idris Adjam membentak dengan suara keras: “Beginikah cara kamu melayani orang sakit ?!.  Kamu ini dibayar untuk melayani mereka!!”.     Petugas perempuan itu terkejut langsung menggigil karena takut.    Idris Adjam yang berbadan tegap dan gempal itu melangkah kembali ke kursi tempat dia duduk dengan penuh wibawa.                                                        Rekan petugas yang memperhatikan kejadian itu segera berbisik ke telinga petugas: “Sopanlah sedikit … kau tahu siapa dia?”.    Petugas perempuan yang masih menggigil itu menggelengkan kepala.                                                                                     “Beliau mantan Direktur … Direktur Perlengkapan … dan kau sudah mengecewakannya”.

Sang spesialis rangkap jabatan.

 

Abdoesoeki

 

Abdoessoeki anak Betawi.   Lahir di Jatinegara pada tanggal 11 November 1914 dia pun menjadi pegawai PTT tiga zaman sebagaimana halnya Idris Adjam.   Ternyata profesinya pun sama.   Teknisi Radio.   Bahkan sebelum masuk ke PTT, Abdoessoeki sudah bekerja selama 3 tahun di perusahaan swasta di Jakarta.yang bergerak di bidang Telegrap dan Radio, yaitu NV Nederlandsche Telegraaf “Radio Holland”, dan  NV Radio en Verlichting Import My.    Keinginan untuk menjadi ambtenaar membawa Abdoessoeki kemudian menjadi pegawai PTT.    Di perusahaan swasta, gaji orang Belanda jauh lebih besar dibanding gaji orang Indonesia, meskipun tingkat pendidikannya sama.   Hal sedemikian membuat Abdoessoeki tidak senang.

Abdoessoeki ditakdirkan untuk menjadi seorang spesialis rangkap jabatan.   Usai menempuh pendidikan tinggi teknik di PTT, ia ditempatkan sebagai Onder Opzichter di Kantor Telepon Langsa, sebagai Kepala Kantor merangkap   Ketua Vernielings corps bidang telepon dan telegrap.      Ketika zaman pendudukan Jepang, Abdoessoeki menjabat Kepala Kantor Telepon dan Telegrap Langsa, merangkap Ketua Seinendan, sebuah organisasi pemuda bentukan Jepang, sekaligus merangkap juga sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah cabang Langsa.

Pada tahun 1947 Sekutu yang berkuasa di Medan mengambil alih semua peralatan telekomunikasi.    Abdoessoeki yang sudah menjadi Kepala Kantor Telepon ex DSM menerima perintah untuk meninggalkan Medan beralih ke Pematangsiantar dan diangkat sebagai Kepala Daerah Telekomunikasi (Kdtel) Sumatera Utara dan Aceh.    Setelah Aksi Militer ke-II, Kdtel Sumut-Aceh, Abdoessoeki, diperintahkan untuk merangkap  jabatan Kepala Kantor Telepon Brastagi yang berkedudukan di Medan.   Karir sebagai Kdtel dilakoni secara berturut-turut dari Kdtel 1 wilayah Sumut-Aceh di Medan, lalu Kdtel V wilayah Sumatera Tengah di Padang, Kdtel-VIII wilayah Jawa Barat di Bandung dan pada tahun 1963 selain menjadi Kdtel VIII wilayah Jawa Barat  merangkap sebagai Kadtel I, Jakarta Raya.      Pada tahun 1965, kembali Abdoessoeki merangkap jabatan sebagai Kdtel II Jawa Tengah di Semarang selain sebagai Kdtel VIII Jawa Barat.

Pengalaman rangkap jabatan itu dijalaninya berdasarkan motto: tugas apapun yang dibebankan, harus dipatuhi dan dilaksanakan.      Sikap sedemikian dengan disertai sifat jujur dan taat dalam beragama, mengantarkan Abdoessoeki mencapai jabatan Direktur Personalia dan Tata-usaha (Dirpegtel) pada tahun 1973, setelah pada tahun 1967 menjabat sebagai Ps. Direktur Personalia dan Tata Usaha.   Tanggal 30 Juni 1973, Abdoessoeki menjalani MPP.    Di masanya, Abdoessoeki boleh berbangga menjadi satu-satunya anggota Direksi yang naik haji sampai dua kali, pada tahun 1969 dan tahun 1983, sambil menziarahi makam isterinya, Hj. Maemunah, di Maala, Mekah, yang meninggal pada musim haji tahun tahun 1982.

(bahan utama dihimpun dari buku Tokoh Tokoh Sejarah Perjuangan dan Pembangunan Pos dan Telekomunikasi di Indonesia, Ditjenpostel, 1985)

—000—

 

 

 

By Djaka Rubijanto Posted in Artikel

YBJ-6 DALAM GELORA PDRI

Image

Mengenang masa lalu bukanlah bermaksud tidak berkehendak untuk maju.  Mengenang masa lalu di antara warna sibuk dalam slot waktu, adalah penyegar kalbu, adalah pula pelumas untuk berpacu.   Kadang kita menemukan sesuatu yang membuat hati haru, tak jarang pula justru sebuah batu safir warna biru.   Mari kita membuka lembaran kisah-kisah juang pegawai PTT perintis kemerdekaanuntuk membulatkan tekad dalam melangkah ke depan. “Fadzkuru alaa Allahi la’allakum tuflihuun”, kenangkanlah karunia Allah supaya kamu berbahagia.

Destination unknown

ImageBerbeda dengan di tempat lain, Bukittinggi memiliki Kantor Pusat PTTRRI yang setelah kemerdekaan RI menjadi Cabang Pusat dari Kantor Pusat PTT di Bandung yang sempat pindah ke Yogyakarta.  Nama lengkapnya: Jawatan Pos, Telegrap, Telepon dan Radio Republik Indonesia.   PTTRRI memiliki Pemancar Radio karena itu meliputi siaran radio.  Keadaan politik di dalam negeri sangat genting dan gerak-gerik Belanda menunjukkan tidak akan mentaati perjanjian Renville lagi.  Bukittinggi mulai kedatangan wajah-wajah baru baik sipil maupun militer yang tiba beruntun dari Jawa.  Masyarakat belum menyadari apa makna kedatangan mereka itu di kotanya. Suatu hari tanggal 19 Desember 1948.  Telegrafis PTTRRI, Adjas Baheram, terhenyak ketika di awal perhubungan dibuka stasiun Yogyakarta tidak seperti biasanya meminta “standby”.  Kemudian sebuah nota meluncur keluar: “Pagi ini, waktu dini hari, lapangan terbang Maguwo telah dibom oleh pihak Belanda.   Kita telah berada dalam keadaan perang.   Beritahukan semua kantor.  Selamat berjuang”.   Beberapa pesawat terbang Mustang P-51 tiba-tiba terbang rendah menderu-deru di atas Bukittinggi  lalu memuntahkan bom di sana-sini.   Lapangan terbang Gadut, Pemancar RRI, pemancar PTT di Garegeh dan Taruk, Perhubungan Angkatan Darat di dekat RSU, dan Kantor Telegrap terkena serangan udara.   Penduduk kota bertebaran menyelamatkan diri.  Sebagian Telegrafis masih sempat mengirim berita bahwa Bukittingi juga dibom oleh Belanda, diharapkan tetap mengobservasi frekwensi stasiun radio pemancar Bukittinggi.  Mereka baru bubar keluar setelah serangan musuh yang kedua menghantam pada pukul 10.00.   Badan Penyingkiran Pos, Telegrap dan Telepon yang dibentuk terutama dari Korps Pegawai Istimewa dan Barisan Operator memutuskan untuk menyingkir ke luar Bukittinggi dengan “destination unknown” sambil membawa pemancar YBJ-6 dan YBJ-9.   Esok harinya, 20 Desember 1948 rombongan sampai di Pakan Rabaa (Gadut) pada siang hari lalu beristirahat sebentar.

Image

Sorenya pukul 18.00 perjalanan dilanjutkan menuju perkebunan teh Halaban dan tiba di sana pukul 19.00, langsung menghadap Ketua PDRI Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan  Ketua komisariat Teuku Mohammad Hasan.    Karena di Halaban sudah ada pemancar AURI dan Pemancar Komando Sumatera, maka keesokan harinya YBJ-6 dibawa ke Pauh Tinggi.    Sore harinya di Pauh Tinngi, YBJ-6 dapat berhubungan dengan stasiun PTT Tarutung, Pekanbaru dan Jambi.  Seorang kurir tiba membawa kabar bahwa Bukittinggi sudah diduduki Belanda yang datang melalui Padangpanjang dari danau Singkarak dengan menerjunkan pasukan amphibi.   Khawatir Belanda akan menyerbu Halaban, PDRI meninggalkan Halaban menuju Bangkinang, sedangkan Badan Penyingkir PTT tidak ke Bangkinang karena medannya berat untuk membawa YBJ-6 dan YBJ-9, melainkan  menuju ke Lintau.    Rombongan yang semula 13 orang bertambah 2 orang lagi perbantuan dari AURI.   Keseluruhan terdiri dari 6 teknisi, 4  operasional, 2 penyiar, dan 2 pembantu umum.

Bung_Tomo

Masyarakat Lintau memberikan bantuan sukarela dalam banyak hal.   Atas permintaan PDRI, maka Letkol. Mr. Nazaruddin membawa YBJ-9 ke Bangkinang, tetapi karena sulitnya medan rombongan kembali lagi ke Lintau.  YBJ-9 kemudian diserahkan kepada BPNK dan disimpan di suatu tempat.     YBJ-6 maupun pemancar radio siaran diudarakan kembali dan melakukan koordinasi dengan stasiun PTT di seluruh Sumatera.   Muatan siaran terdiri dari pertukaran berita antar front, penerimaan instruksi dari Pemerintah Pusat di Sumatera yang berkedudukan dalam pengungsian di Bidar Alam, merelay warta berita dari siaran RRI yang masih mengudara, juga dari radio pemberontakan Bung Tomo.    Perang radio melawan propaganda RVD Belanda itu membuka mata dunia luar bahwa Negara Indonesia belum hancur dan ditaklukkan.  Masyarakat Bukittinggi pun baru memahami makna dari kedatangan wajah-wajah baru sipil maupun militer dari Jawa sebelum Belanda melakukan serangan militer.   Mereka adalah pionir yang dikirim untuk mempersiapkan Bukittinggi menjadi tempat Pemerintahan Darurat RI (PDRI) bila Yogjakarta diserang dan diduduki Belanda.    YBJ-6 selain melakukan tugas rutin untuk PTTRRI juga memperoleh tugas sebagai pemancar radio resmi PDRI yang harus menembus blokade telekomunikasi Belanda.   Djaridjis ditunjuk menggantikan DS Ardiwinata sebagai Ketua Rombongan  YBJ-6 dan  Adjas Baheram sebagai Kepala Perhubungan PTTRRI.     Lintau pun diperkirakan akan diserbu Belanda, oleh karena itu Tim PTTRRI membawa pemancar yang bobotnya mencapai 750 kg itu menyingkir masuk ke dalam hutan.   Penduduk membantu membawakan peralatan pemancar yang berat itu keluar-masuk hutan hingga akhirnya sampai di Tengah Padang, masih wilayah kecamatan Lintau-Buo.    Pemancar dirakit kembali, antenna cukup dibentangkan dari dua pohon kelapa.    Setelah mengudara memancarkan callsign dan terhubung pada frekwensi stasiun PTT lain, yang segera muncul adalah pertanyaan: “Zcw, zok dimana kini?”.     Jawaban yang dikirim adalah: “Biasa, di tempat”, maksudnya: di mana saja, tergantung situasi keamanan dalam perang.

ybj6 de vwx2

ImageSetelah menduduki Bukittinggi, Belanda semakin merasuk ke kota-kota lain dan menusuk ke daerah-daerah pedalaman terutama tempat-tempat yang diperkirakan stasiun radio Republik berada.   Cengkeramannya semakin ketat, maka kedudukan YBJ-6 pun terancam pula.      Adjas Baheram dan rombongan menggotong lagi YBJ-6 berpindah-pindah menghindari serangan Mustang yang selalu mengintip dari udara.   Keadaan semakin sulit.   Rombongan besar itu tentu memerlukan makan, sementara semakin masuk ke dalam semakain jarang ditemukan perkampungan penduduk yang bisa membantu.  Di setiap tempat YBJ-6 bisa diudarakan, mereka melakukan “zth. Keying”, meminta observasi terhadap frekwensi YBJ-6 dan YBJX.    Dan di suatu sore yang cerah, radio penerima menangkap ketokan morse berbunyi : “ybj6 de vwx2 relay reports ybj6 heard now cma getting faster cma remain callsign”.     Adjas  Baheram berteriak kegirangan lalu menyusun jawaban: “ = to chief of vwx2 new delhi =   to day 17th January 1949 vwx2 heard comma greatly pleased with your cooperation to have comma with ybj6 daily at 12.30 gmt stop yr brc received fullstop   chief of ybj6 = adsb      Seluruh anggota Tim YBJ6 kemudian melakukan sujud syukur bersama.     Empat hari kemudian  21 Januari 1949, “Asian Conference” yang diprakarsai PM India Pandit Jawaharlal Nehru, digelar.   Walaupun menyadari bahwa YBJ6 melanggar ketentuan IFRB, namun VWX2 tetap melayani.   ImageKeberhasilan mengontak India itu dilaporkan ke PDRI, yang segera mengirimkan telegram no 085  tanggal 19/1 pukul 14.30, pengangkatan Mr. Maramis menjadi Menteri Luar Negeri melalui Dubes RI untuk India, Dr. Sudarsono, sekaligus perintah Presiden PDRI Syafruddin Prawiranegara untuk memperjuangkan kepentingan Indonesia dalam sidang-sidang PBB. Kemudian dikirim pula nota politik berisi sikap Indonesia pada forum “Asian Conference” yang pertama.    Pada 25 Januari 1949 Mr. Maramis berbicara dicorong All India Radio kepada rakyat Indonesia, menyampaikan terimakasih PM India bagi PDRI atas sambutan nota politik dalam “Asian Conference”. YBJ-6 dan Badan Penyingkiran PTT yang mengoperasikannya telah memberikan sumbangsih tak ternilai bagi upaya mempertahankan kemedekaan Republik Indonesia.

Komt terecht

Daeng Ardi WinataDaeng Sjaffioeddin Ardiwinata, Ketua Badan Penyingkiran PTT di Bukittinggi, selalu tersenyum dalam menghadapi masalah-masalah yang harus dipecahkan.   Ucapan yang paling sering dikemukakan adalah: “Itu perkara kecil …. Komt terecht! (Itu akan beres)”.   Teman-temannya merasa terdorong kepercayaan diri mereka oleh ucapan tersebut.    Belanda terus melacak dan memburu dimana YBJ-6 mengudara.    Mereka menyebar mata-mata hingga ke pedalaman.    Pengganti DS Ardiwinata, Djaridjis, tidak kehilangan akal menghadapi mata-mata Belanda tersebut.    Dipasanglah bendera-bendera kecil warna merah berbentuk segitiga pada semua jalan yang menuju ke lokasi YBJ-6.    Bendera sedemikian biasanya digunakan sebagai petunjuk bahwa daerah di situ terjangkiti penyakit menular yang membahayakan.   Maka menghindarlah mata-mata Belanda itu dari daerah yang berbendera kecil warna merah berbentuk segitiga, sehingga   YBJ-6 pun aman.

Berpindah-pindah lokasi mengudara untuk menghindari sergapan Mustang dan serbuan tentara darat Belanda selalu dilakukan oleh rombongan YBJ-6.     Pada suatu hari mereka sedang berjalan pada lahan pesawahan yang kering dan ada sejumlah lobang disana-sini.    Tiba-tiba terdengar bunyi pesawat terbang di kejauhan dan semakin mendekat.    Tak ayal lagi semua anggota rombongan bergegas mencari perlindungan.   Ada pula yang langsung tiarap di tempat, termasuk Djaridjis tetapi sambil memasukkan kepalanya ke dalam sebuah lobang.    Pesawat terbang itu melintas cepat di atas mereka tanpa menembakkan roket barang sebuahpun.   Yang tiarap segera bangkit dan yang mencari Djaridjisperlindungan di huma-huma sekitar berdatangan kembali ke lahan pesawahan.  Djaridjis masih tiarap dan kepalanya tak nampak di permukaan tanah.   Buru-buru mereka mendekat dan menggoyang kaki Djaridjis, yang kemudian pelan-pelan menarik kepalanya dari dalam lobang.   Maka meledaklah tawa mereka melihat sang Burung Onta tidak lagi menyembunyikan kepalanya di dalam tanah.    Djaridjis menyeringai lalu berujar: “ Kalau kepala kena tembak pastilah kamu mampus.   Beda kalau kepala kamu masukkan ke dalam lobang, paling anggota badan lain yang kena tembak, dan kamu masih hidup hanya perlu mengobati luka tembak saja”.   Teman-temannya terdiam, lalu salah seorang bertanya: “Kalau yang kena tembak aurat?”.    Giliran Djaridjis terdiam sambil cengar-cengir.  Atas usul mantan Wakil Kepala Cabang Pusat PTT di Bukittinggi, Achmad Basah,  11 dari 17 orang anggota rombongan YBJ-6 memperoleh “Tanda Kehormatan Satyalantjana Peringatan Perdjoangan Kemerdekaan” dari Pemerintah.

(bahan utama dihimpun dari buku Tokoh Tokoh Sejarah Perjuangan dan Pembangunan Pos dan Telekomunikasi di Indonesia, Ditjenpostel, 1985)

—000—

By Djaka Rubijanto Posted in Artikel

BENDERA PUSAKA PTT dan SANG PERUNDING

Mengenang masa lalu bukanlah bermaksud tidak berkehendak untuk maju.  Mengenang masa lalu di antara warna sibuk dalam slot waktu, adalah penyegar kalbu, adalah pula pelumas untuk berpacu.   Kadang kita menemukan sesuatu yang membuat hati haru, tak jarang pula justru sebuah batu safir warna biru.   Mari kita membuka lembaran kisah-kisah juang pegawai PTT perintis kemerdekaan untuk membulatkan tekad dalam melangkah ke depan. “Fadzkuru alaa Allahi la’allakum tuflihuun”, kenangkanlah karunia Allah supaya kamu berbahagia.

Bendera Pusaka PTT.

Image

“ Isteriku telah membuat sebuah bendera dari dua potong kain.  Sepotong kain putih dan sepotong kain merah.   Ia menjahitnya dengan tangan.  Ini adalah bendera resmi yang pertama dari Republik …”, kenang Bung Karno pada saat jelang pembacaan proklamasi kemerdekaan.    Itulah bendera yang dikerek ke atas tiang oleh Kapten Latief Hendraningrat di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, tanggal 17 Agustus tahun 1945 pukul 10.00 pagi.

                  Maguwo dibom

Tatkala NICA menyerbu Yogyakarta pada hari Minggu, 19 Desember 1948, setelah mengirim telegram ke Bukittinggi menyerahkan kekuasaan penuh untuk membentuk Pemerintah darurat dan ke New Delhi menginstruksikan Duta Besar Indonesia di India supaya mengadakan hubungan dengan pemerintah darurat di Sumatera, presiden Sukarno memanggil ajudan Mayor (Laut) Husein Mutahar, dan berpesan: “Dengan ini aku memberi tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu.   Ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh …… Andaikata engkau gugur dalam menyelamatkan bendera ini, percayakanlah tugasmu ini kepada orang lain dan dia kemudian harus menyerahkannya ke tanganku sendiri sebagaimana engkau seharusnya mengerjakannya.”     Bendera itu adalah Bendera Pusaka Republik Indonesia yang kemudian selalu dikibarkan di depan Istana Merdeka pada tanggal 17 Agustus setiap tahun sehingga kondisinya pada tahun 1968 dipandang tidak memungkinkan lagi untuk dikibarkan.   Maka kemudian dibuatlah replika Bendera Pusaka dari kain sutera sebagai pengganti untuk mulai dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1969 sedangkan Bendera Pusaka yang sebenarnya dilipat rapi di atas sebuah nampan dibawa oleh anggota Paskibraka untuk mengantarkan pengibaran replikanya dan kemudian juga penurunannya.

Image

Ternyata PTT pun memiliki “bendera pusaka”.   Begitu mendengar proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia telah dibacakan, saat Jepang dalam kebingungan menghadapi perubahan suasana yang begitu mendadak, Kepala Kantor Pos dan Telegrap Besar Jakarta, Abdurahim Djojodipoero, memerintahkan pengibaran bendera Merah Putih tanpa memperoleh halangan dari serdadu Jepang yang bertugas jaga.  Pengalihan kekuasaan resmi dari tangan Jepang baru terlaksana pada tanggal 1 November 1945.

Perjalanan sejarah

Selama 4 bulan lebih sang Saka menikmati kibar kebebasan dalam terpaan angin, sengatan sinar matahari maupun guyuran hujan yang tercurah dari langit.   Tak urung warnanya menjadi kusam, benang jahit putus dan mengendor maka lepaslah kain yang putih terbawa angin meninggalkan sisa kain yang merah.    Khawatir menimbulkan persangkaan buruk, Abdurahim segera menyiapkan bendera Merah Putih baru, tetapi penggantian bendera tidak mudah dilakukan.   Tentara Sekutu dan NICA pasti akan mencegah bahkan bisa saja menembak mati pelakunya.      Mengikuti petunjuk leluhurnya dari Cirebon, Abdurahim meletakkan bendera baru itu di atas meja dalam sebuah ruangan kosong di lantai atas, memohon keselamatan dan pertolongan kepada Allah dengan membaca surat Yasin tujuh kali lalu memercikkan air putih ke atas bendera.

tentara Inggris Gurkha

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar.   Serombongan besar serdadu NICA datang untuk menggeledah mencari senjata api yang dilaporkan banyak tersimpan di Kantor Pos dan Telegrap Besar Jakarta.    Abdurahim terkesiap melihat ada yang masuk ke ruang tempat bendera disimpan, tetapi penggeledah keluar lagi tanpa berkata apa-apa.   Aneh, apakah bendera di atas meja tidak dilihatnya?.   Mereka juga tidak menemukan senjata api barang sebuahpun.    Tetapi sejak hari itu sepasukan serdadu Baret Merah Inggris berjaga di Kantor Pos dan Telegrap Besar Jakarta.

Keanehan lolosnya bendera dari pandangan serdadu NICA membuat Abdurahim berani menyuruh Siboerian untuk mengambil bendera dari kamar yang sudah dijaga Baret Merah.      Abdurahim berpesan: “Minta ijin dulu pada yang jaga … lembutkan suaramu dan berlaku sopanlah”.       Siboerian yang pandai berbahasa Inggris mengikuti petunjuk atasannya itu dan serdadu Baret Merah yang berjaga hanya menganggukkan kepala.   Melihat Siboerian telah mengambil bendera dan berjalan di depan hidung penjaga, Abdurahim segera menyuruh Erwin dan Abdullah untuk menerima bendera dari Siboerian dan membawa ke tiang bendera guna dinaikkan.    Ketika Erwin sudah berada di bawah tiang dan memegang tali untuk menurunkan bendera lama yang tinggal kain warna merah, tiba-tiba hujan tumpah dari langit.   Serdadu NICA di jalan depan Kantor Pos berlarian mencari tempat berteduh, demikian pula serdadu Gurkha yang menjaga Kantor Telegrap “Eastern” pada menyingkir.   Kesempatan itu digunakan oleh Erwin dan Abdullah untuk bergegas melaksanakan tugas dan tidak berapa lama bendera Merah Putih yang baru telah terpasang pada tiang bagian atas dalam guyuran hujan yang lebat.   Hujan hanya berlangsung sebentar.   Serdadu-serdadu NICA dan Gurkha berhamburan keluar dari tempat berteduh tanpa memperhatikan bendera Merah Putih yang sudah berkibar di atas tiang.

Setelah berhari-hari berkibar tiba-tiba di suatu pagi pegawai yang tiba paling awal tidak melihat bendera itu di atas tiang.    Ia melaporkan hal itu kepada Abdurahim yang segera memberitahu penjaga Baret Merah yang ternyata segera melakukan penyelidikan lalu menggerebeg rumah di samping kiri Kantor Pos.   Bendera itu ditemukan di sana dan pencurinya ditangkap.     Tidak hanya sampai disitu, tentara Inggris yang menemukan bendera itu lalu menyuruh serdadu NICA untuk menaikkannya pada tiang bendera.    Bagaikan kerbau dicocok hidung serdadu NICA dengan tata-cara kemiliteran  menaikkan bendera Merah Putih tanpa perlawanan.

GurkhasBurma

Ketika Belanda melancarkan agresi militer yang pertama pada tanggal 20 Juli 1947, Kantor Pos dan Telegrap Besar Jakarta diserbu dan dikuasasi oleh NICA.     Abdurahim dan wakilnya, Ardisasmita, ditekan untuk terus bekerja bersama Belanda tetapi mereka menolak.  Keduanya ditangkap dan ditahan.   Karyawan Kantor Pos dan Telegrap Besar Jakarta beramai-ramai meninggalkan tempat kerja mereka sebagai protes.    Mandor Kebersihan, Ahadi, segera menurunkan bendera Merah Putih dan menyimpannya di suatu tempat.    Aksi penolakan bekerja bersama NICA itu berlanjut sampai Abdurahim dan Ardisasmita dibebaskan enam hari kemudian.   Mengetahui bahwa Abdurahim dan Ardisasmita tetap tidak bersedia bekerja bersama NICA, sebagian besar pegawai pun mengikuti sikap kedua pemimpin mereka itu lalu mengungsi ke luar.     Setelah perundingan politik menghasilkan pengakuan Belanda atas kemerdekaan Republik Indonesia, barulah mereka berdatangan untuk bekerja kembali mulai tanggal 2 Februari 1950.     Ahadi yang belakangan datang pada tanggal 10 Mei 1950 segera menuju ke tempat dia menyembunyikan bendera Merah Putih dan menemukannya masih utuh walau tertutup debu tebal.   Setelah dicuci kemudian diserahkannya kepada Kepala Kantor.     Selama 2 tahun 11 bulan ia tersimpan dalam sebuah tempat yang tidak pernah diusik oleh NICA dan pegawai yang bekerja bersama NICA di kantor itu.

Memikirkan kejadian itu, Abdurahim mengucapkan syukur kehadirat Illahi Rabbi.  Adalah kehendak Allah maka semua itu bisa terjadi.    Bendera itu kemudian ditetapkan sebagai Bendera Pusaka PTT.    Ketika memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1950 sekaligus mensyukuri utuhnya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia, sekitar 2000 pegawai PTT mengarak Bendera Pusaka PTT  melintas Istana Merdeka di depan presiden Sukarno dan Walikota Soewirjo.      Kini Bendera Pusaka PTT itu tersimpan di Museum Pos dan Giro, Kantor Pusat PT POS Indonesia, (Persero), di Bandung.

Sang Perunding ulung.

Image

Achmad Basah, lahir di Cicalengka tanggal 27 Oktober 1912.  Mulai bekerja di Jawatan PTT pada tahun 1931, setelah menyelesaikan Kursus Sekolah PTT di Bandung dengan dasar ijazah  MULO tahun 1929.    Pemuda Achmad Basah memiliki bakat mudah memahami bahasa sehingga tiga bahasa asing dia kuasai dengan baik, yaitu Inggris, Belanda dan Perancis.   Baginya, kesalah pahaman dapat membuat kerusakan dunia, dan kesalahpahaman dapat diatasi dengan memahami bahasa.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia setelah pemerintah kolonial Belanda bertekuk lutut, Achmad Basah mencoba menguasai bahasa Jepang dan mampu berdialog lancar dengan tentara Jepang sehingga kemudian menjadi penghubung antara Jawatan PTT dan pemerintah pendudukan Jepang bahkan pembantu dekat Kepala Tsusinsokyoku (Kantor Pusat PTT), Murakami, di Bukittinggi.    Kedudukan Tsusinkyoku berada di bawah Departemen Perhubungan Gunseikanbu (Pusat Pemerintahan Militer). Daya fikirnya yang tajam dan kritis mampu membaca tanda-tanda jaman dengan tepat, maka ketika Kantor Telegrap Bukittinggi menerima berita dari Kantor Telegrap Bandung bahwa Proklamasi Kemerdekaan RI telah dibacakan oleh Sukarno dan Moh. Hatta, Achmad Basah segera mempersiapkan pengambil-alihan Jawatan PTT dari tangan Jepang, melalui Panitia Pusat PTT  yang dibentuk tanggal 25 Agustus 1945, lalu berubah menjadi Panitia Persiapan Cabang Pusat PTT di Bukittinggi.    Sebagai Wakil Kepala Cabang Pusat PTT di Bukittinggi,  dengan kemampuan bahasa asing dan kepandaian berdiplomasi, pengambil alihan Jawatan PTT berhasil dengan mulus dalam menghadapi Jepang sebagai pemelihara statusquo dan Sekutu yang baru saja masuk sebagai pemenang perang Pasifik.     Awalnya Murakami ragu-ragu untuk menyerahkan Jawatan PTT kepada bangsa Indonesia, tetapi tidak keberatan Achmad Basah menemui Sekutu di Padang.

Dengan mengantongi Surat Perintah berbahasa Inggris dari Kepala Cabang Pusat PTT, Achmad Basah bersama Soedibjo dan Djalioe diterima menghadap Panglima Sekutu, Jendral Hutchinson, di Padang. Tanpa rasa takut Achmad Basah berhasil membuat Jendral Hutchinson marah besar kepada pihak Jepang sehingga meluncur keluar ucapannya: “ The bloody Japanese want you to fight us ?!!”.   Tanpa membuang waktu Achmad Basah langsung memancing: “Are we allowed to take it over?”.     Dan jawaban yang ditunggu pun keluar dengan cepat dari mulut Jendral Hutchinson: “Go ahead!!”.   Setibanya kembali di Bukittinggi Achmad Basah segera menemui Murakami dan menyampaikan hasil pertemuannya dengan Panglima Sekutu.    Ia menirukan ucapan Jendral Hutchinson dengan memberikan tekanan pada kata “the bloody Japanese” secara dramatis.    Murakami terhenyak sebentar lalu meradang merasa terhinakan maka dengan tanpa berfikir panjang lagi ia mempersilakan pihak Indonesia mengambil-alih seluruh organisasi Jawatan PTT bersama inventarisnya secara de fakto.    Penyerahan resminya terjadi pada tanggal 15 November 1945 dengan disaksikan oleh Wakil Jendral Hutchinson.

Sepak terjang anak Cicalengka ini menumbuhkan kepercayaan pimpinan PTT di Bandung.    Pada tahun 1948 Achmad Basah ditugasi  memberikan pandangan tentang Jawatan PTT di Sumatera berkaitan dengan Truce Agreement dan Renville principles, kemudian ditunjuk menjadi salah seorang anggota delegasi Indonesia dalam komisi PTT.

gurkha

Setelah bersama anak-buahnya mengalami pahit getir mempertahankan eksistensi PTT Indonesia di masa serbuan Belanda ke Bukittinggi pada 12 Desember 1948 dan memuluskan pengembalian PTT Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan, langsung di bawah Kantor Pusat PTT di Bandung, maka pada 1 Januari 1950 Achmad Basah ditarik bertugas di Kantor Pusat PTT, Bandung. Karirnya menanjak cepat di Kantor Pusat.    Memimpin delegasi Indonesia yang untuk pertama kalinya hadir dalam sidang Universal Postal Union (UPU) di Brussel (1952), dan terpilih menjadi anggota Executive and Liasion Committee (ELC) dari UPU.    Tahun-tahun berikutnya, ia mewakili PTT Indonesia di Konperensi tahunan CEL di Bern (1953 dan 1956), di Lausanne (1957) dan Kongres UPU XIV di Ottawa (1957).

Dua tahun kemudian tepatnya bulan Juni 1959, Achmad Basah menjalani masa pensiun dan menolak tawaran Mr.R.Sukardan agar jangan pensiun dulu sampai menjadi Direktur Jendral PTT.   Baginya, berpensiun berarti memberikan kesempatan yang di bawah untuk naik ke atas.      Ia pun menolak rencana pemberian tanda jasa kepada dirinya melalui sebuah surat yang ditujukan kepada Menteri Pertama Djuanda, bahkan mengusulkan agar Pemerintah memberikan penghargaan yang sewajarnya kepada 17 orang bekas anak-buahnya anggota Tim YBJ-6 yang melayani pemancar radio hingga mampu menembus blokade Belanda.      Pemerintah mengabulkan permohonan itu dan  11 dari 17 orang yang diusulkan Achmad Basah memperoleh “Tanda Kehormatan Satyalantjana Peringatan Perdjoangan Kemerdekaan”, sedangkan kepada Achmad Basah beserta isteri diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah haji dengan tanggungan Negara.      Achmad Basah bersyukur menerima bentuk kompensasi yang tak ternilai itu.

Doa yang dikabulkan Allah dari hamba-NYA yang baik.

Syahdan terpetiklah berita sebuah kecelakaan lalu-lintas terjadi di Cipatat, Kabupaten Cuianjur, pada tanggal 8 Agustus 1982.   Berita itu menyebutkan lebih lanjut bahwa sepasang suami isteri telah terenggut nyawanya dalam kecelakaan tersebut.   Mereka adalah:  Haji Achmad Basah dan isterinya.  Berita mengejutkan itu menyebar cepat di kalangan keluarga besar PTT yang telah menjadi Perum Pos dan Perum Telekomunikasi.    Iring-iringan panjang pengantar jenazah perintis Pos dan Telekomunikasi itu mengular menuju ke tempat makam keluarga di Padalarang pada tanggal 9 Agustus esok harinya.

Sebahagian kecil dari para pengantar itu dalam kesedihan teringat sesuatu.   Pada suatu hari secara senda-gurau almarhum Achmad Basah pernah berujar mendambakan dapat dipanggil oleh Allah bersama-sama isterinya.   “Kalau saya mati lebih dahulu, isteri saya yang susah.  Kalau isteri saya yang lebih dahulu, saya yang susah.   Nah, kami minta sama-sama sajalah”.  Sebuah ucapan ringan dalam suasana santai dan senda-gurau bersama para handai taulannya.    Allah SWT  mengabulkan permohonan hamba-NYA yang baik itu.

(bahan utama dihimpun dari buku Tokoh Tokoh Sejarah Perjuangan dan Pembangunan Pos dan Telekomunikasi di Indonesia, Ditjenpostel, 1985)

—000—

By Djaka Rubijanto Posted in Artikel

BERPACU MENUJU MUARA PROKLAMASI

 

 Perahu SH (Soekarno-Hatta).

Soekarno yang dibuang oleh Belanda ke Bengkulu, menjelang masuknya tentara Jepang dipindahkan ke Padang dan Bukittinggi.   Tanggal 5 Maret 1942 Batavia jatuh ke tangan tentara Jepang.   Dua hari kemudian Kol. Nakayama, kepala bagian pemerintah Tentara Ke-16 mengundang beberapa orang nasionalis terkemuka menemuinya, di antaranya Ir. Surachman dan Abikusno Tjokrosujoso.   Kol. Nakayama hanya ingin memberitahukan kepada kaum nasionalis sesungguhnya tentara Jepang tidak bermaksud menggunakan pemerintah sipil Hindia-Belanda di Indonesia.   Pada tanggal 20 Maret 1942 pemerintah balatentara Dai Nippon di Jawa mengeluarkan dekrit tentang pembubaran seluruh partai politik.    Sementara itu Jenderal Imamura, Panglima Tertinggi tentara pendudukan yang bermarkas-besar di Jakarta, mengirim surat perintah kepada Kolonel Fujiyama di Bukittinggi untuk memberangkatkan Soekarno ke Palembang kemudian melalui laut ke Jakarta.

Moh. Hatta dan Sutan Syahrir yang sudah lebih dahulu kembali ke Jawa, segera mengunjungi Soekarno setibanya dia di Jakarta.   Mereka membicarakan apa yang akan mereka lakukan bagi kemerdekaan Indonesia di masa pendudukan Jepang.   Diperoleh kesepakatan bahwa Soekarno dan Moh. Hatta akan menerima tawaran bekerja bersama Jepang, untuk memperoleh konsesi-konsesi politik yang berkenaan dengan pendidikan militer dan jabatan-jabatan pemerintahan bagi orang-orang Indonesia, sedangkan Sutan Syahrir akan bergerak di bawah tanah dan menyusun bagian penyadap-berita dan gerakan rahasia lainnya.   Mereka berjabatan tangan dengan kesungguhan hati untuk bekerja berdampingan dan tidak akan terpecah hingga negeri ini mencapai kemerdekaan sepenuhnya.

Desakan para pemimpin Indonesia, yang tergabung dalam organisasi Jawa Hokakai, kepada rezim Jepang untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia baru mendapat tanggapan dari pihak Jepang ketika pada bulan September 1944 dalam pidatonya di depan dewan perwakilan rakyat Jepang (Diet) PM Koiso menjanjikan Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia di kelak kemudian hari.

Perahu CAD (Chairul Saleh-Adam Malik-BM Diah) 

Walaupun pada dasarnya bertentangan dengan prinsip, mereka mengikuti jejak Bung Karno menyebar dan menyusup ke dalam jawatan-jawatan dan instansi-instansi pemerintah militer Jepang. Adam Malik berhasil mempertahankan seluruh perangkat kantor berita nasional ANTARA, walaupun tak mampu mencegah dijadikan sebagai bagian atau seksi Indonesia dari kantor berita Jepang bernama DOMEI.   Chaerul Saleh menyusup ke dalam Jawatan Propaganda Jepang, Sendenbu, dari mana dia dapat menganalisa naik turunnya pasang dalam gelombang perang yang dilancarkan oleh Jepang.  Dalam bidang pembelaan atau pertahanan, latihan militer yang diberikan oleh Jepang telah membuat pemuda-pemuda Indonesia bersemangat, dinamis dan mampu bertempur dalam dinas ketentaraan.

Perahu STS (Sutan Syahrir-Takdir Alisyahbana-Subadio Sastrosatomo)

Soebadio dan kawan-kawannya sama sekali tidak percaya terhadap janji kemerdekaan PM Koiso.   Mereka merasakan semakin perlunya ada pedoman tentang perjuangan kemerdekaan dalam rangka alam demokrasi.   Atas anjuran Subadio, Takdir Alisyahbana berhasil menyusun Manifesto Demokrasi dengan rumusan agak luas, lebih berupa tulisan seorang sarjana daripada seorang politikus. Pada suatu hari Jepang menggerebek rumah orang yang disangka menyebarkan berita-berita yang berasal dari radio Sekutu dan menemukan Manifesto Demokrasi yang ditulis oleh Takdir Alisyahbana tersebut. Akibatnya pada pukul 6.30 pagi bulan Oktober 1944, Subadio ditangkap di rumahnya.

Perahu SIP (Sukarni-Ibnu Parna)

Sukarni juga menyusup ke dalam Jawatan Propaganda Jepang, Sendenbu, bersama Chairul Saleh.    Beberapa bulan sebelum Jepang menyerah,  Sukarni mengadakan kontak berkala di rumahnya dengan Ibnu Parna yang tidak mempunyai tempat tinggal dan alamat yang jelas.    Ibnu Parna mengemukakan beberapa pokok pikiran, yaitu: (1) agar menarik pelajaran dari pengalaman Maret 1942, menghindari adanya daerah-daerah terbuka tanpa kekuasaan yang menyebabkan massa rakyat bergerak merebut kebutuhan harian, melakukan perampokan, untuk kemudian berakhir dengan penangkapan dan penembakan elemen-elemen aktif di kalangan rakyat, bukan sebagai pahlawan kemerdekaan, melainkan sebagai maling dan perampok;   (2)  Perang Pasifik sudah sampai kepada tingkatan kemajuan Sekutu dan mundurnya Jepang. Pastilah akan timbul kembali “daerah-daerah terbuka”, dan kalau tidak timbul prakarsa politik guna merebut kemerdekaan dan alat-alat produksi, maka pastilah akan berulang tragedi (kepedihan) Maret 1942;  (3).  Masanya sudah dekat untuk merebut kemerdekaan dan mengatur kehidupan rakyat dalam susunan negara Republik Indonesia;   (4) Tonari Gumi (Rukun Tetangga) telah berangsur-angsur berubah posisinya dari “panitia mata-mata Jepang” menjadi “panitia distribusi kebutuhan rakyat”. Pada setiap saat dapat diubah menjadi “panitia revolusi”, dengan sedikit keberanian dan ketangkasan dapat disusun dalam tempo yang pendek (melalui “kopyokan alam”) aparat revolusi yang diperlukan;  (5) Ibnu Parna mengusulkan Sukarni sebagai pemimpin revolusi sekaligus Presiden dan dia sendiri siap sebagai Wakil Presiden, tetapi karena Sukarni menolak maka dia mengusulkan Sukarno sebagai Presiden dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden karena mereka masih berpengaruh, sekalipun mereka tampaknya lebih banyak sebagai “tawanan Jepang”.   Pada saatnya nanti Sukarno-Hatta harus direbut dari tangan Jepang, agar Jepang tidak berkesempatan menyerahkan Sukarno-Hatta sebagai inventaris kepada Sekutu.    Mereka menyepakati sebagai sasaran jangka pendek untuk dilaksanakan.

Perahu SH memimpin di depan

Janji PM Koiso bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia di kelak kemudian hari diikuti dengan diijinkannya Lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan dan   Sang Merah Putih dikibarkan.    Di bulan Nopember Sukarno dan Hatta “diundang” mengunjungi Tokyo untuk “menyampaikan terimakasih kepada Tenno Heika atas kemurahan hatinya”.    Shimitsu dari Sendenbu Jakarta menafsirkan sebagai tanda yang baik bagi Sukarno dan menunjukkan bahwa Indonesia tidak lama lagi akan merdeka.

Dalam bulan Maret 1945 Bung Karno dan Bung Hatta diajak berunding oleh pimpinan Jepang di Makasar untuk menentukan bentuk negara Indonesia.   Pihak Jepang menginginkan timbulnya kembali kerajaan Mojopahit dan diatur menurut sistem pemerintahan Jepang, lengkap dengan Tenno Heikanya sekali.  Sukarno-Hatta menghendaki bentuk Republik.    Pada tanggal 1 April 1945 Okinawa jatuh ke tangan Sekutu.    Dampaknya pada tanggal 29 April, atas nama Tenno Heika, pimpinan Jepang di Jakarta menyetujui pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia di bawah pimpinan Bung Karno.

Pada tanggal 1 Juni 1945 Bung Karno sebagai ketua Panitia tampil ke atas mimbar menyampaikan dasar negara Pancasila yang digali dari kandungan Ibu Pertiwi.   Dan pada 8 Agustus, Jenderal Terauchi, Panglima Tertinggi Pasukan Jepang di Asia Tenggara, memanggil Soekarno dan M.Hatta ke markas besarnya di Dalath, Saigon, tanpa memberitahukan maksudnya.

Senggolan perahu CAD dan SH

Di suatu pagi yang cerah pada bulan Juli 1945, Sukarno memimpin pertemuan  delapan puluh orang wakil dari daerah di gedung bekas Dewan Rakyat.   Setelah dua jam lamanya menempa pokok-pokok persoalan, seorang perwira Jepang yang tertua di antara yang hadir, Saito, mengumumkan bahwa keputusan terakhir mengenai bentuk negara, apakah Indonesia akan menjadi republik, atau kerajaan ataupun bentuk yang lain, sepenuhnya berada di tangan Tenno Heika.   Mendengar itu sekelompok pemuda menjadi marah dan berteriak-teriak muak dengan taktik yang terlalu hati-hati.  Mereka juga menolak didikte dan siap menyabot setiap usaha untuk menunggu perintah dari Tokyo.    Sukarno mengetukkan palu berkali-kali menenangkan.   Polisi rahasia yang menjaga ruangan itu dalam sikap siaga memperhatikan setiap gerak Sukarno dengan teliti.    Dengan senjata ditangan mereka siap menindas dengan kekerasan.   Chairul Saleh mengancam akan menyatakan perang kepada Bung Karno sebelum bisa menerima syarat yang disodorkan oleh Nippon.   Kemudian dia memimpin rombongannya meninggalkan ruangan, dan Sukarno lalu memutuskan untuk menunda sidang.

Sore harinya serombongan pemuda datang ke rumah Sukarno yang menyambut dengan gembira dan memanggil mereka dengan sebutan: “pemuda revolusioner”.  Chairul Saleh kembali mendesakkan kehendak mereka untuk merebut kemerdekaan kemerdekaan sendiri sekarang juga, karena Angkatan laut Sekutu sudah mulai merangsek maju dan Jepang di ambang kekalahan.   Sekutu hanya akan menghormati Proklamasi yang dinyatakan sendiri.    Burhanuddin Muhammad Diah, seorang wartawan muda menimpali bahwa Jepang malah sudah dikalahkan kalau mendengar berita dari  Australia dan Amerika Serikat.    Sukarno kembali mengingatkan kemungkinan terjadinya pertumpahan darah yang dahsyat kalau memaksakan diri dalam situasi seperti itu.

Senggolan perahu STS dan SH

Pembagian pola perjuangan antara Sukarno-Hatta dengan St. Syahrir  menyebabkan Syahrir yang rajin memonitor siaran radio luar negeri di tempat ia bersembunyi, lebih cepat mengetahui situasi perang Pasifik dari hari ke hari, termasuk bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika di Hiroshima (6 Agustus 1945), Uni Soviet menyatakan perang kepada Jepang (8 Agustus), Nagasaki dijatuhi bom atom oleh Amerika (10 Agustus) dan ultimatum Amerika agar Jepang menyerah kepada Sekutu sebelum bom atom yang ketiga akan dijatuhkan lagi.  Syahrir menyuruh Subadio Sastrosatomo meneruskan berita-berita tersebut  kepada semua teman yang dekat, disertai analisa bahwa dalam waktu dekat Jepang pasti akan menyerah.  Salah satunya kepada dr. Soedarsono di Cirebon.

Syahrir dari awal menyadari bahwa figur Soekarno telah mendapat tempat tersendiri di hati rakyat Indonesia dan  yang paling tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dianggapnya terkotori oleh tangan Jepang.   Syahrir mencoba membujuk Moh. Hatta terlebih dulu yang sudah lama dikenalnya sewaktu studi di Belanda, namun Moh. Hatta tidak sepakat proklamasi kemerdekaan diucapkan dengan meninggalkan PPKI.  Ternyata Soekarno yang dikunjungi oleh Hatta dan Syahrir juga menolak meninggalkan PPKI dan akan mengecek kebenaran berita tersebut ke Gunseikanbu esok harinya tanggal 15 Agustus.  Syahrir sangat kecewa tetapi sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Senggolan perahu SIP dan SH

Hari demi hari Sukarni mendesak, membujuk malahan meminta dengan sungguh-sungguh supaya Bung Karno cepat-cepat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, tetapi Bung Karno tetap bersikeras tidak mau mengiyakan anjuran para pemuda radikal.   Dalam keadaan judeg bercampur geregetan Soekarni berteriak: “Wis tah Bung, kebatan! Opo se, sing kok doleki maneh ?!” (Ayolah Bung, cepatan! Apa lagi yang kau cari ?!).  Meledak pula Bung  Karno menjawab : “Wis tah menengo ae koen !” (Diam kau !)

Sejak lahirnya Pancasila sebagai ideologi Negara untuk suatu Negara yang belum lahir, ketegangan dan frustasi telah menimpa para pemuda.   Mereka resah dan sangat khawatir akan terulang kembali peristiwa lama sekitar kegagalan “Indonesia Berparlemen” pada tahun 1941.   Mereka nekat untuk berkonfrontasi dengan pemimpin bangsa sendiri.

Perahu SH melintasi riam

Tanggal 15 Agustus 1945 pagi hari Soekarno, Hatta dan Mr. Subardjo mendatangi Gunseikanbu dan mendapatkan kantor itu kosong yang menurut seorang opsir penjaga semua pejabat dipanggil ke Gunseireibu (markas besar angkatan perang).   Ketiga tokoh itu sepakat bahwa berita dari Syahrir bolehjadi benar.   Lalu mereka menemui Admiral Mayeda di kantornya.  Mayeda terpekur beberapa lama sehabis mendengar pertanyaan Soekarno tentang kebenaran Jepang telah menyerah kepada Sekutu.    Sikap Mayeda itu lebih mempertegas perkiraaan bahwa berita yang diterima dari Syahrir memang benar.    Dalam perjalanan pulang dari rumah Mayeda, Soekarno menyetujui usul Moh. Hatta untuk menyelenggarakan sidang PPKI esok harinya yaitu tanggal 16 Agustus, sebab seluruh anggota PPKI sudah pada hadir dan menginap di Hotel des Indes, Jakarta.   Mr. Subardjo ditugasi memberitahukan hal itu kepada semua anggota PPKI.

Perahu STS melintasi riam

Sore harinya  Moh. Hatta dikunjungi Soebadio Sastrosatomo dan Subianto Djojohadikusumo Mereka mencoba mempengaruhi Hatta untuk membatalkan rapat PPKI esok hari 16 Agustus dan mendesak agar proklamasi diucapkan oleh Soekarno sendiri atas nama rakyat Indonesia melalui corong radio.    Moh. Hatta menolak sehingga mereka melontarkan ucapan: “Bung tidak revolusioner!! Bung Hatta tidak bisa diharapkan untuk mengadakan revolusi!!”

Perahu CAD melintasi riam

Malam itu juga delegasi pemuda yang terdiri dari Wikana, Soeroto Koento, Soebadio Sastrosatomo, Darwis dan DN Aidit bertandang ke rumah Soekarno di Pegangsaan Timur 56.    Wikana menyampaikan keputusan rapat pemuda  kepada Soekarno dan mendesak agar bersedia melaksanakannya, namun Soekarno bersikeras tidak bisa meninggalkan PPKI dan meminta para pemuda bersabar.  Terjadilah situasi yang sangat dramatis ketika Wikana yang meluap emosinya mengemukakan akan terjadi pertumpahan darah bila Bung Karno tidak bersedia melaksanakan dan Soekarno yang tersinggung menantang mereka menghabisi dirinya malam itu juga tidak perlu menunggu sampai besok.   Usul Moh. Hatta agar pemuda mencari pemimpin yang lain untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, dianggap sebagai tantangan yang menyindir oleh para pemuda.  Mereka meninggalkan rumah Soekarno dengan tangan hampa dan hati kesal.

Perahu SIP melintasi riam

Sukarni menerima baik pokok-pokok pemikiran Ibnu Parna, kemudian mereka membicarakan “siapa yang pantas untuk memimpin bangsa dan negara republik yang akan dibangun nanti”.    Dengan lugas Ibnu Parna menyebut nama Sukarni untuk Presiden, dan dia sendiri siap untuk menjadi Wakil presiden.    Sukarni menolak dengan alasan mereka belum cukup dikenal oleh rakyat.    Ibnu Parna mengkritik sikap Sukarni yang peragu, padahal duduk dalam Pusat Sendenbu yang memiliki fasilitas cukup untuk dimanfaatkan guna mengatasi kekurangan dan dapat dimulai dari sekarang.  Ditunjukkan juga bahwa unit-unit yang defakto bergerak itu bisa dijadikan aparat perjuangan untuk ditempatkan dalam situasi perang kemerdekaan.   Penyempurnaan aparatur kemerdekaan dapat digalang kemudian.  Dari dalam kopyokan alam itu akan lahir partai pelopor revolusioner yang diperlukan sebagai jaminan terpimpinnya revolusi sampai kepada partai yang dituju.   Tetapi Sukarni masih tetap menolak dan minta disebutkan nama lain yang lebih pantas.

Perahu CAD melaju bersama SIP

Menjelang tengah malam, para pemuda berkumpul di Cikini 71 untuk mendengarkan laporan delegasi yang disampaikan oleh Wikana.  Soekarni yang datang terlambat langsung menguasai jalannya rapat dengan mengatakan sudah tiba saatnya pemuda dan mahasiswa untuk bertindak secepat mungkin malam itu juga.  Ia mengusulkan Soekarno dan Moh. Hatta dibawa keluar Jakarta untuk “diminta” memproklamasikan kemerdekaan disana. Pemilihan Rengasdengklok diusulkan oleh dr. Soetjipto dan Singgih (keduanya Chudancho PETA) dan rapat pemuda menyetujuinya. Yang lain diminta menggalang kekuatan pemuda bersiap menyongsong proklamasi yang akan diumumkan dari Rengasdengklok dan mereka harus melanjutkan dengan mengobarkan revolusi di Jakarta melalui perebutan setasiun radio dan tempat-tempat penting lainnya dari tangan Jepang.   Soekarni sendiri yang akan memimpin langsung pelaksanaan “penculikan” tersebut.

Sukarni menggerakkan pemuda-pemuda untuk bersiap di sejumlah tempat tertentu menunggu komando mulainya perebutan Stasiun Radio dan Kantor2 pemerintahan yang penting di Jakarta.   Kemudian dia memimpin rombongan kecil pemuda menuju ke rumah Moh. Hatta dan berhasil “membawa” Hatta ke dalam mobil yang terus meluncur menuju ke rumah Bung Karno.   Disana pun Sukarni berhasil meminta Soekarno bersiap untuk meninggalkan Jakarta.  Fatmawati dan Guntur dibawa serta oleh Soekarno.   Mereka semua dibawa menuju ke Rengasdengklok dan diinapkan di rumah tua warisan Djiauw Kie Siong.   Upaya Sukarni meminta Soekarno memproklamasikan kemerdekaan dari Rengasdengklok tetap menemui kegagalan.  Yang bisa dilakukan hanyalah sebuah proklamasi dalam skala kecil di depan Kawedanan Rengasdengklok yang diorganisir oleh Sukarni didukung oleh  Dokter Sutjipto dan Singgih, perwira PETA dari Jakarta, dilaksanakan oleh Shonco (Camat) Soejono Hadipranoto, dihadiri oleh para Shonco dan Kucho (Kepala Desa), pengurus Kumiai (Koperasi Padi/beras) dan sejumlah pejabat dan petugas, Seinendan dan Keibodan (organisasi serbaguna di desa), serta sejumlah besar masyarakat setempat.

Perahu STS melaju bersama CAD

Lewat tengah malam Soebadio Sastrosatomo mendatangi rumah Syahrir untuk melaporkan pelaksanaan tugasnya menyebar-luaskan informasi dari Syahrir, sekaligus memberitahu adanya rencana pemuda untuk membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Syahrir menyatakan kemarahannya terhadap Soekarno di depan Subadio Sastrosatomo, menyetujui rencana pemuda memproklamasikan kemerdekaan tanpa melibatkan PPKI, tetapi  tidak setuju terhadap usaha penculikan Soekarno dan Hatta tersebut.  Syahrir juga meminta agar Soebadio tidak terlibat dalam upaya penculikan, namun Soebadio menyatakan telah terikat dengan kesepakatan bersama para pemuda tersebut dan akan ikut melaksanakannya.   Karena itulah Syahrir kemudian memusatkan perhatian menyusun kekuatan rakyat melalui kelompoknya yang ada di sejumlah kota, antara lain Cirebon.

Perahu CAD melaju bersama SH

Tidak adanya Sukarno dan Hatta di Jakarta seharian pada 16 Agustus itu mengundang tanya Mr. Subardjo dan anggota PPKI lainnya yang sudah berdatangan.  Nishijima berhasil membujuk Wikana untuk memberitahu dimana Soekarno berada dan Wikana mempertemukan Subardjo dengan Yusuf Kunto yang baru datang dari Rengasdengklok.   Maka Soebardjopun pergi ke Rengasdengklok bersama Yusuf Kunto, dan Yoshizumi menjemput Sukarno-Hatta.    Keikutsertaan Yoshizumi ialah agar perjalanan kelompok ke Rengasdengklok tidak mendapat kesulitan dari tentara Jepang.   Malamnya setelah berbuka puasa Soekarno dan rombongan bersama para penjemput kembali ke Jakarta.

Perahu SH-CAD-STS-SIP  berpacu sejajar menuju muara Proklamasi.

Laksamana Maeda mengambil peranan penting untuk melaksanakan terus pernyataan kemerdekaan, penyerahan kedaulatan secara tertib dan mengembalikan kewibawaan di tangan pemimpin-pemimpin tua. Sebaliknya Mayor-jenderal Nisyimura melarang rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia karena statusquo harus dipertahankan.

Lalu Soekarno mengusulkan andaikata Gunseikan mau memalingkan mukanya dan membiarkan bangsa Indonesia bertindak tanpa campur-tangan yang aktif dari pihak tentara Dai Nippon, maka hasilnya akan menguntungkan bagi ke dua belah pihak.   Tetapi Nishimura menjawab tidak dapat menerima usul semacam itu selama ‘dia tahu tentang itu’, akan tetapi hal itu mungkin dapat dibiarkan apabila dilakukan ‘tanpa sepengetahuannya’.  Maka pada hakekatnya Nishimura telah memutuskan sebuah kompromi yang dapat diterima oleh semua pihak.

Pada waktu membuka rapat Bung Karno mengatakan rapat itu bukan rapat PPKI, melainkan rapat wakil-wakil bangsa Indonesia.    Karena tidak ada seorangpun yang membawa teks yang resmi yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945 (Piagam Jakarta), maka naskah Proklamasi disusun oleh lima orang yaitu Bung Karno, Bung Hatta, Mr. Ahmad Subardjo, Sayuti Melik dan Soekarni sebagai wakil dari pemuda.   Naskah tulisan tangan Bung Karno diedit dan diketik oleh Sayuti Melik, lalu dibawa ke ruang sidang dan disetujui dengan aklamasi.    Penandatangan naskah Proklamasi itu diputuskan hanya oleh Soekarno dan Moh. Hatta mewakili seluruh bangsa Indonesia, setelah melalui perdebatan sengit dan lobi-lobi intensif.

Dan keesokan harinya, tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 Soekarno yang sedang terserang flu membacakan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Muara Proklamasi menyatu dengan lautan Kemerdekaan yang ombaknya bergelora tiada henti,  bergulung-gulung datang lalu pergi lagi, mengarungi keluasan yang seakan tak bertepi ……

(Dikemas dari penuturan Soekarno/Cindy Adams, Mohammad Hatta, Subadio Sastrosatomo/Rosihan Anwar, Adam Malik, Ibnu Parna/Sumono Mustoffa, dan Sujono Hadipranoto/Her Suganda).

—000—

 

By Djaka Rubijanto Posted in Artikel

DARI ENDE, PANCASILA DIRUMUSKAN

 

 

Image

Ende, sebuah kota di selatan pulau Flores yang memiliki tiga terminal transportasi baik darat, laut maupun udara.     Berada langsung di kaki perbukitan yang berendeng dengan  Kelimutu, sebuah gunung berapi yang sedang tidur, maka jalan-jalan besar di Ende mengikuti struktur tanah yang berliku menaik dan menurun kecuali di sekitar pelabuhan laut.     Ende yang berhawa cukup panas itu memiliki arti penting bagi sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.     Di kota ini Soekarno, tokoh besar pejuang kemerdekaan Indonesia, diasingkan sendirian oleh penjajah Belanda karena kegiatan-kegiatan politik.     Belanda agaknya masih menyimpan sebuah harapan untuk bisa melunakkan hati tokoh besar ini.      Soekarno tidak diasingkan ke Tanah Merah, Merauke, bersama serombongan besar pejuang kemerdekaan Indonesia termasuk Mohamad Hatta dan Sutan Syahrir.      Namun dalam kesendirian di kota kecil ini, Soekarno justru dapat melakukan perenungan diri yang semakin dalam dan luas dalam memberikan pencerahan dan penggalangan massa secara nyata bukan hanya melalui pidato berapi-api di podium sebagaimana dilakukannya di Jawa.

Pancasila Bung Karno

Image

Layaknya sebuah produk politik, maka Pancasila pun tidak lepas dari tarik-menarik politik.  Terutama setelah kekuasaan Bung Karno surut sebagai presiden RI apalagi setelah beliau meninggal dunia, orang mulai memasalahkan predikat “Penggali Pancasila” yang dilekatkan pada dirinya.    Adalah Dr. Radjiman Wedyodiningrat, mantan Ketua BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), yang awalnya menamai Lahirnya Pancasila dalam kata pengantar pada sebuah buku kecil yang memuat pidato Bung Karno di depan sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945.   Ketika menyampaikan sambutan mewakili Universitas Gadjah Mada, Prof. Notonagoro yang bertindak selaku promotor penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dalam ilmu hukum kepada presiden Soekarno, memaparkan dasar-dasar sumbangan Soekarno sebagai “pencipta Pancasila”.   Pandangan umum di masa itu menyepakati bahwa Soekarno adalah Penggali Pancasila yang kemudian dikukuhkan sebagai dasar filosofi bangsa dan negara Republik Indonesia dalam sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) tanggal 18 Agustus 1945, dan karena itu naka tanggal 1 Juni 1945 dipandang sebagai Hari Lahir Pancasila.

Image

Bung Karno telah tiada, namun era kekuasaan politik setelah masanya mencoba mengikis habis kecintaan rakyat yang masih membekas melalui kebijakan de-Sukarnoisasi.  Merebak tuduhan waktu itu bahwa Bung Karno telah mengkerdilkan makna Agama dengan menempatkan Ketuhanan pada sila urutan ke lima dalam pidato 1 Juni 1945.   Lima Asas Dasar Negara usulan Bung Karno adalah :  1) Kebangsaan;  2) Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan;  3) Mufakat atau Demokrasi;  4) Kesejahteraan Sosial; dan 5) Ketuhanan.

Notulen rapat sidang-sidang BPUPKI kini tidak ditemukan lagi karena kurang disiplin mengarsipkan dokumen nasional.  Menurut mantan Wakil Ketua merangkap Kepala Tata Usaha BPUPKI R.P.Suroso, notulen dipinjam oleh Adinegoro. Lalu dialih-pinjamkan ke Muhammad Yamin, dan sejak itu notulen tidak tentu rimbanya.     Belakangan di tahun 1959, Muhammad Yamin menerbitkan buku “Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia” dalam 3 jilid.  Presiden RI Soekarno memberikan kata pengantar pada buku tersebut.   Buku itu memuat pidato Muhammad Yamin pada hari pertama sidang BPUPKI tanggal 29 Mei 1945 yang mengusulkan Lima Asas Dasar Negara: 1) Peri Kebangsaan;  2) Peri Kemanusiaan;  3) Peri Ketuhanan;  4) Peri Kerakyatan;  dan 5) Kesejahteraan Rakyat.     Sebagai catatan, harian Sinar Baru dan Asia Raya tidak pernah memuat pidato Muhammad Yamin itu termasuk lama waktunya berbicara.

ImageKata pengantar presiden Soekarno pada buku “Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia” menimbulkan anggapan  bahwa Bung Karno “tidak berkeberatan” dengan pemuatan pidato Muhammad Yamin pada 29 Mei 1945, dan atas dasar ini Kepala Pusat Sejarah ABRI, Nugroho Notosusanto, langsung menjatuhkan tuduhan “plagiator” tertuju kepada Bung Karno.    Bukankah Muhammad Yamin lebih dulu dua hari menyampaikan usulan 5 Asas Dasar Negara yang substansinya sama hanya berbeda dalam urutan saja dengan usulan Bung Karno, demikian alasan mereka.  Maka predikat Bung Karno sebagai “Penggali Pancasila” pun dipertanyakan dan mulai digugat dengan penuh semangat.

Soekarno ataukah Muhammad Yamin ?

ImageGagasan Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945 tentang 5 Asas Dasar Negara telah dipilih untuk dibahas dan disempurnakan oleh PPKI.    Hal itu merupakan pengakuan bahwa bukan usulan Muhammad Yamin yang dipilih melainkan usulan Bung Karno.    Namun tuduhan “plagiator” tetap saja merupakan batu sandungan.    Marilah kita meruntut lebih jauh ke belakang.    Pringgodigdo A.K.  dalam bukunya : “Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia” (1967) menyebutkan bahwa Muhammad Yamin bersama kawan-kawannya mendirikan Partai Persatuan Indonesia (Perpindo) pada tahun 1939, setelah dipecat dari Gerindo.   Perpindo berasaskan “Sosial Nasionalisme dan Sosial Demokrasi”.   Apabila kita bandingkan dengan 5 Asas Dasar Negara usulannya di BPUPKI, kedua asas tersebut diurai menjadi 4 asas, yaitu: Peri Kebangsaan dan Peri Kemanusiaan (untuk Sosial Nasionalisme), Peri Kerakyatan dan Kesejahteraan Rakyat (untuk Sosial Demokrasi).   Lalu Muhammad Yamin menambahkan Peri Ketuhanan sehingga menjadi lima asas.       Bagaimana dengan Bung Karno ?   Konferensi Partai Indonesia (Partindo) pimpinan Bung Karno di Mataram pada bulan Juli 1933 memutuskan di dalam ayat 1 bahwa “Marhaenisme adalah Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi”.   Adapun Sosio Nasionalisme terdiri dari: (1) Nasionalisme/Kebangsaan; dan (2) Internasionalisme/Peri Kemanusiaan.  Sedangkan Sosio Demokrasi terdiri dari: (3) Demokrasi/Mufakat; dan (4) Keadilan Sosial/Kesejahteraan Sosial.   Lalu Bung Karno juga menambahkan Ketuhanan sehingga menjadi lima asas pada sidang BPUPKI tahun 1945.    ImageMaka ditinjau dari sisi ini Bung Karno mendahului 6 (enam) tahun daripada Muhammad Yamin dalam merumuskan gagasan asas yang sama maknanya.    Hal ini dapat dimaklumi mengingat Muhammad Yamin lebih muda usianya dan menjadi pengagum Bung Karno meskipun memilih berada dalam partai politik yang beda.     Nugroho Notosusanto dan mereka yang sepaham dengan dia hanya  meninjau dari saat sidang BPUPKI saja sementara giliran berbicara sudah ditentukan oleh Panitia.   Maka tuduhan “plagiator” terhadap Bung Karno tidak tepat dan sepantasnya dicabut.

Mengapa asas Ketuhanan di urutan ke lima ?

Tuduhan bahwa Bung Karno telah “merendahkan” Agama dengan penempatan asas Ketuhanan pada urutan ke lima sangatlah mengada-ada.   Apabila kita mempelajari dengan saksama tema-tema pidato dan tulisan Bung Karno di media massa dalam masa penjajahan Belanda, maka memang diawali dengan tema Kebangsaan (Nasionalisme), lalu secara beruntun beralih pada tema-tema sebagaimana yang dia ungkapkan dalam sidang BPUPKI, 1 Juni 1945.    Tema Ketuhanan berada pada giliran terakhir, dan itu karena hasil dari perenungan diri selama dalam pengasingan di Ende.     Masyarakat kota Ende sangat agamis dalam hal ini penganut Katolik secara mayoritas.    Yang Muslim merupakan minoritas.    Selama di Ende Bung Karno menjalin hubungan surat menyurat dengan Ustadz A. Hasan dari Bandung untuk mempelajari agama Islam secara lebih mendalam.    Pemikiran-pemikiran baru Bung Karno mengenai Islam yang dikaitkan dengan pemahaman politik Barat seperti Sosialisme, Sosial-demokrat dan Komunisme mewarnai sejumlah tulisan yang lahir dari bumi kota Ende.    Beberapa tulisan Bung Karno tentang Islam yang ditulis di Ende memberikan kesan segar dan beberapa lagi menimbulkan kontroversi.   Namun itulah pandangan dan pemahaman seseorang.  Bung Karno tidak segan mengakui sebagai pendalamannya terhadap Islam.   Maka penempatan urutan ke lima atas asas Ketuhanan bukanlah merendahkan Agama, melainkan memang Bung Karno baru menekuni agama Islam sejak dalam pengasingan di Ende.     Anggapan bahwa asas urutan pertama merupakan asas pokok yang menjiwai asas-asas lainnya adalah pemikiran pola Umbrella (Payung).    Bagaimana kalau digunakan pemikiran pola Piramida ?  Dengan pola pemikiran Piramida maka justru urutan terakhirlah yang menjadi dasar dari semua asas lainnya.    Maka perihal urutan asas ini menjadi tidak penting lagi untuk dipermasalahkan, apalagi dalam hal Bung Karno hanyalah merupakan kenyataan urut kacang perhatian beliau atas tema-tema sosial politik.    Terlebih setelah PPKI pada 18 Agustus 1945 di dalam Mukadimah UUD 1945  menetapkan urutan baru dari kelima asas yang diusulkan Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945 dan menyempurnakan kalimat serta peristilahan yang digunakan, Hal ini juga menunjukkan kebesaran hati Bung Karno untuk menerima pendapat orang lain dan sikap menghormati asas demokrasi.   Seperti kita ketahui 5 asas Dasar Negara di dalam Mukadimah UUD 1945 sebagaimana yang kita kenal dengan Pancasila saat ini, adalah:  1) Ketuhanan Yang Maha Esa;  2)  Kemanusiaan yang adil dan beradab;  3) Persatuan Indonesia;  4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan;  5) Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

Terumuskan di Ende

Image

Kepada Cindy Adams (Bung Karno, Penyambung lidah rakyat Indonesia), Bung Karno bertutur  : ….Di Ende yang terpencil dan membosankan itu banyak waktuku terluang untuk berfikir.   Di depan rumahku tumbuh sebatang pohon Keluih.  Jam demi jam aku lalu duduk bersandar di situ, berharap dan berkehendak.  Di bawah dahan-dahannya aku mendo’a dan memikirkan akan suatu hari …. suatu hari …. dengan menggetarnya setiap jaringan otot dalam seluruh tubuhku, aku menggetarkan keyakinanku, bahwa bagaimanapun juga … aku akan kembali.  Hanya patriotism yang berkobar-kobarlah dan yang masih tetap membakar panas dadaku di dalam, yang menyebabkan aku terus hidup.  ….  Aku memandang samudra bergolak dengan hempasan gelombangnya yang besar memukul pantai dengan pukulan berirama.  Dan kupikir-pikir bagaimana laut bisa bergerak tak henti-hentinya.  Pasang naik dan pasang surut, namun ia terus menggelora secara abadi.   Keadaan ini sama dengan revolusi kami, kupikir.   …………

Image—000—

By Djaka Rubijanto Posted in Artikel
header2

KISAH JUANG TIGA SATRIA PTT

 

Mas Soeharto, pemuda jangkung kelahiran Pacitan, 2 Maret 1901, telah bekerja di Kantor Pos Semarang sebagai tenaga harian pada umur 18 tahun selepas sekolah MULO di Yogjakarta.   Setelah menyelesaikan Controleur Cursus angkatan pertama di Jakarta, kedudukannya semakin mantap di kantor tempat dia bekerja.       Sebagai pegawai yang baru bekerja, dia sudah berhemat hidup untuk meringankan beban orang tua, membiayai sekolah adik-adiknya dan membantu pemuda-pemuda lain yang kekurangan biaya.  Continue reading

By Djaka Rubijanto Posted in Artikel