Serba-Serbi Proklamasi

SERBA-SERBI  PROKLAMASI

Pada terbitan majalah triwulanan KVK POSTEL/LVRI No. 83 Th XXIII yang lalu, rekan Wasto Sudiyat  telah memaparkan Kilas Balik Perjuangan sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.   Sebagai bumbu penyegar kali ini saya sampaikan Serba-serbinya dari sisi human interest.     Saya mulai dari masa sebelumnya, tatkala Jenderal Imamura, Panglima Tertinggi tentara pendudukan Jepang yang bermarkas-besar di Jakarta mengirim surat kepada Kolonel Fujiyama dan menyatakan, “…………ternyata urusan sipil tidak berjalan baik.   Kami sangat memerlukan bantuan dari orang yang paling berpengaruhIni adalah perintah militer supaya memberangkatkan Sukarno.”      Di Bukittinggi, Kolonel Fujiyama memerintahkan anak-buahnya untuk membawa BungKarno dan keluarga ke Palembang melalui jalan darat, yang kemudian diteruskan ke Jakarta dengan menggunakan sebuah perahu-motor bermesin caterpillar.   Setelah empat hari empat malam diombang-ambingkan ombak, perahu-motor akhirnya mendarat di pelabuhan Pasar Ikan, Jakarta, pada tanggal 9 Juli 1942.     Anwar Tjokroaminoto yang pertama menjemput dan kedua bekas ipar itupun berpelukan erat melepas rindu.   Kemudian Bung Karno yang kurus, letih dan mengenakan  jas putih kedodoran  serta celana lusuh memperhatikan Anwar yang mengenakan jas kuning-gading dengan potongan “double breast”.   Diraba-rabanya jas bekas ipar itu, lalu meluncur keluar pujiannya: “Jasmu bagus sekali potongannya”.     Itulah ucapan  pemimpin bangsa Indonesia setelah dibebaskan dari pembuangan dan bertemu kembali dengan teman seperjuangan.    Bukan sebuah retorika  herois sebagaimana sering kita dengar diucapkan oleh tokoh-tokoh dunia pada saat-saat yang bersejarah.

Meskipun berita tentang pemboman Hiroshima oleh Amerika sudah tersiar di Saigon, namun dalam resepsi dan  upacara menyambut rombongan Bung Karno – Bung Hatta,  pimpinan militer Jepang  tidak menunjukkan gelagat risau dan terpukul.  Mereka bersandiwara, kami pun bersandiwara, semua ini adalah sandiwara badut-badutan, kata Bung Karno.    Dalam perjalanan kembali ke Jakarta dari Dalath, Saigon, rombongan Bung Karno hanya diantar oleh seorang penerbang, seorang pembantu  penerbang dan dengan pesawat pembom tua yang sudah berlubang-lubang bekas terkena tembakan.  Ketika akan buang air kecil, karena tidak tersedia toilet Bung Karno berjalan ke bagian belakang  pesawat lalu melepaskan  hajat.   Tiba-tiba angin bertiup kencang melalui lubang-lubang bekas peluru dan terbawalah air seni Bung Karno ke dalam sehingga membasahi teman-temannya.   Dalam keadaan setengah basah  itulah Pemimpin Besar Revolusi Indonesia dan  rombongan tiba di Jakarta pada tanggal 14 Agustus 1945.

Keesokan malamnya, 15 Agustus 1945, Bung Karno menerima tamu beberapa orang pemuda.     Mereka mendesak agar Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sekarang juga karena sudah diterima berita Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Permintaan itu ditolak Bung Karno dengan alasan tidak ingin meninggalkan rencana kemerdekaan yang sudah dirintis sebelumnya hanya untuk beralih ke sebuah rencana dadakan yang  persiapannya kurang matang dan berpotensi menimbulkan kurban besar pada rakyat.  Ketika Wikana hendak memaksakan kehendaknya, Bung Karno secara spontan maju merunduk  menyodorkan kepala : “Ini kudukku … silakan kalau mau dipotong …”.    Wikana dan teman-temannya terkesiap, lalu meninggalkan rumah Bung Karno.

Sekitar pukul tiga malam, Sukarni memimpin teman-temannya menjemput Bung Hatta lalu dibawa ke rumah Bung Karno dan meminta Bung Karno segera bersiap untuk dibawa pergi bersama mereka.     Kedua pemimpin bangsa itu dibawa ke Rengasdengklok dimana Sukarni meminta Bung Karno bersedia memproklamasikan kemerdekaan agar setelah itu para pemuda yang sudah bersiap di Jakarta akan mulai melakukan perebutan  kantor-kantor pemerintahan dari tangan Jepang.     Namun kembali Bung Karno menolak dan Sukarni tidak mampu  memaksanya.   Siangnya Ahmad Subardjo datang dari Jakarta untuk menjemput Bung Karno dan Bung Hatta sambil memberi jaminan kepada Sukarni bahwa Admiral Mayeda akan membantu para pemimpin Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan di Jakarta.    Sukarni ikut mengantar Bung Karno, Bung Hatta dan Ahmad Subardjo kembali ke Jakarta.    Di tengah perjalanan dia melihat api berkobar di kejauhan maka Sukarni berteriak kegirangan bahwa revolusi telah dimulai, pemuda telah bergerak dan Jakarta telah terbakar.    Bung Karno dan Bung Hatta minta dicaritahu apa sebenarnya yang terjadi dengan kobaran api itu.    Ternyata hanya petani yang sedang membakar tumpukan jerami di sawah mereka.

Setelah sepanjang malam bekerja keras mempersiapkan proklamasi kemerdekaan di rumah Laksamana Mayeda,  esok paginya Bung Karno tergolek di tempat tidur karena demam.    Dr Suharto memberi injeksi chinineurethan intramusculair dan pil brom chinine.    Meskipun badan masih terasa nggreges  Bung Karno telah bersiap dalam pakaian serba putih  menunggu kedatangan Bung Hatta.     Setelah Bung Hatta tiba, mereka berdua lalu beranjak ke luar diiringi ibu Fatmawati.  Sebuah tiang bambu yang dibuat mendadak dan serba darurat telah ditegakkan pada halaman di kelilingi puluhan orang yang menyaksikan peristiwa bersejarah itu.     Bendera Merah-putih yang dijahit tangan oleh ibu Fatmawati siap untuk dikibarkan.    Semua berjalan dengan cepat masing-masing bertindak mengisi peran dalam acara yang sederhana jauh dari kemegahan.  Perwira PETA  Cudanco Latif Hendraningrat sigap mengikatkan bendera dan mengereknya naik.   Tidak ada musik mengiringi.   Setelah bendera berkibar  semua menghormat lalu secara serempak menyanyikan lagu Indonesia Raya.    Upacara  khidmat namun sangat sederhana yang dimulai pukul 10.00  pagi itu usai sudah.   Bung Karno masuk ke dalam rumah dan langsung kembali ke kamar untuk beristirahat.    Begitulah adanya dan sebuah Revolusi telah dimulai di Indonesia.

Lima orang opsir Kenpetai berdatangan setelah upacara selesai.   Pemimpin mereka menegaskan bahwa Gunseikan telah melarang keras rencana menyatakan kemerdekaan. “Saya baru saja mengucapkannya”, jawab Bung Karno tenang.     Mereka tercenung, lalu meninggalkan rumah Bung Karno.   Di tempat lain tentara Jepang berusaha merampas negatif film milik Frans Mendur yang mengabadikan detik-detik proklamasi dibacakan.
“Sudah dibawa pergi oleh Barisan Pelopor entah kemana.  Saya tidak memiliki yang lain”, jawab Frans Mendur berbohong.    Tentara Jepang itu marah namun Frans tetap bersikukuh dan mereka pun tidak menemukannya di dalam  tustel Frans Mendur.   Setelah tentara Jepang pergi, Frans bergegas mengambil negatif film yang ditanamnya di bawah sebuah pohon besar pada halaman kantor harian Asia Raya.    Foto proklamasi kemerdekaan RI karya Frans Mendur kemudian tersebar luas dan dapat kita nikmati hingga kini.

Apakah perintah pertama Presiden pertama Republik Indonesia setelah dikukuhkan secara aklamasi ?    Dalam perjalanan pulang Bung Karno berpapasan dengan tukang sate.   Dipanggilnyalah penjaja sate pikulan yang tidak berbaju dan bertelanjang kaki itu.
“Sate ayam lima puluh tusuk”, perintahnya.    Dan itulah perintah pertama yang dikeluarkannya.    Sambil berjongkok lima puluh tusuk sate ayam itu dimakannya bersama beberapa orang yang mengikuti jalannya.    Itu pula pesta atas pengangkatan sebagai Kepala Negara Republik Indonesia yang waktu itu rakyatnya berjumlah 70 juta orang.

—000—

(djoko.R / pembela)

Image properties:

1.  http://i.ytimg.com/vi/040XDIw7Vt0/0.jpg

2.   http://ariesaksono.files.wordpress.com/2007/11/picture-008.jpg

3.   http://sekolahpilot.com/wp-content/uploads/2011/12/20.jpg

4. http://4.bp.blogspot.com/_DgVHOYex09w/TQ2Fr02pvEI/AAAAAAAAAB4/SucV1OUSme4/s320/WIKANA2.jpg

5.   http://v-images2.antarafoto.com/rp_pr_1269256809_re_455x237.jpg

6.  http://3.bp.blogspot.com/-hR5FNdb2_tM/Tz26PY9iYUI/AAAAAAAAA4E/EYg1lDkPKaE/s1600/Latif.jpg

7.   http://manadolink.files.wordpress.com/2011/12/fransmendoer.jpg

8.   http://desmond.imageshack.us/Himg117/scaled.php?server=117&filename=satedw1.jpg&res=landing 

PENGANTAR MINUM KOPI

PENGANTAR  MINUM  KOPI      

             

1.   Tanggal 17 Agustus  selain sebagai tanggal kelahiran bangsa dan Negara Indonesia ,  ternyata juga tanggal kematian bagi dua tokoh pencinta Indonesia    Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR Soepratman dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk  meninggal dunia.    WR Supratman pada tahun 1937 sedangkan Herman Neubronner pada tahun 1894.

2.   Indonesia  mempunyai 3 ibu kota, dalam  kurun waktu  relatif singkat antara 1945 dan 1948, yakni Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948) dan Bukittinggi (1948-1949).   Ternyata  belum ada negara di dunia ini yang menyamainya, sekalipun Negara Peru  ibukotanya Lima.

3.   Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang memerintah di Indonesia.    Pada 1938-1939, De Javasche Bank  menerbitkan uang kertas seri wayang orang dan pada tahun 1942 Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang.    Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan  uang kertas seri wayang Arjuna dan Gatotkoco dan  pada tahun 1945 Jepang terusir dari Indonesia oleh pihak Sekutu.    Pada 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan  uang kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp 1 dan Rp 2,5 dan  pada tahun 1965 terjadi peristiwa G30S/PKI yang  menjadi awal dari keruntuhan pemerintahannya.

4.   Diah Permata Megawati Sukarnaputri ternyata “orang Indonesia asli”  pertama dan perempuan Indonesia pertama pula yang berhasil menduduki jabatan Wakil Presiden RI dan juga Presiden RI.    Bukan hanya itu, dia pun merupakan perempuan Indonesia pertama yang pernah memimpin sebuah partai politik besar, baik sebagai partai   pemerintah  maupun sebagai partai oposisi.       Istilah “orang Indonesia asli” dimaksudkan bagi  mereka yang lahir setelah Indonesia merdeka.    Tanggal lahir Megawati  adalah  23 Januari 1947.    Sebelumnya pemimpin-pemimpin Indonesia lahir di masa penjajahan Belanda atau di masa pendudukan Jepang.

5    Penulis surat terpanjang di dunia ternyata seorang Indonesia.    Imam Muhayat dari Bali menulis surat sepanjang 1.450  halaman  yang ditujukan kepada Farida H. Hasyim, istrinya.     Surat itu  ditulis selama 8 bulan 5 hari  dan selesai pada pukul 19.50 WITA tanggal  15 Mei 1995.

6.  Prof. Dr. F.X. Arif Adimoelja ternyata androlog Indonesia yang pertama.  Gelar doktornya dalam bidang ini diperoleh dari Universitas Katolik Leuven, Belgia pada 12 Juli 1974.

7.   Pada masa penjajahan Belanda terdapat 2 orang aktivis Jawa di Suriname yang paling menonjol.   Mereka adalah Salikin Mardi Hardjo dan Iding Soemita.   Meskipun sama-sama memperjuangkan hak-hak suku Jawa di Suriname, mereka  menempuh jalan politik yang berbeda.   Bila Salikin Hardjo lebih memperjuangkan perbaikan kondisi kehidupan masyarakat Jawa di Suriname, Iding Soemita lebih memperjuangkan kembalinya suku Jawa ke Indonesia. Di kemudian hari ternyata Salikin kembali lagi ke Indonesia, sementara Iding  yang memperjuangkan kembalinya suku Jawa, menetap di Suriname hingga akhir hayatnya.

8.   Ki Manteb Soedharsono ternyata dalang wayang kulit dengan pagelaran yang  terlama, yaitu 24 jam 28 menit non-stop ketika memainkan lakon Bharata Yudha.   Acara ini disiarkan oleh RRI Semarang  pada tanggal 4 September 2004 mulai pukul 21.25 WIB, hingga berakhir pada tanggal 5 September 2004 pukul 21.15 WIB.

9.   Orang utan ternyata dapat tertawa terbahak-bahak.   Para peneliti memaparkan, orang utan merupakan salah satu jenis kera modern karena memiliki rasa empati dan mimik wajah yang merupakan bagian dari tertawa terbahak-bahak.   Mirip seperti manusia.

10.   Seekor gajah ternyata dapat menghabiskan sekitar 227 kg rumput dan 227 liter air dalam sehari.

11.   Harimau memiliki belang bukan hanya pada bulunya, ternyata juga pada kulitnya.

12.   Kota Bandung  ternyata  bergelar sebagai  kota terpadat di Indonesia, karena   kepadatan penduduknya tercatat sebanyak  15.745 orang per km².

13.   Warga Kwaron RT 05/RW 11, Kelurahan Bangetayu Kulon, Kecamatan Genuk, Semarang, pernah membuat tempe yang ternyata terpanjang di dunia.   Tempe yang panjangnya 501,74 meter, lebar 6 cm dan tebal 2 cm  itu  menghabiskan  bahan 375 kg  kedelai dan 0,5 kg  ragi.    Mereka membuat tempe tersebut dalam rangka peringatan hari kemerdekaan R.I., 17 Agustus 2004.

—000—

Im,age properties:

1.

2.  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a5/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Dr._H.N._van_der_Tuuk_TMnr_10018828.jpg/200px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Dr._H.N._van_der_Tuuk_TMnr_10018828.jpg 

3.  http://3.bp.blogspot.com/__nIB3Ss2oFc/SEfgG9vSVWI/AAAAAAAAAB0/WrN2mo-kCBg/s320/Gathutkaca-Solo.jpg

4.  http://cdn.wn.com/ph/img/69/8f/c5deea7d8baf15c8aa184ed9f070-grande.jpg 

5.   http://kisahmuallaf.files.wordpress.com/2010/12/ki_mantep_sudarsono1.jpg

6.  http://www.1902encyclopedia.com/E/ELE/african-elephant-fig1.jpg

 7.  http://www.lablink.or.id/Satwa/harimau1.jpg 

8.   http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/04/orang-utan.jpg?w=300&h=296

PULANG KAMPUNG

  PULANG KAMPUNG

Tidak berapa lama setelah mengajukan permohonan untuk cuti sebagaimana pernah ditawarkan oleh Biro Daerah Telekomunikasi Irian Barat, saya menerima surat persetujuan yang ditandatangani oleh  Kepala Urusan Kepegawaian berdasarkan rekomendasi dari pak Bryet, Kepala Urusan Radio yang baru beberapa minggu tiba dari Surabaya beserta keluarganya.   Dia menggantikan pak Manuhutu yang kembali ke Makasar.    Seorang Indo Belanda yang memilih tetap tinggal di Surabaya dan menjadi warganegara Republik Indonesia.    Pada waktu kedatangan rombongan pegawai PTT yang termasuk diantaranya pak Bryet, Abdurrachman sebagai Kepala Stasiun Radio Megapura ikut menjemput bakal pimpinannya itu di dermaga Sukarnapura.    Malam harinya Abdurrachman  memanggil saya datang ke rumah-dinasnya.   Ketika sudah berada di depan pintu rumah, dari balik tirai jendela yang terbuka sedikit, saya melihat Abdurrachman sedang duduk berselonjor kaki dengan muka tengadah dan sebatang rokok terjepit pada bibir.   Dia tidak mendengar langkah kakiku, bahkan ketika pintu saya ketuk pun tidak didengarnya.   Jarak dari pintu rumah ke kursi yang didudukinya tidak terlalu jauh.    Abdurrachman asyik mengepulkan asap rokok dengan mata menerawang ke arah langit-langit rumah.    Dia sedang melamun, maka pintupun saya ketuk lebih keras.

“Asalaamu’alaikum”, seruku agak nyaring.   Abdurrachman terkejut dan buyarlah lamunannya.     Dia bangkit berdiri sambil menjawab salam saya lalu bergegas menuju ke pintu dan membukanya dari dalam.    Wajahnya memerah merasa tertangkap basah melamun tak tentu arah.    Selain sebungkus rokok ada pula sebotol Bier di atas meja.

“ Duduk, Djok … mau minum?”.

“ Terimakasih … tidak.   Sudah lama kamu tidak minum sejak UNTEA berakhir …”.

“ Saya tahu kamu pasti tidak mau minum, karena itu saya tawari …”, jawab dia terkekeh.

“ Rokok ?”.

“ Karena tahu saya tidak merokok, …?”, tanyaku ringan sambil tersenyum dan       Abdurrachman tertawa panjang terbatuk-batuk.

“ Tadi banyak yang tiba di pelabuhan?”.

“ Banyak.  Banyak pula yang sudah sekalian membawa serta keluarganya “.

“ Mereka memang dipindahkan oleh Jawatan.  Berbeda dengan kita dulu …”.

“ Ya … ya … termasuk pak Bryet … sudah membawa isteri dan anak-anaknya.   Saya yang mengantar mereka ke rumah dinasnya di Dok-V ”.

“ Sokurlah … semua terbawa di Combi kita ?”.

“ Ya … cukup, meski agak berdesakan.   Kalau barang-barang bawaan yang besar itu urusan pak Tutu Hatunewa, Kepala Seksi Kendaraan .”.

“ Sama-sama Indo Belanda namun berbeda pilihan hidupnya “.

“ Maksudmu ?”.

“ Mosz dan Bryet … sama-sama Indo Belanda.   Bryet memilih hidup di Indonesia, sedangkan Mosz memilih meninggalkan Indonesia. Masing-masing pasti dengan pertimbangan yang panjang dan dalam “.

“ Oh, ya … dan Bryet tidak salah menentukan pilihannya “, jawab Abdurrachman mantap.

“ Maksudmu ?”, balik aku yang bertanya tidak mengerti.

“ Karena dia akan memperoleh menantu yang tepat di sini …”.

“ Ah … itu masalah pribadi … berani-beraninya kau memastikan hal itu “.

Abdurrachman mengepulkan asap rokok ke atas sambil mendesah panjang dan merebahkan punggung pada sandaran kursi.   Ia berdiam diri untuk beberapa saat.    Saya menebak teman ini sedang resah memikirkan sesuatu.   Apakah karena itu dia mengundangku ?.

“ Kalau Bryet punya anak gadis, pasti cantik dan berkulit bersih seperti umumnya gadis Indo”, selorohku sambil menduga-duga apa yang berada di dalam benak temanku yang duda itu.

“ Ya, benar … anak gadisnya cantik … matanya bening … bibirnya mungil…”, jawab Abdurrachman tanpa menoleh kepadaku.   Pandangan matanya tertambat pada langit-langit  ruang tamu rumahnya.     Saya tersenyum.   Terjawab sudah.    Duda itu sedang terpanah asmara.   Saya membiarkannya beberapa saat tenggelam dalam fikiran yang melayang-layang sebelum kemudian berdiri menuju ke tumpukan piringan hitam peninggalan Mosz.   Sebuah piringan hitam dari penyanyi Dean Martin saya ambil lalu saya putarkan untuk pengisi suasana malam yang pas buat Abdurrachman.   Penyanyi ini terkenal dengan suara merdunya dalam melantunkan lagu-lagu bernafaskan cinta asmara.

“ Kalau kamu jatuh hati padanya, pastikanlah bahwa engkau tidak bertepuk sebelah tangan.   Kemudian lebih baik bersegeralah pula untuk menikah.   Ada yang akan mengurus hidupmu sehari-hari di sini ”, kataku sambil mengecilkan volume suara penyanyi Dean Martin.   Abdurrachman menoleh kepadaku dengan tatapan mata kosong.  Tetapi ia mendengar dan memperhatikan apa yang aku katakan kepadanya.

“ Saya kira aku engkau undang ke sini untuk mendengar pendapatku, kan ?”. 

Abdurrachman mengangguk  kemudian bertanya pelan : “ Bagaimana tentang Agama ?”.

“ O-oh, itu … Islam telah mengatur mengenai hal itu.  Sampaikan secara terbuka kepadanya dan juga kepada orang tuanya.  Tanya pula sebelumnya pada dirimu sendiri, mampukah engkau akan menjadi pembimbingnya sebagai seorang suami ?”.

“ Itulah yang sedang mengganggu fikiranku.   Sanggupkah aku, dan bersediakah mereka menerimaku?”.

“ Mantapkan hatimu pada saat shalat malam.   Allah akan memberimu petunjuk “.

Abdurrachman mengangguk-angguk.  Saya minta diri kemudian meninggalkannya sendiri.

Tidak banyak yang harus saya persiapkan untuk keperluan melaksanakan cuti pulang kampung.    Mozes Jarangga datang ke rumah membawa sesuatu yang dibungkus dengan koran.   Ketika saya buka, ternyata seekor burung Cendrawasih yang telah mati dan diawetkan.

“ Ini Cendrawasih Serui”, katanya dengan tersenyum lebar,

“ Wouw, cantik sekali.  Terimakasih …. Terimakasih ”, kataku terharu.   Dari ketiga Kbarek saya menerima segenggam batu-batu kecil berwarna warni dalam berbagai bentuk dan motif. “ Batu apa pula ini ?”, tanyaku keheranan.

“ Mata Biak”, sahut Jeremias dan Jonas serempak, : “ Bagus untuk mata cincin, atau untuk perhiasan yang lain”.

“ Indah sekali…”, kataku sambil berdecak-decak kagum. 

“ Ada yang percaya batu-batu seperti ini memiliki kekuatan, tapi …”, jelas Jeremias Kbarek sambil menggeleng-gelengkan kepala dan bibir yang ditarik ke bawah, : “ Itu kata orang.  Boleh percaya, boleh pula tidak”.

Untunglah semua pemberian itu tidak memerlukan tempat yang besar, lagipula tidak berat.  Seorang teman dari Bengkel Radio, Kusdiyanto, menilpun bertanya apakah boleh menitipkan sesuatu untuk disampaikan kepada ibunya di Kudus.   Saya tidak sampai hati menolak permintaan itu.   Kami sama-sama merantau di negeri orang jadi wajarlah kalau saling membantu.    Ternyata dia datang dengan membawa sebuah dus karton besar yang sudah dibungkus rapi.

“ Apa isinya,?”, tanyaku sambil membayangkan betapa repot nanti saya membawanya.

“ Jam dinding”, jawab Kusdi, : “ Hanya itu yang dapat saya bawakan untuk ibu.  Di dalamnya ada surat.   Alamat orang tuaku sudah saya tulis pada bungkus dus.   Tidak sulit mencarinya kalau sudah sampai di Kudus”.

“ Oh, ya … ya … saya akan sampaikan.”.  Jadi saya harus mengantarkannya ke Kudus, sementara orangtua saya tinggal di Ungaran.   Tetapi boleh jadi saya juga akan ke Pati menemui banyak saudara di sana, dan Kudus akan saya lewati.   Sehari sebelum berangkat, Abdurrachman menitipkan sebuah bungkusan ukuran sedang untuk ibu dan anak-anaknya di Jakarta.  Dia memberikan alamat dan gambar denahnya.   Namun bukan bungkusan itu yang menarik perhatian saya.    Seorang gadis berkulit putih bersih kekuningan, wajah teduh dan rambut tergerai sampai ke bahu dengan tinggi badan tidak terlalu semampai berjalan di sampingnya.   Melihat itu Abdurrachman segera memperkenalkannya padaku.   Gadis inilah rupanya yang telah memikat hati Abdurrachman dan secepat itu pula berhasil diajak pergi keluar dari rumah orangtuanya.    Sendirian tanpa pendamping dia ikut saja untuk diajak ke rumah dinas yang hanya ditinggali oleh Abdurrachman seorang.   Namanya Jenny Bryet.
Esok harinya pagi-pagi sekali, kendaraan dinas dari Biro Daerah Telekomunikasi Irian Barat telah datang menjemput.    Saya menyalami Aas Djuansyah dan Arkaya, menitipkan Stasiun Radio Megapura dalam pimpinan Abdurrachman, kemudian masuk ke dalam kendaraan yang lalu melaju dengan kecepatan tinggi menuruni bukit Megapura, membelok ke arah Abepura langsung menuju ke pelabuhan udara Sentani.

Esok malamnya saya sudah tergolek di tempat tidur pada sebuah kamar di mess Telkom jalan Dr. Sutomo, Jakarta.   Meskipun maskapai penerbangan Garuda Indonesian Airways menerbangkan pesawat dengan memberikan pelayanan kenyamanan dalam perjalanan, badan tetap terasa pegal-pegal yang memaksaku untuk langsung merebahkan badan di tempat tidur dan memeluk guling.    Malam itu saya tidak kemana-mana.   Esok paginya saya mencari rumah orang tua Abdurrachman berdasarkan petunjuk denah yang dibuatnya sendiri.   Tidak terlalu sulit menemukan rumah ibu Abdurrachman meskipun harus bertanya beberapa kali.  Setelah itu saya pergi ke Stasiun KA Gambir untuk membeli tiket kereta api dengan tujuan Semarang.   Dengan tiket sudah berada dalam saku, saya berjalan-jalan di Kota dan Glodog. Dari kejauhan saya melihat banyak toko dan kios memasang tulisan: “Tape” atau “Sale”.   Mereka menuliskannya dengan huruf besar dan mencolok.  Fikiran saya melayang ke kota Bandung membayangkan Tape peuyeum maupun Colenak pak Mardi yang terkenal di daerah Cicadas, dan Sale Pisang yang berbau khas di Pasar Baru.   Produksi olahan tanah Parahyangan itu rupanya sudah merambah masuk ke pasar ibukota Jakarta.    Maju juga usaha para pedagang putra Sunda itu rupanya.   Ketika saya mendekat hanya terlihat barang-barang elektronik yang dipajang dan di toko lain bermacam-macam baju dan celana jadi.     Dimana tape dan sale-nya fikirku keheranan.   Kemudian saya tersenyum sendiri setelah menyadari kekeliruanku.     Saya lupa berada di ibukota Negara, bukan di kota kecil di wilayah timur Indonesia.      Ibukota Negara yang tidak mau ketinggalan dari Negara-negara lain dengan mengadopsi teknik pemasaran dari Eropa dan Amerika.   Digunakan juga istilah-istilah dalam bahasa Inggris.    Antara lain kata-kata tersebut: “Tape’   dan “Sale”.    Betapa naifnya aku …..: ” nDesu ….”, gumamku sendiri.

Mandeg ngajeng mriku pak, sasampunipun kreteg larik … (Berhenti di depan itu pak, setelah jembatan selokan …) “, kataku pada kusir dokar yang saya naiki setelah turun dari bis di pasar Bandardjo, Ungaran.     Dokar berhenti tepat di depan rumah orang tuaku di Kluwihan.    Pintu rumah tampak tertutup dan suasananya sepi.    Dari dalam rumah tetangga di seberang jalan keluar seseorang menghambur ke tepi jalan.

“ Mas Djok … baru datang ? “, sapa Mali sambil tersenyum lebar.  Dia temanku bermain dikala masih kanak-kanak.     Saya menghampirinya dan kami bersalaman.

“ Bu Topo ada kok … mungkin masih di dapur…”.

Setelah membayar sewa dokar dan membawa barang bawaan ke depan pintu,  saya berjalan ke belakang melalui tempat jemur pakaian di samping kanan rumah.   Di depan pintu yang menuju ke dapur dan kamar mandi, saya mendengar  kerekan timba ditarik ke atas lalu bunyi air ditumpahkan ke dalam ember.    Pintu saya ketuk pelan-pelan sambil mengucapkan salam.
“ Wa alaikum salam …”, terdengar suara ibu menyahut dari dalam lalu langkah kaki menuju ke pintu.     Kedua bola mata ibu terbelalak ketika melihat aku berdiri di depannya saat daun pintu dibuka.   Tangan ibu segera mengembang dan memelukku erat-erat.   Lama dan hangat.
“ Pak … anakmu datang, pak … Djoko … “, seru ibu memberitahu bapak.      Saya berjalan masuk ke rumah di belakang ibu.   Pada pintu pemisah ruang dalam dari ruang belakang, bapak tampak berdiri menunggu di situ.   Wajahnya cerah dengan senyum merekah.  Tangan bapak menepuk-nepuk dan sesekali meremas pundak.   Kemudian saya mencium tangan itu.

“Kok tidak memberitahu dulu ?”.

“Maaf pak, semua serba mendadak.   Pemberitahuan untuk cuti pun baru saya terima tiga hari yang lalu … setelah saya menyatakan sedia meneruskan tugas di sana”.

“O … jadi kau sudah bertekad bulat untuk bekerja di Irian Barat”.

“Ya, pak …”, jawabku tegas dan bapak hanya mengangguk-anggukkan kepala saja.

“Dimana-mana sama saja, tetapi kamu harus memikirkan masalah biaya seandainya mau menengok bapak-ibu ke sini.   Kali ini masih dibiayai oleh kantor, kelak belum tentu kan …”, kata ibu menyela.    Saya mengangguk membenarkannya.

“Upayakan seperempat dari penghasilanmu dapat kau simpan”, kata bapak memberi anjuran.   Saya tersenyum lalu keluar untuk membawa masuk barang-barang bawaan yang tadi saya letakkan di depan pintu.

Berita tentang kedatangan saya menyebar di kalangan tetangga dan handai taulan.    Berganti-ganti mereka berkunjung hanya untuk menanyakan perihal Irian Barat.  Penduduknya, adat istiadatnya, panoramanya, sampai ke masalah yang berbau politik mengenai keamanan dalam menjalankan tugas dalam kaitan dengan adanya Negara Boneka Papua Merdeka.     Pak Rekso Bakoh sangat senang mendengar pertemuan saya di Sukarnapura dengan salah seorang anak asuh seni tari wayang-orangnya.   Apalagi setelah menerima beberapa butir batu Mata Biak dan penjelasanku bahwa masyarakat Irian Barat memandang batu-batu itu memiliki “kekuatan”, pak Rekso sangat tertarik bahkan meminta tambahan beberapa butir lagi.     Hampir semua berdecak kagum melihat cantiknya burung Cendrawasih yang telah diawetkan.   Keluarga bapak Kadarisman yang tinggal di Alun-alun Ungaran dan kebetulan hendak menyelenggarakan resepsi pernikahan putrinya, secara khusus minta ijin meminjam burung Cendrawasih yang diawetkan itu.  Menurut ibu yang menghadiri resepsi pernikahan tersebut, burung Cendrawasih itu ditenggerkan pada sebuah ranting dari sebuah potongan dahan pohon sehingga masih tampak alami dan dipajang di sebuah sudut ruangan yang menarik perhatian para tamu undangan.  

Saudara-saudara kandung saya yang bersekolah dan mondok di luar kota pun berdatangan ke Ungaran.    Khusus mas Yus malah mengajak saya bertandang ke rumah pacarnya, Mimik Sudarmi, anak gadis pak Darsono, Wedana Ungaran.    Saya pun menyempatkan diri berkunjung ke kota Pati dan Juana untuk menemui sanak kerabat di kedua kota itu.    Di Pati dengan keluarga besar ibu, dan di Juana dengan keluarga besar bapak.     Berangkatnya singgah di Kudus untuk menyampaikan titipan Kusdiyanto kepada ibunya.     Orang tua Kusdiyanto menginginkan saya menginap barang semalam di rumahnya namun permintaan itu saya tolak dengan halus karena sempitnya waktu.   Mereka tampak kecewa namun bisa memahami alasan saya.    Pada perjalanan pulang dari Pati dan Juana, saya berkunjung ke rumah mbah Illias di Semarang dan bertemu dengan semua keluarga besarnya.    Tidak lupa melangkahkan kaki pula menapak-tilas perjalanan mendaki gunung Ungaran di masa menjadi murid SR dan SMP dulu.

Tidak terasa waktu cuti menjelang usai.   Saya kembali ke Jakarta langsung ke mess Telkom di jalan Dr. Sutomo.    Esok harinya, kebetulan hari Minggu, saya berkunjung ke Hotel Islam di Jatinegara dan bertemu dengan Kho Kwat Ping yang baru pulang dari gereja.    Kamar-kamar lain di hotel kecil itu tampak lengang, mungkin penghuninya sedang bepergian karena itu saya tidak bertemu dengan mas Tommy.   Badan Kwat Ping kelihatan mengurus, namun saya merasakan ada suatu perubahan besar pada dirinya.   Sorot matanya menjadi lebih tajam dan wajahnya keras.   Topik pembicaraan selalu berkisar seputar masalah sosial rakyat miskin dengan warna suara gusar.   Yang saya hadapi saat itu bukanlah Kho Kwat Ping waktu dulu.    Saya menjadi pendengar yang baik sementara Kwat Ping tidak henti menyampaikan kabar yang penuh hingar bingar.    Apa yang saya baca dari beberapa surat-kabar Jakarta pada hari-hari akhir cuti menunjukkan hal yang sama.    Hingar bingar.    Saling serang dalam kemasan berita, artikel, tajuk maupun pojok.   Berita Yudha, Merdeka, Kompas, Sinar Harapan, Abadi dan Angkatan Bersenjata di satu pihak sedangkan Suluh Indonesia, Harian Rakyat serta Warta Bakti di pihak yang lain.   Saya merasakan suasana politik jurnalistik yang panas dan meruncing di Jakarta terutama.

“Dia sangat pintar.  Cerdas dan penuh semangat”, kata Kwat Ping.

“Dia, siapa ?”, tanyaku ingin tahu.

“Orang dari kampung sebelah.   Sering bertandang ke sini.   Kadang-kadang mengajak saya bertandang ke rumah teman-temannya.   Membicarakan banyak hal bersama-sama”.

“Rupanya kamu semakin sibuk sepeninggalku”.     Kwat Ping mengangkat mukanya menatap mataku dalam-dalam.

“Ya … duniaku semakin luas … dan aku tidak lagi terkungkung menyepi di kamar yang sempit ini”.

“Sokurlah, semoga karirmu menjadi semakin terang ke depan”.

“Karir?”, tanya Kwat Ping agak mencibir: ”Ini tidak ada hubungannya dengan karir di Stasiun Radio”, tegasnya kemudian.    Giliran saya yang tertegun mendengarnya.      

“Ini masalah panggilan rakyat miskin yang menghuni kolong jembatan dan emper-emper toko.  Yang mendiami gubug-gubug karton di bantaran kali Ciliwung dan bilik-bilik bambu beratap seng di sepanjang rel kereta api Stasiun Jatinegara dan Manggarai”.      Saya terdiam.

“Pemerintah tidak pernah mengurus apalagi memperhatikan mereka.   Tentara dan Birokrat hanya menyengsarakan rakyat.   Tak pernah peduli dengan harga-harga yang melambung tinggi.    Harus ada aksi untuk mendobrak kondisi bangsa yang seperti ini”.   Untuk beberapa saat Kwat Ping berdiam diri mencoba mengendalikan emosi.   Saya terpana, kemudian buru-buru mengalihkan pokok pembicaraan.

“Bagaimana kabarnya dia?”, tanyaku lirih.    Kwat Ping menoleh kepadaku dan balik bertanya: “Dia siapa?”.

“Kembang yang di dalam sana”, jelasku sambil mengerdipkan mata.

“O-oh-h … itu … “, sahut Kwat Ping disusul dengan tawa yang tertahan.

“Ya, dia … ada dia sekarang?”.     Ping menepuk-nepuk punggung telapak tanganku.

“Kamu memang harus mengetahui keadaannya, supaya tidak terbawa mimpi di Irian sana”.

Dengan suara dilembutkan Ping melanjutkan: “Dia telah menikah”.     Saya tersentak.

“Kau pasti tidak percaya karena umurnya masih sangat remaja, kan?. Tetapi begitulah kenyataannya.   Tiba-tiba dia tidak lagi kelihatan di sini.   Lalu ada kabar dia telah menikah dan mengikuti suaminya sebagai pedagang di luar kota entah di mana”.

“O-o … memang masih sangat remaja…..  mudah-mudahan hidupnya bahagia …”, kataku sambil melirik ke arloji.   Hari sudah siang bahkan telah melewati waktu shalat lohor.   Sebelum meninggalkan Kho Kwat Ping saya sempat menasihati agar berhati-hati dalam bergaul dan memilih teman.   Temanku itu tidak menjawab namun saya yakin dia mendengar dan memasukkannya ke dalam hati.      

Malam itu dini hari, saya terbang kembali ke Sukarnapura. Sambil menenggelamkan badan pada sandaran kursi saya memutar kembali dalam lamunan semua peristiwa yang saya alami selama pulang kampung.   Ibu… bapak … adik dan kakak … sanak kerabat Pati dan Juana … keluarga besar mbah Illias … gunung Ungaran … Kho Kwat Ping … kembang Hotel Islam…

“Minumnya apa, pak ?”, sebuah suara merdu membuyarkan lamunanku.  Saya terkesiap dan tergagap ketika melihat dara kembang Hotel Islam dengan tersenyum manis berdiri di depan-sampingku menawarkan minuman.  Saya mengucak mata berkali-kali sambil menyebutkan Kopi Susu.  Sebuah tangan mulus menjulur untuk membuka dan menarik keluar meja kecil lalu meletakkan cangkir kosong, menuangkan air kopi hitam yang masih mengepul dan beberapa saset gula serta krim susu.   Saya mengucapkan terima-kasih kemudian menoleh menatap wajahnya.     Ternyata dia bukan dara kembang Hotel Islam.    Pramugari itu tersenyum dan mengangguk ramah.     

“ A-a-ahh ….. “, desahku kecewa sambil merebahkan punggung ke sandaran kursi ………

—ooo—

Image properties :

1.  http://www.google.co.id/imgres?q=garuda+indonesia+airlines&hl=id&gbv=2&biw=1280&bih=581&

2.   http://farm5.static.flickr.com/4002/4683707983_8d511732a5.jpg

3.    http://4.bp.blogspot.com/_8bHlNe69pO8/Sz3nQRCjY2I/AAAAAAAAAA0/QmaDzqlCCLU/S692/%3DFose+jeLeqq%3D085.jpg

4.  http://1.bp.blogspot.com/-LG3uoKxmBbg/TVVQpk7rwoI/AAAAAAAAAeo/eLLCejR5qsE/s1600/1.jpg

5.   http://blog.fitnyc.edu/hottopicsinsider/files/2011/06/Image-for-Summer-Sale-5.jpg

6.     http://4.bp.blogspot.com/_ITyz4dwjTb4/TKoX3OofMdI/AAAAAAAAIMU/gkN21_wMXzk/s1600/wartabakti0002.jpg

7.     http://4.bp.blogspot.com/-83TOM64N5n0/TmQ4w8bHsSI/AAAAAAAAAto/pXwl2rJ8-J8/s1600/IMG_0753.JPG   

8.   http://img.antaranews.com/new/2012/01/ori/20120102RumahPinggirKali311211-4.jpg

9.   http://media.vivanews.com/thumbs2/2011/08/25/121292_pramugari-garuda-indonesia_641_452.jpg

  

  

                                                                                                    


SUKARNAPURA

SUKARNAPURA

http://gulangsari.files.wordpress.com/2008/06/sukarno_a4441.jpg?w=511&h=326

Akhirnya presiden Sukarno berkunjung juga ke Irian Barat.   Masyarakat menunjukkan kegembiraannya dengan sambutan yang meluap-luap.  Hollandia sudah berganti nama menjadi Sukarnapura.  Pada saat mobil sedan hitam yang ditumpangi presiden Sukarno melintas lambat, rakyat mengelu-elukan dengan penuh semangat.   Dari dalam mobil Presiden Sukarno membalas dengan lambaian tangan dan senyuman lebar.     Sayang kami tidak bisa melihat letupan sinar mata kegembiraan dari presiden karena tersembunyi dibalik kaca-mata hitam yang dikenakannya.  Gubernur http://www.westpapua.nl/2003_01/images/bonai.jpgE.J.Bonay yang menyertai presiden dan juga mengenakan peci hitam  ikut mengangkat tangannya membalas sambutan rakyat.     Ada acara resmi di gedung pemerintah kota Sukarnapura.   Fototustel yang ditangan agaknya memudahkan saya dalam menyeruak kerumunan orang sehingga terdorong maju lebih mendekati tempat presiden yang sedang melakukan percakapan dengan para wartawan dalam dan luar-negeri.  Meskipun demikian tubuh yang pendek ini menyulitkan saya dalam pengambilan gambar walau secara amatiran.    Jurnalis luarnegeri selain bertubuh jangkung perilakunya pun kurang peduli terhadap orang lain.    Sikap mereka sangat bebas di depan presiden Republik Indonesia.  http://www.theothermartintaylor.com/moveabletype/archives/cameras/DSC09693.jpgSaya melihat seperti tidak ada jarak di antara para pemburu berita itu dengan Bung Karno yang tampak bersemangat dalam memberikan jawaban serta penjelasan, meskipun pertanyaan dilontarkan secara bertubi-tubi.   Presiden pandai menangkap dan memilih suatu pertanyaan.   Begitu dia mendengar wartawan ABC dari Australia menyebut nama negaranya, Bung Karno segera menoleh kepadanya dengan senyum yang terus mengembang.    Melihat presiden Sukarno memberikan perhatian kepadanya wartawan Radio Australia itupun lalu mengajukan pertanyaan yang kemudian dijawab oleh presiden dengan panjang-lebar, sementara sinar lampu foto berkelebat bagaikan bidikan sinar laser kearah diri Bung Karno.   Tape recorder kecil perekam suara bertebaran di dekat kaki Bung Karno, meskipun ada pula wartawan yang menulis cepat pada Notesbooknya.   Beberapa mikropon berdiri tegak di depan presiden Sukarno dengan kabel terjulai di lantai.

“Thank you,  your excellency ….”, kata wartawan Australia itu sambil menganggukkan kepalanya.   Bung Karno tersenyum lebar, kemudian melambaikan tangan dan beranjak meninggalkan para watawan yang masih juga mengambil gambar dari segala penjuru.   Sebagian lagi sibuk mengemasi peralatan foto, rekaman dan perkakas jurnalistik lainnya.   Setelah kunjungan presiden Sukarno, pejabat dari Jakarta semakin sering datang di Sukarnapura.    Mereka menindak-lanjuti hasil kunjungan presiden merancang berbagai program pembangunan sosial, politik dan ekonomi bagi provinsi baru ini.   Dalam kurun masa ini, RRI Pusat mengirimkan seorang teknisi radio senior ke Sukarnapura.   Nama panggilannya: Aswin,    Berbadan kurus dan jangkung, mata sedikit cekung dengan sorot mata teduh, Aswin agak gemulai ketika berjalan.  Warna kulitnya kuning bersih dan wajah telah menampakkan gurat-gurat usia yang tidak lagi muda.   Aswin telah beberapa kali berkunjung ke Stasiun Radio Skyline untuk mempelajari apa yang bisa dilakukan oleh RRI guna meningkatkan daya pancar dan mutu modulasi dari studio RRI Sukarnapura yang terletak di pinggir kota Sukarnapura arah ke Skyline, Abepura.     Pada kunjungannya yang ke sekian,  Aswin memberitahu bahwa sebuah rombongan seniman dan seniwati dari Jakarta telah tiba di Sukarnapura.

“Yang dari RRI tidak menginap di Hotel.   Mereka tinggal di rumah-rumah yang dihuni oleh sukarelawan atau sukarelawati RRI”, kata Aswin sambil   tersenyum lebar.     Matanya berbinar tatkala melanjutkan perkataannya: “Titiek Puspa tinggal di dekat rumah yang saya tempati”.

http://www.rujakmanis.com/wp-content/uploads/2008/10/titik-puspa.jpg“Titiek Puspa datang?”, tanya saya menegaskan.   Aswin mengangguk sambil mengerdipkan mata.   Lalu ibu jari tangan kanannya diangkat dan tawanya terdengar berderai segar.    Penyanyi yang sedang naik daun itu telah dikenal oleh segenap lapisan masyarakat.   Mereka mengagumi suaranya yang merdu dan agak berat.   Piringan hitam dan kasetnya sangat laku di pasaran.   Wajahnyapun cantik dengan badan yang tinggi semampai.   Langgam  Hiburan merupakan andalannya, namun langgam Keroncong bahkan Seriosa pun diarungi walau tidak berlabuh di puncaknya.    Akhirnya saya dapat melihat langsung biduanita terkenal itu walau dari kejauhan, ketika Titiek Puspa melantunkan suaranya yang merdu dari atas panggung pada sebuah lapangan kecil di pusat kota Sukarnapura.    Malam itu cuaca cerah dan gemerlap lampu dekorasi panggung sangat menawan berwarna-warni indah.    Sejumlah penyanyi lain baik laki-laki maupun perempuan bergantian menghibur sukarelawan dan sukarelawati, anggota militer dan kepolisian serta masyarakat luas.    Para Penari dengan lemah gemulai dan senyum di bibir menunjukkan aneka tarian dari berbagai daerah di Nusantara.    Tepuk tangan menggema mengiringi pergantian acara demi acara.     Ada pula hiburan komedi oleh sejumlah pelawak ibukota yang mengundang gelak tawa penonton.   Tidak terasa malam telah larut ketika Abdurrachman mencolek lengan saya mengajak pulang.

Di Stasiun Radio Skyline, selain kelompok Zenderwacht ada lagi kelompok Antenna dienst yang tugasnya di lapangan antena untuk menjaga, merawat atau memperbaiki antena yang rusak. Dalam kelompok ini ada Thomas Polalo, Abraham Msen, Adrianus Korwa dan Kourot.

Kourot… orang ini menarik perhatian saya. Ia tidak menggunakan nama baptis meskipun setiap hari Minggu rajin turun ke gereja di Kotaraja bersama yang lainnya.     Kourot berasal dari daerah yang paling jauh, yaitu Merauke, di ujung selatan Irian Barat.    Ia pun mempunyai nama lain selain Kourot, yaitu Teman.     Di dalam catatan kantor namanya tertulis Kourot, sedangkan nama Teman itu entah darimana diperolehnya.    Orangnya amat lugu cenderung naif tetapi berhati mulia dan tidak pernah marah.     Berbeda dengan Kbarek dan lain-lainnya yang suka melaut mencari ikan, Kourot berkebun di ladang pinggir hutan yang ditanami ubi, keladi, pisang dan lain-lainnya.     Ia pun gemar membuat jebakan di hutan untuk menjerat babi hutan. Tetapi ia lebih banyak berharap pada hasil kebun daripada hasil jebakan jeratnya. Meskipun jarang ada babi hutan yang menjadi korban jebakan Kourot tidak bosan menengok jebakan jaring yang ia pasang di hutan.

Sampai pada suatu pagi ia datang tergopoh-gopoh di kantor dengan nafas terengah-engah. Kulitnya yang hitam legam berkilat oleh keringat yang membasahi badan.    Dengan terbata-bata Kourot memberitahu ada babi hutan besar terjerat pada jebakan-jaringnya.     Begitu besar babi hutan itu sampai jaringnya terkoyak di beberapa tempat.   Dan ….babi hutan itu bertanduk, serunya dengan mata membelalak dan mulut menyeringai.

http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/03/dsc01223.jpg?w=513&h=392

Ia mencoba meyakinkan kami bahwa itu benar-benar tanduk, bukan taring.    Kourot tidak berani membawanya pulang maka iapun minta tolong ditemani meringkus babi bertanduk itu.    Saya melihat berkeliling ke wajah “orang-orang laut” yang tak pernah masuk ke hutan itu.     Tak satupun menanggapi permintaan Kourot.     Saya berpikir kalau Kourot saja tidak berani, apalagi mereka.     Maka sayapun meminta bantuan dua orang polisi Brimob yang bertugas hari itu menjaga stasiun.    Bertiga mereka pergi ke hutan.   Kourot dengan kaki telanjang memegang sebilah parang dan kedua orang Brimob itu yang berseragam lengkap menyandang senjata api laras panjang di punggungnya.

http://sedjatee.files.wordpress.com/2009/11/cow_-_cartoon_31.jpg?w=232&h=173Menjelang siang kedua Brimob itu tiba kembali di stasiun.    Sambil tertawa seorang dari mereka yang berasal dari Jawa melapor bahwa yang terjerat di jaring ternyata seekor sapi dan sudah dibawa ke rumah Kourot siap untuk disembelih.    Saya segera membisiki Brimob itu untuk mengambil inisiatif dalam penyembelihan sapi tangkapan dan melafalkan Basmalah secara diam-diam.     Memahami bisikan saya Brimob itu segera berbalik menuju ke rumah Kourot.    Sementara itu saya berfikir keras dari mana gerangan sapi itu berasal.     Apakah mungkin ada transmigran Jawa yang membawa serta sapi dari desanya?.     Lima hari yang lalu saya pergi ke dermaga pelabuhan Sukarnapura ikut menyambut kedatangan kapal yang mengangkut transmigran dari Jawa.    Saya menyapa beberapa orang dari rombongan itu dan bertanya-jawab tentang asal mereka dari desa mana, keluarga yang dibawanya dan rencana penempatan mereka di mana.    Saya yakin tidak mungkin mereka membawa serta sapi milik sendiri.    Yang mereka bawa hanya pakaian dan sedikit uang saku dari Pemerintah.     Di mana akan ditempatkan pun mereka tidak mengetahuinya, semuanya berserah-diri sepenuhnya pada kebijakan Pemerintah.    Yang mereka miliki cuma semangat untuk mengerjakan tanah garapan agar bisa menghidupi diri sendiri dan keluarganya serta memberi contoh cara bercocok-tanam kepada penduduk Papua yang tinggal disekitar tanah garapan.     Jadi darimana sapi tangkapan Kourot itu berasal?.

Sore harinya Kourot mengirim daging sapi segar ke rumah.   Terlalu banyak untuk saya yang sendirian ini.    Saya bertanya apa ia sudah menyisihkan daging itu untuk dijual ke babah pemilik rumah-makan di kota.  Kourot mengangguk sambil tertawa memperlihatkan giginya yang putih.    Saya mengucapkan terimakasih tetapi hanya mengambil secukupnya saja dan selebihnya dikembalikan untuk ikut dijual.     Kourot tertawa lagi dan mengangguk-angguk sambil mengerdipkan matanya menggoda.     Dari mulutnya saya mendengar ucapan polos : Trada istri, ka ….

Di bawah pohon cemara pada pekarangan depan rumah, saya membuat api unggun kecil lalu memanggang beberapa tusuk daging sapi.    Bau harum panggang daging semerbak dibawa angin.     Saya menyiapkan sambal kecap dan sambil mendengarkan berita radio saya melahap nasi panas dengan sate kecap daging sapi bikinan sendiri.    Nikmat …..

http://inforesep.com/wp-content/uploads/2009/02/sate-ayam-madura-lg-dipanggang.jpgDari radio studio Sukarnapura saya mendengar penyiar warta berita Ricky membacakan berita tentang lepasnya sejumlah sapi milik Dinas Peternakan dari kandang mereka di daerah Sentani. Sapi-sapi itu sengaja didatangkan untuk dibagikan kepada sejumlah transmigran dan penduduk lokal di sekitar daerah transmigrasi.    Saya tersentak dan gigi yang sedang menggigit daging sate terhenti bekerja.    Apakah yang sedang saya makan ini termasuk hasil curian?.

Ah tentu saja tidak, jawabku sendiri.    Dan saya meneruskan memakan habis sate kecap daging sapi pemberian Kourot itu dengan tenang.   Saya tidak pernah melupakan peristiwa tersebut termasuk kenangan kepada Kourot yang cukup mengesankan.

Sejalan dengan adanya penggantian nama-nama kota dan pegunungan, nama Stasiun Radio Skyline pun diusulkan untuk diganti.     Saya mengajukan nama “Megapura” karena letak stasiun berada di atas bukit dan “menggapai mega”.   Biro Daerah Telekomunikasi Irian Barat menyetujui pergantian nama tersebut.    Adapun Stasiun Radio Penerima Base-G berganti nama menjadi Stasiun Radio Penerima “Purwawarta”.   Kedua Stasiun Radio ini   juga dijadikan tempat magang bagi sejumlah teknisi yang akan ditugaskan ke kota-kota lain.  Di antara mereka adalah Arkaya Prajitno dan Aas Djuansyah.   Pernah pula datang Halim Ishak dari Sorong untuk dikirim kembali ke Makassar.   Mereka semua tinggal di rumah saya selama masa menunggu keberangkatan.     Arkaya dan Aas berasal dari daerah sekitar Garut.  Kedua bujangan itu membuat perubahan yang menggembirakan dalam kehidupan sehari-hari di kompleks Stasiun Radio Megapura.   Pada suatu hari Minggu ketika saya sedang berjalan kaki menuju ke pinggir hutan melihat mereka sedang membersihkan sepetak tanah di samping kiri Stasiun.     Saya tertarik dan menghampiri karena belum pernah mendengar mereka membicarakan hal itu di rumah.

“ Bikin apa, dik?”, tanya saya.    Aas hanya tertawa renyah sebagaimana biasanya.    Arkaya menoleh kemudian menjawab sambil masih membersihkan rumput dan batu-batu yang tertanam.

“ Bikin lapangan badminton mas …”.      Saya terperanjat.   Belum pernah sekalipun fikiran membuat lapangan badminton singgah di benakku selama saya berada di Stasiun Radio ini. Yang saya kerjakan di luar Stasiun pada hari libur hanya masuk ke hutan, turun ke teluk Yotefa, main ke Abepura, ke Sukarnapura, atau ke pantai Base-G.     Membuat lapangan badminton …. wah, ini gagasan baru yang bagus.   Saya memperhatikan permukaan tanah yang mereka pilih cukup datar dan luas.

“ Cukup ukurannya untuk lapang badminton?”, tanyaku menyelidik.

“ Cukup, mas … sudah saya ukur kemarin”, jawab Arkaya kembali.

“ Bagus … kok tidak omong-omong di rumah?”.

Kali ini Aas menjawab dengan logat Sundanya yang kental.

“ Kami khawatir mas Djoko tidak tertarik.   Mas kan lebih suka jalan ke hutan sana …”.

“ Oh, ya … tapi kalau diajak tentu saya mau juga.  Begini saja, besokpagi saya suruh orang antenna membantu membersihkan dan meratakan tanah di sini.  Untuk tiang net saya kira ada di gudang.   Kalian berdua tinggal mengarahkan saja mau ditanam di titik mana.  Bagaimana dengan net dan raketnya ?”.

“ Sudah ada mas.  Kami beli kemarin di kota.   Untuk Net patungan dengan Aas”.

“  Kalau begitu saya ikut patungan beli Net dan kock-nya”.

 “ Baik, mas …”, jawab Arkaya mantap.

http://www.badmintonvictoria.com/pics/BadmintonCartoon.gif

Satu minggu kemudian, lapang badminton yang terbuka itu sudah digunakan.   Tiupan angin cukup mengganggu, namun hasrat yang besar untuk bermain mampu mengalahkan gangguan angin tersebut.   Anak-anak sering berkumpul di lapangan melihat bapak-bapak mereka bertanding main badminton.    Kadang-kadang anak-anak itu datang bersama ibu-ibu mereka yang membuat suasana menjadi semakin meriah.    Sejak itu kehidupan di kompleks Stasiun Radio Megapura terasa lebih bergairah berkat jerih payah kedua pemuda asal Garut itu.  Dalam suasana yang sedemikian saya memperoleh pemberitahuan dari Biro Daerah Telekomunikasi Irian Barat tawaran untuk memanfaatkan kesempatan cuti kembali ke daerah asal dengan biaya ditanggung oleh dinas.    Tawaran tersebut tentu saja tidak saya sia-siakan.

—000—

Image properties:

1.     http://gulangsari.files.wordpress.com/2008/06/sukarno_a4441.jpg?w=511&h=326

2.  http://www.westpapua.nl/2003_01/images/bonai.jpg

3.  http://www.theothermartintaylor.com/moveabletype/archives/cameras/DSC09693.jpg

4.  http://www.rujakmanis.com/wp-content/uploads/2008/10/titik-puspa.jpg

5.  http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/03/kourot.jpg?w=153&h=244

6.   http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/03/dsc01223.jpg?w=513&h=392

7.   http://sedjatee.files.wordpress.com/2009/11/cow_-_cartoon_31.jpg?w=232&h=173

8.   http://inforesep.com/wp-content/uploads/2009/02/sate-ayam-madura-lg-dipanggang.jpg

9.   http://www.badmintonvictoria.com/pics/BadmintonCartoon.gif

 

KOTABARU

KOTABARU

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/02/12976492211172938197.jpgPerginya J Mosz ke negeri Belanda menebarkan rejeki pada semua karyawan putra daerah.   Ia membagikan barang-barang peralatan rumah-tangga miliknya kepada para bekas karyawan yang membantunya selama menjadi Kepala Stasiun Radio Pemancar Skyline.    Bujangan Paulus Rumbewas menerima sepeda motor besar yang biasa dinaiki J Mosz bila turun ke kota.    Mereka berdua memang sebelumnya sering tampak berboncengan sepeda motor besar itu pada malam hari.  Rumbewas menemani J Mosz menepis sepi karena berpisah dengan anak dan isteri.    Bujangan itu memiliki banyak teman baik laki-laki maupun perempuan dan sering dibawa menginap di rumah dinas gerbong yang lokasinya terpencil dan ditinggali sendirian.   Dengan demikian dia tidak selalu merasa kesepian pada malam-malam di tengah padang ilalang.    Kalau teman-temannya sedang berkumpul di rumah, pada jarak 20 meter sudah terdengar hingar-bingar suara musik Rock and Roll diselingi gelak-tawa dan teriakan-teriakan.    Suara laki-laki dan perempuan saling timpa menimpa.  Mereka bercengkerama dengan bebas, dan paling tidak minumannya adalah Bier kaleng yang banyak dijual di kota, atau saguer yang dibikin oleh penduduk dan dapat dipesan sebelumnya.    Dengan memiliki sepeda motor besar sendiri, Paulus Rumbewas semakin sering membawa teman perempuan ke rumah.     Bujangan yang pergaulannya bebas itu juga pandai berdansa.      Tubuhnya yang langsing dan sikapnya yang agak pongah cocok sekali untuk mengiringi gerak dansa gaya apapun.     Sebagaimana J. Mosz, Abdurrachman yang duda juga memanfaatkan Paulus http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/02/ano1.jpg?w=221&h=283Rumbewas untuk menepis sepi.   Ia mengemukakan ingin bisa berdansa dan Rumbewas memperkenalkannya dengan seorang gadis Tobati, karyawati Urusan Kepegawaian Daerah Telekomunikasi Irian Barat.   Setiap hari Rabu dan Jum’at malam, Abdurrachman mengajak Rumbewas ke rumah gadis itu di Tobati untuk belajar dansa.     Kadang-kadang Rumbewas ikut dalam mobil dinas yang dibawa oleh Abdurrachman, atau dia naik motor sendiri dan mereka bertemu di rumah gadis tersebut.

“Bagaimana paetua itu … sudah bisa dansa, ka ?”, tanya Jeremias kepada Rumbewas pada suatu pagi di ruang bedrijf.

“Wouw … bukan main paetua itu … dua kali dia perlukan saya, selanjutnya tidak perlu lagi saya …”, jawab Rumbewas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Cepat bisa, ka ?”.

 “Dia bikin salah-salah langkah …. biar dibetulkan terus, dan bisa peluk terus ..”.

“Ah … dia sengaja, itu …”, seru Jeremias sambil tertawa kecil.

“Persis”, jawab Rumbewas mantap sambil mengerdipkan mata.

“Ai …. Rachman … Rach-man … pintar juga, kau …”.   Jeremias bersiul sambil menggeleng-gelengkan kepala.  Dari mulutnya keluar bunyi decak-decak.    Saya tersenyum.  Kotabaru di saat itu banyak menyimpan kisah-kisah cinta para sukarelawan yang kesepian.  Salah seorang teman dari Ambon menemukan jodohnya dan melangsungkan pernikahan di sana.    Pemberkatan mempelai dilakukan di gereja pada pagi hari, sedangkan resepsi diselenggarakan pada malam harinya. Ketika kami menghadiri resepsi pernikahan teman tersebut, Abdurrachman mengajak Paulus Rumbewas karena kabarnya akan diramaikan dengan acara dansa-dansi.   Pesta itu berlangsung cukup meriah.    Acara dansa memang diselenggarakan di tengah ruangan yang luas.    Banyak pasangan asyik berdekapan mengayunkan kaki mengiringi irama musik yang diperdengarkan.

 “Tidak melantai?”, tanya saya pada Abdurrachman yang tampak memperhatikan lantai dansa dengan pandangan mata berminat.

“Ah … tidak … kau lihat ibu itu …. Isteri pejabat PELNI.  Benar kata orang, memang lincah sekali dia berdansa …”, jawab Abdurrachman.   Saya mengikuti arah pandangannya dan melihat seorang ibu muda yang cantik dengan tubuh padat berisi sedang meliuk-liuk bersama pasangannya.

“Itu suaminya?”, tanya saya menyelidik.

“Bukan …. Suaminya yang duduk di sana itu, mengenakan jas abu-abu …”, kemudian kepada Rumbewas : ”Coba ibu itu kau ajak dansa, berani tidak?”.     Rumbewas tertawa pelan sambil melihat kearah ibu muda itu yang sedang berjalan kembali ke tempat duduk di samping suaminya.    Tidak berapa lama musik mengalun kembali.   Tiba-tiba Rumbewas berdiri dan berjalan kearah ibu muda isteri pejabat PELNI tersebut.   Dia membungkuk sedikit di depan ibu yang cantik itu sambil mengucapkan sesuatu.   Ibu muda itu tampak sedikit terkejut, menoleh kearah suaminya, lalu berdiri dan memenuhi ajakan Rumbewas.   Tangan kiri Rumbewas melingkar pada pinggang pasangan dansanya sedangkan tangan kanan keduanya bertautan.

“Gila …. dapat dia …”, celetuk Abdurrachman terpana.     Matanya tak putus memandangi Rumbewas yang asyik berdansa sambil memeluk dan membawa pasangan dansanya mendekat dan semakin dekat dengan tempat saya dan Abdurrachman duduk.    Pada jarak yang cukup dekat, Rumbewas melempar senyum ejekan kepada Abdurrachman sambil lebih merapatkan badan pada pasangan dansanya yang cantik itu.    Abdurrachman mendesis.  Wajahnya memerah.

“Gila Rumbewas …. Benar-benar gila ….”, celetuknya sambil menggeleng-gelengkan kepala.     Saya memuji Paulus Rumbewas di dalam hati.    Pemuda Irian Barat suku Biak ini tidak terbelit oleh perasaan rendah diri.   Motor gede yang diperolehnya dari J Mosz sangat bolehjadi hasil dari keluwesan bergaul dan kepercayaan diri yang besar.   Umurnya di atas saya beberapa tahun, tetapi dalam soal perempuan dan bercinta dia telah memiliki segudang pengalaman yang diperoleh dari gaya hidup pergaulan bebasnya.

Jonas Kbarek bertubuh tinggi besar dengan perut gendut dan lengan serta kaki kokoh berotot.   Matanya besar dan jernih. Dalam tubuh raksasa itu bersemayam budi-bahasa yang halus.   Dia selalu bersikap hormat padaku.   Bolehjadi karena kedudukan saya di setasiun radio lebih tinggi maka sikap hormatnya itu bagiku wajar saja.    Belakangan baru saya ketahui alasan yang lebih kuat dari ucapan-ucapannya kalau sedang berbincang-bincang denganku. Yonas terkagum-kagum ketika mengetahui umurku masih 20 tahun tatkala menjalankan tugas “semi-militer” di Irian Barat. Paling muda diantara “orang-orang lain” di setasiun radio itu, baik yang sesama “orang Indonesia”, maupun terhadap orang Belanda dan orang Filipina yang ada.    Apalagi dengan badanku yang pendek dan mungil, tentu dari pandangan raksasa seperti dirinya. Sikap hormat Jonas juga dia tunjukkan dengan selalu melindungi diriku.

Ketika pada suatu pagi pukul enam saya dengan ringan mengucapkan selamat pagi kepada petugas Zenderwacht malam yang masih belum pulang, Rumbewas bangkit dari kursinya dan mendatangi saya sambil mengoceh kesana-kemari dengan suara meninggi.  Sikapnya kurang menyenangkan, rambut ikalnya kering dan kusut sedangkan matanya memerah.   Dari mulutnya bau alkohol menyengat hidung.    Ia bertolak pinggang di hadapanku sambil terus menceracau tidak karuan.   Yonas yang sudah tiba lebih awal dan sedang menghidupkan sejumlah pemancar buru-buru mendekat lalu menggelandang Rumbewas menjauh.   Ia menggerutu dalam bahasa Biak yang tidak saya pahami lalu mendorong badan Rumbewas keluar sambil berteriak : “Keluar .. pulang sana … tidur !!”.

http://www.vander-wal.nl/shop/images/products/Heineken/Heineken/9860_Heineken%20Bier%20Blik%2024x33cl.jpgMasih dengan sisa raut muka kurang senang terhadap Rumbewas, Yonas meminta maaf atas sikap bujangan pemilik motor gede itu dan memberi komentar sambil meenggeleng-gelengkan kepalanya : Dorang su gila rupanya … dorang pikir ini hari kemerdekaan … semalaman minum saguer … su mabok … dorang pikir ini tanah Papua … ini Irian toh … Irian Barat, Indonesia!”.

Saya terhenyak mendengar penjelasan Jonas.   Saya baru manyadari bahwa hari itu hari ulang-tahun “kemerdekaan Papua”.    Rupanya semalam mereka “merayakan”-nya dengan mabuk-mabukan minum saguer. Ada juga beberapa kaleng bir Heineken kosong di atas meja.    Jonas buru-buru mengambil kaleng-kaleng bir itu dan membuangnya di tempat sampah.   Sebentar kemudian Jeremias datang giliran tugas pagi bersama Jonas.   Langkahnya gontai dan matanya setengah tertutup.   Dari kejauhan ia sudah melihat keberadaanku.   Mulutnya tersenyum tetapi seperti biasa senyum itu tidak merubah kesan orang pada raut mukanya yang masam.   Ia mengangkat tangan kanannya memberi salam padaku sambil berkata : “Selamat pagi Djoko … pagi begini sudah datang, he? …lihat Rumbewas, tadi, ka.. ?”.

Kemudian mulutnya mengeluarkan siulan sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mata sedikit berbinar.  Kembali Jonas mendekat dan menarik lengan Jeremias sambil membisikkan sesuatu ke telinga Mias.  Yang dibisiki terus menggeleng-gelengkan kepala sambil menjawab agak keras : “Aah … tarada, mo …tarada … dorang paetua, toh ..”.

Saya menduga Jeremias pun sedang dalam pengaruh alkohol meski masih ringan.   Semua pemancar yang dihidupkan Jeremias sengaja saya lewati sambil mataku melirik ke arah pesawat, melihat posisi jarum-jarum meter dan lampu-lampu pemancar.  Semuanya masih benar, berarti Jeremias masih bisa mengendalikan dirinya dari pengaruh alkohol yang masuk ke kerongkongannya.   Dan Jonas sendiri?.   Saya yakin benar dia tidak minum.   Kondisi phisiknya prima pagi itu seperti biasanya.

http://yiskandar.files.wordpress.com/2008/06/img_0590_r2.jpg?w=447&h=335&h=336

Pada suatu sore menjelang malam yang cerah saya melihat Jonas menuruni bukit dengan memikul dayung dan peralatan menangkap ikan serta menjinjing sebuah lampu petromaks.   Saya tahu dia mau ke laut, maka saya bergegas masuk ke rumah mengambil topi dan jaket lalu bergegas mengejarnya.  Jonas memandangiku beberapa saat seperti tidak mempercayai permintaanku untuk ikut melaut.  Kemudian ia tertawa lepas sambil mengangguk-angguk. Saya mengikutinya turun menuju ke teluk Jotefa di kaki bukit.  Ia langsung menuju ke tempat perahu miliknya yang ditambatkan pada pohon bakau.   Malam sudah mulai merayap tatkala kami berdua berada di atas perahu Jonas.

http://www.mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/image/20090726_112813_laut-am.jpg

Dengan tenang Jonas mengayuh perahu ke arah pertengahan teluk.  Udara terasa dingin ditambah angin laut yang membelai lembut.   Sesekali ia mengeluarkan air laut yang masuk ke perahu dengan sebuah ember plastik kecil.  Untuk pekerjaan seperti itu aku membantunya tanpa kesulitan.   Jonas mengajariku cara memasang umpan pada mata kail, melempar tali kail ke laut dan bagaimana merasakan adanya tangkapan serta cara menariknya sampai ikan tangkapan itu masuk ke perahu.   Melepaskan mata kail dari mulut ikan yang menggelepar-gelepar tidak segampang yang saya perkirakan.  Ikan laut itu amat besar dibandingkan dengan yang pernah kutangkap di kali Garang, Ungaran, pada masa kecilku.  Apalagi bila dibandingkan dengan ikan wader yang kutangkap dengan irik (serokan penangkap ikan).  Pedih tanganku ketika mencoba menangkapnya kemudian menggetok kepalanya sampai tidak menggelepar lagi.  Tidak banyak http://www.hurricanelamps.co.uk/lrbrass_hk500.jpgikan yang bisa terpancing saat itu, sementara malam telah semakin larut.  Jonas mulai menghidupkan lampu petromaks sehingga di sekitar perahu menjadi terang benderang.   Kutengok arlojiku menunjukkan pukul dua malam.   Jonas memberiku sebuah serok jala besar dan ia sendiri memegang sebuah yang lebih besar lagi.  Untuk apa, tanyaku tidak mengerti.  Ia hanya mengedipkan mata sambil tersenyum dan menelengkan kepala ke arah laut.  Saya mulai mendengar suara bising di sekitar perahu.  Kemudian dengan penuh takjub saya melihat air laut yang diterangi oleh sinar lampu petromaks seperti bergolak dan puluhan ikan berseliweran dan berloncatan di sekitar perahu. Jonas mulai memainkan serok jalanya. Sekali serok bisa tiga atau empat ekor terjaring. Ikan-ikan itu ditumpahkannya ke dalam perahu, kemudian seroknya dimainkannya lagi. Demikian seterusnya. Saya menirunya ke sisi lain agar keseimbangan perahu terjaga. Meskipun perolehan Jonas pasti jauh lebih banyak saya merasakan kepuasan hati dari apa yang mampu saya serok sendiri. Di dalam perahu, di ujung kaki timbunan ikan menggelepar tak terhitung banyaknya.  Tatkala tumpukan ikan sudah meninggi beberapa ekor sempat melompat ke luar dari perahu.    Jonas memberi tanda untuk menghentikan penyerokan. Lalu saya membantunya menggetok kepala ikan-ikan di tumpukan paling atas sehingga ikan-ikan itu tidak lagi menggelepar.  Yang berada di bawah meskipun belum tergetok sudah tidak mampu bergerak lagi oleh berat timbunan ikan di atasnya.   Jonas mengecilkan nyala lampu petromaks lalu mematikannya. Suasana malam kembali hening. Bising ikan tidak lagi terdengar di sekeliling perahu.   Di atas bintang-bintang berkelipan indah. Angin laut semilir halus dan udara dingin menyergap badan.   Jonas menjulurkan kaki dan menyuruh aku beristirahat bahkan kalau bisa tidur.   Aku mencoba untuk tidur sambil meringkukkan badan dalam perahu, tetapi fikiran jelek menggangguku.   Bagaimana kalau raksasa itu dalam tidurnya bergerak dan perahu oleng lalu terbalik?.    Dengan fikiran sedemikian saya menjadi sulit untuk bisa tidur.   Melihat aku belum juga bisa tidur, Jonas membuka ransel mengambil veltles dan menawarkan kopi panas padaku.   Saya menolaknya karena sebenarnya saya justru ingin bisa tidur.   Lalu saya lihat dia mengambil sigaret sebatang, menyulutnya dan menyelipkannya di bibir.   Saya merasa lega.    Raksasa itu tidak akan tidur maka tidak perlu khawatir perahu akan oleng dan terbalik. Perasaan lega itu mengantarkan saya tertidur barang satu jam.    Ketika terjaga ternyata perahu sudah tertambat di pohon bakau semula.

http://thewavemaker.files.wordpress.com/2011/01/hutan-mangrove.jpg?w=440&h=329

Jonas sudah keluar dari perahu mengemasi peralatan untuk dibawa pulang.   Saya ikut keluar dari perahu membantu Jonas memasukkan ikan hasil tangkapan ke dalam dua ember plastik besar.   Matahari sudah mulai menampakkan diri di ufuk timur ketika kami berdua mendaki bukit pada jalan setapak yang ada, menyeberangi jalan raya yang masih lengang dan meneruskan mendaki bukit Skyline menuju ke rumah masing-masing.  Sampai di rumah saya langsung membersihkan badan di kamar mandi. Hari itu hari Minggu.  Sambil memasak air saya bersiap untuk mendengarkan acara Cerita Pendek Minggu Pagi dari RRI Kotabaru, ketika sebuah ketukan terdengar di pintu.

Jonas datang membawa beberapa ikan segar yang besar-besar dan akan terus pergi ke gereja di Kotaraja.   Pakaiannya necis dan bersih dengan sepatu mengkilat.   Rambutnya yang ikal pendek tampak licin oleh olesan minyak rambut.    Dia tertawa lepas dengan raut muka yang tidak menunjukkan kelesuan. Saya berfikir ia bergadang semalaman dan bekerja cukup keras pula, tetapi wajahnya tetap saja segar bugar.    Sebelum saya terlepas dari ketakjuban yang saya ciptakan sendiri, ia sudah berlari kecil meninggalkan rumahku ke arah keluarganya yang menunggu di pinggir jalan.    Seorang ibu yang tidak gemuk bahkan cenderung kurus bila berjalan di belakang raksasa Jonas, dan dua bocah cilik yang lincah dan lucu. Sebuah keluarga kecil yang sederhana tetapi menurutku cukup berbahagia.

Seluruh karyawan putra daerah yang tinggal di kompleks Setasiun radio Skyline adalah Kristiani yang taat.    Pada setiap hari Minggu pagi mereka turun ke Kotaraja untuk melakukan ibadah di gereja.  Dari teras rumah saya melihat mereka bersama keluarga mengenakan pakaian yang bagus lagi bersih berjalan beriring-iringan dengan semua anggota keluarga masing-masing.   Anak-anak sambil berlari-larian, Ibu menggandeng anak yang terkecil, bapak mengawal di belakang.   Pada pukul 12.00 siang, saat matahari berada di puncaknya, mereka tampak berjalan gontai lewat pada jalan di samping rumah dinas saya.    Wajah dan baju mereka basah oleh keringat setelah menelusuri jalan tanjakan bukit Skyline.      Anak-anak tidak lagi berlari-larian, berjalan merapat di sekitar ibunya.   Bapak berjalan terbungkuk menggendong anak terkecil pada punggungnya.

“Tidak capai anak-anak setiap hari minggu berjalan kaki mendaki bukit?”, tanya saya pada suatu hari. “Tentu capai …. tetapi ke gereja itu harus”, jawab Salmon yang saya tanyai.

“Bagaimana kalau pak Pendeta yang berkunjung ke sini, apa dimungkinkan mengingat jumlah jamaahnya di kompleks ini cukup banyak”.

“Bisa saja, tetapi …. di sini tidak ada tempat ibadah.  Masa harus kebaktian di rumah?”.

“Gudang peralatan antenna di dekat rumah Korwa itu kan dapat dipakai …”, kata saya memancing.

“Kalau dibolehkan …  apa Rahman membolehkan?  Djoko mau bantu, ka?”, jawab Salmon balik bertanya.     Saya mengangguk dan Salmon langsung memegangi tangan saya dengan tatapan mata penuh harap.       Abdurrachman ternyata tidak berkeberatan ketika saya kemukakan maksud itu.   Esok harinya mereka bergotong-royong memindahkan barang-barang keperluan antenna ke gudang peralatan kasar dan membersihkan bangunan seng berbentuk gerbong bekas gudang antenna bahkan mengecatnya pula.    Masing-masing juga menyumbangkan kursi atau bangku kayu panjang bahkan meja untuk pak Pendeta.    Identitas gereja lainnya akan diperoleh dari gereja Kotaraja.   Ibu-ibu ikut serta menghias interior bakal gereja tersebut.    Pada hari Minggu berikutnya, saya melihat seseorang mengenakan celana panjang dan kemeja putih berjalan pelan ke atas bukit Skyline.  Ditangan kanannya tergenggam sebuah buku tebal ukuran sedang.   Salmon Kbarek menjemput di batas  lalu keduanya berjalan bersama memasuki kompleks stasiun radio.    Di kejauhan melewati sebuah lembah sempit, saya melihat gereja baru berbentuk gerbong itu telah ramai  dikerumuni orang dan anak-anak.    Tidak berapa lama kemudian saya mendengar sayup-sayup dibawa angin suara mereka menyanyikan lagu-lagu rohani kristiani.    Setelah ibadah selesai, saya melihat Rumbewas memboncengkan pendeta pada motor besarnya menuruni bukit Skyline.    Untuk selanjutnya mereka menugasi Rumbewas menjemput dan mengantar kembali Pendeta pada setiap hari peribadatan di gereja Skyline.

http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1335.snc4/162785_1525201538616_1491965236_31118761_7760374_n.jpgSekembalinya dari tugas belajar di luar-negeri, Ir Willy Munandir Mangundiprojo langsung membantu Pejabat Kepala Daerah Telekomunikasi Irian Barat, Suwandi, yang bukan teknisi.   Mereka berdua saling melengkapi dalam memimpin Telekomunikasi Irian Barat pasca U.N.T.E.A.      Berwajah tampan, postur tubuh yang tegap serasi dengan tinggi badan dan penampilan yang flamboyan, Ir. Willy Munandir cepat dikenal oleh masyarakat kalangan atas di Hollandia maupun setelah diubah menjadi Kotabaru.    Bujangan yang memegang jabatan cukup tinggi di Kotabaru itu tak pelak lagi cepat memperoleh pacar dari kalangan sukarelawati yang juga masih sendirian.   Seorang gadis Kawanua, telah berhasil merebut hatinya dan merekapun menjalin hubungan yang semakin dekat dan semakin mesra.     Namanya: Elizabeth Louiza Sangkilawang.   Seorang Sukarelawati Guru SMA.     Seperti tidak ingin terlindas oleh usia yang semakin merangkak naik, mereka memutuskan untuk menikah, ketika Ir. Willy Munandir sudah diangkat sebagai Kepala Daerah Telekomunikasi Irian Barat, menggantikan Suwandi.

—000—

Image properties:

1.  http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/02/12976492211172938197.jpg

2.  http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/02/ano1.jpg?w=221&h=283

3.   http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/02/jonas-kbarek.jpg?w=154&h=300

4.   http://www.vander-wal.nl/shop/images/products/Heineken/Heineken/9860_Heineken%20Bier%20Blik%2024x33cl.jpg

5.  http://yiskandar.files.wordpress.com/2008/06/img_0590_r2.jpg?w=447&h=335&h=336

6.  http://www.mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/image/20090726_112813_laut-am.jpg

7.   http://www.hurricanelamps.co.uk/lrbrass_hk500.jpg

8.  http://thewavemaker.files.wordpress.com/2011/01/hutan-mangrove.jpg?w=440&h=329

9.   http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/02/rumah-gerbong.jpg?w=186&h=230

10.   http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1335.snc4/162785_1525201538616_1491965236_31118761_7760374_n.jpg

HET PERSONEEL DOOR DE VERENIGDE NATIES TOEGEVOEGD AAN DE U.N.T.E.A.

HET PERSONEEL  DOOR  DE  VERENIGDE  NATIES
TOEGEVOEGD  AAN  DE  U.N.T.E.A.

http://www.papuaerfgoed.org/files/u1/UNTEA-vlag_0.gif

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/b/ba/Untea_logo.jpg

Hanya sebuah Surat Keputusan Pemberian Gaji dan sebuah Kartu Indetitas No. 677  yang dapat menunjukkan bahwa saya telah menjadi anggauta dari staf yang ditunjuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi UNTEA.    Tertulis dalam tiga bahasa, Inggris, Indonesia dan Belanda, Kartu Identitas itu hanya mencantumkan Nama, Kewarganegaraan, Tanggal lahir, Tinggi badan, Berat badan, Warna rambut, Warna bola mata, Tanda-tanda istimewa, Tanda-tangan pemegang, Tanda tangan pejabat yang bertindak untuk Sekretaris Jenderal, dan Pasfoto ukuran 4 x 6.   Golongan darah tidak dicantumkan.

http://www.postkoets.nl/artikelen/nguinea/untea.jpghttp://www.stampmasteralbum.com/ForeignCountryIdentifier/Vwxyz/WIrianBaratNethOvp.JPG

Gaji saya terima dalam mata uang Gulden sebagai alat tukar yang berlaku pada saat itu di Netherlands Nieuw Guinea, meskipun dalam penguasaan sementara oleh PBB melalui UNTEA.    Saya menerima penghasilan yang lebih dari cukup untuk hidup sebagai bujangan yang mandiri dalam arti segala sesuatunya diurus sendiri, atau berbagi pada saat tinggal bersama-sama dengan kawan lain.     Barang-barang keperluan hidup banyak dijual di toko-toko Cina dengan harga yang terjangkau.    Dari makanan, pakaian, perkakas rumah-tangga, sampai ke barang-barang pelengkap dan hiburan seperti  Arloji, Radio Listrik maupun Transistor, Tape recorder, Piringan Hitam, Fototustel, dan lain-lainnya.  Bahkan TV pun sudah dijual di toko meskipun Hollandia belum memiliki Setasiun TV.   Bisik-bisik di kalangan sendiri menyebutkan para pedagang Cina  menyediakan barang-barang itu karena mengetahui pejabat-pejabat Indonesia akan memborongnya untuk dibawa ke Jakarta.   Semua barang itu didatangkan dari luar, seperti Australia, Singapura, Taiwan, Hongkong, Jepang dan diangkut dengan kapal-kapal dagang.    Pasar rakyat di pantai dekat kantor Pos meskipun tidak besar dan buka hanya sebentar, namun menyediakan bermacam-macam sayuran segar, ikan laut dan bumbu-bumbu masak yang dihasilkan oleh penduduk di sekitar Hollandia.

http://downloads.unmultimedia.org/photo/medium/170/170185.jpg

Sekretaris Eksekutip UNTEA, George J. Janecek, mengeluarkan sebuah surat pada tanggal 31 Desember 1962 yang ditujukan kepada semua pejabat U.N.T.E.A, perihal: Pertanggungan jawab selaku Pegawai Pemerintah Internasional.   Dimulai dengan pemberitahuan telah diketahui adanya beberapa pejabat UNTEA yang tidak menyadari akan pertanggungan jawab serta tugasnya selaku seorang pegawai sipil dari suatu Badan pemerintahan Internasional.   Kemudian diingatkannya bahwa setiap Pegawai UNTEA diminta untuk menerima dan menanda tangani suatu “sumpah/pernyataan jabatan”  (oath of office) yang antara lain menyatakan, bahwa ia akan “melaksanakan dengan penuh kesadaran, kebijaksanaan dan penuh ketaatan, tugas jabatan yang dipercayakan kepadanya selaku seorang pegawai sipil Internasional dari Perserikatan Bangsa-bangsa, dan menunaikan tugas tersebut serta menyesuaikan tindakannya semata-mata untuk kepentingan Perserikatan bangsa-bangsa, dan tidak meminta atau menerima perintah-perintah yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas-tugasnya dari sesuatu Pemerintah ataupun kekuasaan di luar Organisasi Perserikatan bangsa-bangsa”.     Misi Staf Internasional dari Perserikatan Bangsa-bangsa di Irian Barat (West Nieuw Guinea) inipun memerlukan sangat adanya kebijaksanaan serta pengamatan yang tidak memihak.   Salah satu daripada syarat-syarat utama seorang pegawai sipil Internasional ialah: – tidak turut serta dalam demonstrasi-demostrasi umum yang bertujuan untuk menyokong golongan apapun.    Oleh sebab itu,  maka Kuasa (Wali) UNTEA meminta tiap-tiap anggota/pegawai dari Departemen manapun untuk tidak turut serta dalam demonstrasi-demostrasi umum ataupun demostrasi yang telah diatur, kecuali apabila mereka memang diminta oleh Kuasa (Wali) UNTEA untuk itu.   Diingatkannya juga bahwa siapa yang melalaikan syarat utama tersebut di atas dapat seketika diperhentikan/dipecat dari jabatannya, karena alasan turut serta dalam kegiatan-kegiatan politik yang tidak sesuai dengan sikap seorang pegawai sipil Internasional.   Kemudian dia minta perhatian akan kutipan-kutipan dari Peraturan-peraturan tentang sikap yang diharapkan dari seorang Pegawai Sipil Internasional, yaitu:

http://downloads.unmultimedia.org/photo/medium/170/170205.jpg

Peraturan 1.1 : Anggota-anggota Sekretariat adalah Pegawai-pegawai Sipil Internasional.   Tanggung jawab mereka tidak bersifat nasional, melainkan internasional semata-mata.    Dengan menerimanya kontrak, mereka telah mengikat diri untuk menunaikan tugas mereka serta menyesuaikan tindakannya dengan kepentingan-kepentingan Perserikatan Bangsa-bangsa saja.

Peraturan 1.3 :  Didalam menjalankan tugas, anggota-anggota Sekretariat tidak diperkenankan meminta atau menerima instruksi-instruksi dari kekuasaan atau Pemerintah manapun diluar Organisasi (P.B.B.).

Peraturan 1.4 : Anggota-anggota sekretariat harus selalu bertindak sesuai dengan status mereka selaku pegawai sipil Internasional.   Mereka tidak diperkenankan turut serta dalam aktivitas yang tidak sesuai dengan penenuaian tugas mereka pada P.B.B..    Mereka harus menghindarkan aksi apapun dan teristimewa ucapan-ucapan dimuka umum yang bersifat apapun yang dapat merusak status mereka atau merusak keutuhan (integritas), kemerdekaan dan kenetralan yang disyaratkan oleh status tersebut.    Walaupun dari mereka tidak diharapkan untuk melepaskan rasa kenasionalan mereka atau aliran politik ataupun kepercayaan (agama) mereka, tetapi mereka harus selalu ingat akan batas-batas serta pengertian terhadap perasaan orang lain sebagai akibat dari status mereka yang bersifat internasional itu.

Peraturan 101.6(e) :  Kecuali di dalam melaksanakan tugas mereka sehari-hari atau dengan persetujuan lebih dahulu dari Sekretaris Jenderal, maka anggota-anggota Staf tidak diperkenankan melakukan tindakan-tindakan tersebut di bawah ini, apabila tindakan itu mempunyai sangkut-paut dengan tujuan, aktivitas ataupun kepentingan-kepentingan P.B.B.      (i)   menyampaikan pernyataan-pernyataan kepada pers, radio atau badan-badan dari “public information” lainnya;     (ii)   menerima undangan-undangan untuk berbicara (pidato);     (iii)   turut mengambil bagian dalam produksi pilem, sandiwara, radio atau televisi;       (iv)   menulis artikel-artikel, buku-buku atau tulisan-tulisan lainnya untuk publikasi.

Saya yakin bahwa Saudara tidak akan ragu-ragu untuk menemui saya, apabila saudara memerlukan bantuan dalam hal ini, demikian George J. Janecek menutup suratnya.

http://farm5.staticflickr.com/4051/4389810526_139784de47_z.jpg

Meskipun kebanyakan petugas bertempat tinggal di Dok V hingga ke Base-G, namun pemerintah kota menyediakan angkutan bis DAF yang besar dan kokoh.    Bis bercat oranye itu berangkat dari terminal induknya di Hollandia ke Dok-V melalui Dok II atas.    Dari Dok-V ada yang terus ke Base-G, ada pula yang naik menuju ke wilayah perumahan elit di bagian atas.     Orang Irian yang menjadi sopir bis DAF umumnya berbadan tegap sesuai dengan kendaraan umum yang dikemudikannya itu.    Dalam beberapa kesempatan saya pernah naik bis yang sopirnya dalam keadaan setengah mabuk.  Ia melarikan bis dengan kecepatan tinggi meskipun jalan yang dilaluinya naik turun berkelok-kelok.   Rem diinjak berdencit-dencit kemudian gas langsung ditekan lagi sehingga bis melompat menggerung-gerung.   Sambil bernyanyi-nyanyi sopir mabuk itu tidak mempedulikan penumpang yang wajahnya pucat pasi sambil berpegangan erat pada tangan kursi.    Tetapi penumpang yang putra daerah malah tertawa-tawa menyemangati sopir yang matanya sudah merah setengah terpejam itu.    Ketika turun dari bis saya harus berdiam diri untuk beberapa lama guna menenangkan hati dan menghilangkan pusing.

Beberapa teman menderita stress berat disebabkan oleh tekanan fikiran yang tak tertahankan.   Entah apa yang mengganggu fikiran mereka.    Ada yang berperilaku aneh dan tak terkendalikan di dalam rumah, ada pula yang ke luar rumah keluyuran di jalan, atau hanya duduk termenung di atas batu memandangi laut luas tak henti-hentinya.    Karena merepotkan teman serumah yang akan semakin mengganggu pekerjaan di kantor, maka merekapun dikembalikan ke tempat asal dengan dikawal oleh petugas khusus.

Polisi pengamanan U.N.T.E.A. didatangkan dari Pakistan.    Mengenakan seragam khaki coklat yang kedodoran dan baret merah bertengger miring di kepala, polisi Pakistan yang jangkung-jangkung itu kebanyakan berkumis dan memelihara jenggot.     Tugas berat mereka sebenarnya bukan menghadapi penduduk sipil, melainkan sejawat mereka sendiri dari Indonesia dan dari putra daerah.  Kedua kelompok itu  pernah bertempur satu dengan lainnya, di pinggiran kota maupun di hutan.    Ketika perdamaian dicapai dan PBB mengambil alih kendali pemerintahan untuk sementara waktu, semua http://www.papuaerfgoed.org/files/u1/de_Papuacompagnie__van_142_man_0_0.jpgPolisi Papua ditarik ke barak sedangkan gerilyawan TNI dan Brigade Mobil POLRI masuk ke kota dan ditampung di asrama-asrama militer.     Meskipun terpisah jauh, namun pada saat jalan-jalan di kota hanya dari saling pandang saja sudah mampu menyulut perkelahian.   Penduduk sipil yang melihat langsung menghubungi Polisi Pakistan U.N.T.E.A.  yang segera meluncur ke tempat kejadian untuk memisah dan menghentikan perkelahian dan mengantar ke asrama masing-masing.   Kemudian komandan dari kedua pihak akan saling berkunjung guna menyelesaikan permasalahan secara baik dan membulatkan tekad untuk saling menghapus dendam di masa lalu.     Terhadap penduduk sipil, Polisi Pakistan U.N.T.E.A. hanya direpotkan oleh para pemabuk saja.

http://www.prosoundweb.com/images/uploads/Fig4HuberAnalogTape.jpgTerpetik kabar dari mulut ke mulut bahwa Radio Republik Indonesia  memberikan kesempatan menyampaikan ucapan Selamat hari raya Idulfitri kepada sanak keluarga di tempat asal.  Pada suatu sore saya mendatangi alamat yang disampaikan teman kepada saya, yaitu sebuah rumah tinggal pada sebuah jalan di Dok-V.   Ternyata sudah banyak orang berada di teras dan di ruang tamu rumah tersebut, yang didiami oleh staf dari RRI yang bertugas pada bekas Radio Omroep Netherlands Nieuw Guinea (RONG).   Sambil menanti giliran saya mengobrol dengan orang yang duduk satu meja, membicarakan banyak hal dari yang serius sampai  yang sekedar humor.   Ketika seseorang keluar dari dalam kamar dan menyebutkan nama saya, segera saya masuk ke dalam kamar tersebut.  Dua orang petugas melayani proses perekaman ucapan selamat idulfitrie dan permohonan maaf saya kepada orang-tua dan kakak serta adik di Ungaran.    Sebuah alat perekam yang cukup besar dengan dua lempengan bulat pita rekam masih hidup tatkala saya meraih mikropon.   Seorang petugas mempersilakan saya mulai berbicara setelah menekan tombol dan memutarkan pita rekaman.  Seorang lagi memperhatikan lampu petunjuk amplitudo suara dan menyesuaikan tuas pengatur volume.  Setelah selesai petugas meminta saya memanggilkan seseorang untuk perekaman berikutnya.
“Kapan disiarkannya, mas?”, tanya saya sambil beringsut mundur.
“Segera setelah sampai di sana. Ada pesawat AURI yang terbang malam nanti ke Jakarta”, jawabnya sambil tersenyum.   Setelah mengucapkan terimakasih, saya bergegas keluar dan menyebutkan nama yang dipesankan.  Seseorang berdiri dan  ganti masuk ke dalam kamar.     Saya tidak memantau lanjut apakah rekaman jadi disiarkan oleh RRI, juga apakah keluarga saya di Ungaran sempat mendengarkannya.   Saya masih merasa perlu untuk mengirimkan ucapan selamat idulfitrie dan permohonan maaf kepada keluarga melalui surat pos sebagaimana biasanya.

http://www.duniaku.net/wp-content/uploads/2011/09/image0122-600x472.jpg

Sesuai Perjanjian Middleburg, U.N.T.E.A. hanya akan mengendalikan penguasaan transisi selama enam bulan, untuk kemudian pada tanggal 1 Mei 1963, diserahkan kepada pemerintah Indonesia.   Pejabat tinggi Departemen Luar Negeri Indonesia yang ikut berperan aktif di dalam perundingan antara Indonesia dan Belanda yang diprakarsai oleh Amerika Serikat, adalah Mr. Sudjarwo Tjondronegoro.    Beliau yang mewakili Pemerintah Indonesia untuk menerima penyerahan kekuasaan atas Irian Barat dari PBB yang diwakili oleh U.N.T.E.A.      Hari itu, tanggal 1 Mei 1963 pagi, saya ikut bergabung dengan banyak orang Indonesia lainnya memenuhi gedung perwakilan pemerintah Republik Indonesia di Dok-V atas.     Upacara berlangsung dengan khidmat.     Bendera PBB diturunkan dan bendera Merah-Putih dinaikkan, diiringi nyanyian lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh seluruh hadirin.    Saya merasakan degup jantung dalam semangat yang meluap sehingga badan terasa merinding.    Dari tempat agak jauh saya melihat si Pending Emas, Herlina, ada di barisan depan.    Keesokan harinya ada acara perpisahan dengan masyarakat bertempat di pusat kota Hollandia.

http://v-images.antarafoto.com/p_pr_1270797305.jpg

http://us.images.detik.com/content/2010/04/21/10/tni-luar2.jpg

http://initialdastroboy.files.wordpress.com/2011/05/20090820_062544_kopassus-b.jpg?w=441&h=236&h=345

http://v-images2.antarafoto.com/gpr/1239098799/brimob-j-bom-99.jpg

Di pinggir jalan rakyat sudah bergerombol untuk melihat parade militer dan kelompok-kelompok masyarakat.    Bendera Merah-putih dalam berbagai ukuran tampak berkibar dimana-mana.   Anak-anak sekolah pun memegang bendera merah-putih kecil dan dilambai-lambaikannya.   Saya membawa fototustel kotak merk Yashica yang baru saya beli, sekaligus untuk memperlancar praktik pemotretan.    Saya belum pernah memiliki benda yang bernama fototustel  maka pada malam  kemarinnya saya mempelajari buku petunjuknya dengan sungguh-sungguh.    Gaya pun harus dibiasakan agar tidak tampak canggung di depan orang banyak.
Suara sirene mobil terdengar meraung-raung membuat orang bergerak maju ke pinggir jalan dan menoleh kearah asal suara.    Dari kejauhan tampak iring-iringan mobil yang berjalan pelan.  Sejumlah sepeda motor polisi berada di depan untuk membuka jalan yang tidak perlu dilakukan lagi sebab jalan raya memang sudah dikosongkan oleh polisi lalu-lintas.   Sejumlah mobil sedan melintas di belakang barisan sepeda motor polisi pembuka jalan.   Mobil yang memasang bendera PBB kecil di depan mengangkut pejabat U.N.T.E.A. sedangkan yang memasang bendera Merah-putih pastilah mengangkut pejabat pemerintah pusat di Jakarta.     Mereka semua menuju ke tempat upacara dan menduduki kursi-kursi di atas panggung kehormatan.    Beberapa lama kemudian terdengar bunyi genderang dan terompet melantunkan lagu-lagu perjuangan.   Kembali massa bergerak maju ke pinggir jalan.    Dengan wajah kagum mereka menyaksikan defile militer dan polisi dari berbagai angkatan  bergantian melintas di depan mereka.    Yang paling depan adalah korps musik militer, diikuti oleh barisan Polisi PBB dari Angkatan Kepolisian Pakistan.    Langkah dan gaya berbaris mereka agak berbeda dengan tentara Indonesia.   Bermodalkan tubuh yang jangkung walau dibalut seragam yang kedodoran, mereka berbaris rapih dalam gerak kaki dan tangan.      Di belakang barisan Polisi PBB berturut-turut barisan TNI-AD, TNI-AL, TNI-AU, dan Angkatan Kepolisian RI, disertai pasukan khusus masing-masing.     Meskipun postur tubuh rata-rata lebih pendek daripada anggota Polisi Pakistan, namun dengan seragam aneka loreng yang ketat dan persenjataan lengkap yang dibawanya, pasukan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia itu tampak lebih gagah dan tangkas.    Barisan Angkatan Kepolisian RI juga menyertakan satu barisan Polisi Papua yang mendapat sambutan meriah penduduk di pinggir jalan.     Matahari yang bersinar terik tidak terasa mengganggu.    Wajah-wajah yang berkeringat memancarkan kegembiraan disertai teriakan-teriakan kekaguman dan decak-decak pujian.    Seluruh masyarakat Hollandia dan sekitarnya menyambut hangat hari terakhir penguasaan PBB atas Irian Barat yang akan dilanjutkan kemudian oleh pemerintah Republik Indonesia.

Ada suasana yang berubah setelah U.N.T.E.A.  mengakhiri penguasaannya.    Para petugas PBB dari luar-negeri semuanya meninggalkan Irian Barat, sementara petugas pengganti dalam jumlah yang boleh-jadi lebih banyak didatangkan dari daerah Indonesia lainnya dalam pengendalian pemerintah pusat di Jakarta.    Frekwensi kedatangan kapal laut dan kapal terbang meningkat.   Sementara itu harga barang kebutuhan sehari-hari mulai merayap naik, karena persediaan barang komoditi di toko-toko mulai mengurang.   Barang-barang mewah yang diimport dari Eropa, Jepang dan Australia menghilang.   Rupiah telah menggantikan Gulden.    Beberapa Perusahaan Negara dan Perusahaan swasta besar telah membuka cabangnya di Sukarnapura untuk merintis kegiatan peluasan sayap di tanah Cendrawasih ini.    Antara lain Toko Buku Gunung Agung.    Saya bertemu dengan seorang teman semasa kecil di Ungaran ketika sedang mencari buku di sana.    Dia sedang melayani pembeli dan terpaku memandang wajahku ketika saya menyodorkan buku yang akan saya beli.   Kami berpandang-pandangan sebentar lalu bersalaman dalam kegembiraan, meskipun nama sama-sama lupa.    Dia sebenarnya anak Yogya yang pindah ke Ungaran dan ikut belajar tari Jawa pada pak guru Rekso Bakoh.     Karena gerak-tarinya yang lemah gemulai, maka pak Rekso Bakoh hampir selalu memberikan peran Arjuna kepadanya.     Kadang-kadang dia mampu pula menari dalam peran seorang Dewi yang lembut dan manja.      Dia baru saja datang di Sukarnapura, sementara saya sudah setahun sebelumnya.    Namun karena tempat tinggal kami berjauhan dan kesibukan kami dalam tugas masing-masing, maka pertemuan tersebut tidak terpelihara secara berkelanjutan.

Pimpinan telekomunikasi di Irian Barat awalnya dipegang oleh Ir. Sahertian, yang sebelumnya memimpin Jakarta Raya, kemudian diteruskan oleh pak Suwandi yang pernah serumah dengan saya beberapa hari di Dok-V dengan wakil Ir Willy Munandir Mangundiprodjo, seorang insinyur muda yang masih bujangan.   Belum lama menjabat Wakil Kepala Daerah Telekomunikasi Irian Barat, Ir. Willy Munandir dikirim tugas belajar ke luar-negeri.

—000—

Image properties:

1. http://www.papuaerfgoed.org/files/u1/UNTEA-vlag_0.gi

2.   http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/b/ba/Untea_logo.jpg

3. http://www.stampmasteralbum.com/ForeignCountryIdentifier/Vwxyz/WIrianBaratNethOvp.JPG

4.   http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/01/img_0148.jpg?w=300&h=225

5.   http://www.postkoets.nl/artikelen/nguinea/untea.jpg

6.   http://downloads.unmultimedia.org/photo/medium/170/170185.jpg

7.   http://downloads.unmultimedia.org/photo/medium/170/170205.jpg

8.   http://farm5.staticflickr.com/4051/4389810526_139784de47_z.jpg

9.  http://www.papuaerfgoed.org/files/u1/de_Papuacompagnie__van_142_man_0_0.jpg

10.    http://www.prosoundweb.com/images/uploads/Fig4HuberAnalogTape.jpg

11.   http://www.duniaku.net/wp-content/uploads/2011/09/image0122-600×472.jpg

12.   http://v-images.antarafoto.com/p_pr_1270797305.jpg

13.  http://us.images.detik.com/content/2010/04/21/10/tni-luar2.jpg

14.   http://initialdastroboy.files.wordpress.com/2011/05/20090820_062544_kopassus-b.jpg?w=441&h=236&h=345

15.  http://v-images2.antarafoto.com/gpr/1239098799/brimob-j-bom-99.jpg

16.   http://i187.photobucket.com/albums/x162/rendroprayogo/Animals/Kasuari02_wtrmrk.jpg


TUAN J.MOSZ

CIB – PTT
TUAN  J. MOSZ

http://www.jakarta.go.id/jakv1/application/public/img/encyclopedia/90300eb1a1859db6658f93f34eed6b09.jpg

“Saya senang kalian bertiga datang”, kata J.Mosz sambil tersenyum :”Itu artinya saya bisa cepat pulang”.  Matanya mengedip sambil mengembangkan senyum lebar.   Riswandi tertawa.
“Ya … keluarga sudah menunggu …”, sambung J. Mosz dengan mengangkat kedua bahu dan menelengkan kepalanya ke kanan.
“Bahasa Indonesia tuan bagus …”, kata Aan Djadja menyela.
“Bagus ??”, jawab J. Mosz.    Matanya membelalak sedikit, kemudian meletakkan lampu pemancar yang dipegangnya di atas meja.   Lalu membalikkan badan kembali ke arah Aan Djadja dan kedua telapak tangannya dikembangkan memperlihatkan jari-jari yang agak kasar kulitnya.
“Sepuluh tahun …. Sepuluh tahun, saya tinggal di Indonesia”.
“Sepuluh tahun ?”, celetuk Abdurrachman :”Cukup lama …”.
“Ya, cukup lama … sampai saya pindah ke Netherlands Nieuw Guinea sini”.
“Tuan senang tinggal di Indonesia?  Betah?”, tanya saya menyelidik.
“Ya, saya senang tinggal di Indonesia … tapi kemudian tidak betah …”, jawab J. Mosz pelan.
“Tentu ada alasannya …”.
“Ya … orang Indonesia kemudian tidak menyukai kami … hidup menjadi sulit, tidak tenteram, dan … saya tidak betah”, jawab J. Mosz dengan tenang.  Mata birunya menatap kami satu per satu.
“Tidak ke negeri Belanda?”, tanya saya kembali.
“Ke Netherlands? Ou … saya orang Indo … akan banyak sulit juga disana, karena itu saya memilih ke sini.  Di sini hidup lebih baik”.
“Tuan Mosz ini peranakan Belanda.  Ibunya orang Sunda, sudah meninggal sebelum dia pindah ke sini”, tutur Riswandi menjelaskan :”Bapaknya kembali ke Netherland dan sudah meninggal pula di tanah kelahirannya itu”.     J. Mosz mendengarkan penjelasan Riswandi itu sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“Tuan bisa tetap tinggal di sini dan menjadi orang Indonesia”, kata saya mantap.
http://panel.mustangcorps.com/admin/fl/upload/files/bentrok_ilus(3).jpg“Jadi orang Indonesia?”, jawab J. Mosz dengan nada bertanya :”Terlalu susah dilupakan.  Orang Indonesia melempari kami dengan batu.   Darah ibu saya yang mengalir di badan saya ini tiba-tiba terasa beku sejak kejadian itu.   Papa mengajak saya dan keluarga pergi ke Netherland.  Tetapi saya putuskan untuk ke sini saja.   Papa kembali ke Netherland sendirian”.
J. Mosz mengangkat kedua pundaknya kembali sambil mencibir getir.   Saya tercenung.
“Dan Tuan akan ke Netherland juga …”
“Ya … tidak ada jalan lain ….. lagi pula masyarakat di Netherland kabarnya sudah berbeda dengan di masa lalu.   Orang Indo kini diterima sebagai bagian dari bangsa asli Belanda.   Bahkan orang Maluku pun diperlakukan dengan baik.  Saya berharap demikianlah kenyataannya….”, kata J. Mosz sambil melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.

Riswandi memperkenalkan kami pada teman-teman asli Irian Barat yang berada di ruang bedrijf.     Ada Salmon Kbarek, Jeremias Kbarek dan Mosez Jarangga.  Ketiganya mengenakan baju dan celana pendek.   Rambut berombak kecil dan kulit coklat kehitaman.   Mosez yang termuda berbadan tegap besar dan cukup jangkung.   Warna kulitnya lebih hitam daripada Salmon dan Jeremias yang cenderung kecoklatan.    Penampilannya agak malu-malu namun banyak tersenyum dengan mata yang jernih.  Ia tinggal di sebuah bangunan seng berbentuk gerbong yang berada di arah kanan depan tidak jauh dari gedung Setasiun Radio Skyline.  Salmon yang tertua di antara mereka bertiga berwajah bijak dengan tutur kata yang halus.   Adapun Jeremias berbadan kecil pendek, rambut keritingnya melebar ke kanan terbawa oleh bentuk batok kepala, dengan dahi sempit dan bibir yang terkatup.    Wajahnya dalam keadaan biasa menunjukkan muka yang masam.    Mereka, Salmon dan Jeremias, berasal dari marga yang sama yaitu Kbarek, dan karena itu masih ada pertalian saudara.    Keduanya tinggal masing-masing pada sebuah rumah dinas berukuran cukup, yang letaknya di arah kiri depan juga tidak jauh dari gedung Setasiun Radio Skyline.    Di dekat rumah mereka, agak menyendiri dan yang paling dekat dengan Setasiun Radio, berdiri sebuah rumah dinas yang lebih besar dan lebih bagus bentuknya.    Di rumah inilah J. Mosz tinggal sendirian.

http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/01/3061966p.jpg?w=264&h=170Hari pertama itu Aan Djadja langsung memperbaiki sebuah pesawat pemancar yang semula diperbaiki oleh J. Mosz.     Riswandi terlibat dalam sebuah percakapan serius dengan J. Mosz di ruang kerja bersama mereka.    Abdurrachman pergi melihat-lihat dua mesin Diesel Pembangkit Tenaga Listrik yang berada di bagian sayap gedung sebelan kanan depan.    Berdampingan dengan ruangan mesin Disel Generator Listrik itu, ada dua ruangan bersebelahan, masing-masing untuk Gudang dan Ruang Jaga Keamanan.      Saya sendiri mempelajari jadual perhubungan radio dan jenis-jenis pemancar yang dipergunakan untuk setiap hubungan radio.     Menjelang siang, petugas  zenderwacht  plug siang datang untuk menggantikan plug pagi.    Sebelum pamit untuk pulang, Salmon memperkenalkan plug siang kepada saya.     Mereka adalah  Jonas Kbarek dan Paulus Rumbewas.    Sebagaimana halnya Jeremias, Jonas pun berasal dari marga yang sama dan masih ada pertalian keluarga dengan Salmon.    Jonas berbadan tinggi besar, perut buncit, tangan, paha dan betisnya berotot kencang.      Warna kulitnya hitam legam sehitam Mosez Jarangga.   Baik Jonas maupun Mosez merupakan “raksasa” Skyline.   Rambut Jonas tipis hitam dan berikal kecil.   Bola matanya besar dan jernih di atas sepasang pipi gempal dan kencang.   Mulutnya berbibir tebal hitam dan bila tertawa memperlihatkan deretan gigi yang putih bersih.     Paulus Rumbewas, seorang anak muda bertubuh atletis, warna kulit coklat bersih, wajah tampan dan berpenampilan sedikit pongah.   Dia mengenakan celana panjang dari bahan khaki.   Siang itu Jeremias Kbarek berdinas biasa sehingga masih menemani plug siang sampai pukul tiga sore.    Jonas Kbarek mendiami rumah dinas berdekatan dengan rumah dinas yang ditinggali Salmon dan Jeremias.   Sedangkan Paulus Rumbewas tinggal pada bangunan seng berbentuk gerbong sebesar yang didiami Mosez Jarangga, namun letaknya lebih jauh menjorok ke samping kiri dari gedung Setasiun Radio Skyline. Di tengah padang ilalang yang gersang dan di bawah bentangan kawat-kawat antenna.
Dua buah mobil dinas combi datang pada saat pulang.   Satu untuk kami berempat, dan satu lagi ternyata mengangkut para petugas  antenna dienst.     Ada Polalo, Rumbiak, Msen, Korwa dan beberapa lagi yang bermarga sama.     J. Mosz melambaikan tangan dari teras rumah dinasnya.

Ada kurang lebih satu minggu kami antar-jemput ke Setasiun Radio Pemancar Skyline.   Kemudian pak Manuhuttu, Kepala Seksi Radio, memutuskan agar kami berempat harus tinggal di kompleks Skyline, agar dapat menjaga Setasiun radio lebih ketat setiap saat.   Saya mengepak barang dan berpamitan dengan teman-teman serumah ketika mobil dinas Combi keesokan harinya tiba.   Abdurrachman, Aan Djadja dan Riswandi pun membawa koper masing-masing.     Tidak seperti biasanya, mobil mampir dulu ke Kantor Daerah Telekomunikasi di belakang kantor Pos dan Telegrap Hollandia.   Kantor berlantai dua itu masih sepi, namun kantor Telegrap yang kami lalui masih ada sejumlah orang yang bekerja di dalamnya.  Pak Manuhuttu tampak sudah menunggu di lantai bawah lalu mendatangi mobil kami yang baru saja berhenti.  Riswandi buru-buru turun menemui dan menerima seikat kunci dari tangan pak Manuhuttu.   Orang tua berkulit hitam legam yang pernah menjamu saya, Butje Likumahua, Abdoerrachman dan Bernard Pasuhuk di rumahnya di Makassar itu melongokkan kepalanya ke dalam mobil.
“Kamu semua akan tinggal di rumah peristirahatan bekas Gubernur Netherlands Nieu Guinea.  Rumahnya besar, panoramanya indah.   Tidak lama lagi beberapa keluarga akan ditempatkan di sana juga.    Atur saja agar bisa numpang makan pada keluarga-keluarga itu.   Masa mau memasak sendiri …”, katanya dengan suara parau dan senyum yang mengembang, lalu: “Tapi, awas … jaga diri baik-baik … kecuali Djoko, kamu semua bujang-bujang lapuk … saya tidak ingin mendengar ada kabar buruk dari rumah peristirahatan Gubernur itu …. Ingat baik-baik ..”.    Mata pak Manuhuttu membelalak ketika mengucapkan kata-kata yang akhir itu, tetapi bibirnya tersenyum tipis.   Saya mendengar Abdoerrachman tertawa kecil sambil terbatuk-batuk.
Hari itu, mobil dinas langsung melewati gedung Setasiun Radio ketika sampai di bukit Skyline, menyusuri jalan berbatu di tengah padang ilalang sampai ke pagar batas luar bagian belakang lapangan antenna.    Mobil melewati sepasang pintu besi pada pagar yang sudah terbuka lebar.   Perdu pepohonan menggantikan padang ilalang di balik pagar besi.   Terasa lebih rimbun seiring dengan suasana hati yang masih diliputi tanda tanya.
“Itu dia rumahnya”, seru Riswandi sambil menunjuk ke depan :”Saya pernah ke sana sekali bersama Mosz.   Bagus rumahnya, besar dan banyak kamarnya.  Tetapi saya hanya melihat dari luar saja”.

http://justoemar.files.wordpress.com/2011/03/100_0077.jpg?w=621&h=466

Di bawah kerindangan pepohonan, bagian belakang dari sebuah rumah yang megah tampak dari kejauhan.   Berlantai satu, luas dan memiliki unsur kayu yang cukup banyak.   Kelihatan gagah dalam kesendirian.   Tidak terlihat satupun rumah lain di sekitarnya.   Jalan yang dilalui mobil ini tampak berujung di sebelah kanan rumah besar yang gagah itu, lalu membelok ke kiri ke pelataran depan rumah.    Ketika mobil berjalan pelan di samping kanan kami semua menoleh ke arah rumah.    Tampak kokoh dengan banyak unsur kayu yang dipernis.  Jendela kaca kamar yang besar tanpa tirai.  Di bagian depan hampir sepanjang dinding ruang tamu terdiri dari kaca berbingkai sejumlah rangka kayu coklat yang bersih.    Pintunya dari kayu dengan dua daun pintu berukuran besar.   Di bagian kiri belakang berdiri tegak sepasang tanki air di atas menara besi.   Tanah pelataran depan rumah cukup lebar .   Daun-daun kering berserakan di halaman sekeliling.   Rumah ini dan pekarangan di sekitarnya sudah kurang memperoleh sentuhan perawatan.   Bagaikan seorang Dewi Kahyangan yang baru bangun dari tidurnya, menampilkan kecantikan yang terpancar dari keaslian ragawi.    Rumah peristirahatan Gubernur ini berdiri di puncak sebuah bukit.    Ia menghadap ke panorama alam yang terbuka luas, terbentang lepas sejauh mata memandang.   Gumpalan awan putih dengan latar belakang angkasa biru bertemu dengan laut luas pada kaki langit yang melengkung dan bersambung dengan pantai berbuih putih bersih  dalam bentuk yang meliuk dan melekuk pada teluk, berpagar pohon nyiur berjajar-jajar atau hutan bakau di kaki perbukitan yang berselimutkan hutan.  Rumah-rumah panggung di atas air tepi laut pantai Hamadi dan perahu-perahu nelayan yang ditambatkan maupun yang bertebaran di laut lepas menyajikan sebuah bentuk dari ragam kehidupan masyarakat.   Jauh di bawah sana, kehidupan masyarakat lainnya tergelar pada kapal-kapal besar yang sedang sandar di bandar,  pernak-pernik gedung-gedung kantor dan pertokoan serta rumah-rumah hunian penduduk kota Hollandia tertata di antara garis-garis jalan yang berjajar maupun yang menyilang.   Matahari pagi baru saja di seperempat pendakian.   Udara terasa segar apalagi semilir angin dari belakang mengelus badan tak berkesudahan.  Saya melihat Riswandi menuruni sebuah jalan sempit dengan batu-batu tempat berpijak yang disusun berundak-undak ke bawah dan berakhir pada sebuah tempat duduk-duduk terbuka yang terbikin dari semen dengan bentuk  melingkar.   Ada tiga tempat duduk panjang yang ditata berhadapan dengan sebuah meja bulat di tengah.    Kami tergerak mengikuti Riswandi menuruni jalan batu berundak-undak dan berkumpul pada tempat duduk-duduk itu.     Dari tempat itu saya melihat padang ilalang di depan mata merata kebawah menuruni bukit sampai pada jalan raya Hollandia – Hollandia Binnen yang bagaikan sebuah ikat pinggang melilit pada pertengahan bukit.   Perdu-perdu pendek bergerumbul di beberapa tempat di tengah lebatnya ilalang.   Di bagian bawah jalan tampak pohon-pohon besar lebat merapat ke bawah sampai ke tepi laut.   Bukit ilalang ini hanya sebagian saja yang berada di sekitar tempat kami berdiri.   Selebihnya sudah beralih menjadi kumpulan pohon-pohon besar baik kebun-kebun milik penduduk maupun hutan belantara yang menjadi latar pandang depan hingga ke kaki langit.    Pada arah kanan bawah, terlihat teluk Yotefa yang luas dan berair tenang, berbataskan hutan bakau dan perkampungan nelayan yang berkelompok di sana-sini.   Panorama pada sisi ini terpotong oleh badan bukit ilalang Skyline.    Tidak lama kami menikmati pemandangan itu, kemudian kembali ke mobil di atas dengan menaiki jalan batu berundak-undak yang tadi kami turuni.     Riswandi membuka pintu dengan kunci yang diterimanya dari pak Manuhuttu.   Kami mengikutinya masuk ke dalam rumah sambil membawa kopor dan tas dari dalam mobil.   Riswandi dan Abdurrachman memilih sebuah kamar besar di dekat ruang keluarga, sedangkan saya dan Aan Djadja menempati sebuah kamar besar lainnya di belakang ujung kiri.   Masih ada tiga kamar besar lainnya lagi, sebuah dapur, dua kamar mandi bersama, ruang keluarga dan kamar tamu.    Setelah menempatkan barang-barang di dalam kamar masing-masing, kami segera kembali ke mobil dan berangkat menuju ke Setasiun Radio Skyline.

http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/01/injros.jpg?w=584&h=391

J. Mosz keluar dari kamar kerjanya menyambut kedatangan kami.   Seseorang bertubuh gemuk gempal dan pendek mengikut di belakangnya.   Rambutnya tipis nyaris botak.   Wajahnya bukan wajah bule.   Ia tersenyum lebar ke arah kami.
“Leon Refe, dari Phlipin “, kata J. Mosz memperkenalkan yang disusul dengan acungan tangan orang yg dibelakangnya itu.    Kami bersalaman.
“UNO mengirim Leon kesini ”, kata J.Mosz sambil tersenyum :”Itu berarti waktu keberangkatan saya ke Netherland, tinggal menunggu pemberitahuan saja”.
“Leon menggantikan tuan?”, tanya Abdoerrachman menyelidik.
“Ne … ne … ne … Dia”, jawab J.Mosz sambil menggelengkan kepala dan menunjuk kepada Riswandi.  Leon Refe bercerita dirinya dikirim oleh pemerintah Filipina untuk diperbantukan pada UNTEA, dan baru beberapa hari tiba di Hollandia.   http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/b/ba/Untea_logo.jpgSaya berfikir organisasi PBB ini cukup tertib.   Pergantian personalia berjalan dengan lancar dari berbagai bangsa di dunia ini.   Hari itu Leon lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerja J.Mosz berbincang-bincang dengan Riswandi dan J.Mosz sendiri.  Ketika jam menunjukkan pukul dua siang, sebuah jeep putih berbendera PBB datang menjemputnya kembali ke Hotel tempat dia menginap di Hollandia.

Tinggal di bekas Rumah peristirahatan Gubernur Netherlands Nieuw Guinea itu cukup menyenangkan.  Lampu disediakan oleh kantor sehingga di malam hari Rumah Peristirahatan itu akan tampak terang benderang dari jalan raya di bawah.   Sebelumnya setelah ditinggalkan oleh penghuni yang kembali ke Belanda, Rumah peristirahatan yang besar itu gelap gulita.   Tetapi karena kini penghuninya hanya empat laki-laki maka jendela-jendela kaca kamar tidur, kamar tamu dan ruang keluarga dibiarkan tanpa tirai penutup.  Maka kalau malam dan lampu menyala, kami tidak dapat melihat keadaan di luar dari dalam melalui kaca.    Setiap malam kami isi dengan duduk-duduk mengobrol sambil mendengarkan radio sebelum masuk ke dalam kamar untuk tidur.   Tetapi di suatu malam Minggu ketika kami sudah masuk ke dalam kamar masing-masing, terdengar  bunyi deru mesin mobil berhenti di halaman depan.    Lampu di kamar tamu dan ruang keluarga sudah dimatikan.   Disusul kemudian bunyi pintu mobil ditutup agak keras dan langkah-langkah kaki menuruni jalan batu berundak-undak.   Saya dan Aan Djaja melompat turun dari dipan, membuka pintu kamar lalu pintu yang menuju ke ruang keluarga.  Di ruang tamu saya melihat Riswandi dan Abdurrachman sudah memperhatikan keadaan di luar rumah yang tampak jelas dari dalam rumah yang gelap.   Saya dan Aan Djadja menyusul menyertai mereka.   Sebuah mobil sedan yang bagus berhenti di halaman.   Sepasang laki-laki dan perempuan kulit putih tampak berjalan menurun sambil berpelukan.   Keduanya lalu duduk merapat pada bangku tembok menikmati pemandangan taburan cahaya lampu di kota dan pelabuhan Hollandia, serta perahu-perahu di lautan yg gelap.  Tak terhindarkan lagi adegan-adegan mesra yang mereka lakukan tertangkap mata telanjang kami dengan jelas.    Riswandi segera kembali ke kamar, diikuti Aan Djadja dan saya sendiri, sementara Abdoerrachman masih melanjutkan nonton pertunjukan romantis yang gratis itu.     Esok harinya Abdurrachman sambil tertawa puas menceritakan apa yang ia saksikan semalam.   Wajahnya memerah bukan karena setangkup roti tawar bakar dan segelas kopi panas, melainkan oleh bayangan atas adegan-adegan yang ia saksikan semalam.   Di malam-malam selanjutnya bila kami mendengar deru suara mobil datang mendekat, kami segera mematikan lampu rumah.   Selanjutnya dengan tenang kami menonton pertunjukan yang tergelar di depan mata, sejak dari dalam mobil hingga kembali ke dalam mobil beberapa waktu kemudian.    Acapkali adegan pertunjukan masih diteruskan di dalam mobil.   Kebanyakan mereka adalah pasangan kulit putih pejabat-pejabat UNTEA, kadang terlihat pula pasangan campuran ras, namun tidak pernah kami melihat pasangan dari bangsa Indonesia sendiri.     Akhirnya kami menjadi terbiasa dengan tontonan gratis itu.    Tatkala tiga keluarga datang ikut menghuni rumah peristirahatan gubernur itu seperti yang pernah dijanjikan oleh pak Manuhuttu dulu, Riswandi memutuskan untuk menghentikan tontonan gratis itu.    Di antara keluarga Djajadi, keluarga Ibnu Fadjar, dan keluarga Jusuf Hamid  ada yang membawa serta anak kecil.     Maka pada kali pertama sebuah mobil datang malam-malam, lampu rumah tidak dimatikan dan Riswandi keluar rumah menemui pasangan kulit putih yang sudah keluar dari dalam mobil.    Ia berbicara dengan mereka memberikan pengertian bahwa rumah peristirahatan itu sudah ada keluarga yang mendiaminya dan meminta kesadaran mereka untuk tidak lagi mengganggu ketenangan keluarga.   Pasangan kulit-putih itu mengangguk-angguk lalu masuk kembali ke dalam mobil, menghidupkan mesin, berjalan memutar kemudian menancap gas meninggalkan kami dengan kecepatan tinggi.      Dua hari kemudian, ketika kami masih di Setasiun Radio Skyline, ibu Djajadi menilpun dari rumah bahwa ada seorang Belanda datang ingin bertemu dengan penghuni rumah.  Riswandi mengajak saya ke rumah.   http://downloads.unmultimedia.org/photo/medium/170/170186.jpgDiperlukan waktu lima menit untuk sampai ke rumah dengan berjalan cepat.    Sebuah mobil sedan kelihatan berhenti di depan rumah.   Seorang bule berbadan tinggi besar dengan muka berjenggot lebat warna kelabu berdiri di bawah pohon sedang memandang ke laut lepas.   Ketika melihat kedatangan kami, dia segera mendekat.   Saya terkesiap.  Wajahnya mirip George J. Janecek, yang memimpin UNTEA di Irian Barat sebagai sekretaris Eksekutip.   Sambil tangan dipinggang dan badan sedikit membungkuk ke depan dia bertanya apakah kami penghuni rumah ini.  Riswandi meng-iya-kan.   Dia menanyakan lebih lanjut tempat kerja kami dan siapa yang mengijinkan kami tinggal di rumah peristirahatan gubernur itu.   Riswandi menyebut kantor daerah telekomunikasi, dan laki-laki itu lalu menunjuk-nunjuk tanah sambil berucap keras: “This property is  Government’s …. Government’s “.   Setelah itu dia mengangkat kedua pundaknya, kemudian berjalan melewati kami menuju ke mobil sambil menggeremeng :”Okay …. See you later …”.    Terdengar pintu mobil ditutup keras lalu mobil meloncat maju mengitari rumah dan melaju cepat meninggalkan kami.    Riswandi dan saya berpandang-pandangan kemudian tertawa bersama.

J.Mosz akhirnya berangkat menyusul keluarganya yang sudah lebih dulu ke negeri Belanda.    Riswandi ditetapkan sebagai penggantinya.    Leon Refe masih datang setiap hari, namun keberadaannya tidak terlalu banyak diperlukan.   Kami berempat sudah cukup untuk mengoperasikan Setasiun Radio Skyline dengan dibantu oleh semua karyawan putra daerah yang ada.     Seiring pulangnya J.Mosz ke Nederland, kami diperintahkan meninggalkan Rumah peristirahatan Gubernur.  Riswandi dan Abdoerrachman pindah ke rumah dinas yang pernah ditinggali oleh J.Mosz, sedangkan  saya dan Aan Djadja pindah ke rumah dinas yang paling di depan letaknya.   Rumah itu semula ditinggali oleh orang Belanda yang menjabat Kepala Dinas Teknik, kemudian didiami oleh seorang karyawan putra daerah yang dikirim ke Bandung untuk menempuh pendidikan.  Keluarga Djajadi, Ibnu Fajar, dan Jusuf Hamid pindah ke Dok V karena sudah tersedia rumah bagi mereka semua.   Runtutan kejadian tersebut tidak bisa dipisahkan dari gerutu orang kulit putih berjenggot lebat mirip boss UNTEA, George J Janecek, beberapa hari sebelumnya: “This property is Government’s …. Government’s”.
Tatkala UNTEA menyerahkan administrasi pemerintahan Irian Barat kepada Indonesia pada 1 Mei 1963, Leon Refe pun kembali ke Philipina.   Kemudian Kantor Pusat di Bandung memberi kesempatan kepada para sukarelawan di Irian Barat yang bermaksud kembali ke tempat tugasnya semula akan dipulangkan dari Irian Barat, sedangkan yang masih bersedia tinggal pun akan diterbitkan surat pemindahannya dari kantor asal ke Daerah Telekomunikasi Irian Barat.     Riswandi dan Aan Djadja menghendaki dikembalikan ke tempat kerja asalnya, sebaliknya saya dan Abroerrachman menyatakan sedia melanjutkan tugas di Irian Barat.     Kantor daerah telekomunikasi Irian barat menunjuk Abdoerrachman untuk menggantikan Riswandi sebagai Kepala Setasiun Radio Pemancar Skyline.

http://politikana.com/images/medium/14834-papua.jpg

Setelah pemerintahan Irian Barat dikendalikan oleh pemerintah Indonesia, nama Hollandia mengalami beberapa kali perubahan.   Awalnya diubah menjadi Kotabaru kemudian berganti menjadi Sukarnapura dan kini sudah berganti lagi menjadi Jayapura.   Seiring dengan itu  nama Hollandia Binnen pun diubah menjadi Kotabaru Dalam, kemudian berganti lagi menjadi Sukarnapura Dalam, dan kini menjadi Abepura.

—000—

Image properties:

1.  http://www.jakarta.go.id/jakv1/application/public/img/encyclopedia/90300eb1a1859db6658f93f34eed6b09.jpg

2. http://panel.mustangcorps.com/admin/fl/upload/files/bentrok_ilus%283%29.jpg

3. http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/01/3061966p.jpg?w=264&h=170

 4.   Lucas kaunang facebook: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2615036092090&set=a.1451702089467.2062149.1140702851&type=1&theater

5.    http://justoemar.files.wordpress.com/2011/03/100_0077.jpg?w=621&h=466

 6.  http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/01/injros.jpg?w=584&h=391

 7. http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/b/ba/Untea_logo.jpg

 8.   http://downloads.unmultimedia.org/photo/medium/170/170186.jpg

9.  http://politikana.com/images/medium/14834-papua.jpg 

DI HOLLANDIA

CIB PTT

(7)   DI HOLLANDIA

http://sentanilakefestival.com/documents/logoFDS.gifEntah berapa lama kami dalam keadaan kedinginan di dalam Hercules yang terbang tinggi itu.   Widho acap kali menyandarkan kepalanya ke bahuku.     Saya membiarkannya karena memaklumi dia membutuhkan kehangatan.    Saya sendiri pun membutuhkannya maka saya menggenggam telapak tangannya yang terasa dingin.    Gemetar badan dan desis mulutnya berbaur dengan dengung mesin pesawat yang tiada henti.     Alhamdulillah , Allah cepat menidurkan kami berdua sehingga hawa dingin itu tidak lagi mengganggu ruang kesadaran kami.    Saya terjaga kembali oleh sistim tubuh yang telah terprogram dengan kebiasaan shalat subuh.   Gerak badan saya tatkala bertayamum membangunkan Widho dari tidurnya.   Ia memperbaiki letak duduknya dan bersiap untuk bertayamum pula.    Tidak terasa goncangan-goncangan pesawat yang mengganggu.   Usai shalat subuh saya tertidur kembali tersihir oleh bunyi dengung mesin pesawat yang membosankan.
Bunyi langkah-langkah kaki berat membangun aku dari tidur.     Sambil mengucak-ucak mata saya melihat awak pesawat masih dalam seragam dinasnya yag tebal berjalan melintas di depanku.    Widho pun terbangun.
http://palembang.tribunnews.com/foto/berita/2011/6/12/HERCULES.JPG“ Di mana kita?”, tanyanya sambil memperbaiki letak duduk.

“ Di atas awan”, jawabku kalem.   Widho terbelalak sebentar, lalu tersenyum lebar.   Laki-laki di sebelah kiriku agaknya sudah terjaga lebih dulu.   Dia sedang asyik membaca sebuah buku.   Jas masih membungkus badan namun kancingnya sudah dilepas.   Suasana di dalam pesawat Hercules memang sudah tidak lagi gelap.   Geremeng percakapan sudah mulai terdengar walau kurang jelas. Saya meluruskan kaki serta kedua tangan ke depan, lalu mencoba menggeliat pelan.   Tarikan urat membuat aliran darah terasa menyegarkan.    Laki-laki di sebelah membungkukkan badan meraih tas kulitnya.   Dikeluarkannya sebuah termos lalu dituangkannya kopi panas pada tutup.   Aroma kopi menebar di depan hidungku.    Saya menoleh pada Widho dan kami berpandangan sebentar.      Widho menyeringai.

http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/01/aromakopi.jpg?w=205&h=281“ Kopi, dik …. “, kata laki-laki itu sambil menyodorkan tutup termos berisi minuman kopi itu kepadaku, :    “ saya sudah tadi … silakan, masih hangat kok …”, lanjutnya sambil tersenyum.    Saya terhenyak.
“ O-oh …. terimakasih, pak …. baunya harum sekali “, sahut saya sambil menerima tutup termos itu.
“ Isteri saya memaksa untuk saya bawa.  Masih ada kok untuk teman adik. Silakan dipegang saja” .

“ Kebetulan pak .  Saya biasa munum kopi di pagi hari”, kata Widho sambil menerima termos yang disodorkan bapak yang baik hati itu.   Sudut mata saya sempat melihat tulisan pada kulit buku di pangkuannya.   Terbaca:  Universitas Indonesia.   Widho ganti menuangkan kopi ke dalam tutup termos dan menghirupnya dalam beberapa tegukan.

“ Ibu sangat perhatian ”, kataku sambil mengembalikan termos kopi.   Senyumnya mengembang.      “  Ya …., dia sering saya tinggal pergi, jadi sudah mengerti apa yang harus dia persiapkan”.    Pelan-pelan dimasukkannya kembali termos itu ke dalam tas kulitnya yang halus.   Diluruskannya kedua kaki dan dikejangkan, lalu memutarkan badan kekiri sekali dengan gerakan patah dan ke kanan juga sekali.
“ Bapak sudah biasa naik pesawat terbang barangkali …”, kataku ketika dia menangkupkan kedua tangannya dan diluruskan ke depan. Raut wajahnya menegang saat otot tangan dikencangkan dalam beberapa kali hentakan.   Ia menoleh kepadaku sambil tersenyum dan melemaskan kembali kedua tangannya.
“ Ya, sering ….. tetapi dengan Hercules, baru kali ini”.

 “ Beda ya pak …”.

“ Jauh … tetapi ini kan pesawat angkut militer, jadi ya … wajar saja”.

“ Bapak kan dari UI … apa sudah ada Universitas di Hollandia?”, tanyaku menyelidik.      Dia tersenyum.

“ Presiden memerintahkan untuk menyiapkan pendirian sebuah Universitas di Hollandia.  Nah, saya dan teman-teman akan melakukan penelitian tentang kemungkinannya”.

“ Kalau demikian bapak tidak akan lama berada di Hollandia”.

“ Paling tidak sepanjang masa UNTEA di Irian Barat”, jawabnya sambil meraih buku yang belum habis dibaca.   Kemudian dia kembali tenggelam dalam keasyikan bersama buku tebal yang terbuka lebar di pangkuan.

Pesawat terbang dalam keadaan yang stabil.   Tidak terasa goncangan-goncangan yang berarti.   Saya bangkit dari duduk dan berjalan mendatangi beberapa teman untuk sekedar berbincang-bincang menghilangkan kejemuan.    Pada umumnya mereka lebih memilih tetap duduk di tempatnya dan hanya bercakap-cakap dengan teman di sebelah kanan dan kirinya saja.    Satu dua awak pesawat berjalan cepat dari depan ke belakang atau sebaliknya.    Setiap kali mereka lewat saya memiringkan badan untuk memberi jalan cukup lega buat mereka yang sedang melaksanakan pekerjaannya.    Ketika saya kembali lagi di tempat duduk semula, pak Dosen mengangkat wajahnya dan melempar senyum ramah.    Saya membalasnya dan ia lalu kembali membenamkan perhatian pada buku yang dibacanya.    Widho ternyata sudah memejamkan mata kembali.    Tidak ada pekerjaan lain yang bisa kulakukan kemudian kecuali mengikuti apa yang Widho telah lakukan.    Tidur.    Awalnya sulit menetralkan kesadaran namun bunyi dengung pesawat yang monoton memudahkan saya memeti eskan fikiran maupun angan-angan yang berseliweran tak beraturan.     Tak terasa sayapun  terlena.     Goncangan agak keras disertai bunyi bising yang menggerit membuat aku terlonjak bangun.
“Makasar”, kata Widho memberitahu.     Makasar ?.      Apakah saya tidak salah dengar ?.

Pesawat telah berhenti sempurna.    Seorang petugas lewat sambil memberitahu dengan suara keras bahwa pesawat telah mendarat di lapangan terbang Mandai, Makasar, dan akan berhenti sekitar  satu jam.   Bagi yang akan beristirahat dipersilakan turun dan menuju ke ruang tunggu di bandara.   Dipersilakan pula membawa nasi dos yang dibagikan di pintu pesawat.     Terlihat kesibukan serentak dan suara bising orang banyak yang berdiri dan bergerak beriringan menuju ke pintu.    Seperti biasa saya lebih memilih turun di akhir setelah suasana sibuk mereda.    Dan orang yang berfikiran seperti aku pun ada pula.    Namun ketika saya sedang beranjak mau turun, Widho sudah kembali masuk ke pesawat.

“Penuh …”, katanya sambil menyeringai : “ tapi sempat cuci muka. Lumayan”.

“Oke… saya cuci muka saja kalau begitu.  Titip nasi dos, ya ..”, kataku lalu menuruni tangga pesawat dan membarengi orang orang yang keluar dari pesawat belakangan.     Sekembalinya ke pesawat saya dan Widho memilih makan sambil duduk di atas tumpukan barang yang ada di dekat pintu yang terbuka lebar.     Sambil makan kami bisa melihat-lihat suasana lapangan terbang yang tampak jelas di bawah terik sang surya siang hari.    Ketika orang-orang sudah berdatangan masuk ke dalam pesawat dan pintu mulai ditutup, saya dan Widho baru kembali ke tempat duduk semula.
“Kemana saja dik, kok tidak kelihatan tadi di ruang tunggu?”, tanya pak Dosen keheranan.
“Di sini saja kok, pak …. Ngobrol dengan awak pesawat …”.

“Oh … “, gumamnya sambil mengencangkan sabuk pengaman kemudian membuka buku kembali.

“Dunianya cuma buku … dan buku …”, hati kecilku berbisik yang membuat saya tersenyum sendiri.     Siang hari itu dilalui dengan sangat tenang.    Para penumpang sebagian besar tertidur, mungkin karena perasaan jemu, mungkin pula karena perut yang sudah terisi dan kenyang.  Pak Dosen di sebelahku pun tampak tidur dengan kaki lurus terjulur ke depan.  Kepalanya tertekuk ke kanan, sedangkan bukunya sudah dimasukkan ke dalam tas.    Saya dan Widho bercakap-cakap dengan suara berbisik saling membongkar kenangan ketika kami berdua mengikuti pendidikan di Pusat pendidikan PTT, Bandung.    Waktu tak terasa cepat berjalan sementara pembicaraan kami cukup mengasyikkan.    Tiba-tiba petugas datang lagi sambil mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di pelabuhan udara Sentani, Hollandia.    Semua yang tidur segera terjaga.    Saya dan Widho berpandang-pandangan sambil tersenyum lega.   Tidak lama lagi kami akan berpijak pada bumi Irian Barat yang dalam bulan-bulan terakhir ini menjadi tumpuan perhatian para sukarelawan.  Pengurangan ketinggian terbang pesawat telah terasa beberapa kali.    Seperti terbanting dua atau tiga detik di dalam ruang hampa.   Getaran dan lonjakan kecil menggoyang hati yang penasaran.  Dengung mesin pesawat terdengar mencekam.    Lalu roda pesawat Hercules terasa menyentuh landasan dengan goncangan kecil  dan getaran yang cukup keras.    Pesawat menderu dalam lonjakan-lonjakan menerabas landasan yang kasar, sampai akhirnya berhenti dan beberapa saat kemudian mesin pun mati.    Terdengar ucapan syukur bergumam dari mulut para penumpang.   Saya berdiri masuk dalam barisan yang akan keluar dari badan pesawat.    Tidak berapa lama kemudian di depan mata saya terbentang pemandangan alam yang terbuka dalam cuaca cukup cerah.   Pada kaki langit tampak perbukitan bagaikan semut beriring.    Di bawah ternyata tanah yang diratakan dan masih berumput, tidak berupa sebuah jalur pendaratan pesawat terbang yang beraspal keras dan rata.     Sebuah jalur pendaratan sederhana yang baru saja dibuka dan masih dalam keadaan darurat.

http://vahrur.blogdetik.com/files/2011/06/bebas.pngWidho menepuk pundak saya dari belakang sambil berkata: “Ayo, Jok … lekas turun”.   Saya segera melompat turun dari anak tangga.    Ketika kaki menjejak bumi Irian Barat untuk pertama kali, saya menghirup udara segar dalam satu tarikan panjang lalu menghembus-kannya pelan-pelan. Teman saya Widho Rahardjo terlihat bersujud mencium tanah.   Kemudian kami berdua masuk dalam iring-iringan penumpang lainnya meninggalkan pesawat menuju ke bandara yang tidak terlalu besar.    Perjalanan itu adalah kali kedua saya menumpang pesawat terbang dan kali pertama menumpang pesawat militer pengangkut barang semacam Hercules.     Di luar bandara sejumlah penduduk asli Irian bergerombol menyaksikan pendaratan pesawat Hercules yang besar itu dan kedatangan rombongan petugas dari Jakarta dalam jumlah yang cukup banyak.   Sebentar kemudian saya sudah berada dalam sebuah VW combi yang penuh penumpang dan bergerak meninggalkan bandara.   Iring-iringan mobil pengangkut penumpang melewati gerombol-gerombol kecil penduduk asli Irian di pinggir jalan yang memandang kami dengan wajah tanpa ekspresi. Meskipun demikian, saya melihat sejumlah bendera merah-putih berkibar disana-sini.     Rombongan membelok ke kiri meninggalkan jalan besar memasuki suatu wilayah yang dijaga oleh tentara dan berhenti di sebuah markas militer di bukit Ifar tidak jauh dari Sentani.    Ternyata kami akan bermalam di markas militer itu.    Pertemuan dengan anggota militer di sana membuat suasana menjadi sangat hangat dan akrab.    Mereka adalah sebagian dari prajurit TNI yang pernah diterjunkan di Irian Barat dan bergerilya di hutan, sebagian lagi seperti kami baru beberapa hari didatangkan dari Makassar.   Tidur dalam barak-barak militer, makan pun bersama mereka dengan menu sederhana tetapi tetap terasa nikmat.    Sejak keberangkatan dari Halim Perdana Kusumah Jakarta, kami diurus oleh KOTI.       Esok harinya kami diberangkatkan lagi menuju ke Hollandia kali ini sudah per departemen, artinya rombongan kami yang dari PTT dijemput dan diurus oleh perwakilan dari Departemen Perhubungan setempat.

http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/01/sentani1252812529.jpg?w=515&h=342

Mobil VW Combi yang saya tumpangi mulai bergerak meninggalkan asrama militer Ifar pada pukul sembilan pagi.    Cuaca sangat cerah.   Matahari bersinar di langit biru  dengan awan putih tipis  yang berarak di kejauhan.    Ketika sampai di jalan raya Sentani, mobil membelok ke kiri menuju ke Hollandia.   Belum jauh meninggalkan simpang jalan Ifar, pada sisi kanan jalan saya melihat sebuah danau sangat besar yang berair tenang.   Rumah-rumah penduduk berkelompok di sana-sini, pada tepi danau tersebut.   Pengantar kami mengatakan danau itu adalah Danau Sentani.    Saya tidak melihat banyak rumah berada pada kedua sisi jalan raya Sentani itu.    Yang tampak hanya tanah terbuka ditumbuhi pepohonan liar yang tidak tinggi dan gerumbul perdu.   Kemudian rumah-rumah penduduk mulai tampak lebih banyak dan  mobilpun memasuki sebuah kota kecil.   Bendera Merah-putih tampak dikibarkan di banyak rumah.   Saya melihat ada beberapa toko kecil yang tidak banyak dikunjungi pembeli, gereja yang cukup besar, dan gedung sekolah yang tidak sempat terbaca tingkat pendidikannya  kecuali nama daerahnya terbaca: Kotaraja,  Holandia Binnen.   Jalan mulai menanjak berliku-liku menelusuri pinggang bukit yang pada sisi kanan tampak terbentang laut di kejauhan.   Kemudian menurun lagi dan masih berliku-liku, akhirnya mobil memasuki sebuah kota yang agak besar dan ramai.   Awalnya kami melewati pintu masuk sebuah pelabuhan, lalu sebuah pompa bensin, kantor pos di samping sebuah jembatan dan pada ujung lain jembatan itu jalan besar sudah mulai bercabang-cabang dan lalu lintas semakin ramai pula. Gedung-gedung perkantoran berjajar di kedua sisi jalan besar walau tidak saling merapat satu dengan lainnya.

http://www.oocities.org/pvk_papua/Hollandia_Jayapura.jpg

http://luuk1945.files.wordpress.com/2011/02/haven46132_tn.jpg?w=448&h=300&h=334

Tulisan Holandia terbaca pada papan nama gedung-gedung kantor tersebut.   Mobil terus melintas lurus meninggalkan pusat kota Hollandia, mendaki lagi dan kembali menelusuri pinggang sebuah bukit yang pada sisi kiri mulai kelihatan rumah-rumah batu berjajar-jajar ke atas dihubungkan dengan jalan yang menanjak dan melingkar-lingkar.   Sedangkan pada sisi kanan terhampar laut luas yang memeluk ketat kaki bukit.     Akhirnya mobil membelok naik menelusuri sebuah jalan lebih sempit yang menuju ke jajaran rumah-rumah batu berukuran sedang, lalu berhenti di depan sebuah rumah.    Dari dalam rumah tersebut, dan rumah-rumah lain di dekatnya, bermunculan keluar orang-orang Indonesia dengan wajah-wajah gembira.  Mereka anggota CIB-PTT yang datang lebih dulu dan sudah bertugas di berbagai kantor PTT.  Setelah bersalam-salaman, diumumkanlah siapa menempati rumah mana dan masing-masing berpencar menuju ke rumah-rumah yang telah disediakan.

Rumah yang tercatat akan saya tinggali telah terlebih dulu dihuni oleh dua orang bapak yang tidak ikut keluar menyambut kedatangan kami.    Seorang dari Pos dan seorang lagi dari Kantor Telegrap dan Telex Jakarta.   Keduanya sudah cukup berumur.    Mereka menerima kehadiran saya dengan gembira dan menunjukkan kamar yang untuk saya.   Sepintas saya melihat rumah itu memiliki tiga kamar tidur, ruang keluarga, kamar tamu, dapur, satu kamar mandi dalam, dan sebuah gudang yang terpisah.    Pak Suwandi yang dari Kantor Telegrap dan Telex Jakarta banyak bertanya ketika tahu saya dari Setasiun Radio Margawarta, Jakarta.   Tubuhnya kurus namun kekar, jangkung dengan punggung agak sedikit membungkuk, rambut dicukur pendek, wajah tampan, hidung mancung, ramah dan berpenampilan percaya diri.    Jabatannya di Kantor Telegrap dan Telex Jakarta cukup tinggi.    Umur yang masih sangat muda membuat saya merasa agak kurang pas berada dalam satu rumah dengan mereka.    Saya pun teringat pada olok-olok Widho ketika tahu saya akan tinggal sekamar dengan pak Sudjananingrat dan pak Kasmiri di asrama CIB-PTT  Slipi, Jakarta.   Tatkala perasaan itu saya kemukakan secara hati-hati dan terbuka kepada pak Suwandi, diluar dugaan ternyata dia dapat memahami bahkan berjanji akan membantu menghubungi  petugas yang mengurusi penempatan rumah.

http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/01/irjadulu-789347.jpg?w=320&h=198Beberapa hari kemudian bertepatan dengan datangnya rombongan baru sukarelawan dari Jakarta, saya pindah ke rumah lain tidak jauh dari rumah yang semula saya tinggali itu.     Saya tinggal bersama teman-teman yang tidak begitu jauh selisih umurnya, meskipun saya masih tetap yang paling muda.     Karena saya datang lebih dulu, maka saya dapat memilih kamar dengan bebas.     Saya mengambil kamar yang di ujung belakang dari ruang keluarga.    Ada dua alasan mengapa saya memilih kamar tersebut.    Pertama, di dalam kamar tersebut telah tergeletak sebuah springbed tebal yang ditinggalkan oleh penghuni rumah itu sebelumnya.    Kedua, kalau saya membuka jendela kamar, maka saya bisa melihat laut lepas di kejauhan,  wilayah Dok-V bawah, dan jalan raya Hollandia – Base-G yang juga berada di bawah, karena rumah yang saya diami itu berada di bagian atas.      Ada sebuah cabang jalan dari jalan raya Hollandia – Base-G tersebut yang menanjak menuju ke wilayah perumahan di bagian atas.     Tepat di depan jendela kamar dan berada di seberang jalan raya adalah rumah yang didiami oleh pak Manuhuttu, Eddy Suhantoro Bc.TT dan Idris Bc.TT.     Dari atas saya dapat melihat atap rumah mereka dari jendela kamar.      Tinggal di Dok-V sangat menyenangkan, karena bertetangga dengan teman-teman sendiri  dari kontingen Telekomunikasi.     Biasanya kami bertemu dan berbincang-bincang ketika berbelanja di sebuah toko milik seorang Cina di pertigaan dekat kantor Telepon Dok-V.    Toko itu menjual kebutuhan sehari-hari.      Tetapi selain merupakan satu-satunya toko yang terdekat dan lengkap barang jualannya, ada daya penarik lain yang membuat toko itu selalu ramai oleh pembeli, maupun dijadikan tempat bertemu dan berbincang-bincang sesama teman.   Anak gadis pemilik toko yang melayani penjualan berwajah cantik lagipula ramah.     Ia tidak segan-segan meladeni senda-gurau pembeli dengan jawaban-jawaban yang berani pula.     Tentu hanya sebatas antara penjual dan pembeli saja namun mampu membuat suasana menjadi lebih akrab.

Penugasan saya yang pertama adalah di Setasiun Radio Penerima Base-G.    Jaraknya dari rumah kira-kira sejauh jarak ke Hollandia, hanya arahnya yang bertentangan.    Mobil dinas setelah mengambil saya lalu berturut-turut menjemput Widho Rahardjo dan Umar Siregar di rumah masing-masing.  Widho menyeringai ketika melihat saya ada di dalam mobil menuju ke tempat yang sama.    Umar Siregar baru berkenalan dengan kami ketika dia masuk ke dalam mobil.   Dia yang ditugasi sebagai Kepala Setasiun Radio Penerima Base-G dan telah datang di Hollandia lebih awal dari kami berdua.     Pandangan matanya tajam di bawah alis yang hitam tebal, kulit kuning bersih, rambut ikal di atas dahi yang lebar.
“ Ketemu dengan Calvyn Panjaitan ? Bagaimana kabarnya dia?”, tanya Umar ketika tahu saya dari Setasiun Radio Margawarta, Jakarta.

“Kabarnya baik … kerja sampingannya mencangkul di sawah”, jawab saya sambil tertawa dan Umar pun tertawa pula.

“Sudah menikah?”.

“Dia?.   Belum …”.

“Apa pula yang ditunggunya … keburu pecah nanti Perang Dunia”, kata Umar sambil menggeleng -gelengkan kepala.

Mobil melaju kencang pada jalan aspal yang berliku-liku menurun, melalui sebuah jembatan kecil kemudian menanjak melewati sebuah bangunan di sisi kiri jalan yang terlihat banyak terdapat polisi Irian Barat berkulit hitam legam dan berbaju seragam coklat.     Bendera Merahputih berkibar pada satu-satunya tiang bendera di depan bangunan.   Mobil kemudian membelok ke kanan memasuki lapangan antenna radio yang luas.   Di depan terlihat bangunan Setasiun Radio yang tidak begitu besar.    Beberapa rumah berbentuk gerbong beratap seng berdiri  di dekatnya.    Agak ke pinggir arah ke laut tampak tiga buah rumah batu berukuran sedang.     Setasiun Radio ini memang berada di atas sebuah bukit kecil yang kakinya langsung menghunjam ke laut.   Tanahnya tandus berbatu-batu.   Semak-semak rendah berkelompok-kelompok disana-sini.   Bukit ini disebut Base-G.   Sisi bukit yang berbatasan dengan laut cukup terjal dan ombak tidak henti-hentinya menggempur batu-batu besar di kaki bukit.    Namun pada sisi bukit yang lain tanahnya menurun landai dan bertemu dengan laut dalam hamparan pasir putih yang luas dan panjang.   Jauh ke arah laut lepas  terumbu-terumbu karang berserakan di bawah permukaan air yang jenih.     Ombak yang datang liar dari laut lepas dihadang, dihambat dan dipecah sehingga terberai menjadi barisan arus kecil yang membelai lembut hamparan pasir putih.     Di pantai ini, yang dikenal dengan nama Pantai Base-G, banyak dikunjungi orang untuk bersenang-senang memanjakan mata, bermain pasir atau menghambur ke air laut yang tidak dalam untuk berenang atau sekedar bermain saja.

http://farm5.staticflickr.com/4045/4557289926_e2a9197917_z.jpg

Ketika mobil telah berhenti di depan pintu Setasiun Radio, kami bertiga turun dan sopir berpamitan kembali ke Hollandia.    Seorang petugas asli Irian keluar dari dalam gedung Setasiun Radio dengan tersenyum lebar.   Bibirnya yang hitam tampak memerah.   Ia mengunyah sirih.     Umar Siregar menyapa dengan ramah lalu memperkenalkan kami berdua kepadanya.

“Baru datang dari Jakarta, ka ?”, tanyanya dengan raut muka agak tersipu-sipu.

“Ya … kemarin”, jawab Widho pendek.

“O … selamat pae tua, selamat  …”, katanya kembali kemudian pergi meninggalkan kami menuju ke salah satu bangunan gerbong beratap seng.

“Pesuruh di sini”, kata Umar Siregar memberi tahu kemudian mengajak kami masuk ke dalam.   Setasiun Radio itu terdiri dari tiga ruang.    Pada salah satu ujung adalah ruang kerja Kepala Setasiun, disampingnya ruang kerja Schipdienst dengan seseorang masih tampak sibuk melayani pesawat, dan satu lagi di ujung yang lain dan yang lebih luas ukurannya adalah ruang bedrijf Setasiun Radio.  Sejumlah pesawat radio penerima dan perlengkapannya berdiri berjajar dengan rapi.  Kabel-kabel tertata apik pada raknya.   Ruangannya bersih dan sejuk, meskipun di luar udara panas cukup menyengat.  Petugas Schipdienst mengakhiri ketokannya pada kunci morse lalu berdiri dan menyalami kami.   Dia dari Dinas Setasiun Pantai Jakarta, seorang pemuda Tapanuli yang bertubuh pendek seperti saya tetapi gempal, dan  baru saja menyelesaikan dinas malam menunggu penggantinya tiba.     Sebuah minibus VW datang menurunkan seorang Belanda muda yang jangkung mengenakan baju pendek kotak-kotak dan bercelana  pendek juga. Di samping sopir duduk  seorang perempuan Belanda muda yang cantik berkacamata hitam.   Rambut pirangnya dibiarkan tergerai hingga ke bahu.   Ia tersenyum manis kepada kami semua.  Pemuda Tapanuli itu bergegas menuju ke mobil dan masuk ke dalamnya setelah berpamitan pada kami semua.   Sopir menjalankan mobil lagi dan minibus VW itu memutar balik meninggalkan Setasiun Radio.    Belanda yang baru masuk itu menyalami kami semua dengan senyum ramah namun tidak banyak berbicara.   Dia terus duduk pada kursi kerjanya, menyambar kop telepon lalu memutar-mutar tombol penala mencari frekwensi tertentu dan tangannya sibuk bermain pada kunci morse dengan cekatan.  Umar membawa kami berkeliling dan menjelaskan mengenai operasional dari Setasiun Radio Penerima Base-G.   Saya cepat menamahami karena tidak beda dengan ketika di Setasiun Radio Penerima Margawarta, Jakarta, dan Widho pun cepat memahami pula berdasarkan pengalamannya sendiri.    Sebelum masuk ke kamar kerjanya, Umar Siregar memberitahu bahwa orang Belanda petugas Schipdienst itu beberapa hari lagi akan pulang ke negerinya, sementara itu penggantinya didatangkan dari Biak dan akan segera tiba.

http://farm4.static.flickr.com/3190/3031891350_efd1b1b873.jpg

Saya hanya 1 minggu bertugas di Setasiun Radio Penerima Base-G, ketika menerima pemberitahuan alih tugas ke Setasiun Radio Pemancar Skyline.  Keesokan harinya mobil dinas yang menjemput saya bergerak kearah Hollandia setelah sebelumnya menjemput Aan Djadja, Abdurrachman dan Riswandi Bc.TT dari rumah masing-masing.  Riswandi sudah sekitar duapuluh hari tiba lebih dulu di Hollandia.    Ia ditugaskan di Setasiun Radio Pemancar Skyline sebagai Wakil Kepala Setasiun Radio.    Hollandia hanya kami lewati karena mobil terus melaju ke arah Hollandia Binnen.   Rute itu pernah saya lewati dalam arah berlawanan ketika baru tiba dari Jakarta dan meninggalkan asrama militer Bukit Ifar menuju ke Hollandia.   Setelah menaiki bukit Hamadi mobil menelusuri pinggang bukit yang pada sisi kiri terdapat jurang dalam dipenuhi pepohonan lebat, sedangkan pada sisi kanan terdapat hutan belantara bercampur dengan kebun-kebun penduduk.    Akhirnya sebuah teluk yang tenang dan indah terlihat dari atas jalan raya.   Setelah dua atau tiga kelokan lagi, mobil berbelok ke kanan memasuki sebuah jalan sempit yang aspalnya sudah terkelupas di banyak bagian.   Jalan sempit itu menanjak naik dan pada kedua sisi hanya terlihat kuningnya padang ilalang yang lebat.  Beberapa pohon yang tidak besar tumbuh jarang di tengah kerumunan ilalang.    Ketika mobil sampai di atas bukit, bentangan kawat antenna sudah mulai tampak meliputi suatu area yang luas.   Tiang-tiang antenna dan feeder berbaris tegak di atas tanah gersang.   Jalan sudah mulai mendatar.   Sebuah rumah yang ketiga sisi bagian depannya terdiri dari kaca merupakan rumah pertama yang kami temui dinaungi oleh beberapa pohon cemara yang besar.    Kemudian sejumlah rumah tinggal permanen dalam ukuran sedang terlihat berjajar dalam jarak yang lebar dan berujung pada sebuah rumah tinggal yang lebih besar dan cukup bagus.

Mobil melewati rumah-rumah itu dan memasuki halaman gedung Setasiun Radio yang besar dan berhenti di depan pintu.   Kami bertiga turun lalu masuk ke dalam.   Beberapa orang Irian tampak berada di dalam ruang bedrijf mengamati kedatangan kami.    Di depan pintu kantor Kepala Setasiun Radio kami berpapasan dengan seorang Belanda yang baru saja keluar dari ruangan di depannya.  Ia memperhatikan kami sejenak sebelum Riswandi memperkenalkan Abdurrachman dan saya.  Badannya tidak begitu jangkung, tetapi cukup atletis.    Wajahnya tampan dengan sebuah kumis tipis yang terawat rapi.   Kulitnya tidak terlalu putih  melainkan coklat kemerahan.   Bola matanya biru bening.   Rambut jagungnya tipis agak ikal.   Mengenakan baju pendek putih dan celana pendek coklat. Tangan kirinya memegang sebuah lampu pemancar yang baru saja diambilnya dari lemari penyimpan.    Dengan tersenyum dia mengacungkan tangan kanannya untuk bersalaman.   Saya mendengar dia menyebut namanya: “ Mosz … J Mosz …”.

http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/01/patung-asmat2.jpg?w=176&h=557http://www.janesoceania.com/oceania_arts1/art19.jpg

—000—

Image Properties:

1.    http://sentanilakefestival.com/documents/logoFDS.gif

2.  http://palembang.tribunnews.com/foto/berita/2011/6/12/HERCULES.JPG

 3.  http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/01/aromakopi.jpg?w=205&h=281

 4.   http://vahrur.blogdetik.com/files/2011/06/bebas.png

 5. http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/01/sentani1252812529.jpg?w=515&h=342

 6.  http://www.oocities.org/pvk_papua/Hollandia_Jayapura.jpg

 7.   http://luuk1945.files.wordpress.com/2011/02/haven46132_tn.jpg?w=448&h=300&h=334

8.  http://farm5.staticflickr.com/4045/4557289926_e2a9197917_z.jpg

 9.  http://3.bp.blogspot.com/_fHBLjjHmCzY/S52XtYbGSfI/AAAAAAAAAVg/DNtoBDQREy0/s320/irjadulu

10.  http://farm4.static.flickr.com/3190/3031891350_efd1b1b873.jpg

 11.  http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/01/klv001012701.jpg

12.   http://rubijanto.files.wordpress.com/2012/01/patung-asmat2.jpg?w=176&h=557

13.   http://www.janesoceania.com/oceania_arts1/art19.jpg

SUKARNO – SUKARNI – SUPENI

SUKARNO – SUKARNI – SUPENI

http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/12/basuki252babdullah252b-252bdr_ir_sukarno.jpg?w=295&h=307

Ketiga nama itu pernah menjadi pemimpin bangsa kita.    Putra Jawa Timur yang di usia masih remaja sudah bergiat dalam organisasi kepemudaan untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsanya.    Saya tidak akan banyak berkisah tentang Sukarno, karena tokoh ini bagaikan sebuah bintang yang bersinar terang benderang di persada Nusantara, telah sangat dikenal oleh seluruh rakyat Indonesia.   http://tempatsejarah.files.wordpress.com/2011/01/adam-malik1.jpg?w=145&h=185Apakah anda masih ingat dengan dua nama yang lainnya itu ?.    Saya mulai dari Sukarni dan mencuplikkan pandangan dari Adam Malik sebagai berikut:  ” Sukarni lahir sebagai agitator.  Perbedaan antara Sukarni dan Bung Karno, menurut penglihatan saya hanyalah soal graduil.   Nama mereka pun hampir sama, nama yang satu berakhir dengan huruf hidup O sedangkan yang lain berakhir dengan huruf hidup I.   Antara Sukarno dan Sukarni terdapat perbedaan umur hampir sepuluh tahun, tapi keduanya sama-sama kelahiran Blitar.   Sukarno adalah seorang yang radikal,  Sukarni pun tak kurang radikalnya.   Sukarno adalah seorang orator, dan dengan ini ia hendak mencapai tujuannya.   Kedua-duanya mempunya tujuan dan sasaran yang sama, akan tetapi mempunyai perbedaan dalam cara dan metode mencapainya, dan karena itu pada hubungan mereka tersulam warna mencintai dan membenci….”.

http://belajar.kemdiknas.go.id/file_storage/materi_pokok/MP_293/Image/SEJ05%20Sukarni.jpgSukarni cucu dari Eyang Onggo, juru masak Pangeran Diponegoro, yang mengikuti jejak sang Pangeran tersingkir dari dalam keraton lalu menetap di tanah perdikan  Malanjiwan pada kaki gunung Merapi, di perbatasan antara Solo dan Yogyakarta.  Anak Eyang Onggo yang bernama Dimun merasa tidak betah hidup di tanah perdikan itu kemudian minta ijin untuk merantau ke Ponorogo, Jawa Timur.    Dimun tinggal dan berguru pada Eyang Mangku, menempa dirinya menjadi seorang warok Ponorogo.   Atas petuah Eyang Mangku agar Dimun ngetan untuk bisa    hidup lebih baik, pergilah Dimun meninggalkan Ponorogo ke arah Timur berpetualang sebagai seorang warok.    Di Blitar dia bertemu dan menikah dengan seorang gadis dari Kediri bernama Sopiah.    Mereka menetap di desa Sumberduren, kecamatan Garum.   Dimun merubah namanya menjadi  Kartodiwirjo dan mulai berusaha jual-beli sapi akhirnya menjadi jagal.   Kehidupan Kartodiwirjo termasuk baik, mampu memiliki rumah yang besar dengan pekarangan luas, sawah, ladang, dan sebuah dokar untuk digunakan mengantar anak-anaknya bersekolah di kota Blitar.    Sukarni adalah anak keempat dari 9 orang anak Kartodiwirjo, yang semuanya memperoleh http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/12/img_1318.jpg?w=204&h=156gemblengan langsung dari ayahnya secara keras.   Warok Kartodiwirjo mengarahkan anak-anaknya untuk mengejar ilmu, bukan kekayaan.   Sukarni tumbuh menjadi anak pintar dan pemberani karena itu memperoleh perhatian yang lebih dari ibunya.    Ketika menuntut ilmu di Mardisiswo, Sukarni memperoleh tempaan semangat nasionalisme dari Moh. Anwar, seorang nasionalis dari Banyumas.   Sukarni sering berkelahi dengan anak-anak Belanda dan berkejar-kejaran dokar dengan mereka.   Ia belajar silat pada perkumpulan silat ”Setia Hati”.   Ketika duduk di MULO, Sukarni mengorganisir teman-temannya sebanyak hampir 50 orang, sebagian didatangkan dari Malang, untuk mendatangi anak-anak Belanda yang berada di kebun raya Blitar dan terjadilah perkelahian masal, sampai akhirnya dibubarkan oleh polisi Belanda.

http://static.republika.co.id/uploads/images/headline/ilustrasi_mata_mata_100804202223.jpg

Di Garum Sukarni mendirikan perkumpulan Persatuan Pemuda Kita, dan  menjadi ketua Indonesia Muda cabang Blitar.    Kegiatannya selama memimpin Indonesia Muda cabang Blitar mulai menjadi incaran PID (polisi rahasia Belanda).   Ketika dia sedang berpidato di sebuah rapat umum, polisi memaksanya turun dari podium, lalu dikenai spreekdelict.   Ia diinterogasi secara keras oleh Residen Blitar, Van der Plas.   Residen memerintahkan direktur sekolah MULO untuk menyuruh Sukarni memilih  sekolah atau organisasi.    Direktur MULO yang bersimpati pada sepak-terjang Sukarni di dalam organisasi memberinya kesempatan menempuh ujian khusus sehingga dapat lulus dan memperoleh ijazah.    Lepas dari MULO, Sukarni melanjutkan pendidikan di Yogyakarta, kemudian di Jakarta ke sekolah guru.     Bu Wardoyo, kakak http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/uploaded_files/jpg/election/directory/political_party/thumb/thumblogo_Murba.jpgkandung Bung Karno, membantunya menuntut ilmu jurnalistik  di Bandung, dimana dia bisa bertemu dan dekat dengan Bung Karno, tokoh yang sudah didengar dan dikaguminya.    Ia mengikuti kursus kader politik pimpinan Bung Karno, bersama dengan Asmara Hadi, Wikana, dan Trimurti.  Sambil sekolah, Sukarni terus bergerak di dalam Indonesia Muda dan diuber oleh PID.   Ia berpindah-pindah tempat dan akhirnya ke Jakarta lagi.    Belanda membubarkan Indonesia Muda dan menangkapi para pemimpinnya.    Sukarni berhasil lolos dan kembali ke Jawa Timur, bersembunyi di pesantren dengan berpndah-pindah tempat menghindari Belanda yang akan menangkapnya.     Setelah beberapa lama di Jawa Timur,  Sukarni kembali lagi ke Jakarta naik perahu dari Kalimas, Surabaya.    Sambil menyamar dia hidup di Jakarta, kemudian melalui pertolongan juragan perahu Bugis, Sukarni berlayar ke  Kalimantan.   Di Banjarmasin Sukarni menyamar sebagai penjual soto, kemudian berhasil diterima bekerja pada Dinas Topografi pemerintah Hindia Belanda tetapi justru karena itulah pemerintah cepat mengetahui bahwa pegawai baru itu adalah tokoh yang dicari PID.     Sukarni ditangkap lalu dibawa ke Jakarta dan ditahan di Seksi III Kepolisian Kebayoran Baru, namun memperoleh perlakuan istimewa sampai akhirnya dibebaskan lagi dan tinggal bersama teman-temannya keluarga Kantor Berita Nasional Antara.     Riwayat Sukarni di atas tidak jauh beda dengan Sukarno, kecuali bahwa ia lebih beruntung berasal dari keluarga berada dibanding dengan Sukarno.   Dia tidak menjalin hubungan dengan nonik-nonik Belanda  dan tidak mereguk pendidikan tinggi sebagaimana halnya Bung Karno.    Pada tanggal 15 Agustus 1945 Sukarni mengusulkan agar Pemuda membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok yang diharapkan akan memproklamasikan kemerdekaan di sana, sementara angkatan muda Jakarta akan melakukan perebutan kekuasaan di Jakarta.    Sukarni juga terlibat dalam penyusunan naskah proklamasi kemerdekaan bersama Bung Karno, Bung Hatta, Achmad Subardjo dan Sayuti Melik.   Namun ia dan teman-temannya tidak hadir ketika Bung Karno membacakan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00.    Sementara Bung Karno memimpin kabinet presidensiil yang pertama, Sukarni dan kawan-kawannya sibuk menduduki kantor-kantor pemerintahan dan melucuti senjata penjaga Jepang, kemudian menggerakkan rapat umum di lapangan Ikada dimana presiden Sukarno mengucapkan pidato singkatnya.   Ia kemudian berseberangan dengan Mohamad Hatta, Sutan Syahrir dan juga Sukarno karena menentang perundingan dengan Belanda.    Sukarni bergabung dengan Tan Malaka menggerakkan oposisi dan pernah ditahan oleh pemerintah Sutan Syahrir tetapi diberi grasi oleh presiden Sukarno.    Ia mendirikan Partai MURBA dan menjadi anggota Parlemen yang kritis.    Ketika presiden Sukarno membutuhkan senjata dari Uni Soviet dan blok sosialis lainnya, Sukarni diangkat sebagai Duta Besar di RRC dan Adam Malik di Soviet Uni.   Perseteruan antara MURBA dengan PKI menyebabkan pemerintah membubarkan MURBA dan Sukarni dimasukkan dalam penjara sampai akhirnya dibebaskan oleh pemerintah Orde Baru yang dipimpin oleh Jenderal Suharto.

http://www.tokoh-indonesia.com/ensiklopedi/s/supeni/supeni3.jpgSupeni yang lahir di Tuban menuntut ilmu di HIK Blitar tatkala Sukarni di MULO.   Kedua gedung sekolah itu berhadap-hadapan dalam satu halaman.    Mereka bertemu dan menjalin persahabatan pada usia sebaya sekitar 14 – 15 tahun, apalagi sama-sama aktif di Indonesia Muda.    Supeni menjadi Ketua Keputrian IM merangkap Wakil Ketua IM, sedangkan Sukarni menjadi Ketua IM.    Keduanya juga sama-sama dipecat dari sekolah karena kegiatannya di IM.    Ketika Sukarni ke Bandung dan bertemu dengan Sukarno, Supeni ke Solo meneruskan di HIK Muhammadiyah.   Keakraban mereka membuat Supeni memahami benar sifat Sukarni yang menurutnya okol (ngotot) dan suka memaksakan kehendak.   Dalam kongres IM di Surabaya, Supeni mendukung usulan Sukarni agar IM merakyat, membuka diri menerima sebagai anggota dari seluruh lapisan masyarakat.    Kongres menyetujui usulan itu.   ”Lha, itu jagoannya, ya, Karni”, kata Supeni.    Kalau mereka kekurangan uang, bersama-sama pergi ke Ibu Wardoyo, kakak Bung Karno, untuk minta bantuan.   Supeni sudah akrab dengan keluarga Sukarno sejak kecil.    ”Sukarno sudah melihat saya sejak saya muda, jadi sudah pahamlah tentang orang yang namanya Supeni itu”,  jelas Supeni ketika banyak orang bertanya-tanya tentang hubungannya dengan presiden Sukarno.   http://www.sukarnoyears.com/Photos/album/1970/1970IbuInggitWardoyo400.jpgBagi Sukarni dan Supeni, bu Wardoyo sudah sebagai ibunya sendiri.   Supeni pernah ditengok Sukarni ketika di Solo hanya sekedar ingin tahu keadaannya saja.     Lama kemudian barulah Supeni ganti menengok Sukarni di Jakarta.  Ketika itu Sukarni sudah bekerja di Sendenbu (kantor penerangan Jepang), sudah berkeluarga dan memiliki anak satu.       Waktu mengikuti Tan Malaka pada tahun 1946 dan berpidato di Madiun,  Sukarni menyempatkan diri berkunjung ke rumah Supeni yang waktu itu tinggal di kota itu.   Mereka membicarakan situasi politik di tanah air.   Sukarni mengatakan tidak-puas dengan Bung Karno yang mengangkat Sutan Syahrir kembali sebagai Perdana Menteri.    Supeni memarahi Sukarni dan mengingatkan agar tidak bertindak grusa-grusu  jangan selalu mengandalkan okol , mbok ya jangan begitu, agak diatur dululah, kan baru permulaan revolusi ……

Nggak yu, er op of er onder, up and down”, tukas Sukarni seperti biasanya.
”Mengapa kau dulu memilih Bung Karno?.   Mengapa dulu bukan kau sendiri yang jadi presiden supaya nggak repot!”, ujar Supeni lebih keras.    Setelah Sukarni pulang, esok harinya Supeni mendengar kabar bahwa pasukan Sumarsono dari kelompok Syahrir telah menawan Tan Malaka dan rombongannya, termasuk Sukarni.    Selama Sukarni di penjara, kebetulan Supeni pindah ke Yogjakarta dan bertetangga dengan keluarga Sukarni.   Ia sering menengok isteri dan http://nasionalisrakyatmerdeka.files.wordpress.com/2011/08/vlcsnap-2011-08-16-21h11m30s2271.png?w=219&h=164anak-anak Sukarni.    Persaudaraan kami adalah persaudaraan perjuangan, kata Supeni, tiap kali bertemu, berdialog, bertengkar, berpisah, dan bertemu lagi.   Menurut Supeni yang aktif di PNI, falsafah perjuangan Sukarni adalah ”Timbul atau tenggelam”.  Alternatif tengah tidak ada bagi Sukarni.   Menghadapi Belanda, nonkoperatif.   Kalau Sukarno mengangkat Sukarni sebagai Duta Besar di RRC,  Supeni diangkat sebagai Duta Besar Keliling.   Dalam kedudukannya itu, Supeni pernah menengok Sukarni di Peking.    Terakhir Supeni bertemu Sukarni justru ketika mengantarkan jenazah Bung Karno dan upacara pemakaman di Blitar.     Dalam pertemuan itu, sambil berbisik Supeni memarahinya karena bersama sembilan tokoh partai politik lain, Sukarni menyetujui pemakaman Bung Karno di Blitar dan tidak sebagaimana permintaan keluarga maupun keinginan Bung Karno sendiri untuk dimakamkan di bawah sebuah pohon beringin di Istana Bogor.     Tidak lama setelah itu Sukarni pun menyusul Sukarno, meninggal dunia pula ……

http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/12/800px-makam_soekarno.jpg?w=540&h=372

(djoko.R – pembela)

Image Properties:

1.   http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/12/basuki252babdullah252b-252bdr_ir_sukarno.jpg?w=295&h=307

2.  http://tempatsejarah.files.wordpress.com/2011/01/adam-malik1.jpg?w=145&h=185

3.    http://belajar.kemdiknas.go.id/file_storage/materi_pokok/MP_293/Image/SEJ05%20Sukarni.jpg

4.  http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/12/img_1318.jpg?w=204&h=156

5.   http://static.republika.co.id/uploads/images/headline/ilustrasi_mata_mata_100804202223.jpg

6.   http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/uploaded_files/jpg/election/directory/political_party/thumb/thumblogo_Murba.jpg

7.    http://www.tokoh-indonesia.com/ensiklopedi/s/supeni/supeni3.jpg

8.    http://www.sukarnoyears.com/Photos/album/1970/1970IbuInggitWardoyo400.jpg

9.  http://nasionalisrakyatmerdeka.files.wordpress.com/2011/08/vlcsnap-2011-08-16-21h11m30s2271.png?w=219&h=164

10.    http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/12/800px-makam_soekarno.jpg?w=540&h=372

KE HOLLANDIA

CIB – PTT

(6)  KE  HOLLANDIA

http://farm4.static.flickr.com/3661/3366835387_d8e313a1f6.jpg

Hampir semua penumpang kapal ADRI bertampik sorak tatkala pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, sudah tampak dari kejauhan.    Kapal kami semakin mendekat dan semakin mendekat.    Pelabuhan yang luas itu dikunjungi oleh banyak kapal dagang dan puluhan perahu nelayan.    Beberapa sedang merayap masuk dan ada pula yang sedang keluar meninggalkan Tanjung Perak.       Sesuai dengan namanya, Tanjung Perak, air laut yang beriak kecil berbendar-bendar terkena sinar mentari bagaikan berjuta keping perak yang terserak-serak.     Gedung-gedung di pelabuhan dan di kota bagaikan kotak-kotak kayu yang tegak kaku.    Terdengar sebuah seruan dan sebentar kemudian awak kapal sibuk menurunkan jangkar.     Ternyata kapal tidak langsung merapat ke dermaga pelabuhan Tanjung Perak.     Seharian itu kapal belum juga mengangkat sauh, dan kami mengisi waktu dengan mempersiapkan barang bawaan masing-masing.    Malam pun tiba namun kapal belum juga diijinkan untuk memasuki pelabuhan.    Malam itu terasa menjemukan.   Sangat menjemukan.      Surabaya sudah di depan mata, dan kami harus bermalam lagi di atas kapal di luar pelabuhan Tanjung Perak.       Keesokan harinya suasana kian terasa gerah.    Sengatan sinar matahari yang dalam dua hari sebelumnya dirasakan nikmat, pada hari itu malah menyulut kekesalan sampai ke ujung rambut.    Panas cuaca di luar, panas pula hati di dalam.      Angin laut yang membelai lembut tak mampu membuat kesal hati menyurut.     Geladak kapal  dipenuhi wajah-wajah cemberut.     Wajah-wajah yang murung.

http://cache.virtualtourist.com/4/4527695-Madura_strait_view_from_Tanjung_Perak_Port_East_Java_Province.jpg

Matahari telah tergelincir ke Barat ketika terdengar lagi seruan-seruan dan kesibukan awak kapal melaksanakan perintah.     Sauh ditarik ke atas dan  sorak-soraipun kembali membahana mengiringi jangkar kembali ke sangkar.    Kapal bergoyang kecil,   gemuruh bunyi mesin kapal menyentak gaduh dan kapalpun merayap pelan memasuki Tanjung Perak untuk berlabuh dan kembali membuang sauh.     Serentak kami menyambar barang-barang bawaan yang telah dipersiapkan.     Tangga telah diturunkan dan ditambat.    Kami mulai bergerak  karena tentara-tentara itu terikat dengan disiplin dalam aturan-aturan mempersiapkan diri turun ke darat.    Ketika saya menuruni tangga teman-teman yang telah lebih dulu menginjakkan kaki di dermaga disambut oleh petugas Daerah Telekomunikasi Jawa Timur.     Tidak lama kami berada di dermaga, kemudian bersama-sama menuju ke bis yang telah menunggu di pelataran parkir.    Sebentar kemudian bis bergerak keluar dari pelabuhan Tanjung Perak menuju ke kota Surabaya.     Ini kali yang kedua saya berada di kota Pahlawan.     Apakah akan menuju ke Hotel yang sama lagi seperti waktu yang pertama kali ?.     Ketika dari jendela bis saya melihat rel kereta-api berlajur-lajur di sebuah setasiun, saya teringat perjalanan dengan kereta-api dari Jakarta ke Surabaya bersama Abdurrachman tiga bulan yang lalu.     Abdurrachman tidak berada bersama kami di dalam bis ini.  Ia telah lebih dulu pulang ke Jakarta naik pesawat terbang dari Makasar bersama-sama dengan beberapa pimpinan teras CIB-PTT sehari sebelum kami berlayar meninggalkan Makasar.    Kilas balik ingatan itu terhenti tatkala saya menyadari bahwa bis ternyata memasuki setasiun kereta-api.     Petugas penjemput dan pengantar dari Daerah Telekomunikasi Jawa Timur mempersilakan kami semua turun karena akan beristirahat barang sejenak di ruang tunggu setasiun sambil menunggu kereta-api malam yang akan menuju ke Bandung.    Saya tersentak mendengar nama kota Bandung disebutkan. Ada terbersit perasaan gembira tiada terkira.    Maka waktu menunggu itupun terasa cukup lama, meskipun dapat  beristirahat dengan cukup.      Malam itu saya tertidur nyenyak sekali di dalam gerbong kereta-api malam yang menuju ke Bandung.

Keesokan harinya saya dan teman-teman sudah menjejakkan kaki kembali di kota Bandung.    Dari setasiun besar Bandung kami dijemput dan diantar ke asrama Palasari oleh petugas dari Kantor Pusat.    Selanjutnya pengurus  asrama  yang melayani kami dengan baik.    Selama tiga sampai empat hari kami seakan-akan sengaja dibiarkan menikmati istirahat penuh selama di Bandung.     Hanya sekali dua kali saja ada pejabat dari Kantor Pusat datang menjenguk dan berbincang-bincang dengan anggota CIB-PTT yang kebetulan sedang berada di asrama.      Akhirnya  kami  diberangkatkan lagi ke Jakarta naik kereta-api pagi.     Sampai di setasiun Gambir, Jakarta, sebuah bis sudah menunggu dan segera melaju membawa kami menelusuri jalan-jalan besar yang padat dengan kendaraan bermotor dan orang berlalu-lalang.

http://farm4.static.flickr.com/3089/2632724107_513f1a622e.jpg

Bis sampai di daerah Slipi, kemudian berbelok memasuki sebuah lahan terbuka yang pada sisi kanan dan kiri telah berdiri dua bangunan berisikan kamar-kamar bertolak belakang yang berderet membujur pada sisi panjang lahan.      Di ujung sisi lebar lahan  bagian belakang terdapat bangunan lain yang terpisah, sebuah bangsal yang menghadap ke lahan terbuka dan juga ke jalan raya.    Tidak tampak sebatang pohonpun pada lahan terbuka itu.   Kering dan gersang.    Tanahnya berwarna  merah kecoklatan  dan tidak ditumbuhi rumput.   Dari penjelasan petugas penjemput, pada lahan tersebut akan dibangun Gedung Biro Daerah Telekomunikasi Jakarta Raya yang baru, sebab yang di Gambir masih menumpang pada Kantor Telepon Gambir.    Apakah bangunan permanen yang panjang berkamar-kamar itu sifatnya sementara untuk digunakan sebagai markas bagi CIB-PTT, saya tidak menanyakan lebih lanjut.          Sebagian dari kamar-kamar di kedua bangunan itu sudah ada yang menempati.     Mereka melihat kedatangan kami dari tempat mereka duduk-duduk di teras kamar.    Sejumlah orang datang mendekat ketika kami turun keluar dari dalam bis.

“Selamat datang di Markas CIB-PTT Slipi”, saya dengar seseorang berkata dengan suara lantang : “Silakan ke ruang makan dahulu semuanya”, lanjutnya sambil menunjuk ke arah bangunan yang di belakang.     Kami segera menuju ke tempat yang disebut ruang-makan itu, dan menduduki kursi-kursi yang kosong.   Suasana agak gaduh sebentar oleh bunyi kursi ditarik, langkah sepatu dan barang bawaan diletakkan di lantai.     Kemudian Pengurus yang tadi mengucapkan selamat datang memberitahu bahwa kamar untuk kami  sudah ditentukan dan kami dapat langsung menempatinya.

“Gedung di sebelah kiri saya ini, Gedung A, dan yang di sebelah kanan Gedung B.   Nomor kamar sudah tertulis di atas pintu, sedangkan kunci kamar akan dibagikan.   Yang saya sebut namanya agar datang kesini untuk mengambil kunci kamar”.

Dia membaca sebuah daftar kemudian menyebut dua nama, gedung dan nomor kamarnya.    Yang disebut namanya, salah seorang atau kedua-duanya, segera beranjak untuk menerima kunci kamar, lalu mengambil barang bawaan dan pergi keluar menuju ke gedung dan kamar yang diperuntukkan mereka.      Nama saya tidak disebut sampai dia selesai membacakan daftar itu.     Sementara saya masih menunggu, Widho Rahardjo berteriak dari ambang pintu.

“Djok … dapat kamar nomor berapa?”.

“Belum ….”, sahutku sambil berdiri mendatangi orang yang membacakan daftar pembagian kamar.

“Saya belum dipanggil, pak”.

“Belum?.   Namanya siapa?”.

“Djaka Rubijanto”.

“Sebentar saya lihat dulu …. Djaka ….. Djaka Rubijanto?”.

“Benar”.

“O … ya, terlewat … adik sekamar dengan pak Sudjananingrat dan pak Kasmiri, gedung A nomor 1”.

“Siapa mereka ?.   Saya belum kenal”, kataku sedikit memprotes.

“Pak Sudjananingrat dan pak Kasmiri dari Kantor Pusat Bandung”.

“Bertiga?”.

“Kamarnya besar, cukup untuk bertiga”.

Saya mendengar Widho tertawa.   Dia masih di ambang pintu.

“Ini tidak benar, semua berdua kok saya harus bertiga”, kataku dengan suara sedikit keras.

“Pak Sudjana dan pak Kasmiri sendiri yang menghendaki”, jelasnya dengan suara lunak.

“Tetapi ini tidak benar.   Apa sudah tidak ada lagi kamar lain?”.

“Ada … tapi ….”, jawabnya ragu-ragu.

“Masih ada kan … itu saja buat saya”, kataku mantap.

“Boleh …  boleh, tapi ….”.

“Kamar nomor berapa?”, kataku mendesak.    Dia menyebut nama blok dan nomor kamar.    Saya segera meminta kunci lalu meninggalkannya sambil menyandangkan ransel pada punggung.

“Kau sendirian di kamar itu?”, tanya Widho ketika aku sampai di ambang pintu.

”Ya, mungkin …”.

“Pak …. kamar yang untuk Djoko bisa buat berdua?”, teriak Widho kepada pengurus.

“Semua kamar dapat untuk berdua”.

“Kalau begitu saya dengan Djoko di kamar itu”, kata Widho kembali kemudian menarik tanganku meninggalkan ambang pintu.   Pengurus berlari menyusul.

Sambil berjalan Widho berkata: “Kalau kamu tidak ganti kamar, tiap hari kamu yang akan membersihkan kamar.   Mereka orang Kantor Pusat dan lebih tua lagi umurnya, mana mereka mau …”.      Saya tertawa kecil mendengarnya.

“Dik …. kamar itu …. e-e-e ….”, bisik Pengurus setelah berada di samping kami.

“Kamar itu kan, … pak?”, kata saya sambil menunjuk ke arah sebuah kamar  setelah menghitung mundur nomor kamar dari ujung blok terdekat.

“Ya … benar …”.

“Baik, kami langsung ke sana”, kataku sambil menyelidik dari jauh ke arah bagian bangunan tempat kamar itu berada.   Terpisah dengan sebuah gang dari bagian lain  bangunan itu.    Ada dua buah gang semacam itu yang memisah sekelompok kamar dengan kelompok kamar lainnya.      Saya memperkirakan gang itu merupakan jalan menuju ke kamar mandi.    Kamar yang akan saya tempati berada pada kelompok kamar yang paling dekat dengan ruang-makan.    Semua kamar pada kelompok itu tertutup pintunya dan saya tidak melihat seorangpun di sana.

“Maaf, dik …. kamar itu …. ada penghuninya”, kata Pengurus masih dengan suara lunak.

“Lho, bapak ini bagaimana …”, seru Widho: “Kamar sudah ada yang menempati kok diberikan kepada kami …”.

“Maksud saya …. tidak ada orang yang mau menempati kamar itu …. ada penghuninya”.

Saya dan Widho terkejut dan berhenti melangkah.   Kami berpandang-pandangan.

“Maksud bapak …. “, kataku dengan suara pelan hampir tak terdengar.

“Ya … tidak ada yang berani menempati blok itu …”, jelas Pengurus tegas.

“Wah  … tidak jadi kalau begitu”, kata Widho sambil menyeringai: ”Lebih baik kamu kembali bertiga di kamar yang tadi”.

“Kembali untuk membersihkan kamar setiap harinya?.  Nggak …. “, jawabku.

“Kau akan menempati kamar yang di blok ini?”, tanya Widho tidak percaya.

“Kenapa tidak ? Sudah kepalang menolak”.

“Ah, kan mereka belum mendengar, hanya bapak Pengurus saja yang tahu ..”.

“Kamu kalau tidak jadi menemani aku ya tidak apa-apa …”.

“Ini … sirius?”.

“Ya … sirius”.

Widho terdiam.   Kelihatan dia bimbang.

“Saya temani kamu “, kata Widho mengakhiri kebimbangannya.

“Kamu sirius?”.

“Ya, sirius”.

Kami berpandangan, lalu tertawa bersama-sama sambil meninggalkan Pengurus yang masih terpaku di tempatnya berdiri.

Saya memasukkan anak kunci pada pintu kamar lalu membukanya pelan.   Kepalaku melongok ke dalam.   Jantungku berdetak kencang ketika pandangan mataku menjelajahi seluruh isi kamar di balik daun pintu yang terbuka sedikit.    Bulu kudukku berdiri dan tanganku agak gemetar memegang gerendel pintu.

“Asalaamu ‘alaikum …”, terdengar Widho mengucapkan salam dekat di belakangku.    Saya tertegun sejenak, lalu membuka daun pintu lebar-lebar dan melangkah masuk.   Widho menyusul di belakangku, langsung menuju ke jendela dan membukanya.     Udara segar mengalir dan cahaya masuk menerangi sebagian kamar.     Di atas dua buah tempat tidur terlihat kasur masih tergulung.    Seperti dikomando kami segera pergi keluar dan duduk pada kursi di teras.

“Bagaimana menurut kamu ?”, tanyaku pada Widho yang merebahkan badannya pada sandaran kursi sambil membuka kancing baju.     Widho menoleh padaku.

“Ya … saya merasakan keberadaannya …”.

“Di bagian mana?.   Kau melihatnya?.     Saya hanya merasakan bulu kuduk berdiri dan telapak tanganku menjadi dingin”.

Widho memejamkan matanya.     Dadanya terlihat mengembang dan mengempis seirama dengan tarikan nafasnya yang tidak teratur.

“Saya melihat bayangan sekilas …. tidak jelas …. berkelebat cepat …. dan tidak muncul lagi  ….”.     Dia mencoba menenangkan diri.      Petugas datang membawa seprei dan sarung bantal bersih, mengangguk, kemudian masuk dengan langkah ragu-ragu.    Terdengar bunyi kasur direbahkan dan seprei dipasangkan dengan agak terburu-buru.   Sebentar kemudian dia keluar, mengangguk, lalu bergegas pergi menghindar.    Widho tertidur di kursi.    Bajunya dibiarkan terbuka.    Udara Jakarta terasa panas.    Saya melangkah ke luar, berjalan melewati dua kamar di sebelah yang tertutup rapat, lalu memutar ke belakang pada tiga deretan kamar yang bertolak belakang.    Semuanya juga tertutup pintunya.    Empat buah kamar mandi di ujung gang agak menjorok ke belakang, dua di kiri untuk blok di sebelah dan dua di kanan untuk blok saya, berhadap-hadapan.   Saya berjalan ke sana.   Lantainya kering dan tidak ada gantungan handuk satupun.    Kamar mandi terdekat yang di sebelah kanan saya buka pintunya.    Kering juga.    Bak kosong tak berisi air.    Keran saya putar buka dan air mengocor keluar, kemudian saya putar tutup kembali.  Ketika kamar mandi terdekat yang di sebelah kiri saya buka pintunya,  kondisinya kelihatan sama.   Kering.    Sakelar lampu saya tekan dan lampu menyala.    Kamar mandi itu siap pakai namun terkesan tidak pernah ada yang menggunakannya.    Saya meninggalkan kamar mandi itu berjalan menuju gang.    Dua orang penghuni kamar di blok sebelah memperhatikan saya dari teras kamar mereka.    Saya menoleh dan menganggukkan kepala sambil tersenyum.    Mereka membalas dengan pandangan http://farm4.static.flickr.com/3218/3029389274_44e1cca18c.jpgmata keheranan.     Deretan kamar yang bertolak belakang ini menghadap ke perkampungan.   Rumpun bambu yang lebat  di beberapa tempat membatasi kompleks markas CIB-PTT Slipi ini dengan rumah-rumah penduduk yang jaraknya jauh satu dengan lainnya.   Agaknya setiap rumah memiliki pekarangan yang cukup luas dan ditumbuhi berbagai macam pohon yang rindang.     Deretan kamar yang saya tempati menghadap ke lapangan terbuka di tengah markas.     Ketika tiba di kamar kembali, Widho masih tertidur pulas di kursi.    Dengkurnya terdengar keras dan lepas.    Saya masuk ke kamar dan merebahkan badan di tempat tidur.

“Aneh, orang di blok sebelah tidak menggunakan kamar mandi buat mereka yang di tempat kita”, kata Widho seusai mandi: “Mereka malah numpang mandi di blok lain”.

Saya bangkit dari tidur.    Lampu kamar sudah menyala.

“Tidur kamu pulas sekali tadi.   Saya tidak berani membangunkan waktu shalat Ashar ”.

“Astaghfirullah …saya tidak Ashar tadi ….”, sahut saya terkejut.

“Mohon ampun setelah shalat nanti.   Sekarang sudah masuk Maghrib”.

Saya melompat turun dari tempat tidur, menyambar handuk lalu bergegas pergi ke kamar mandi.    Hari sudah agak gelap.    Saya memilih kamar mandi yang sebelumnya digunakan oleh Widho.    Tiba-tiba ada perasaan kurang nyaman di dalam hati.        Saya menjadi gugup dan menelungkupkan kepala pada daun pintu kamar mandi.      Wajah ibu terbayang dengan jelas sekali di pelupuk mata, dan ….. pohon beringin pendek di halaman rumah Romo yang daunnya bergoyang pelan.    Suara angin menerjang rumpun bambu di luar terdengar berkepanjangan membuat nyali bergetar dan hati berdebar.     Suara angin itu mirip tawa perempuan tua.   Saya membisikkan istighfar berulang kali.      Terdengar kumandang adzan dari masjid kampung.   Saya tersentak dan menarik kepala dari daun pintu   kemudian bergegas mandi.

“Hati saya berdebar terus dari tadi.   Kau saja menjadi imam”, kataku ketika Widho mengajak shalat Maghrib berjamaah.     Widho menatap mataku sebentar kemudian mengangguk.    Sehabis shalat saya bersimpuh larut dalam doa bagi kedua orang tuaku.

Ketika makan malam pada hari pertama di markas Silipi itu, saya merasa banyak orang di ruang makan memperhatikan kami berdua.    Bukan hanya dari sesama anggota CIB yang belum saya kenal dan sudah lebih dahulu berada di markas Slipi, melainkan juga dari para petugas markas sendiri.

Seseorang datang mendekati meja kami.

“Dik Djoko, ya …”, sapanya dengan tersenyum lebar.    Badannya kurus jangkung.  Hidungnya mancung, bibir tipis dan dahi lebar.   Dia sudah berumur.

“Ya, pak …”, sahutku.

“Saya, Sudjana … dari Kantor Pusat.   Tidak tinggal di kamar saya ?”.

“Oh … pak Sudjana …. maaf pak …. saya sudah dengan rekan saya ini, Widho ..”.

“Di kamar mana?”, tanyanya menyelidik.       Saya menyebutkan blok dan nomor kamar saya.   Pak Sudjananingrat hanya manggut-manggut saja, walau roman mukanya berubah.  Seorang lagi datang mendekat dan sempat mendengar saya menyebutkan blok dan nomor kamar yang saya tempati.    Dia lebih pendek sedikit dari pak Sudjananingrat, berkulit putih bersih, muka lebar dan rambut ikal kecil di atas dahi.    Dia pun sudah berumur.

“Kalau tidak betah di kamar itu, gabung saja di kamar kami”, katanya menyela.

“Ya …. gabung saja dan kapan saja”, sambung pak Sudjana mengiyakan: “Ini pak Kasmiri, teman sekamar, juga dari Kantor Pusat”.

“Baik pak … terimakasih”, jawab saya berbasa-basi.     Mereka berdua kemudian meninggalkan saya dan Widho yang masih meneruskan makan malam.

“Tuh … betul juga kan, kalau kau jadi tinggal sekamar dengan mereka, … kau pasti jadi penyapu kamar setiap hari”, kata Widho sambil tertawa kecil.   Aku mengiyakan.    Kecuali telah berumur mereka berdua tampaknya menduduki jabatan tertentu di Kantor Pusat.  Tetapi yang masih menjadi pertanyaan adalah mengapa harus aku di antara semua anggota CIB-PTT yang baru datang dari Makasar.    Mas Toeffur mampir ke meja saya sebelum meninggalkan ruang makan.

“Dik Djoko sudah kenal dengan pak Sudjana?”, tanyanya.

“Belum mas …. baru tadi …..”.

“Dia pejabat di Bagian Kepegawaian Kantor Pusat.   Kalau pak Kasmiri dari Perlengkapan.   Tadi dia memang mencari-cari dik Djoko …”.

“Soalnya saya tercatat sekamar bertiga dengan pak Sudjananingrat dan pak Kasmiri.  Saya tidak mau.    Mengapa harus bertiga sekamar padahal yang lain berdua-dua”.

“Sekamar bertiga ? Ma-sa ….. saya tidak tahu soal itu.  Tetapi tadi mereka membicarakan pengiriman barang ke Bandung dan menyebut nama dik Djoko”, kata mas Toeffoer sambil beranjak meninggalkan meja saya.    Pemberitahuan mas Toeffoer itu belum menjawab pertanyaan:  Mengapa harus aku?.

http://hadynur.files.wordpress.com/2009/10/menulis.jpg?w=186&h=190&h=190Baru pukul sembilan malam saya sudah merebahkan badan di tempat tidur.   Rasa kantuk yang berat sudah mulai menyerang segera setelah selesai shalat Ishak.     Widho masih sibuk menulis di meja.    Sebelum saya terlelap tidur masih sempat mendengar langkah Widho mematikan lampu dan hanya menghidupkan lampu meja untuk meneruskan kesibukannya.     Entah sudah berapa lama saya tidur ketika tiba-tiba terbangun oleh suara teriakan-teriakan keras.    Lampu meja masih menyala tetapi hanya menerangi di sekitar meja saja.     Saya melihat tangan Widho menggapai-gapai dan menunjuk-nunjuk sementara badannya telentang di tempat tidur.     Saya melompat turun dan menggoyang-goyang badan Widho untuk membangunkannya.     Dia membuka mata dengan membelalak, bangkit mendadak dalam posisi duduk tegak lalu beringsut mundur ke dinding dan merapat lekat.      Tangannya menunjuk-nujuk ke arah mukaku dan mulutnya masih mengeluarkan teriakan-teriakan yang tidak jelas.   Saya menampar pipinya dengan keras lalu membujuk agar berhenti berteriak.     Tangannya turun lemas ke atas kasur. Mata masih nanar menatapku dan bibirnya bergetar.    Nafasnya terengah-engah bersamaan dengan dada yang naik turun tidak beraturan.

“Istighfar, Dho …. istighfar!”, bisikku keras sambil menggoncang-goncangkan bahunya.  Dia tertunduk dan dari mulutnya saya mendengar ucapan istighfar beberapa kali.    Ketika kepalanya diangkat kembali, matanya masih melirik bolak-balik ke beberapa tempat di belakang saya.

“Kau … tidak apa-apa …?”, tanyanya setelah beberapa saat.

“Kamu mengigau …”.

“Kemana dia pergi ?”, tanya Widho kembali tanpa menghiraukan jawaban saya.

“Dia siapa?”.

“Sokurlah …. Dia sudah pergi ….”.

Saya tercenung.    Sebuah mimpi buruk pasti baru saja dialaminya.    Saya mengambil sisa air putih di dalam gelas yang ada di atas meja.

“Kamu mengigau …. minum dulu”, kata saya sambil menyodorkan gelas itu kepadanya.     Widho mereguk sisa air putih itu sampai habis lalu mengembalikan gelas kepadaku.

“Kamu mimpi buruk ya …. lalu mengigau”.

“Tidak.  Saya melihat sendiri tadi ….ya, tadi …  Betul kamu tidak apa-apa?”.

“Saya baik-baik saja, dan tidak ada apa-apa kecuali kau yang mengigau”.

“Aneh …..”, bisik Widho lirih sambil pandangannya meneliti ke seluruh bagian kamar: “seperti tidak terjadi apa-apa …. padahal,tadi …. tadi …”.

“Ada apa tadi di kamar ini?”, tanyaku mendesak.     Keinginan tahuku muncul juga.

“Tadi ada perkelahian seru …. dua sosok ….. tidak jelas …. di sekitar kamu … lalu ke depan pintu … ke seluruh penjuru … menggeram …. meraung … mengguntur ….”.

“Kamu tadi masih menulis ketika saya mau tidur”.

“Ya benar …. setelah itu udara terasa menjadi dingin … dingin sekali ….ada suara-suara aneh …saya tidak melihat sesuatu … lalu saya buru-buru ke tempat tidur …”.

“Dan kamu terus bermimpi“.

http://ifptasya.files.wordpress.com/2011/01/245360369_86e9f51782.jpg?w=500&h=375

“Tidak, saya tidak dapat memejamkan mata barang sekejappun.   Saya menutup seluruh tubuh dengan selimut.   Suara-suara aneh itu semakin keras dan semakin keras … lalu ada yang meledak … suaranya menggelegar.   Saya mengintip dari balik selimut.   Ada sebuah bayang-bayang hitam pada dinding …semakin besar dan semakin besar … lalu melompat ke arah kamu seakan mau menerkam …. sebuah sosok tiba-tiba muncul begitu saja di dekat kamu menghadang jalan … terjadi benturan keras … keduanya bergumul seru … memporak-porandakan semuanya …. seperti dua bola api yang bergulung-gulung ke segala penjuru ….”.      Widho mengucak-ucak mata.    Bibirnya masih bergetar.    Saya menebar pandangan ke semua sudut kamar.    Tidak ada yang berantakan.   Biasa saja.

http://www.romesg.com/wp-content/uploads/comet-halley.jpg

“Lalu kedua bola api itu bergumul di atas kamu …. Saya mencoba berteriak membangunkanmu … tetapi tenggorokanku seakan tersumbat …. tanganku seakan berat kuangkat …. bola api itu bisa mencederaimu ….  Kamu … sungguh, tidak apa-apa?”.

“Seperti kamu lihat sendiri, saya baik-baik saja.   Saya justru terbangun karena kamu berteriak-teriak.    Kamu mengigau”.

“Saya berteriak karena kedua sosok itu lalu melompat ke atas menerobos eternit dan atap ….. terus kamu datang menampar pipiku …. dan semua menjadi hening kembali …”.

“Maaf, tadi saya lakukan karena kamu berteriak-teriak terus”.

Widho melirik ke atas pada eternit di atas tempat tidurku.

“Eternit itu masih utuh, kan … tidak terjadi apa-apa di kamar ini.   Meja, kursi, semuanya masih pada tempatnya semula.   Kamu bermimpi dan mengigau”, kataku meyakinkannya.

Widho mengeluh: “Terserah kamu, lah …. tetapi saya melihat semuanya …. semuanya”.

Sambil menunggu petugas datang membawa nasi goreng dan telur ceplok saat makan pagi, saya menghirup kopi yang sudah disajikan di meja.   Sejak peristiwa semalam, Widho lebih banyak berdiam diri.    Bibirnya terkatup rapat, tanpa senyum dan sorot matanya tidak berbinar.   Ia bersandar di kursi dan pandangannya tertuju ke luar menembus dinding kaca ruang makan.   Saya melirik ke mana pandangannya diarahkan.    Rumpun bambu.   Tidak ada yang aneh pada rumpun bambu itu, tetapi  mata Widho tidak berkedip seperti terpaku.     Dua orang laki-laki berumur sekitar tigapuluh-lima tahunan dalam pakaian training masuk ke ruang makan.    Sejak di luar keduanya sudah tampak berbicara dengan sejumlah orang yang datang mengerumuninya.    Agaknya yang dibicarakan cukup menghebohkan.     Beberapa orang masih mengikutinya masuk ke ruang makan.

“Semalam kamu menginap di rumahnya, kan?”, terdengar tanya orang yang mengikutinya.    Yang ditanya tertawa lebar sambil menarik kursi dan duduk di atasnya.

“Justru kalau menginap tidak akan dia mengetahuinya”, jawab teman yang ditanya.

“Rumahnya kan di dekat sini saja …. tidak jauh pula dari rumpun bambu itu …”.

“Tidaklah kalau saya menginap.   Bisa diproses piket nanti”, jelas yang ditanya.

“Terus … dari mana kamu tahu berita itu?”.

Petugas datang membawa nasi goreng telur ceplok ke meja saya dan Widho.   Masih panas dan baunya sedap.   Widho mulai mengalihkan pandangannya ke arah meja mereka yang baru datang itu.   Agaknya ia tertarik pada pembicaraan di antara mereka.

“Saya kan biasa lari pagi, dan tadi orang kampung membicarakan peristiwa semalam itu”.

“Siapa yang menyaksikannya?”.

”Petugas Ronda.   Ketika mereka sedang lewat di sana, mereka melihat cahaya bola api muncul tiba-tiba dari salah satu tempat di markas kita ini, terbang tinggi ke atas lalu meluncur turun dengan cepat ke rumpun bambu itu.    Ada dua bola api yang bergumul berputar-putar di udara ….”.

”Dari markas kita ini?”.

“Ya, begitu kata mereka.   Tetapi dari mana tepatnya mereka tidak bisa menjelaskan sebab cahaya bola api itu begitu terang dan menyilaukan mata”.

Widho dan saya berpandang-pandangan.   Kami memasang telinga sambil mengunyah nasi goreng pelan-pelan.

“Bola api itu …. seperti apa bentuk sebenarnya?”.

“Peronda itu bertiga, mereka lari semua.   Tetapi salah seorang terjatuh dan orang ini sempat melihat bentuknya seperti dua sosok makhluk yang tinggi besar.   Dia mendengar pergumulan yang seru dan gaduh di rumpun bambu itu sebelum dia bangkit dan lari menyusul temannya”.

“Terus?”.

“Dari kejauhan ketiga Peronda itu melihat pemenangnya terbang lagi ke atas dan meluncur turun lagi ke markas”.

“Satunya lagi …. yang kalah?”.

“Terpuruk di rumpun bambu lalu cahayanya meredup dan lenyap.   Dia masih di sana”.

“Dan yang menang masih di …. markas kita?”.

“Begitulah kira-kira …”.

Saya dan Widho berpandang-pandangan kembali.   Saya menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa saya mulai mempercayai ceritanya semalam di kamar.   Widho mengerdipkan mata sambil menggelengkan kepala sekali.   Saya mengangguk lagi.

“Apakah apel pagi hari ini akan membicarakan hal itu?”, terdengar salah seorang bertanya.

“Ya tidaklah ….  di sini kan tidak ada kejadian apa-apa.   Yang ramai di kampung sana.  Tambahan lagi komandan tidak tahu …”.

Saya melirik ke sebuah pengumuman di dinding: “Apel pagi hari ini pukul 08.30 WIB”.

“Siapa yang menang, siapa yang kalah, saya tidak tahu … dan dampaknya bagi kita pun saya tidak tahu …”, geremeng Widho sambil mengenakan sepatu di teras kamar.

“Maaf, tadi malam saya kurang mempercayai ceritamu”.

“Tidak apa-apa … saya mengerti.   Engkau tidur begitu lelap semalam, padahal pergumulan itu terjadi di sekitar kamu, bahkan di atas badanmu”.

“Saya sendiri juga tidak mengerti, bahkan mimpi indah pun tidak”.

“Kalau di hari-hari nanti tidak terjadi gangguan lagi, maka saya pastikan yang menang itu bersahabat dengan kita”, kata Widho dengan tekanan suara mantap.

“Bersahabat?  Barangkali tidak mau mengganggu”.

“Ya, tepat.   Tidak mau mengganggu belum tentu bersahabat.   Tetapi mau menganggu pasti tidak bersahabat …. seperti bayangan hitam pada dinding yang mau menerkam kamu”.

“Kenapa aku, ya …?”.

“Saya tidak tahu.  Bolehjadi setelah kamu, giliran kemudian aku …”.

“Bagaimana kalau yang menang itu tidak bersahabat …”.

“Nah, itu …karena itu kita tunggu nanti malam dan malam-malam kemudian.   Tetapi saya menduga dia tidak akan mengganggu”.

“Alasanmu?”

“Dia muncul pada saat yang tepat menghadang bayangan hitam seakan melindungimu.  Tadi kita dengar Peronda melihat bola api yang menang kembali ke markas  …. Tepatnya ke kamar kita.   Tetapi kita tidak mengalami gangguan lagi, kan ….”.

Saya mengangguk pelan.   Terdengar suara  bel ditalu beberapa kali dan anggota CIB berdatangan ke lapangan tengah yang terbuka.     Saya mengunci kamar lalu menyusul Widho menuju ke lapangan.

“Yang kemarin tiba dari Makasar – Bandung, berbaris di depan menghadap ke Selatan “, terdengar perintah dengan suara yang lantang.       Setelah upacara singkat, pak Sabar Sudiman memberitahu bahwa CIB-PTT kini di bawah Komando Tertinggi (KOTI) untuk pengiriman ke Irian Barat.    Seluruh anggota diminta tetap dalam kondisi siap sewaktu-waktu ada perintah untuk berangkat.   Untuk menjaga kondisi badan maka setiap pagi diadakan senam dan tiga hari sekali lintas alam. Tidak diperkenankan meninggalkan markas kecuali telah memperoleh ijin dari Komandan.     Kemudian diadakan acara perkenalan antara rombongan yang baru tiba dari Makasar dengan rombongan yang sudah lebih dulu berada di markas CIB Slipi.   Usai perkenalan langsung dibagi dalam empat kelompok berdasarkan blok dan nomor kamar.     Empat orang Ketua Kelompok memimpin anggotanya berjalan meninggalkan lapangan markas, kemudian menyebar masing-masing sudah memiliki rute sendiri-sendiri.     Saya dan Widho berada dalam kelompok pimpinan pak Zacharias, yang bertubuh gemuk gempal, berkulit putih bersih dan rambut yang agak gondrong.    Pak Zacharias ternyata membawa kami masuk ke perkampungan di seberang rumpun bambu.   Ketika kami berjalan di bawah rumpun bambu itu,  saya tidak merasakan apa-apa.  Widho saya perhatikan juga sedang memikirkan hal itu.   Ketika pundaknya saya tepuk sambil berbisik lirih: “Kau merasakan sesuatu?”, dia hanya menggelengkan kepalanya. Menurut pendapat saya Widho memiliki kepekaan lebih daripada saya mengenai hal-hal yang ghaib.    Apakah dia hanya tidak mau diganggu saja sementara dari wajahnya tampak  sedang memikirkan sesuatu, saya tidak tahu.    Pada malam-malam selanjutnya, Widho pun tidak menunjukkan melihat atau merasakan sesuatu di kamar kami.    Gangguan ghaib itu tidak pernah terjadi lagi.

Pada suatu pagi setelah kembali dari lintas alam, pak Kasmiri memanggil saya ke kamarnya.    Beliau memberitahukan bahwa karena kondisi politik sudah normal, CIB PTT tidak perlu membangun jaringan telekomunikasi baru di Irian Barat melainkan tinggal melanjutkan dan mengembangkan saja yang sudah dioperasikan oleh pemerintah pendudukan Belanda di daerah itu.    Barang-barang peralatan yang sudah dibawa ke Jakarta dari Bandung dengan demikian akan dikembalikan lagi ke Bandung.   Untuk keperluan itu saya diberi tugas mengirimkan semua peralatan tersebut kembali ke Bandung secara lengkap dan aman.   Dua orang petugas Bagian Perlengkapan dari Kantor Pusat bergabung dengan saya untuk melaksanakannya.    Merekalah yang semula mengurus pengiriman barang-barang tersebut ke Jakarta.     Dari mereka saya memperoleh dokumen pengirimannya dan di mana barang-barang tersebut saat itu disimpan.   Kami bertiga mengopname barang-barang tersebut di tempat penyimpanannya.     Mencocokkan jenis, pabrikat dan nomornya, kemudian dilakukan pengepakan kembali.   Sebuah truk telah disiapkan untuk mengangkut ke Bandung.    Saya minta ada bantuan pengawalan dari aparat kepolisian, karena kondisi keamanan pada saat itu masih belum aman benar.     Gerombolan DI/TII masih perlu diwaspadai.     Sehari sebelum berangkat, Holikin datang ke kamar saya.

“Djok …”, ujarnya dengan suara memelas: “Biar saya gantikan tugasmu ke Bandung”.

“Apa pak Kasmiri sudah setuju?”, tanyaku.

“Kamu kan tidak ada kepentingan ketemu keluarga di Bandung.  Kalau saya perlu sekali. Kau tahu, kan … sudah beberapa bulan saya tidak bertemu dengan keluarga”.

“Saya mengerti, dan bagi saya sih tidak ada masalah.  Tetapi yang mengopname barang-barang itu kemarin, saya.  Apa kang Holikin percaya?”.

“Saya percaya soal itu.   Mengenai pak Kasmiri, kamu sajalah yang bilang”.       Saya terdiam sebentar.                “Bagaimana kalau kita berdua menemui pak Kasmiri?”, tanyaku.     Holikin setuju.   Ketika saya menyampaikan permintaan Holikin itu kepada pak Kasmiri, beliau malah tertawa lebar.

“Ah … Ho … seperti saya tidak tahu siapa kamu saja ….bapak kan laki-laki berkeluarga juga seperti kamu … Tidak.   Penugasan kepada Djoko ini sudah final.   Tetap dia yang mengirim barang-barang itu ke Bandung”.

http://w11.itrademarket.com/pdimage/14/2210414_121.jpgAnehnya Holikin juga tertawa terkekeh mendengar penegasan pak Kasmiri itu.     Dia tidak kelihatan kecewa.  Tampaknya mereka berdua sudah lama saling mengenal.     Keesokan harinya saya berangkat ke Bandung bersama dua orang rekan dari Kantor Pusat itu dan beberapa orang anggota Kepolisian dari satuan Brigade Mobil.    Setelah beristirahat sekitar tiga jam di Bandung, sore harinya kami kembali ke Jakarta.   Dua orang rekan saya malam itu menginap di rumah mereka dengan seijin pak Kasmiri dan esok hari pagi-pagi sekali mereka akan naik bis ke Jakarta.

Berbeda dengan situasi menunggu di Makasar, di Jakarta terasa lebih membosankan.   Tidak ada pekerjaan yang dilakukan kecuali hanya apel, senam, dan lintas alam.  Yang terakhir ini, lintas alam, lebih tepat kalau disebut: lintas kampung.    Yang kami lakukan hanyalah keluar-masuk kampung di pinggiran kota Jakarta, kadang-kadang juga keluar-masuk gang-gang kecil dan kumuh di dalam kota Jakarta di sekitar Slipi.   Meskipun demikian, keringat mampu membasahi baju karena jarak yang cukup jauh dan cuaca kota Jakarta yang panas.   Menunggu adalah pekerjaan yang membuat perasaan jemu.      Selama menunggu itu saya bahkan tidak memiliki kesempatan berkunjung ke Setasiun Radio Penerima Margawarta, dan ke Hotel Islam Jatinegara walau di hari Minggu sekalipun.    Perintah berangkat dapat sewaktu-waktu diberikan sementara sarana komunikasi untuk menyampaikan perintah itu ke tempat kami sedang berada tidak menjamin dapat cepat tersampaikan.    Apalagi ketika rombongan kecil yang pertama sudah diberangkatkan dengan pesawat Garuda.   Mereka adalah orang-orang yang akan langsung mengambil alih pimpinan sebuah kantor atau dinas PTT dari tangan pejabat bangsa Belanda.

Akhirnya hari yang saya harapkan itu datang juga .   Penantian yang membosankan telah terselesaikan.    Sehabis apel pagi diumumkan adanya gelombang kedua pemberangkatan ke Irian Barat dengan pesawat Hercules pada tengah malam hari itu juga.    Komandan membacakan daftar nama dengan suara keras dan jelas.   Nama saya tersebutkan.  Saya menghela nafas dalam-dalam.     Kepada saya diberikan Surat Keterangan Perjalanan (Certificate For Travel) dari Komando Tertinggi APRI/Pembebasan Irian Barat (Supreme Command Of  The Indonesian Armed Forces) tertanggal 2 Desember 1962 yang ditandatangani oleh Sekretaris Kantor Menteri Pertama Pembebasan Irian Barat, Kolonel Prijatna, dan telah dicatat oleh Kantor United Nations Temporary Executive Authority, No. 998, tanggal yang sama.    Saya juga memperoleh Kartu Pengenal (Identity Card)  No.  L.G./1  XII / 1051 A-62.

Sebuah kesibukan terjadi di markas CIB-PTT Slipi pada malam itu.   Sekitar tigapuluh orang telah siap dengan barang bawaan masing-masing.   Ransel besar yang selama ini menemaniku sejak dari Surabaya, Makasar dan Jakarta kini akan menemaniku ke Hollandia.     Apel pada malam itu terasa sangat mendebarkan.   Sambutan selamat jalan dari Komandan markas disertai pesan-pesan dapat menyuntikkan semangat untuk bertahan di tengah lapang dalam tiupan angin malam yang dingin.   Anggota CIB-PTT lainnya yang belum diberangkatkan berkerumun di pinggir lapang dan di sekitar bis yang telah siap untuk membawa kami ke lapangan terbang Halim Perdanakusumah.   Widho termasuk dalam rombongan kedua itu bersama saya.       Kira-kira pukul 22.00 bis yang membawa rombongan anggota CIB-PTT itu mulai meninggalkan markas CIB-PTT Slipi.     Jalan-jalan di kota Jakarta sudah mulai sepi.

http://i297.photobucket.com/albums/mm221/giairways/MESCGK19.jpg

Lampu-lampu penerangan jalan dan gedung perkantoran gemerlap di sepanjang jalan yang dilalui.    Kerlap-kerlip penerangan di rumah-rumah kampung semakin menambah semaraknya malam.   Di angkasa  yang kelam tidak banyak terlihat bintang yang bercahaya terang.      Bulan pun tidak tampil menawan.      Bis berhenti di pelataran parkir bandara Halim Perdanakusumah.   Kami semua turun dan berjalan masuk ke bandara.

http://img.photobucket.com/albums/v286/rizuki/halim.jpg

Rombongan dari instansi lain pun kelihatan berdatangan.    Ruang tunggu bandara dipenuhi sukarelawan.    Tidak ada lagi kursi yang kosong.   Sebagian berdiri bergerombol dan mengobrol.    Kemudian ada pengumuman agar semua calon penumpang menuju ke pesawat yang sudah siap di lapangan terbang.   Dengan menyandang ransel besar di punggung saya berjalan cepat menuju ke pesawat.     Sebuah pesawat terbang yang gemuk besar berdiri kokoh diatas landasan.

http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/04/c-130hercules.jpg?w=400&h=307

Pintu depannya terbuka.  Pada ekor pun terbuka pula dan ada kesibukan memasukkan berbagai barang ke dalamnya.    Ini sebuah pesawat raksasa, fikirku dalam hati, jauh lebih besar dari pesawat Convair Garuda Indonesian Airways yang pernah saya tumpangi dari Surabaya ke Makasar.    Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari.     Seorang perwira militer mengabsen calon penumpang satu persatu di depan pintu pesawat.   Disebutkan nama instansi lalu menyusul nama-nama sukarelawan dari instansi tersebut.   Ketika disebutkan CIB-PTT kami semua bersiap-siap kemudian satu persatu naik ke dalam pesawat Hercules.

http://farm5.static.flickr.com/4102/4878210202_176790fbe9.jpg

Di ambang pintu untuk sekejap saya terpesona.   Seperti memasuki sebuah gudang.   Tidak ada kursi penumpang yang mewah berderet-deret ke belakang.   Tidak ada pramugari yang dengan ramah menyambut di ambang pintu.   Penumpang duduk berjajar melingkar di sepanjang dinding pesawat.   Di bagian tengah pun ada yang duduk berhadapan dengan yang duduk membelakangi dinding.    Di bagian tengah ini belum terisi penuh.   Tempat duduknya berupa anyaman pita kain lebar dan tebal yang memanjang membalut rangka besi tanpa tangan    Saya menuju ke tengah dan duduk di samping seseorang yang tidak saya kenal.   Dia mengenakan jas warna coklat dan membawa sebuah tas kantor dari kulit warna coklat pula.   Widho duduk di sebelah saya pada sisi yang lain dan selanjutnya berderet teman-teman rombongan CIB-PTT lainnya.   Warna baju yang kami kenakan berwarna coklat juga, tetapi dari bahan drill yang tebal.    Kontras sekali dengan laki-laki di samping saya itu.   Sabuk pengaman juga ada tetapi sangat sederhana meskipun dari bahan yang kuat pula.      Tidak ada percakapan yang gaduh.    Saya yakin semuanya baru pertama kali naik pesawat Hercules, karena merupakan pesawat angkut militer sedangkan para penumpang hampir semuanya adalah petugas sipil.

Tidak berapa lama kemudian pintu ditutup, lalu mesin pesawat dihidupkan.  Getarannya cukup kuat.   Saya segera memasang sabuk pengaman.    Terdengar pengumuman dari pilot bahwa pesawat akan segera tinggal landas.    Pesawat mulai bergerak maju semakin laju dan semakin laju kemudian terangkat keatas dengan sebuah lonjakan yang agak menggoncang sampai akhirnya semua terasa tenang dan nyaman.   Agaknya pesawat sudah sampai pada ketinggian yang seharusnya.    Udara di dalam pesawat terasa sangat dingin.   Saya membuka gulungan baju untuk menutup seluruh tangan.   Masih terasa dingin yang menusuk tulang.   Walau bersedekap erat saya masih menggigil juga.    Ransel pun saya pangku dan saya peluk erat.    Saya melirik pada laki-laki di samping saya yang dengan tenangnya memejamkan mata bersedekap  dada, dibungkus oleh setelan jas yang hangat.   Saya melirik ke arah Widho.  Dia pun agaknya berjuang untuk melawan hawa dingin.   Badannya menggigil sementara tidak ada ransel yang bisa dia peluk.   Tampaknya Widho lebih payah menahankan hawa dingin.    Pesawat raksasa itu terbang tinggi tanpa mempedulikan keadaan penumpangnya.    Awak pesawat mengenakan seragam jaket yang tebal.   Mereka tenang-tenang saja di dalam hawa dingin yang menusuk tulang itu.    Wouw …. ini sebuah pengalaman terbang yang cukup menyiksa walau sesungguhnya sangat mengesankan karena akan menuju ke Hollandia, ibu kota Irian Barat yang kemudian menjadi Irian Jaya.

http://aerostories.free.fr/appareils/AC130/AC130_05.jpg

—000—

Image properties:

1.   http://farm4.static.flickr.com/3661/3366835387_d8e313a1f6.jpg

2.  http://cache.virtualtourist.com/4/4527695-Madura_strait_view_from_Tanjung_Perak_Port_East_Java_Province.jpg 

3. http://farm4.static.flickr.com/3089/2632724107_513f1a622e.jpg 

4.  http://farm4.static.flickr.com/3218/3029389274_44e1cca18c.jpg

5.    http://hadynur.files.wordpress.com/2009/10/menulis.jpg?w=186&h=190&h=190

6.   http://ifptasya.files.wordpress.com/2011/01/245360369_86e9f51782.jpg?w=500&h=375

7.    http://www.romesg.com/wp-content/uploads/comet-halley.jpg

8.   http://w11.itrademarket.com/pdimage/14/2210414_121.jpg

9.   http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/04/img_0150.jpg?w=225&h=300

10.    http://i297.photobucket.com/albums/mm221/giairways/MESCGK19.jpg

11.   http://img.photobucket.com/albums/v286/rizuki/halim.jpg

12.   http://www.ozone.or.id/tsun2004/photos/eksp3-04.jpg

13.   http://farm5.static.flickr.com/4102/4878210202_176790fbe9.jpg

14.    http://aerostories.free.fr/appareils/AC130/AC130_05.jpg

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.