CIB – PTT
(6) KE HOLLANDIA

Hampir semua penumpang kapal ADRI bertampik sorak tatkala pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, sudah tampak dari kejauhan. Kapal kami semakin mendekat dan semakin mendekat. Pelabuhan yang luas itu dikunjungi oleh banyak kapal dagang dan puluhan perahu nelayan. Beberapa sedang merayap masuk dan ada pula yang sedang keluar meninggalkan Tanjung Perak. Sesuai dengan namanya, Tanjung Perak, air laut yang beriak kecil berbendar-bendar terkena sinar mentari bagaikan berjuta keping perak yang terserak-serak. Gedung-gedung di pelabuhan dan di kota bagaikan kotak-kotak kayu yang tegak kaku. Terdengar sebuah seruan dan sebentar kemudian awak kapal sibuk menurunkan jangkar. Ternyata kapal tidak langsung merapat ke dermaga pelabuhan Tanjung Perak. Seharian itu kapal belum juga mengangkat sauh, dan kami mengisi waktu dengan mempersiapkan barang bawaan masing-masing. Malam pun tiba namun kapal belum juga diijinkan untuk memasuki pelabuhan. Malam itu terasa menjemukan. Sangat menjemukan. Surabaya sudah di depan mata, dan kami harus bermalam lagi di atas kapal di luar pelabuhan Tanjung Perak. Keesokan harinya suasana kian terasa gerah. Sengatan sinar matahari yang dalam dua hari sebelumnya dirasakan nikmat, pada hari itu malah menyulut kekesalan sampai ke ujung rambut. Panas cuaca di luar, panas pula hati di dalam. Angin laut yang membelai lembut tak mampu membuat kesal hati menyurut. Geladak kapal dipenuhi wajah-wajah cemberut. Wajah-wajah yang murung.

Matahari telah tergelincir ke Barat ketika terdengar lagi seruan-seruan dan kesibukan awak kapal melaksanakan perintah. Sauh ditarik ke atas dan sorak-soraipun kembali membahana mengiringi jangkar kembali ke sangkar. Kapal bergoyang kecil, gemuruh bunyi mesin kapal menyentak gaduh dan kapalpun merayap pelan memasuki Tanjung Perak untuk berlabuh dan kembali membuang sauh. Serentak kami menyambar barang-barang bawaan yang telah dipersiapkan. Tangga telah diturunkan dan ditambat. Kami mulai bergerak karena tentara-tentara itu terikat dengan disiplin dalam aturan-aturan mempersiapkan diri turun ke darat. Ketika saya menuruni tangga teman-teman yang telah lebih dulu menginjakkan kaki di dermaga disambut oleh petugas Daerah Telekomunikasi Jawa Timur. Tidak lama kami berada di dermaga, kemudian bersama-sama menuju ke bis yang telah menunggu di pelataran parkir. Sebentar kemudian bis bergerak keluar dari pelabuhan Tanjung Perak menuju ke kota Surabaya. Ini kali yang kedua saya berada di kota Pahlawan. Apakah akan menuju ke Hotel yang sama lagi seperti waktu yang pertama kali ?. Ketika dari jendela bis saya melihat rel kereta-api berlajur-lajur di sebuah setasiun, saya teringat perjalanan dengan kereta-api dari Jakarta ke Surabaya bersama Abdurrachman tiga bulan yang lalu. Abdurrachman tidak berada bersama kami di dalam bis ini. Ia telah lebih dulu pulang ke Jakarta naik pesawat terbang dari Makasar bersama-sama dengan beberapa pimpinan teras CIB-PTT sehari sebelum kami berlayar meninggalkan Makasar. Kilas balik ingatan itu terhenti tatkala saya menyadari bahwa bis ternyata memasuki setasiun kereta-api. Petugas penjemput dan pengantar dari Daerah Telekomunikasi Jawa Timur mempersilakan kami semua turun karena akan beristirahat barang sejenak di ruang tunggu setasiun sambil menunggu kereta-api malam yang akan menuju ke Bandung. Saya tersentak mendengar nama kota Bandung disebutkan. Ada terbersit perasaan gembira tiada terkira. Maka waktu menunggu itupun terasa cukup lama, meskipun dapat beristirahat dengan cukup. Malam itu saya tertidur nyenyak sekali di dalam gerbong kereta-api malam yang menuju ke Bandung.
Keesokan harinya saya dan teman-teman sudah menjejakkan kaki kembali di kota Bandung. Dari setasiun besar Bandung kami dijemput dan diantar ke asrama Palasari oleh petugas dari Kantor Pusat. Selanjutnya pengurus asrama yang melayani kami dengan baik. Selama tiga sampai empat hari kami seakan-akan sengaja dibiarkan menikmati istirahat penuh selama di Bandung. Hanya sekali dua kali saja ada pejabat dari Kantor Pusat datang menjenguk dan berbincang-bincang dengan anggota CIB-PTT yang kebetulan sedang berada di asrama. Akhirnya kami diberangkatkan lagi ke Jakarta naik kereta-api pagi. Sampai di setasiun Gambir, Jakarta, sebuah bis sudah menunggu dan segera melaju membawa kami menelusuri jalan-jalan besar yang padat dengan kendaraan bermotor dan orang berlalu-lalang.

Bis sampai di daerah Slipi, kemudian berbelok memasuki sebuah lahan terbuka yang pada sisi kanan dan kiri telah berdiri dua bangunan berisikan kamar-kamar bertolak belakang yang berderet membujur pada sisi panjang lahan. Di ujung sisi lebar lahan bagian belakang terdapat bangunan lain yang terpisah, sebuah bangsal yang menghadap ke lahan terbuka dan juga ke jalan raya. Tidak tampak sebatang pohonpun pada lahan terbuka itu. Kering dan gersang. Tanahnya berwarna merah kecoklatan dan tidak ditumbuhi rumput. Dari penjelasan petugas penjemput, pada lahan tersebut akan dibangun Gedung Biro Daerah Telekomunikasi Jakarta Raya yang baru, sebab yang di Gambir masih menumpang pada Kantor Telepon Gambir. Apakah bangunan permanen yang panjang berkamar-kamar itu sifatnya sementara untuk digunakan sebagai markas bagi CIB-PTT, saya tidak menanyakan lebih lanjut. Sebagian dari kamar-kamar di kedua bangunan itu sudah ada yang menempati. Mereka melihat kedatangan kami dari tempat mereka duduk-duduk di teras kamar. Sejumlah orang datang mendekat ketika kami turun keluar dari dalam bis.
“Selamat datang di Markas CIB-PTT Slipi”, saya dengar seseorang berkata dengan suara lantang : “Silakan ke ruang makan dahulu semuanya”, lanjutnya sambil menunjuk ke arah bangunan yang di belakang. Kami segera menuju ke tempat yang disebut ruang-makan itu, dan menduduki kursi-kursi yang kosong. Suasana agak gaduh sebentar oleh bunyi kursi ditarik, langkah sepatu dan barang bawaan diletakkan di lantai. Kemudian Pengurus yang tadi mengucapkan selamat datang memberitahu bahwa kamar untuk kami sudah ditentukan dan kami dapat langsung menempatinya.
“Gedung di sebelah kiri saya ini, Gedung A, dan yang di sebelah kanan Gedung B. Nomor kamar sudah tertulis di atas pintu, sedangkan kunci kamar akan dibagikan. Yang saya sebut namanya agar datang kesini untuk mengambil kunci kamar”.
Dia membaca sebuah daftar kemudian menyebut dua nama, gedung dan nomor kamarnya. Yang disebut namanya, salah seorang atau kedua-duanya, segera beranjak untuk menerima kunci kamar, lalu mengambil barang bawaan dan pergi keluar menuju ke gedung dan kamar yang diperuntukkan mereka. Nama saya tidak disebut sampai dia selesai membacakan daftar itu. Sementara saya masih menunggu, Widho Rahardjo berteriak dari ambang pintu.
“Djok … dapat kamar nomor berapa?”.
“Belum ….”, sahutku sambil berdiri mendatangi orang yang membacakan daftar pembagian kamar.
“Saya belum dipanggil, pak”.
“Belum?. Namanya siapa?”.
“Djaka Rubijanto”.
“Sebentar saya lihat dulu …. Djaka ….. Djaka Rubijanto?”.
“Benar”.
“O … ya, terlewat … adik sekamar dengan pak Sudjananingrat dan pak Kasmiri, gedung A nomor 1”.
“Siapa mereka ?. Saya belum kenal”, kataku sedikit memprotes.
“Pak Sudjananingrat dan pak Kasmiri dari Kantor Pusat Bandung”.
“Bertiga?”.
“Kamarnya besar, cukup untuk bertiga”.
Saya mendengar Widho tertawa. Dia masih di ambang pintu.
“Ini tidak benar, semua berdua kok saya harus bertiga”, kataku dengan suara sedikit keras.
“Pak Sudjana dan pak Kasmiri sendiri yang menghendaki”, jelasnya dengan suara lunak.
“Tetapi ini tidak benar. Apa sudah tidak ada lagi kamar lain?”.
“Ada … tapi ….”, jawabnya ragu-ragu.
“Masih ada kan … itu saja buat saya”, kataku mantap.
“Boleh … boleh, tapi ….”.
“Kamar nomor berapa?”, kataku mendesak. Dia menyebut nama blok dan nomor kamar. Saya segera meminta kunci lalu meninggalkannya sambil menyandangkan ransel pada punggung.
“Kau sendirian di kamar itu?”, tanya Widho ketika aku sampai di ambang pintu.
”Ya, mungkin …”.
“Pak …. kamar yang untuk Djoko bisa buat berdua?”, teriak Widho kepada pengurus.
“Semua kamar dapat untuk berdua”.
“Kalau begitu saya dengan Djoko di kamar itu”, kata Widho kembali kemudian menarik tanganku meninggalkan ambang pintu. Pengurus berlari menyusul.
Sambil berjalan Widho berkata: “Kalau kamu tidak ganti kamar, tiap hari kamu yang akan membersihkan kamar. Mereka orang Kantor Pusat dan lebih tua lagi umurnya, mana mereka mau …”. Saya tertawa kecil mendengarnya.
“Dik …. kamar itu …. e-e-e ….”, bisik Pengurus setelah berada di samping kami.
“Kamar itu kan, … pak?”, kata saya sambil menunjuk ke arah sebuah kamar setelah menghitung mundur nomor kamar dari ujung blok terdekat.
“Ya … benar …”.
“Baik, kami langsung ke sana”, kataku sambil menyelidik dari jauh ke arah bagian bangunan tempat kamar itu berada. Terpisah dengan sebuah gang dari bagian lain bangunan itu. Ada dua buah gang semacam itu yang memisah sekelompok kamar dengan kelompok kamar lainnya. Saya memperkirakan gang itu merupakan jalan menuju ke kamar mandi. Kamar yang akan saya tempati berada pada kelompok kamar yang paling dekat dengan ruang-makan. Semua kamar pada kelompok itu tertutup pintunya dan saya tidak melihat seorangpun di sana.
“Maaf, dik …. kamar itu …. ada penghuninya”, kata Pengurus masih dengan suara lunak.
“Lho, bapak ini bagaimana …”, seru Widho: “Kamar sudah ada yang menempati kok diberikan kepada kami …”.
“Maksud saya …. tidak ada orang yang mau menempati kamar itu …. ada penghuninya”.
Saya dan Widho terkejut dan berhenti melangkah. Kami berpandang-pandangan.
“Maksud bapak …. “, kataku dengan suara pelan hampir tak terdengar.
“Ya … tidak ada yang berani menempati blok itu …”, jelas Pengurus tegas.
“Wah … tidak jadi kalau begitu”, kata Widho sambil menyeringai: ”Lebih baik kamu kembali bertiga di kamar yang tadi”.
“Kembali untuk membersihkan kamar setiap harinya?. Nggak …. “, jawabku.
“Kau akan menempati kamar yang di blok ini?”, tanya Widho tidak percaya.
“Kenapa tidak ? Sudah kepalang menolak”.
“Ah, kan mereka belum mendengar, hanya bapak Pengurus saja yang tahu ..”.
“Kamu kalau tidak jadi menemani aku ya tidak apa-apa …”.
“Ini … sirius?”.
“Ya … sirius”.
Widho terdiam. Kelihatan dia bimbang.
“Saya temani kamu “, kata Widho mengakhiri kebimbangannya.
“Kamu sirius?”.
“Ya, sirius”.
Kami berpandangan, lalu tertawa bersama-sama sambil meninggalkan Pengurus yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
Saya memasukkan anak kunci pada pintu kamar lalu membukanya pelan. Kepalaku melongok ke dalam. Jantungku berdetak kencang ketika pandangan mataku menjelajahi seluruh isi kamar di balik daun pintu yang terbuka sedikit. Bulu kudukku berdiri dan tanganku agak gemetar memegang gerendel pintu.
“Asalaamu ‘alaikum …”, terdengar Widho mengucapkan salam dekat di belakangku. Saya tertegun sejenak, lalu membuka daun pintu lebar-lebar dan melangkah masuk. Widho menyusul di belakangku, langsung menuju ke jendela dan membukanya. Udara segar mengalir dan cahaya masuk menerangi sebagian kamar. Di atas dua buah tempat tidur terlihat kasur masih tergulung. Seperti dikomando kami segera pergi keluar dan duduk pada kursi di teras.
“Bagaimana menurut kamu ?”, tanyaku pada Widho yang merebahkan badannya pada sandaran kursi sambil membuka kancing baju. Widho menoleh padaku.
“Ya … saya merasakan keberadaannya …”.
“Di bagian mana?. Kau melihatnya?. Saya hanya merasakan bulu kuduk berdiri dan telapak tanganku menjadi dingin”.
Widho memejamkan matanya. Dadanya terlihat mengembang dan mengempis seirama dengan tarikan nafasnya yang tidak teratur.
“Saya melihat bayangan sekilas …. tidak jelas …. berkelebat cepat …. dan tidak muncul lagi ….”. Dia mencoba menenangkan diri. Petugas datang membawa seprei dan sarung bantal bersih, mengangguk, kemudian masuk dengan langkah ragu-ragu. Terdengar bunyi kasur direbahkan dan seprei dipasangkan dengan agak terburu-buru. Sebentar kemudian dia keluar, mengangguk, lalu bergegas pergi menghindar. Widho tertidur di kursi. Bajunya dibiarkan terbuka. Udara Jakarta terasa panas. Saya melangkah ke luar, berjalan melewati dua kamar di sebelah yang tertutup rapat, lalu memutar ke belakang pada tiga deretan kamar yang bertolak belakang. Semuanya juga tertutup pintunya. Empat buah kamar mandi di ujung gang agak menjorok ke belakang, dua di kiri untuk blok di sebelah dan dua di kanan untuk blok saya, berhadap-hadapan. Saya berjalan ke sana. Lantainya kering dan tidak ada gantungan handuk satupun. Kamar mandi terdekat yang di sebelah kanan saya buka pintunya. Kering juga. Bak kosong tak berisi air. Keran saya putar buka dan air mengocor keluar, kemudian saya putar tutup kembali. Ketika kamar mandi terdekat yang di sebelah kiri saya buka pintunya, kondisinya kelihatan sama. Kering. Sakelar lampu saya tekan dan lampu menyala. Kamar mandi itu siap pakai namun terkesan tidak pernah ada yang menggunakannya. Saya meninggalkan kamar mandi itu berjalan menuju gang. Dua orang penghuni kamar di blok sebelah memperhatikan saya dari teras kamar mereka. Saya menoleh dan menganggukkan kepala sambil tersenyum. Mereka membalas dengan pandangan
mata keheranan. Deretan kamar yang bertolak belakang ini menghadap ke perkampungan. Rumpun bambu yang lebat di beberapa tempat membatasi kompleks markas CIB-PTT Slipi ini dengan rumah-rumah penduduk yang jaraknya jauh satu dengan lainnya. Agaknya setiap rumah memiliki pekarangan yang cukup luas dan ditumbuhi berbagai macam pohon yang rindang. Deretan kamar yang saya tempati menghadap ke lapangan terbuka di tengah markas. Ketika tiba di kamar kembali, Widho masih tertidur pulas di kursi. Dengkurnya terdengar keras dan lepas. Saya masuk ke kamar dan merebahkan badan di tempat tidur.
“Aneh, orang di blok sebelah tidak menggunakan kamar mandi buat mereka yang di tempat kita”, kata Widho seusai mandi: “Mereka malah numpang mandi di blok lain”.
Saya bangkit dari tidur. Lampu kamar sudah menyala.
“Tidur kamu pulas sekali tadi. Saya tidak berani membangunkan waktu shalat Ashar ”.
“Astaghfirullah …saya tidak Ashar tadi ….”, sahut saya terkejut.
“Mohon ampun setelah shalat nanti. Sekarang sudah masuk Maghrib”.
Saya melompat turun dari tempat tidur, menyambar handuk lalu bergegas pergi ke kamar mandi. Hari sudah agak gelap. Saya memilih kamar mandi yang sebelumnya digunakan oleh Widho. Tiba-tiba ada perasaan kurang nyaman di dalam hati. Saya menjadi gugup dan menelungkupkan kepala pada daun pintu kamar mandi. Wajah ibu terbayang dengan jelas sekali di pelupuk mata, dan ….. pohon beringin pendek di halaman rumah Romo yang daunnya bergoyang pelan. Suara angin menerjang rumpun bambu di luar terdengar berkepanjangan membuat nyali bergetar dan hati berdebar. Suara angin itu mirip tawa perempuan tua. Saya membisikkan istighfar berulang kali. Terdengar kumandang adzan dari masjid kampung. Saya tersentak dan menarik kepala dari daun pintu kemudian bergegas mandi.
“Hati saya berdebar terus dari tadi. Kau saja menjadi imam”, kataku ketika Widho mengajak shalat Maghrib berjamaah. Widho menatap mataku sebentar kemudian mengangguk. Sehabis shalat saya bersimpuh larut dalam doa bagi kedua orang tuaku.
Ketika makan malam pada hari pertama di markas Silipi itu, saya merasa banyak orang di ruang makan memperhatikan kami berdua. Bukan hanya dari sesama anggota CIB yang belum saya kenal dan sudah lebih dahulu berada di markas Slipi, melainkan juga dari para petugas markas sendiri.
Seseorang datang mendekati meja kami.
“Dik Djoko, ya …”, sapanya dengan tersenyum lebar. Badannya kurus jangkung. Hidungnya mancung, bibir tipis dan dahi lebar. Dia sudah berumur.
“Ya, pak …”, sahutku.
“Saya, Sudjana … dari Kantor Pusat. Tidak tinggal di kamar saya ?”.
“Oh … pak Sudjana …. maaf pak …. saya sudah dengan rekan saya ini, Widho ..”.
“Di kamar mana?”, tanyanya menyelidik. Saya menyebutkan blok dan nomor kamar saya. Pak Sudjananingrat hanya manggut-manggut saja, walau roman mukanya berubah. Seorang lagi datang mendekat dan sempat mendengar saya menyebutkan blok dan nomor kamar yang saya tempati. Dia lebih pendek sedikit dari pak Sudjananingrat, berkulit putih bersih, muka lebar dan rambut ikal kecil di atas dahi. Dia pun sudah berumur.
“Kalau tidak betah di kamar itu, gabung saja di kamar kami”, katanya menyela.
“Ya …. gabung saja dan kapan saja”, sambung pak Sudjana mengiyakan: “Ini pak Kasmiri, teman sekamar, juga dari Kantor Pusat”.
“Baik pak … terimakasih”, jawab saya berbasa-basi. Mereka berdua kemudian meninggalkan saya dan Widho yang masih meneruskan makan malam.
“Tuh … betul juga kan, kalau kau jadi tinggal sekamar dengan mereka, … kau pasti jadi penyapu kamar setiap hari”, kata Widho sambil tertawa kecil. Aku mengiyakan. Kecuali telah berumur mereka berdua tampaknya menduduki jabatan tertentu di Kantor Pusat. Tetapi yang masih menjadi pertanyaan adalah mengapa harus aku di antara semua anggota CIB-PTT yang baru datang dari Makasar. Mas Toeffur mampir ke meja saya sebelum meninggalkan ruang makan.
“Dik Djoko sudah kenal dengan pak Sudjana?”, tanyanya.
“Belum mas …. baru tadi …..”.
“Dia pejabat di Bagian Kepegawaian Kantor Pusat. Kalau pak Kasmiri dari Perlengkapan. Tadi dia memang mencari-cari dik Djoko …”.
“Soalnya saya tercatat sekamar bertiga dengan pak Sudjananingrat dan pak Kasmiri. Saya tidak mau. Mengapa harus bertiga sekamar padahal yang lain berdua-dua”.
“Sekamar bertiga ? Ma-sa ….. saya tidak tahu soal itu. Tetapi tadi mereka membicarakan pengiriman barang ke Bandung dan menyebut nama dik Djoko”, kata mas Toeffoer sambil beranjak meninggalkan meja saya. Pemberitahuan mas Toeffoer itu belum menjawab pertanyaan: Mengapa harus aku?.
Baru pukul sembilan malam saya sudah merebahkan badan di tempat tidur. Rasa kantuk yang berat sudah mulai menyerang segera setelah selesai shalat Ishak. Widho masih sibuk menulis di meja. Sebelum saya terlelap tidur masih sempat mendengar langkah Widho mematikan lampu dan hanya menghidupkan lampu meja untuk meneruskan kesibukannya. Entah sudah berapa lama saya tidur ketika tiba-tiba terbangun oleh suara teriakan-teriakan keras. Lampu meja masih menyala tetapi hanya menerangi di sekitar meja saja. Saya melihat tangan Widho menggapai-gapai dan menunjuk-nunjuk sementara badannya telentang di tempat tidur. Saya melompat turun dan menggoyang-goyang badan Widho untuk membangunkannya. Dia membuka mata dengan membelalak, bangkit mendadak dalam posisi duduk tegak lalu beringsut mundur ke dinding dan merapat lekat. Tangannya menunjuk-nujuk ke arah mukaku dan mulutnya masih mengeluarkan teriakan-teriakan yang tidak jelas. Saya menampar pipinya dengan keras lalu membujuk agar berhenti berteriak. Tangannya turun lemas ke atas kasur. Mata masih nanar menatapku dan bibirnya bergetar. Nafasnya terengah-engah bersamaan dengan dada yang naik turun tidak beraturan.
“Istighfar, Dho …. istighfar!”, bisikku keras sambil menggoncang-goncangkan bahunya. Dia tertunduk dan dari mulutnya saya mendengar ucapan istighfar beberapa kali. Ketika kepalanya diangkat kembali, matanya masih melirik bolak-balik ke beberapa tempat di belakang saya.
“Kau … tidak apa-apa …?”, tanyanya setelah beberapa saat.
“Kamu mengigau …”.
“Kemana dia pergi ?”, tanya Widho kembali tanpa menghiraukan jawaban saya.
“Dia siapa?”.
“Sokurlah …. Dia sudah pergi ….”.
Saya tercenung. Sebuah mimpi buruk pasti baru saja dialaminya. Saya mengambil sisa air putih di dalam gelas yang ada di atas meja.
“Kamu mengigau …. minum dulu”, kata saya sambil menyodorkan gelas itu kepadanya. Widho mereguk sisa air putih itu sampai habis lalu mengembalikan gelas kepadaku.
“Kamu mimpi buruk ya …. lalu mengigau”.
“Tidak. Saya melihat sendiri tadi ….ya, tadi … Betul kamu tidak apa-apa?”.
“Saya baik-baik saja, dan tidak ada apa-apa kecuali kau yang mengigau”.
“Aneh …..”, bisik Widho lirih sambil pandangannya meneliti ke seluruh bagian kamar: “seperti tidak terjadi apa-apa …. padahal,tadi …. tadi …”.
“Ada apa tadi di kamar ini?”, tanyaku mendesak. Keinginan tahuku muncul juga.
“Tadi ada perkelahian seru …. dua sosok ….. tidak jelas …. di sekitar kamu … lalu ke depan pintu … ke seluruh penjuru … menggeram …. meraung … mengguntur ….”.
“Kamu tadi masih menulis ketika saya mau tidur”.
“Ya benar …. setelah itu udara terasa menjadi dingin … dingin sekali ….ada suara-suara aneh …saya tidak melihat sesuatu … lalu saya buru-buru ke tempat tidur …”.
“Dan kamu terus bermimpi“.

“Tidak, saya tidak dapat memejamkan mata barang sekejappun. Saya menutup seluruh tubuh dengan selimut. Suara-suara aneh itu semakin keras dan semakin keras … lalu ada yang meledak … suaranya menggelegar. Saya mengintip dari balik selimut. Ada sebuah bayang-bayang hitam pada dinding …semakin besar dan semakin besar … lalu melompat ke arah kamu seakan mau menerkam …. sebuah sosok tiba-tiba muncul begitu saja di dekat kamu menghadang jalan … terjadi benturan keras … keduanya bergumul seru … memporak-porandakan semuanya …. seperti dua bola api yang bergulung-gulung ke segala penjuru ….”. Widho mengucak-ucak mata. Bibirnya masih bergetar. Saya menebar pandangan ke semua sudut kamar. Tidak ada yang berantakan. Biasa saja.

“Lalu kedua bola api itu bergumul di atas kamu …. Saya mencoba berteriak membangunkanmu … tetapi tenggorokanku seakan tersumbat …. tanganku seakan berat kuangkat …. bola api itu bisa mencederaimu …. Kamu … sungguh, tidak apa-apa?”.
“Seperti kamu lihat sendiri, saya baik-baik saja. Saya justru terbangun karena kamu berteriak-teriak. Kamu mengigau”.
“Saya berteriak karena kedua sosok itu lalu melompat ke atas menerobos eternit dan atap ….. terus kamu datang menampar pipiku …. dan semua menjadi hening kembali …”.
“Maaf, tadi saya lakukan karena kamu berteriak-teriak terus”.
Widho melirik ke atas pada eternit di atas tempat tidurku.
“Eternit itu masih utuh, kan … tidak terjadi apa-apa di kamar ini. Meja, kursi, semuanya masih pada tempatnya semula. Kamu bermimpi dan mengigau”, kataku meyakinkannya.
Widho mengeluh: “Terserah kamu, lah …. tetapi saya melihat semuanya …. semuanya”.
Sambil menunggu petugas datang membawa nasi goreng dan telur ceplok saat makan pagi, saya menghirup kopi yang sudah disajikan di meja. Sejak peristiwa semalam, Widho lebih banyak berdiam diri. Bibirnya terkatup rapat, tanpa senyum dan sorot matanya tidak berbinar. Ia bersandar di kursi dan pandangannya tertuju ke luar menembus dinding kaca ruang makan. Saya melirik ke mana pandangannya diarahkan. Rumpun bambu. Tidak ada yang aneh pada rumpun bambu itu, tetapi mata Widho tidak berkedip seperti terpaku. Dua orang laki-laki berumur sekitar tigapuluh-lima tahunan dalam pakaian training masuk ke ruang makan. Sejak di luar keduanya sudah tampak berbicara dengan sejumlah orang yang datang mengerumuninya. Agaknya yang dibicarakan cukup menghebohkan. Beberapa orang masih mengikutinya masuk ke ruang makan.
“Semalam kamu menginap di rumahnya, kan?”, terdengar tanya orang yang mengikutinya. Yang ditanya tertawa lebar sambil menarik kursi dan duduk di atasnya.
“Justru kalau menginap tidak akan dia mengetahuinya”, jawab teman yang ditanya.
“Rumahnya kan di dekat sini saja …. tidak jauh pula dari rumpun bambu itu …”.
“Tidaklah kalau saya menginap. Bisa diproses piket nanti”, jelas yang ditanya.
“Terus … dari mana kamu tahu berita itu?”.
Petugas datang membawa nasi goreng telur ceplok ke meja saya dan Widho. Masih panas dan baunya sedap. Widho mulai mengalihkan pandangannya ke arah meja mereka yang baru datang itu. Agaknya ia tertarik pada pembicaraan di antara mereka.
“Saya kan biasa lari pagi, dan tadi orang kampung membicarakan peristiwa semalam itu”.
“Siapa yang menyaksikannya?”.
”Petugas Ronda. Ketika mereka sedang lewat di sana, mereka melihat cahaya bola api muncul tiba-tiba dari salah satu tempat di markas kita ini, terbang tinggi ke atas lalu meluncur turun dengan cepat ke rumpun bambu itu. Ada dua bola api yang bergumul berputar-putar di udara ….”.
”Dari markas kita ini?”.
“Ya, begitu kata mereka. Tetapi dari mana tepatnya mereka tidak bisa menjelaskan sebab cahaya bola api itu begitu terang dan menyilaukan mata”.
Widho dan saya berpandang-pandangan. Kami memasang telinga sambil mengunyah nasi goreng pelan-pelan.
“Bola api itu …. seperti apa bentuk sebenarnya?”.
“Peronda itu bertiga, mereka lari semua. Tetapi salah seorang terjatuh dan orang ini sempat melihat bentuknya seperti dua sosok makhluk yang tinggi besar. Dia mendengar pergumulan yang seru dan gaduh di rumpun bambu itu sebelum dia bangkit dan lari menyusul temannya”.
“Terus?”.
“Dari kejauhan ketiga Peronda itu melihat pemenangnya terbang lagi ke atas dan meluncur turun lagi ke markas”.
“Satunya lagi …. yang kalah?”.
“Terpuruk di rumpun bambu lalu cahayanya meredup dan lenyap. Dia masih di sana”.
“Dan yang menang masih di …. markas kita?”.
“Begitulah kira-kira …”.
Saya dan Widho berpandang-pandangan kembali. Saya menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa saya mulai mempercayai ceritanya semalam di kamar. Widho mengerdipkan mata sambil menggelengkan kepala sekali. Saya mengangguk lagi.
“Apakah apel pagi hari ini akan membicarakan hal itu?”, terdengar salah seorang bertanya.
“Ya tidaklah …. di sini kan tidak ada kejadian apa-apa. Yang ramai di kampung sana. Tambahan lagi komandan tidak tahu …”.
Saya melirik ke sebuah pengumuman di dinding: “Apel pagi hari ini pukul 08.30 WIB”.
“Siapa yang menang, siapa yang kalah, saya tidak tahu … dan dampaknya bagi kita pun saya tidak tahu …”, geremeng Widho sambil mengenakan sepatu di teras kamar.
“Maaf, tadi malam saya kurang mempercayai ceritamu”.
“Tidak apa-apa … saya mengerti. Engkau tidur begitu lelap semalam, padahal pergumulan itu terjadi di sekitar kamu, bahkan di atas badanmu”.
“Saya sendiri juga tidak mengerti, bahkan mimpi indah pun tidak”.
“Kalau di hari-hari nanti tidak terjadi gangguan lagi, maka saya pastikan yang menang itu bersahabat dengan kita”, kata Widho dengan tekanan suara mantap.
“Bersahabat? Barangkali tidak mau mengganggu”.
“Ya, tepat. Tidak mau mengganggu belum tentu bersahabat. Tetapi mau menganggu pasti tidak bersahabat …. seperti bayangan hitam pada dinding yang mau menerkam kamu”.
“Kenapa aku, ya …?”.
“Saya tidak tahu. Bolehjadi setelah kamu, giliran kemudian aku …”.
“Bagaimana kalau yang menang itu tidak bersahabat …”.
“Nah, itu …karena itu kita tunggu nanti malam dan malam-malam kemudian. Tetapi saya menduga dia tidak akan mengganggu”.
“Alasanmu?”
“Dia muncul pada saat yang tepat menghadang bayangan hitam seakan melindungimu. Tadi kita dengar Peronda melihat bola api yang menang kembali ke markas …. Tepatnya ke kamar kita. Tetapi kita tidak mengalami gangguan lagi, kan ….”.
Saya mengangguk pelan. Terdengar suara bel ditalu beberapa kali dan anggota CIB berdatangan ke lapangan tengah yang terbuka. Saya mengunci kamar lalu menyusul Widho menuju ke lapangan.
“Yang kemarin tiba dari Makasar – Bandung, berbaris di depan menghadap ke Selatan “, terdengar perintah dengan suara yang lantang. Setelah upacara singkat, pak Sabar Sudiman memberitahu bahwa CIB-PTT kini di bawah Komando Tertinggi (KOTI) untuk pengiriman ke Irian Barat. Seluruh anggota diminta tetap dalam kondisi siap sewaktu-waktu ada perintah untuk berangkat. Untuk menjaga kondisi badan maka setiap pagi diadakan senam dan tiga hari sekali lintas alam. Tidak diperkenankan meninggalkan markas kecuali telah memperoleh ijin dari Komandan. Kemudian diadakan acara perkenalan antara rombongan yang baru tiba dari Makasar dengan rombongan yang sudah lebih dulu berada di markas CIB Slipi. Usai perkenalan langsung dibagi dalam empat kelompok berdasarkan blok dan nomor kamar. Empat orang Ketua Kelompok memimpin anggotanya berjalan meninggalkan lapangan markas, kemudian menyebar masing-masing sudah memiliki rute sendiri-sendiri. Saya dan Widho berada dalam kelompok pimpinan pak Zacharias, yang bertubuh gemuk gempal, berkulit putih bersih dan rambut yang agak gondrong. Pak Zacharias ternyata membawa kami masuk ke perkampungan di seberang rumpun bambu. Ketika kami berjalan di bawah rumpun bambu itu, saya tidak merasakan apa-apa. Widho saya perhatikan juga sedang memikirkan hal itu. Ketika pundaknya saya tepuk sambil berbisik lirih: “Kau merasakan sesuatu?”, dia hanya menggelengkan kepalanya. Menurut pendapat saya Widho memiliki kepekaan lebih daripada saya mengenai hal-hal yang ghaib. Apakah dia hanya tidak mau diganggu saja sementara dari wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu, saya tidak tahu. Pada malam-malam selanjutnya, Widho pun tidak menunjukkan melihat atau merasakan sesuatu di kamar kami. Gangguan ghaib itu tidak pernah terjadi lagi.
Pada suatu pagi setelah kembali dari lintas alam, pak Kasmiri memanggil saya ke kamarnya. Beliau memberitahukan bahwa karena kondisi politik sudah normal, CIB PTT tidak perlu membangun jaringan telekomunikasi baru di Irian Barat melainkan tinggal melanjutkan dan mengembangkan saja yang sudah dioperasikan oleh pemerintah pendudukan Belanda di daerah itu. Barang-barang peralatan yang sudah dibawa ke Jakarta dari Bandung dengan demikian akan dikembalikan lagi ke Bandung. Untuk keperluan itu saya diberi tugas mengirimkan semua peralatan tersebut kembali ke Bandung secara lengkap dan aman. Dua orang petugas Bagian Perlengkapan dari Kantor Pusat bergabung dengan saya untuk melaksanakannya. Merekalah yang semula mengurus pengiriman barang-barang tersebut ke Jakarta. Dari mereka saya memperoleh dokumen pengirimannya dan di mana barang-barang tersebut saat itu disimpan. Kami bertiga mengopname barang-barang tersebut di tempat penyimpanannya. Mencocokkan jenis, pabrikat dan nomornya, kemudian dilakukan pengepakan kembali. Sebuah truk telah disiapkan untuk mengangkut ke Bandung. Saya minta ada bantuan pengawalan dari aparat kepolisian, karena kondisi keamanan pada saat itu masih belum aman benar. Gerombolan DI/TII masih perlu diwaspadai. Sehari sebelum berangkat, Holikin datang ke kamar saya.
“Djok …”, ujarnya dengan suara memelas: “Biar saya gantikan tugasmu ke Bandung”.
“Apa pak Kasmiri sudah setuju?”, tanyaku.
“Kamu kan tidak ada kepentingan ketemu keluarga di Bandung. Kalau saya perlu sekali. Kau tahu, kan … sudah beberapa bulan saya tidak bertemu dengan keluarga”.
“Saya mengerti, dan bagi saya sih tidak ada masalah. Tetapi yang mengopname barang-barang itu kemarin, saya. Apa kang Holikin percaya?”.
“Saya percaya soal itu. Mengenai pak Kasmiri, kamu sajalah yang bilang”. Saya terdiam sebentar. “Bagaimana kalau kita berdua menemui pak Kasmiri?”, tanyaku. Holikin setuju. Ketika saya menyampaikan permintaan Holikin itu kepada pak Kasmiri, beliau malah tertawa lebar.
“Ah … Ho … seperti saya tidak tahu siapa kamu saja ….bapak kan laki-laki berkeluarga juga seperti kamu … Tidak. Penugasan kepada Djoko ini sudah final. Tetap dia yang mengirim barang-barang itu ke Bandung”.
Anehnya Holikin juga tertawa terkekeh mendengar penegasan pak Kasmiri itu. Dia tidak kelihatan kecewa. Tampaknya mereka berdua sudah lama saling mengenal. Keesokan harinya saya berangkat ke Bandung bersama dua orang rekan dari Kantor Pusat itu dan beberapa orang anggota Kepolisian dari satuan Brigade Mobil. Setelah beristirahat sekitar tiga jam di Bandung, sore harinya kami kembali ke Jakarta. Dua orang rekan saya malam itu menginap di rumah mereka dengan seijin pak Kasmiri dan esok hari pagi-pagi sekali mereka akan naik bis ke Jakarta.
Berbeda dengan situasi menunggu di Makasar, di Jakarta terasa lebih membosankan. Tidak ada pekerjaan yang dilakukan kecuali hanya apel, senam, dan lintas alam. Yang terakhir ini, lintas alam, lebih tepat kalau disebut: lintas kampung. Yang kami lakukan hanyalah keluar-masuk kampung di pinggiran kota Jakarta, kadang-kadang juga keluar-masuk gang-gang kecil dan kumuh di dalam kota Jakarta di sekitar Slipi. Meskipun demikian, keringat mampu membasahi baju karena jarak yang cukup jauh dan cuaca kota Jakarta yang panas. Menunggu adalah pekerjaan yang membuat perasaan jemu. Selama menunggu itu saya bahkan tidak memiliki kesempatan berkunjung ke Setasiun Radio Penerima Margawarta, dan ke Hotel Islam Jatinegara walau di hari Minggu sekalipun. Perintah berangkat dapat sewaktu-waktu diberikan sementara sarana komunikasi untuk menyampaikan perintah itu ke tempat kami sedang berada tidak menjamin dapat cepat tersampaikan. Apalagi ketika rombongan kecil yang pertama sudah diberangkatkan dengan pesawat Garuda. Mereka adalah orang-orang yang akan langsung mengambil alih pimpinan sebuah kantor atau dinas PTT dari tangan pejabat bangsa Belanda.
Akhirnya hari yang saya harapkan itu datang juga . Penantian yang membosankan telah terselesaikan. Sehabis apel pagi diumumkan adanya gelombang kedua pemberangkatan ke Irian Barat dengan pesawat Hercules pada tengah malam hari itu juga. Komandan membacakan daftar nama dengan suara keras dan jelas. Nama saya tersebutkan. Saya menghela nafas dalam-dalam. Kepada saya diberikan Surat Keterangan Perjalanan (Certificate For Travel) dari Komando Tertinggi APRI/Pembebasan Irian Barat (Supreme Command Of The Indonesian Armed Forces) tertanggal 2 Desember 1962 yang ditandatangani oleh Sekretaris Kantor Menteri Pertama Pembebasan Irian Barat, Kolonel Prijatna, dan telah dicatat oleh Kantor United Nations Temporary Executive Authority, No. 998, tanggal yang sama. Saya juga memperoleh Kartu Pengenal (Identity Card) No. L.G./1 XII / 1051 A-62.
Sebuah kesibukan terjadi di markas CIB-PTT Slipi pada malam itu. Sekitar tigapuluh orang telah siap dengan barang bawaan masing-masing. Ransel besar yang selama ini menemaniku sejak dari Surabaya, Makasar dan Jakarta kini akan menemaniku ke Hollandia. Apel pada malam itu terasa sangat mendebarkan. Sambutan selamat jalan dari Komandan markas disertai pesan-pesan dapat menyuntikkan semangat untuk bertahan di tengah lapang dalam tiupan angin malam yang dingin. Anggota CIB-PTT lainnya yang belum diberangkatkan berkerumun di pinggir lapang dan di sekitar bis yang telah siap untuk membawa kami ke lapangan terbang Halim Perdanakusumah. Widho termasuk dalam rombongan kedua itu bersama saya. Kira-kira pukul 22.00 bis yang membawa rombongan anggota CIB-PTT itu mulai meninggalkan markas CIB-PTT Slipi. Jalan-jalan di kota Jakarta sudah mulai sepi.

Lampu-lampu penerangan jalan dan gedung perkantoran gemerlap di sepanjang jalan yang dilalui. Kerlap-kerlip penerangan di rumah-rumah kampung semakin menambah semaraknya malam. Di angkasa yang kelam tidak banyak terlihat bintang yang bercahaya terang. Bulan pun tidak tampil menawan. Bis berhenti di pelataran parkir bandara Halim Perdanakusumah. Kami semua turun dan berjalan masuk ke bandara.

Rombongan dari instansi lain pun kelihatan berdatangan. Ruang tunggu bandara dipenuhi sukarelawan. Tidak ada lagi kursi yang kosong. Sebagian berdiri bergerombol dan mengobrol. Kemudian ada pengumuman agar semua calon penumpang menuju ke pesawat yang sudah siap di lapangan terbang. Dengan menyandang ransel besar di punggung saya berjalan cepat menuju ke pesawat. Sebuah pesawat terbang yang gemuk besar berdiri kokoh diatas landasan.

Pintu depannya terbuka. Pada ekor pun terbuka pula dan ada kesibukan memasukkan berbagai barang ke dalamnya. Ini sebuah pesawat raksasa, fikirku dalam hati, jauh lebih besar dari pesawat Convair Garuda Indonesian Airways yang pernah saya tumpangi dari Surabaya ke Makasar. Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Seorang perwira militer mengabsen calon penumpang satu persatu di depan pintu pesawat. Disebutkan nama instansi lalu menyusul nama-nama sukarelawan dari instansi tersebut. Ketika disebutkan CIB-PTT kami semua bersiap-siap kemudian satu persatu naik ke dalam pesawat Hercules.

Di ambang pintu untuk sekejap saya terpesona. Seperti memasuki sebuah gudang. Tidak ada kursi penumpang yang mewah berderet-deret ke belakang. Tidak ada pramugari yang dengan ramah menyambut di ambang pintu. Penumpang duduk berjajar melingkar di sepanjang dinding pesawat. Di bagian tengah pun ada yang duduk berhadapan dengan yang duduk membelakangi dinding. Di bagian tengah ini belum terisi penuh. Tempat duduknya berupa anyaman pita kain lebar dan tebal yang memanjang membalut rangka besi tanpa tangan Saya menuju ke tengah dan duduk di samping seseorang yang tidak saya kenal. Dia mengenakan jas warna coklat dan membawa sebuah tas kantor dari kulit warna coklat pula. Widho duduk di sebelah saya pada sisi yang lain dan selanjutnya berderet teman-teman rombongan CIB-PTT lainnya. Warna baju yang kami kenakan berwarna coklat juga, tetapi dari bahan drill yang tebal. Kontras sekali dengan laki-laki di samping saya itu. Sabuk pengaman juga ada tetapi sangat sederhana meskipun dari bahan yang kuat pula. Tidak ada percakapan yang gaduh. Saya yakin semuanya baru pertama kali naik pesawat Hercules, karena merupakan pesawat angkut militer sedangkan para penumpang hampir semuanya adalah petugas sipil.
Tidak berapa lama kemudian pintu ditutup, lalu mesin pesawat dihidupkan. Getarannya cukup kuat. Saya segera memasang sabuk pengaman. Terdengar pengumuman dari pilot bahwa pesawat akan segera tinggal landas. Pesawat mulai bergerak maju semakin laju dan semakin laju kemudian terangkat keatas dengan sebuah lonjakan yang agak menggoncang sampai akhirnya semua terasa tenang dan nyaman. Agaknya pesawat sudah sampai pada ketinggian yang seharusnya. Udara di dalam pesawat terasa sangat dingin. Saya membuka gulungan baju untuk menutup seluruh tangan. Masih terasa dingin yang menusuk tulang. Walau bersedekap erat saya masih menggigil juga. Ransel pun saya pangku dan saya peluk erat. Saya melirik pada laki-laki di samping saya yang dengan tenangnya memejamkan mata bersedekap dada, dibungkus oleh setelan jas yang hangat. Saya melirik ke arah Widho. Dia pun agaknya berjuang untuk melawan hawa dingin. Badannya menggigil sementara tidak ada ransel yang bisa dia peluk. Tampaknya Widho lebih payah menahankan hawa dingin. Pesawat raksasa itu terbang tinggi tanpa mempedulikan keadaan penumpangnya. Awak pesawat mengenakan seragam jaket yang tebal. Mereka tenang-tenang saja di dalam hawa dingin yang menusuk tulang itu. Wouw …. ini sebuah pengalaman terbang yang cukup menyiksa walau sesungguhnya sangat mengesankan karena akan menuju ke Hollandia, ibu kota Irian Barat yang kemudian menjadi Irian Jaya.

—000—
Image properties:
1. http://farm4.static.flickr.com/3661/3366835387_d8e313a1f6.jpg
2. http://cache.virtualtourist.com/4/4527695-Madura_strait_view_from_Tanjung_Perak_Port_East_Java_Province.jpg
3. http://farm4.static.flickr.com/3089/2632724107_513f1a622e.jpg
4. http://farm4.static.flickr.com/3218/3029389274_44e1cca18c.jpg
5. http://hadynur.files.wordpress.com/2009/10/menulis.jpg?w=186&h=190&h=190
6. http://ifptasya.files.wordpress.com/2011/01/245360369_86e9f51782.jpg?w=500&h=375
7. http://www.romesg.com/wp-content/uploads/comet-halley.jpg
8. http://w11.itrademarket.com/pdimage/14/2210414_121.jpg
9. http://rubijanto.files.wordpress.com/2011/04/img_0150.jpg?w=225&h=300
10. http://i297.photobucket.com/albums/mm221/giairways/MESCGK19.jpg
11. http://img.photobucket.com/albums/v286/rizuki/halim.jpg
12. http://www.ozone.or.id/tsun2004/photos/eksp3-04.jpg
13. http://farm5.static.flickr.com/4102/4878210202_176790fbe9.jpg
14. http://aerostories.free.fr/appareils/AC130/AC130_05.jpg